Suatu Ketika, Guru Komputer Ajarkan Siswanya Ngeblog


Laboratorium komputer begitu pengap ketika saya membuka kuncinya. Gorden berwarna biru melambai-lambai mesra kepada angin yang masuk melalui – entah dari mana. Sakelar lampu saya tekan ke atas, seketika remang yang menjadi-jadi di pukul 07.30 itu mengubah posisi duduk ke lebih terang. Komputer server saya hidupkan dalam beberapa menit menyala karena termakan usia. Mungkin terlalu banyak data tetapi juga tidak karena di sana hanya kumpulan tugas-tugas siswa dalam bentuk Microsoft Word, Excel maupun Power Point. Serta, beberapa slideshow yang saya simpan untuk mendukung pembelajaran.

Saya termangu beberapa detik, menelusuri tiap sudut yang kusam dengan warna dinding dan berdebu di atas monitor maupun meja komputer klien. Lantai keramik seolah-olah tak pernah kena air pel. Mungkin juga diabaikan karena ini tempat ‘umum’ sehingga suka-suka piket kapan mau menyapu dan mengepel. Saya sekonyong-konyong berteriak kepada beberapa siswa yang lewat, terburu, mengejar hapalan pagi di perkarangan sekolah, untuk mengambil sapu di kelasnya. Entah tak mendengar atau terburu, siswa itu tak kembali dengan sapu di tangannya.
Hal biasa, jika engkau diabaikan siswa di sekolah. Bahkan, bicara anak-anak zaman now yang engkau sebutkan terlalu sibuk dengan media sosial dan game online. Maka, jangan salahkan guru jika dalam keseharian mereka lebih banyak ‘bengong’ di dalam kelas daripada menerima pelajaran singkat. Demikian pula hari itu, bahkan hari-hari yang lewat nantinya, saya menunggu dan terduduk diam tanpa irama menanti siswa datang.

Tiap kali, saya berujar, “Jika pintu lab terbuka, langsung masuk saja!” namun berkali-kali pula saya diabaikan oleh siswa sendiri. Tiap pagi, saya terbirit-birit mengejar mereka ke kelas, ke kantin, bahkan ke parkiran sepeda motor, “Ayo masuk ke kelas!” dan seribu alasan mereka “Belum makan,” atau mungkin, “Belum datang,”

Saya teramat terbiasa dengan deadline sehingga mengabaikan yang selalu excuse terhadap apapun. Sebut saya suatu ketika, “Waktu itu kita yang kejar, di antara seratus cuma seorang saja yang selalu terlambat, maka saya buang keterlambatan itu!”

Dinamika, berbagai alasan, demikianlah keadaan di sekolah, tidak hanya di sini, tetapi di mana-mana saya yakin akan serupa. Mungkin di sekolah engkau yang hebat, pintu pagar langsung ditutup pukul delapan. Namun, di sekolah kami di rimba ‘belantara’ pintu pagar terbuka dari pagi sampai pulang sekolah. Maka, jangan engkau tanya betapa mudahnya siswa datang terlambat ke sekolah. Tetapi, patut engkau sesali satu hal; adalah dia lagi, dia lagi, dia lagi, yang memiliki peringkat nomor satu atau dua terakhir dari rangking sebenarnya di dalam kelas!

Tiba saya memulai. Entah itu ricuh. Entah komputer menyala dengan sendirinya. Entah mungkin pintu laboratorium akan berderit sebentar lagi menerima seorang siswa yang terlambat. Pelajaran komputer tak lain sebuah mata uji idaman siswa-siswa saya. Alasannya tentu saja bersenang-senang dengan perangkat keras dan lunak di depan mereka. Di waktu senggang usai materi pokok, saya biarkan mereka melakukan apa saja dan mendiamkan mereka main game sebatas bongkar-pasang kartu atau ganti baju boneka Barby. Toh, game-game sekelas DotA (Defense of the Ancients) atau GTA (Grand Theft Auto) tidak akan pernah ada di komputer sekolah.

Meski nanti, di Kurikulum 2013 pelajaran ini dikucilkan karena dianggap ‘tidak penting’ walaupun ujian akhir pakai komputer. Catatan penting bahwa – kami yang paham siswa-siswa bisa pakai komputer atau tidak bukan peraturan seenaknya saja. Catatan lain adalah, pelajaran komputer itu praktik – psikomotor – bukan teori dari Bumi ke Bulan. Tanpa praktik jangan coba-coba, bahkan orang yang mengaku bisa komputer beberapa bulan tak pegang lenyap sudah ilmunya!
Dan saya adalah guru komputer meskipun bukan tamatan sarjana komputer. Di ruang yang sering pengap, saya menghardik, saya menghujat, saya mencambuk siswa, “Paling tidak kalian bisa mengetik!” atau juga, “Lulus dari sini kalian bisa hidupkan dan matikan komputer!” bagaimana jika pelajaran ini dihilangkan? Ya sudah, merabalah mereka yang tak punya komputer dan biaya les yang mahal!

Di tingkat akhir, kelas tiga menengah atas. Saya mencambuk siswa-siswa dengan pelajaran penting nggak penting. Mungkin engkau mengira pelajaran ini tidak penting sama sekali karena tidak akan mengangkat engkau yang hebat jadi pegawai. Mungkin engkau menganggap materi ajar ini hanyalah isapan jempol belaka, tetapi tampak nyata bahwa ‘mereka’ di sana yang tidak bergantung hidupnya dari gaji pemerintah dan perusahaan besar, adalah yang tiap hari berada di depan komputer. Mereka adalah konten kreator; orang-orang kreatif dalam membuat tulisan, animasi bahkan video.

Dari sini saya memulai sebagai materi ajar kepada siswa-siswi. Saya ingin membuka jalan, memberi tahu, mencoba mereka cicipi dan rasakan nikmatnya nanti. Jika engkau bertanya, sebelum itu saya jawab saja, belajar menjadi konten kreator di luar sana, di kota-kota besar, telah mahal biayanya. Saya hadirkan kemudahan. Membentak dengan beberapa pandangan. Menatih mereka mencari tahu dan mengajar yang tidak tahu.

Mungkin lagi, engkau berkilah. Siapa sih yang tidak bisa internet zaman ini? Oh, mungkin saja maksud engkau itu adalah smartphone dengan game online, Youtube, media sosial, baca-baca berita, mengunduh dan menginput data. Ini hanyalah bersifat konsumtif. Kita pemakai. Kita penikmat. Tetapi, bukan pemberi ‘suaka’ terhadap konten-konten yang selama ini engkau pamerkan kepada banyak orang.

“Kalian bisa jadi begini dan begitu!” ujar saya sebagai pemantik semangat pagi. “Lulusan kuliah di daerah kita banyak sekali, kampus tempat kuliah juga begitu banyak, namun hanya sebagian dari mereka yang kemudian mendapatkan pekerjaan layak,”

Siswa-siswa menyimak. Entah tahu arahnya ke mana. Entah bingung. Saya mau, mereka paham karena kelas dua belas adalah masa paling rentan untuk mengubah posisi hidup menjadi lebih baik. “Tak sedikit dari lulusan kampus terbaik sekalipun, pulang kampung halaman, menanti tes pegawai negeri atau menjadi tenaga honorer seperti saya!”

Mulai panas, gaduh seketika. “Kalian mau memilih yang mana? Apakah menanti dapat pekerjaan dengan terus meminta jajan kepada orang tua? Atau SPP kuliah terus dibayar oleh orang tua?”

Maka jangan. “Jadilah seorang yang kreatif, gunakan internet sebagai sarana untuk itu!”

“Karena mudah, kamu bebas mau duduk di warung kopi mana di Aceh ini karena internet gratis dalam secangkir kopi!”

Mulailah cara yang mudah itu. Engkau tentu tahu Raditya Dika, bukan? Jauh sebelum terkenal sebagai selebriti atau mungkin juga Youtuber kondang, pria ini adalah penulis blog rasa bunga-bunga asmara yang lucu dan nikmat. Kumpulan kisah lucunya di blog kemudian diterbitkan menjadi buku, best seller, lalu merambahlah dia ke Youtube dengan konten-konten serupa. Meledak. Kini, dia dikejar-kejar ‘setoran’ karena kreatifitas tanpa batas.
Saat saya mulai membuka slide Power Point, sedikit khawatir bahwa siswa-siswa di depan adalah mereka yang memiliki cita-cita pemain bola andal, dokter bedah plastik atau guru dengan tunjangan sertifikasi berlimpah. Saya membuka tabir, karena masa ke masa, belum tentu apa yang diidamkan tercapai maka mulailah dengan ‘sedikit’ aroma berbeda. Saya ingin mereka membuka mata, ragam profesi tidak membatasi dalam membuat konten di internet.

Materi singkat saya berikan sebagai candu untuk mereka memulai. Lantas, praktik langsung mulai dari membuat surat elektronik sampai akun blog terjadi begitu saja. Mudah. Simpel. Ringan dan gesit. Namun, lepas dari itu adalah konten. Engkau mau memasukkan apa ke dalam blog yang indah itu? Engkau ingin berbagi tentang apa?

“Kamu tulis tentang lutut yang sakit setelah main bola kemarin sore!”

“Tulis saja kamu ditinggal pergi pacar karena telah gemuk!”

“Nggak masalah. Mulailah dari hal-hal terdekat denganmu, biasakan dengan itu sebelum kamu benar-benar ‘profesional’ nantinya!”

Kita, kadang terlarut dalam khayalan tingkat tinggi, ingin langsung terbang padahal sayap belum utuh. Saya mengubah pandangan itu, kepada siswa-siswa ini. Biar mereka mulai dari awal. Biar mereka merasakan perihnya karena dengan itu indah pada masanya akan terjadi. Saya ‘pamer’ sedikit kepada engkau bahwa masa eranya Multiply, warna-warni template sering saya ganti untuk mengindahkan tulisan berupa puisi, curahan hati patah hati, maupun cerita pendek yang gagal dipublikasikan media massa. Multiply raib entah ke mana, tulisan-tulisan saya ikut dengannya.

Beranjak waktu, saya mengenal Kompasiana sebagai blog warga, lalu BlogDetik, sampai kemudian benar-benar aktif menulis di akun personal menggunakan Blogger. Waktu terus berpacu, saya terus mengejar personal branding dalam dunia literasi maya yang kian hari kian digempur oleh konten-konten beragam dari blog individu maupun kanal berita. Kemudian, travel blogger menjadi salah satu sosok yang dipandang indah oleh pemberi rejeki kepadanya. Blog-blog traveling bertebaran di mana-mana. Saya bukan traveler, saya guru, maka sedikit sekali pelajaran yang bisa dibagikan tentang perjalanan.

Makin ke sini, blog komunitas yang menawarkan pembayaran menggiurkan tak bisa dielak. Jika akun blog personal adalah suka-suka lalu dapat hadiah, maka saya beralih ke UC News untuk mendapat pemasukan dan ke Steemit untuk membangun komunitas lain yang – mungkin – suatu saat bisa ‘kaya raya’ dengannya!

Perjalanan panjang. Melelahan. Saya ingin berhenti. Tapi, engkau tahu? Sekali engkau candu dalam menulis – membuat konten lainnya – maka tak mudah untuk meletakkan ‘pena’ itu!

Pada siswa-siswa di sekolah saya minta izin libur beberapa hari setelah menerima e-ticket sebuah perjalanan dari buah karya. Kembali dengan siswa-siswa, saya meminta mereka menjadi objek foto karena permintaan sponsor atau sedang ingin menulis sesuatu tentangnya. Maka, wajar jika saya tantang mereka untuk membuahkan karya, melalui blog, perlahan-lahan sebelum nantinya menuai hasil yang sempurna.

Suatu ketika, guru komputer mengajar siswanya ngeblog, mungkin tidak wajar karena saya bukanlah ahli CMS, master Google Adsense, peraih keuntungan besar dari UC News atau Steemit, juga bukan guru Bahasa Indonesia yang paham sekali kaidah kepenulisan. Saya adalah saya, begitu saja dan mengajarkan dari pengalaman yang entah diterima atau tidak.

Jika engkau membaca ini dan menganggapnya sebuah kecemasan, engkau belumlah melihat betapa cemasnya siswa-siswa tentang masa depan mereka. Saat lapangan pekerjaan makin rumit, jalan itu menjadi terang dengan konten kreator. Engkau melarang materi ini, saya tidak mau siswa-siswa tidak memiliki bekal nantinya. Paling tidak, jika mereka kuliah, ada cara untuk menutupi SPP dan biaya makan sehari-hari!

Ketika guru komputer mengajar siswanya ngeblog, ketika itu pula saya tahu perjalanan mereka masih sangat panjang. Begitu tirai jendela laboratorium komputer saya tutup, pintu dikunci kembali, siang telah terik, saat itu pula catatan dari sebuah pengalaman dimulai!

Guru Blogger | Email: bairuindra@gmail.com

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

1 komentar:

avatar

wow artikel yang sangat bermanfaat setelah membaca artikel ini jadi tambah semangat untuk mencapi kesuksesan.