Thursday, May 3, 2018

Limitless Gaming: Peragaan Smartphone dari Indonesia untuk Indonesia


Misterius dan gahar. Sama dengan perpaduan warna di gambar pertama ini. Saat Katerina meminta saya untuk berpose di dekat logo limitless gaming tersebut, saya merasa bahwa suasananya akan berbeda. Rasa berbeda itu tampak nyata dan menjadi sesuatu yang tidak bisa saya jabarkan dengan pasti; bahwa smartphone yang sebentar lagi launching itu adalah mahakarya dalam misteri.

Saya mencoba untuk terlihat senada dengan background logo itu; pura-pura kalem atau mungkin juga mencerminkan kesan ‘gahar’ sesuai keinginan smartphone terbaru nanti. Kamera Katerina mengarah ke sesimpul senyum yang coba saya sunggingkan menjadi lebih berirama. Entah saya melihat ke arah kamera atau sedikit ke pinggirnya, hanya dua kali saja jepretan kamera itu telah usai mengabadikan kesan mendalam.
Aroma yang terasa segar, sekadar kembali bercerita tentang undangan acara. Katerina berulangkali menarik momentum tentang timphan yang belum sempat saya bawa. Timphan itu seolah melekatkan kembali tali-tali yang tidak pernah pudar di antara kami. Sedikit cerita, saya selalu berujar bahwa mungkin saja timphan akan basi jika melewati perjalanan udara yang jauh. Namun, kata Katerina, “Basi pun akan ku makan, Bai!”

Di pagi yang terburu di Banda Aceh, saya bersama teman mencari timphan yang biasanya dijual di pinggir jalan. Jajanan pagi di Aceh memang telah menjadi ciri khas tersendiri dan banyak sekali penjual yang menjual aneka kue; khas Aceh atau bukan. Timphan ini adalah salah satu jajanan pagi yang wajib di semua penjual. Pilihannya – biasanya – ada dua yaitu isi kelapa muda dan srikaya. Timphan dengan isi kelapa muda juga ada dua pilihan – jika dijual demikian – di mana kelapa muda tanpa dimasak terlebih dahulu dan kelapa muda yang telah dimasak. Saya memilih kelapa muda yang dimasak karena membawa timphan ke dalam kompartemen pesawat terbang. Sedikit khawatir, kalau-kalau timphan ini benar-benar basi begitu sampai di tangan Katerina.

Suasana pagi di pusat kota provinsi Aceh memang tidak sepadat Jakarta. Tetapi, saat membeli timphan antrian panjang tak bisa dihindari. Satu kemudahan jika kamu beli timphan atau jenis kue lainnya, kamu bisa memilih sendiri, memasukkan ke dalam kotak atau plastik sendiri, lalu bayar dengan menyebutkan jumlah yang diambil. Rata-rata kue pagi yang dijual ini dengan harga Rp 1.000, lalu saya mengambil sekitar 30 timphan dengan isi kelapa muda dan srikaya.

Kotak kue itu saya bungkus sekadarnya dan memasukkan ke dalam ransel. Perjalanan udara lebih kurang 2 jam 50 menit itu tak membuat timphan menjadi basi meski di kabin dinginnya tak terkira. Pesawat mendarat dengan alunan lagu-lagu nusantara diputar 5 menit sebelum pintu dibuka. Kebetulan, pesawat kami mendapat tempat parkir di sisi paling akhir dan tak bisa dielak pegal langkah menuju antrian bagasi, dan pintu keluar. Tiba di area penjemputan, saya harus menunggu beberapa undangan lain yang belum tiba. Jam 1 lewat, baru kami meninggalkan Terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta, Cengkareng.

Bagaimana nasib timphan jika macet tidak membawa saya dengan cepat ke Grand Mercure Harmoni di Jakarta Pusat? Di perjalanan kali ini, saya benar-benar khawatir nasib timphan daripada memikirkan hal lain atau ‘pekerjaan rumah’ yang belum usai. Check-in hotel yang terburu, Katerina telah menunggu dengan senyum merekahnya.

Mulailah kami kuliner nusantara – ciri khas Blogger ASUS – saat berkumpul. Di sudut kamar lantai 14, timphan menjadi ‘manisan’ yang manis untuk Katerina, Dian Radiata, Ihwan Hariyanto, Primastuti Satrianto, dan juga Deddy Huang. Belakangan, Maseko, Andre, Askar Juara, Harry, Elvina dan Arief Ramadhan ikut menyusul.
Kuliner nusantara itu beragam dan kami makan sama-sama dalam tawa. Momen paling seru tentu saja saat Katerina ‘memaksa’ semua dari kami untuk berpose judes dengan cilok pedas. Saya yang tidak bisa makan pedas ikut-ikutan untuk menyenangkan hatinya. Rekam wajah dalam berbagai ekspresi ini tentu saja menjadi ‘kudapan’ yang selalu dikenang selain acara puncak nanti – besok hari tepatnya.

Kamu bisa melihat ekspresi ceria Katerina yang menjadi ketua pasukan senja itu. Lalu pose manja Maseko yang memang selalu ada saja gayanya mulai dari aneh, ajaib sampai penuh suka duka. Ratu swafoto, Primastuti selalu cantik meskipun hanya sedikit senyum yang ia keluarkan. Dian yang saya kenal tomboi dan kalem juga tidak bisa membuang ekspresi senangnya. Elvina yang baru saja bergabung di event kali ini langsung dapat berbaur dengan mudah. Andre termasuk cowok kalem namun ekspesinya di depan makanan sedap tak bisa ditipu lagi. Si tampan Askar tak bisa berpaling dari cilok di tangannya. Harry adalah punggawa senja yang selalu ada saja rayuan dan guyonannya. Arief sedikit berbicara tetapi dikagumi oleh kita semua berkat ‘suhu’nya yang kuat. Saya sendiri jangan ditanya ekspresi lelahnya. Terakhir, adalah seleb kita Deddy Huang yang ada saja pose untuk memotret tiap makanan yang baru saja dibuka.
Usai kuliner nusantara dadakan itu, saya dan Andre kembali ke kamar. Istirahat sebentar lalu turun ke ruang pertemuan untuk mendengarkan petuah dari Advent Jose – si tampan yang selalu ceria dalam tiap ­e-mail-nya kepada kami. Acara itu dimulai dengan tawa dan diakhiri dengan tawa pula. Penuh canda dalam tiap babak dan kami menikmatinya seperti biasa. Jose ‘memimpin’ pasukan dengan arahan-arahan; apa yang mesti kami lakukan esok hari dan pekerjaan rumah yang menanti dalam jumlah banyak.

Babak selanjutnya adalah ‘jalan-jalan’ santai ke mana suka. Andre sebagai anak muda – hampir selalu begitu tiap ada event – memberikan dua opsi, yaitu ke Kuta Tua atau ke Monas. Jarak yang hampir sama antara dua tempat tujuan dengan hotel, juga memiliki cita rasa yang berbeda. Jika ke Kuta Tua cuma santai seadanya dan melelahkan, ke Monas adalah air mancur indah dengan senandung irama nusantara.

Kami memilih Monas karena merasa lebih menarik. Andre juga menyebut jika Jakarta Fountain itu, yaitu air mancur dengan lampu indah diiringi lagu-lagu yang diaransemen tak kalah indahnya pula, hanya ada di Sabtu malam dan Minggu malam. Pemandangan di Monas juga lebih menarik karena kebanyakan dari kami belum pernah mampir ke Monumen Nasional pada malam hari.

Mulailah jalan setapak itu meniti trotoar, menuju ke halte TransJakarta yang berada persis di depan hotel kami menginap. Dalam perjalanan, ada saja celutukan kami dan tentu saja berswafoto di dalam bus yang ramai. Tawa tak henti karena begitulah keadaan yang sebenarnya terjadi.

Sampai di Monas, tak elok jika belum membuka sebuah frame yang menarik. Deddy Huang selalu punya cara untuk mendapatkan foto keren dan berbeda. Mulanya untuk dirinya sendiri lalu kami ikut berbaur untuk masuk ke dalam frame indah ini. Kamu bisa melihat senyum merekah kami di antara birunya Monas dengan emas menyala di puncaknya.
Ramai orang di Monas? Tentu saja. Mereka berfoto di depan monumen kebanggaan itu, duduk santai di bawah lampu dan sebagian lainnya segera merapat ke air mancur yang sebentar lagi dimulai. Kami pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Saya sedikit berlari karena ditinggal rombongan. Suara presenter yang entah berupa cantik dan tampan telah terdengar. Orang-orang mulai merapat ke sisi air mancur yang belum menari. Peringatan dari suara penuh tawa itu adalah; jaga barang bawaan masing-masing. Lantas, mulailah alunan indah terdengar dalam percikan air mancur.

Pulang dengan segenap lelah adalah tujuan yang pasti. Namun, jangan berharap kami diam saja dalam perjalanan. Ada saja celutukan. Ada pula panorama yang mesti dipotret. Dan pasti tidak akan melupakan ‘keindahan’ dan ‘kekalutan’ Jakarta yang tak pernah tidur. Saya merasa telah benar-benar lelah. Dimulai dengan memburu timphan pagi di Banda Aceh, tidur tak nyenyak di seat pesawat setelah makan, langkah kesemutan menuju pintu kedatangan bandara, duduk berdesakan di dalam bus menuju hotel hampir 2 jam, lalu ke Monas dengan segenap harapan.

Saatnya tidur, itu sudah pasti!
***
Pagi yang cepat, sarapan juga tak kalah cepat. Bus-bus yang akan membawa kami ke Ritz Carlton Pasific Place di Jakarta Selatan, telah menanti dengan indah. Saatnya berdesak-desakan lagi di dalam bus selama 1 jam lebih menuju Limitless Gaming. Kami telah ditunggu oleh makan siang dengan aneka kelezatannya. Potret sana-sini adalah sebuah hal yang menarik. Di mana ada logo menarik, jepret. Di mana ada yang unik, jepret. Pun demikian, foto ‘keluarga’ juga harus ada.
Keceriaan itu pasti. Kami tertawa lepas, kami bahagia dan kami senang berada di antara sekian banyak undangan lainnya. Lama mengantri untuk masuk ke dalam ballroom yang telah saya kira adalah dingin, akhirnya pintu dibuka. Suara musik pengiring telah dimulai dan kami mencari kursi masing-masing sesuai dengan keterangan yang dipegang oleh wanita cantik di sekitar itu.

Musik terus diputar. Logo ASUS bergantian di layar besar itu. Kami duduk dengan tawa terindah. Tak lupa swafoto atau foto dengan gaya khas untuk mendapatkan momen terindah. Ada yang sadar kamera dan ada pula yang lupa akan hal itu. Mungkin mereka terlarut dalam alunan musik atau sedang mengecek media sosial untuk memposting event yang segera berlangsung.
Saatnya tiba, alunan musik berhenti, acara dibuka dengan megah seperti biasa. Satu persatu petinggi ASUS Indonesia naik ke atas panggung. Suara lantang Benjamin Yeh, ASUS South East Asia Regional Director, menjadi pacuan yang benar-benar menarik. Benjamin seakan sangat bangga saat menyebut bawa smartphone yang hari ini dikenalkan adalah sebuah produk yang benar-benar menarik, bersahabat dan di Indonesia, dari Indonesia, untuk Indonesia, Pertama di Indonesia!
Gemuruh di ballroom tak bisa ditebak. Aungan merebak di mana-mana. Ucapan demi ucapan dari Benjamin memicu semangat yang tak gentar sama sekali. Pria ini telah memberikan semangat positif dalam pembukanya yang bikin penasaran. Semula, saya dan kami semua telah menebak-nebak soal spesifikasi dan detail harga yang akan diberitahu perihal produk yang dilaunching. Tak ada bocoran, kami hanya berharap bahwa harganya benar-benar murah dan didukung oleh kinerja yang tak kalah kencang.

Sesi ‘pembuka’ yang alot menjadi pijakan untuk memulai pengenalan sebenarnya. Oppa kami yang tampan – di BLUS sering terlontar demikian – adalah Galip Fu, Marketing Manager ASUS Indonesia, naik ke atas panggung utama dengan style Korea yang tak pernah lekang dari dirinya. Pesona Galip memang tiada duanya dalam mengenalkan produk yang diluncurkan. Tak hanya antusias mendengar seminarnya tetapi juga penasaran dengan produk yang akan lahir.

Tentu saja, lahir di Indonesia dan diperuntukkan untuk pasar Indonesia, ASUS ZenFone Max Pro M1 mendapat sambutan hangat saat Galip menyebutnya. Begitu suara ngebass Galip menyebut satu persatu spesifikasi dari smartphone ini, saat itu pula teriakan terdengar sangat kencang, terutama dari ZenFans yang duduk di sebelah kiri saya. Bahkan, ZenFans yang datang dari berbagai daerah di Indonesia ini memiliki yel-yel dan nyanyian khusus yang menarik perhatian.
Technical seminar ini menjadi lebih menarik saat Tatjana Saphira naik ke atas panggung. Jika biasanya, pemeran Hulya di Ayat-Ayat Cinta 2 ini hanya memamerkan produk yang dilaunching, kali ini si cantik membawa suasana berbeda. Tatjana dengan bangga mengenalkan ASUS ZenFone 5Q dan memberikan bocoran spesifikasi smartphone yang akan dijual bebas di Indonesia nantinya.
Limitless Gaming adalah momentum di mana 3 produk terbaru ASUS dikenalkan secara luas untuk pasar Indonesia. Ketiga smartphone ini datang dengan berbagai keunggulan dan dijual dengan harga relatif murah. Sama-sama datang di momen yang tepat, saya pikir smartphone ini layak untuk dipilih.

ZenFone Max M1 adalah smartphone yang datang dengan harga sangat murah tetapi memiliki kemampuan yang tidak bisa dikucilkan. ASUS menyegarkan banyak hal, baik prosesor, kamera maupun baterai dan interface. Review lengkap ZenFone Max M1 dapat kamu baca halaman ini.
ZenFone Max Pro M1 adalah primadona dalam event yang diadakan akhir April itu. Datang dengan Snapdragon 636 dan baterai 5.000 mAh adalah sebuah produk yang unggul dan gahar. Saya bahkan sangat mendambakan sebuah smartphone yang tahan lama seperti ini dan mampu menemani keseharian dalam beragam aktivitas. Kamu penasaran, maka langsung saja ke review ZenFone Max Pro M1 yang telah saya tulis sebelummya.
ZenFone 5Q hadir dengan bodi yang benar-benar keren dan elegan. Smartphone ini datang dengan 4 kamera dan penyempurnaan di banyak bagian. Saya sangat tergoda dan kamu tentu juga demikian jika telah melihat langsung, belum lagi jika bicara harga yang terjangkau. Saya tulis keunggulan ZenFone 5Q di halaman ini.
Usai pengenalan yang ‘singkat’ kami pun kembali pulang ke Grand Mercure Harmoni di Jakarta Pusat. Lelah sudah pasti. Ide-ide datang dengan sendirinya namun gala-dinner menanti kami dengan segenap menu istimewa dan juga live music dari band pilihan. Saya sudah tidak sabar menanti lagu-lagu asyik dan juga segera mengisi perut yang kosong.
Musik yang indah, game yang kadang lucu dan garing, pembagian doorprize berupa kaos, powerbank dan juga smartphone menjadi sesuatu yang dinantikan kehadirannya. Dalam balutan irama yang indah itu, kami menikmati sajian lezat silih-berganti. Jika kamu bertanya nama menu, saya pun tidak tahu apa menyebutnya. Hidangan ini datang begitu saja, tak ada pula lebel nama di meja kami.



Malam yang terus beranjak, mata lelah tetapi belum mau menyelesaikan momen berharga. Lonjat-lonjat dengan irama musik adalah kenikmatan tersendiri dari kami. Mata lain yang menatap seolah tak ada dan kami memiliki momen tersendiri untuk itu. Sesi foto kenangan-kenangan adalah di lobi hotel setelah canda-tawa reda. Senyum terindah dari kami menandakan bahwa hari itu benar-benar berharga dan sulit dilupakan begitu saja.
Foto usai. Kami bubar. Kembali ke kamar hotel masing-masing. Namun, saya, Katerina, Dian dan Deddy merapat ke toko sebelah untuk ngopi sesaat. Sebelum malam berlalu dan menaruh rindu di peraduan, saya merasa telah senang untuk hari ini!

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

0 komentar: