Sunday, May 6, 2018

‘Kamu Tidak Berkualitas’ Sebut Ucapan Honorer Tak Akan Diangkat Jadi PNS


Sepeda dikayuh. Hati berlari. Gemuruh di dada tak pernah lekang menjadi semangat agar hidup lebih berbunga. Demikian adanya, terus menjadi ketakutan akan masa depan. Orang menyebut, masa depan, masa depan, masa depan, namun apakah itu? Bukankah hari ini dilalui saja lalu besok juga demikian? Masa depan mana lagi yang mesti dimesrakan menjadi guyonan senja hari?

Tatkala teriakan di sudut kelas ‘membentak’ seseorang di depan kelas, semua terabaikan begitu saja. Tatkala suara nyaring di luar perkarangan sekolah menyebut hukum berkeluyuran dalam teori, maka seseorang yang masih berdiri di depan kelas sama sekali bungkam akan banyak hal. Jangan lupa, kami tak pernah menyebut kepada kamu si anak ini bodoh, kami juga tidak pernah dengan suara lantang berujar kepadamu tak ada buku ajar di sekolah kami yang reot. Kamu hanya bersenyawa dengan rentetan klakson kendaraan di kota besar, berputar tiap hari ke sekolah-sekolah mewah dengan imajinasi embun pagi. Lalu mengambil kesimpulan bahwa pendidikan Indonesia itu harus begini begitu, harus ini itu, tapi tak peduli di sisi kami masih ada yang belum paham betul membedakan A dengan a.

Kami – juga – menjadi tempat pembuangan ‘sampah’ kekesalan dari ratusan siswa tiap tahun. Status yang disandang adalah honorer yang bahkan enggan saya sebutkan sebagai mereka yang ikhlas bekerja. Suara itu dengan mudah menyebut, “Kamu tidak berkualitas!” dalam bahasa sindiran yang halus, tak peduli berapa energi yang telah dihabiskan untuk anak negeri, tak soal mengenai letih mencatat buku catatan harian guru, mana urusan kami dibantai kata-kata kasar anak-anak zaman now yang lebih percaya orang luar daripada guru di depannya.

Saya tak ingin melabuhkan kesal. Namun, saya ingin mencoba memberikan sedikit gambaran, tentang kami, tentang kita, tentang mereka yang diabaikan oleh sebuah kata yang saya kutip di bawah ini. Entah bernyawa, entah benar adanya, entah hanya manipulasi siang terik, entah juga iming-iming ‘kampanye’ soal kehidupan masa depan.

Asman Abnur, Bapak Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, yang terhormat, yang dipuja, yang disanjungi, telah berujar seperti ini lebih kurangnya, “Tidak ada lagi pengangkatan langsung honorer menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tenaga honorer harus ikut tes seleksi CPNS sesuai dengan amanat Undang-undang. Yang jelas ada penerimaan CPNS tahun ini dan semua harus melalui tes. Hasil seleksi semua diumumkan secara transparan dan tidak ada lagi sistem titipan pejabat dan lainnya. Jadi, kalau ada pegawai yang sudah bekerja lima tahun, dua tahun atau tiga tahun, silakan ikut tes jika ingin jadi PNS!” (makassar.tribunnews.com, 05/05/2018).

Kamu jangan bersedih, mungkin kamu memang layak menjadi petani dengan cangkul memotong pematang sawah habis subuh. Kamu tak usah menangis, mungkin memang kita adalah golongan ‘tidak berkualitas’ yang tidak layak mendapatkan keistimewaan. Saya tahu, kita tahu, sama-sama meratapi nasib yang enggan saya sebut sebagai peruntungan. Tinta yang sebentar lagi menorehkan angka-angka untuk kenaikan kelas, seolah telah lenyap menjadi merah semua saking semraut dan pilu lara hatimu.

Memang demikian kehidupan. Meski kamu berteriak sekuat tenaga dan meratapi puluhan tahun sebagai guru honorer, tetaplah kamu adalah sosok tanpa tanda jasa meskipun telah kamu ubah generasi menjadi pejabat negara sekalipun. Tak ada soal untuk diberi jawaban karena kamu layak mendapat hukuman atas pilihan demikian. Kamu tak layak diangkat jadi PNS, maka jangan bermimpi untuk membela ‘otak kosong’ yang telah kamu curahkan tiap hari di depan generasi terbaik. Tak ada manfaat ucapanmu karena ‘otak dongkol’ itu tidak layak mengajarkan mereka yang kelak menjadi pemimpinmu.

Usia yang telah terbuang. Saya tahu, kamu meratapinya. Sebut orang lain kala itu, sebelum diangkat jadi PNS angkat cangkul saja di sawah kampungmu yang indah. Tetapi, saat honorer ‘wajib’ tes meski kamu telah sangat lelah tak terbatas, angan-angan menjelang magrib telah berlalu bersama cakrawala senja. Kamu tidaklah bermakna!

Dan saya, tak mau membuang kesal, tak bisa pula bersedih karena puluhan bahkan ratusan anak-anak di sekolah kami yang rindang, menatap dengan wajah penuh harap, soal nilai, soal raport, juga soal kelulusan ujian akhir. Saya begitu enggan menulis tentang ini, tetapi saya ingin, saya mau memberitahu, bahwa saya ada di sini meskipun dianggap tidak berkualitas’ sama sekali olehnya dengan suara indah itu.

Sekadar melepas lelah saja, awal 2018 yang terburu, dihimpit oleh aturan-aturan baru tetapi sekolah wajib menjalankannya. Saya adalah honorer, yang tidak bermanfaat menurutmu juga,  duduk di dalam kantor dengan meja berserak buku-buku, tetapi tak lebih lima menit, saya akan berpindah ke sisi lain, menjawab tanya, mengajar ketidaktahuan dari sesama guru PNS yang hebat soal ketidakmampuan mereka dalam mengetik atau sekadar membuka laptop baru yang mahal.

Jelang siang yang sangat terik, permintaan itu datang “Pak mau pilih operator atau teknisi?” saya ragu menjawab, “Apa tidak orang lain saja, Pak? Saya tidak mampu untuk itu,” tidak ada sanggahan, tidak ada pula kedipan mata, tangannya mengolom teknisi. “Bapak cocok jadi teknisi saja, kan, lebih paham komputer, operator kita minta bantu operator sekolah saja,”

Saya gagap. Ini bukan permintaan, ini adalah keharusan. “Tidak ada orang lain di sini – yang mampu!” demikian ucap kata itu terakhir sebelum berlalu, kembali ke kantornya, disebut nama teknisi dan operator Ujian Nasional Berbasis Kompoter (UNBK) akan segera dikirim ke dinas terkait.

Saya pikir, pekerjaan itu sehari dua hari saja. Tak apa, meskipun nanti kamu juga masih menyebut, tidak berkompeten, saya melakukan untuk membantu, mereka yang sendu di sudut kelas, mereka yang hanya bergantung kepada saya yang selama ini menina-bobokan angan dan cita mereka dengan teori komputer di dalam kelas.
Seiring waktu, di sinilah saya, berlari ke dalam kelas mengajar pelajaran komputer dan masuk ke ruang laboratorium untuk persiapan UNBK. Simulasi pertama adalah detak jantung yang berlari tak tentu arah. Saya, operator, seorang wakil kepala dan pihak yang menanamkan aplikasi UNBK berleha-leha di dalam laboratorium. Pemasangan LAN selesai, jaringan internet telah diminta lebih kencang kepada pihak terkait, sisanya adalah saya dibantu operator untuk mengecek laptop anak-anak – dipinjam oleh sekolah – layak atau tidak untuk ikut bertempur dengan server yang galau kadangkala.

Waktu yang diburu untuk ‘pemaksaan’ simulasi, mungkin tak terkejar dalam memasang aplikasi UNBK. Catatan dari teknisi yang kami undang itu, saya harus menghapus setidaknya antivirus agar tidak memblokir aplikasi ujian, menonaktifkan update windows, mengetes aplikasi berjalan dengan baik atau tidak, dan juga mengganti browser Crome ke versi terbaru yang mendukung aplikasi. Keringat mengucur dengan indahnya hampir senja itu, setidaknya saya – kami – harus melakukan hal yang sama untuk 35 laptop.

Saya juga berganti posisi dari satu laptop yang sedang dipasang aplikasi ujian dengan komputer server. Di mana proses sinkroninasi – tata cara dan sejenisnya – tengah dijalankan. Kepala saya kedut-kedutan lima menit sebelum azan magrib. Proses sinkronisasi setidaknya membutuhkan waktu hampir 15 menit, saat itu saya juga harus mengecek ke-35 laptop telah terpasang aplikasi ujian dan telah bisa dibuka dengan lancar.

Malam telah menyerbu kelelahan di pundak saya saat semua laptop telah siap tempur dan sinkronisasi data ujian dari panitia pusat telah selesai. Jelang azan isya, barulah kami lebih santai meskipun hati tak bisa ditipu, lebih khawatir soal besok, tentang ujian yang sebenarnya pada pengalaman pertama. Saya memburu tahu dari teknisi yang kami undang dan juga buku bantuan. CTRL+C+B telah saya hapal untuk keluar dari aplikasi ujian di laptop anak-anak. Refresh siswa yang bermasalah login telah saya pahami, password exam browser di komputer server masih lupa-lupa saya ingat.

Sejujurnya, saya tidak bisa tidur. Saya mencoba untuk berdamai dengan hati, bahwa besok adalah simulasi tetapi lagi-lagi saya khawatir. Satu persatu wajah anak-anak mengarah kepada saya. Seolah benar, tidak ada bantuan yang bisa mereka harapkan selain saya saat ujian nanti. Mungkin saja, mereka lebih khawatir saya tidak di dalam laboratorium dibandingkan tidak bisa menjawab soal satupun.

Simulasi dimulai esoknya. Jam 6 adalah permulaan waktu yang diburu oleh keringat dan ‘mengesali’ sistem yang error. Saya tahu keindahan itu adalah milik teknologi dan saya bersabar untuk itu. Saat operator saya bimbang, saya mendiamkan bahwa bukan kita yang salah tetapi perangkat ujian belum online dari pusat.
Kepala saya rasanya mendidih. Seakan-akan saya mengingat, kamu tidak berkualitas, tetapi saya harus tabah, saya harus tersenyum, jika tidak semua siswa-siswi yang mengantri di depan laboratorium akan menangis tidak bisa ujian. Saat sistem telah aktif, jantung saya tak lagi dagdigdug tetapi lebih dari itu. Saat anak-anak mulai login, sebenarnya saya menyembunyikan bibir pucat karena khawatir sistem error. Saat sebagian besar bisa login, saya lega mereka bisa memasukkan Token mulai ujian. Saat salah satu laptop error, harap anak yang bersangkutan dan mata teman-temannya yang lain adalah kepada saya yang berdiri lelah di belakang mereka. Begitu laptop kembali bisa digunakan, mereka bernapas lega, tetapi saya belum.

Sesi pagi sempurna. Dua sesi lagi adalah bagian dari kelelahan lainnya. Simulasi pertama sedikit membuka pengetahuan saya. Saya sudah bisa meraba, saya paham di mana letak kesalahan dan apa solusi untuk menjawabnya. Kamu tidak bermanfaat seperti anggapan orang-orang ‘itu’ tak teringat saat babak pertama dan kedua – simulasi kedua – usai kami lakukan.

“Kita akan UAMBK!” begitu ujar kepala sekolah saya, penuh harap dan juga penuh kekhawatiran kepada saya dan operator sekolah yang sama-sama masih honorer. Mungkin saja Beliau bisa mendapatkan orang lain yang lebih berkompeten dan berkualitas, tetapi entah kenapa kepada pundak kami sebagai honorer yang tak akan diangkat jadi PNS ini semua bermuara.

Kebetulan, saya honorer di sekolah agama maka dikenal dengan Ujian Akhir Madrasah Berbasis Komputer (UAMBK). Artinya lagi, saya dan operator tambah pekerjaan, mulai dari instal aplikasi ujian yang berbeda, sinkronisasi data dari pusat, simulasi dan juga ujian di hari yang telah ditentukan.

Kembali seperti UNBK, bahkan lebih rumit, saya harus menginstal aplikasi UAMBK ke dalam 35 laptop. Saya pastikan semua bisa membuka aplikasi yang lebih berat ini dan siswa bisa ikut ujian dengan lancar. Dan tentu saja sinkronisasi data server sebelum pelaksanaan simulasi maupun ujian.

Saya membuat perkiraan, hampir sebulan setengah untuk simulasi sampai ujian UAMBK dan UNBK, saya berkutat dengan laptop, mengembalikan kepada siswa, meminta bawa kembali begitu mau ujian sampai di babak akhir adalah menghapus aplikasi kedua ujian, memasang kembali antivirus, mengaktifkan kembali windows update, dan pengaturan lain seperti sediakala. Saya lelah, pasti. Saya menemukan kebahagiaan, mungkin saja meskipun sebut suara di atas tadi, saya dan mungkin rekan-rekan honorer lain yang bekerja siang malam untuk UNBK dan UAMBK, tidak layak untuk diangkat jadi PNS.

Apakah ‘secuil’ pekerjaan saya ini dianggap tidak memiliki kompetensi? Apakah dianggap tidak melakukan apa-apa untuk negeri? Biarlah demikian. Saya cukup senang ketika anak-anak usai ujian, saya telah membuka jalan mereka lebih bebas, lebih bahagia meraih cita-cita.

Lelah saya tentu belum usai, Kurikulum 2013 yang telah diaplikasi di sekolah kami menjadi catatan merah bagi sebagian besar guru-guru PNS yang hebat. Saya tentu tidak meminta, saya sadar diri, saya tahu tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan. Tetapi, mereka datang, mencari secercah harapan dalam ketidaktahuan, meminta saya untuk kembali berkutat dengan raport K13 yang ribet, rumit dan sering error jika salah pengerjaan.

Maka, di sinilah kembali saya ‘membantu’ anak-anak yang berharap raport mereka cepat usai. Meski sebenarnya aplikasi raport ini mudah tetapi tidak untuk rekan-rekan saya di sekolah yang belum paham teknologi. Saya datang sebagai penggembira, tidak tidur malam untuk mengejar target pengisian raport, memutar otak untuk mencari tahu kesalahan yang tiba-tiba datang, dan harus sempurna raport yang dicetak beberapa lembar nanti itu.
Saya mungkin tidak ada harapan untuk menjadi PNS, kamu juga demikian. Kita harus ikut seleksi, jika lulus. Jika harus ikut aturan, jika masih bisa tanpa kendala usia. Jika tidak, maka kita adalah bagian dari honorer tidak berkualitas yang tidak layak diangkat jadi PNS. Meskipun, kamu melakukan pekerjaan lebih besar daripada saya lakukan, meskipun kita menutupi kekurangan jam di sekolah yang tidak bisa ditutupi oleh pegawai pemerintah, meskipun kamu telah mengantarkan generasi muda berkualitas duduk di bangku kuliah elit, kuliah gratis dengan beasiswa penuh, kamu tetaplah tidak layak!

Saya ingin menutupi ini dengan sesuatu, tetapi saya tidak tahu harus merangkai ‘sesuatu’ itu dengan apa baiknya. Namun, satu hal yang pasti, saya hanya membagi segelintir kisah pilu dari guru honorer yang telah “meluangkan” waktu lebih banyak demi kebaikan sekolah, keuletan bangsa dan senyum siswa-siswi. Jika memang masih diabaikan, maka abaikan saja, kuraslah energi kami sampai jenuh dan jangan anggap apa-apa yang telah kami curahkan untuk negeri.

Mungkin kamu anggap ini keluhan, mungkin juga kembali sebagai curahan hati orang tidak berkompetensi, tetapi jangan lupa bahwa di sana, sekolah-sekolah itu dihidupkan oleh guru-guru honorer. Ikhlas tak berperi, tak meminta pindah segitu setahun diangkat PNS. Warna ini adalah warna kami. Jika memang dilupakan, jangan salahkan anak negeri karena di sini adalah kami yang tidak berkualitas mengajar anak negeri!

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

9 comments:

  1. Semangat mas Bai... semoga yang berkepentingan sadar akan ucapan dan tindakan mereka.

    ReplyDelete
  2. mungkin solsinya bisa yg honorer diangkat dulu ya dan jangan lagi terima honorer lagi, menunggu ada yang masuk lewat tes cpns. Krn selama ini banyak terima honorer tapi buat gaji mereka saja gak ada

    ReplyDelete
  3. Kembalikan semua kepada Allah SWT. Lakukan dengan penuh keikhlasan karena pengabdian itu balasannya adalah pahala jariah. Tetap semangat ya Abang Bai.

    ReplyDelete
  4. Jadi Blogger aja mas, jadi PNS banyak yang gak sesuai di hati hehehe

    ReplyDelete
  5. Aku dulu jadi honorer 10 tahun Bai, ada juga seniorku yang mpe 20 tahunan. Alhamdulillah diangkat pas zamannya Pak SBY. Yang sabar ya Bai, semoga para guru honorer bisa segera diangkat jadi PNS semua aamiin.

    ReplyDelete
  6. sangat disayangkan. berapa banyak honorer yg kecewa. dan saya rasa adanya honerer banyak membantu guru lainnya.

    ReplyDelete
  7. HARUS GANTI PRESIDEN DULU MAS....HONORER BISA DIANGKAT....

    ReplyDelete
  8. HARUS GANTI PRESIDEN DULU MAS....HONORER BISA DIANGKAT....

    ReplyDelete