Siapapun Bisa Karena Biasa; Sebuah Catatan Akhir UNBK


Mari kita mencoba menelaah apa yang terjadi di sekitar ranah pendidikan sampai saat  ini. Ragam pendapat memang tidak bisa menemukan titik temu dengan mudah, ternyata kita membutuhkan sentuhan yang lebih besar daripada hanya duduk termenung. Aktivitas di satuan pendidikan terus berlanjut meskipun tidak bisa dielak. Anak-anak akan terus tersibuk dengannproses belajar di dalam kelas maupun di luar ruangan. Perubahan kurikulum terus ditingkatkan untuk mencapai batas unggul dari apa yang diharapkan. Tenaga pengajar terus dituntut untuk profesional dan melek terhadap teknologi. 

Dulu, begitu lonceng diketuk dengan keras semua berhamburan keluar ruangan untuk mencari udara segar. Kini, saat bel berbunyi kejadian serupa juga menjadi kebiasaan namun yang kekinian adalah pola pikir dan sudut pandang. Anak zaman dulu adalah generasi malu-malu sedangkan anak zaman sekarang lebih berani, termasuk dalam urusan proses pendidikan itu sendiri. Pertumbuhan yang cepat, generasi yang bersahabat dengan teknologi, semua terpatri begitu saja dan tidak bisa ditinggalkan karena makin hari perubahan itu sangat signifikan.

Soal kertas telah berganti halaman demi halaman di depan layar komputer. Demikianlah perubahan yang tidak bisa ditutup dengan mata profesor sekalipun. Generasi sekarang telah sangat mudah tahu dan belajar banyak dari teknologi. Saat aturan mengenai ujian berbasis komputer disebut sebagai acuan kelulusan maupun kejujuran dalam ujian, maka sambutan hangat ada di mana-mana.

Kemudahan. Mungkin kata ini bisa menjadi aroma yang luar biasa terhadap pelaksanaan ujian. Di mana hanya mesin yang bekerja sedangkan manusia sebagai pelengkap saja. Tak akan ada lagi kertas yang berserak, kesalahan foto kopi, salah membulatkan kolom jawaban, salah tulis identitas, semua telah terganti dengan permainan sistem. Tugas kita hanya memastikan bahwa mesin tidak bermasalah, peserta ujian datang tepat waktu lalu membiarkan keduanya berbaur dengan santai sampai selesai pada soal terakhir.

Siapapun  bisa! Asalkan ada kemauan dan keinginan kuat maka ujian berbasis komputer yang selama ini ditakuti sebenarnya tidak menakutkan sama sekali. Madrasah pelaksana bisa mencari cara, menyiapkan sarana, memberikan kepercayaan kepada pelaksana ujian – dalam hal ini teknisi dan operator – dan juga mengawasi tiap gerak-gerik pelaksanaan ujian. Peserta ujian bukan lagi bisa namun mereka telah sangat terbiasa dengan teknologi.

Bayangkan berapa jumlah anak-anak ujian sekolah yang main game di komputer. Benar sekali ini tidak ‘bermanfaat’ di mata sebagian orang namun sayangnya dari sini pula sebenarnya mereka terbiasa dengan teknologi. Anak-anak yang sering main game ini adalah sosok yang sama sekali tidak perlu diajarkan lagi cara login dan logout ke sistem ujian berbasis komputer. Artinya, pembiasaan dan kedekatan anak-anak dengan perangkat teknologi ini bisa dengan berbagai cara. Saya bahkan berujar bahwa ‘anggap saja ujian berbasis komputer ini seperti sedang bermain game!

‘Permainan’ yang dimainkan peserta ujian ini dengan genre lebih serius dan menantang. Permainan ini juga bukan untuk bersenang-senang semata namun ada capaian yang akan diraih setelah itu. Dalam permainan ini tidak ada menang atau kalah tetapi siapa yang lebih unggul akan mendapatkan hasil terbaik.
Dimulai dari ‘menyebut’ ujian berbasis komputer ini sebagai game yang memacu adrenalin, dari sini pula saya melihat peserta ujian lebih santai daripada kekhawatiran yang muncul kemudian. Saya terus-menerus berujar, ‘jawab saja soal-soal seperti sedang ikut kuis di smartphone atau di komputer!

Memang, mungkin saja ‘motivasi’ ini tidak bermanfaat bagi sebagian orang yang menilai dengan sudut pandang akademis yang ribet. Jangan pernah dilupa bahwa peserta ujian masih berusia belasan tahun, masih suka senang-senang, masih gemar menggunakan otak kanan dibanding otak kiri dengan teori-teori membingungkan. Saatnya bersenang-senang dengan kebiasaan mereka itu sendiri yaitu dekat dengan perangkat ujian.

Perangkat elektronik adalah pembiasaan di mana akan lupa tanpa dipegang. Terlepas dari bagaimana perdebatan setelah ini, pelajaran Teknologi dan Informasi (TIK) adalah kunci utama dalam menyukseskan UNBK di sekolah-sekolah manapun. Catatan penting bahwa tidak semua siswa di sekolah mampu mengoperasikan komputer tanpa diajarkan dengan benar, tidak semua memiliki laptop untuk sekadar bermain ‘game’, tidak semua orang tua mampu membelikan laptop dengan harga jutaan rupiah.

Proses belajar komputer yang panjang dan rumit hanya akan bisa jika ditatih seperti menaiki anak tangga. Barangkali tidak dipercaya namun jika sempat singgah ke sekolah-sekolah, coba survei kecil-kecilan berapa banyak guru yang mampu mengoperasikan komputer. Maka, pembelajaran yang berbasis komputer akan sangat sia-sia di saat guru gagap komputer, malah tergantung kepada siswa di dalam kelas yang bisa komputer dengan sendirinya tanpa melewati pelajaran khusus di sekolah. Dihapusnya pelajaran TIK dari Kurikulum 2013 kemudian menjadi kontradiksi dengan pelaksanaan UNBK itu sendiri. UNBK dituntut teknologi sedangkan pembelajaran tidak mengajarkan teknologi hanya duduk manis di depan slideshow yang mungkin guru bidang studi tidak bisa membuatnya.

UNBK dan kemampuan menggunakan komputer adalah wajib. Touchpad (papan ketuk) tidak mudah mengarahkan kursor ke jawaban benar tanpa pernah memegang laptop. Tetikus tidak akan bergerak jika belum pernah memeluknya sekalipun. Tentu, ini tidak cukup hanya dengan simulasi dan bahkan gladi bersih karena itu adalah pembelajaran dalam proses. Siapapun itu butuh waktu lama untuk mengetik sepuluh jari, menjalankan tetikus dengan benar dan sebagainya.
Anies Baswedan pernah berujar, “Yang dibicarakan tentang UN saat ini adalah kejujuran, bukan kelulusan. Prestasi penting, jujur yang utama. Ujian itu tidak boleh menghalalkan segala cara. Tidak ada lagi ‘subsidi jawaban’. Ini berarti Revolusi Mental yang dicanangkan Presiden sudah mulai terlaksana,

Jelas sekali keinginan dari Anies ketika masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Penyataan tersebut dikutip dari laman kemdikbud.go.id (01/04/2016) artinya 3 hari sebelum pelaksanaan Ujian Nasional pada 4 April 2016. Pernyataan Anies ini sejalan dengan pelaksanaan program berkelanjutan yaitu Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Anies memberikan pendapat bahwa dengan pelaksanaan UNBK di tahun 2015 memberikan jawaban bahwa tingkat kecurangan adalah nol atau indeks integritas UN sampai 100%.

Tahun 2018 merupakan tahun di mana pemerataan pelaksanaan UNBK di hampir seluruh sekolah dan madrasah. Kemendikbud merilis bahwa sekitar 70% sekolah maupun madrasah tingkat SMP akan melaksanakan UNBK. Standar acuan ini barangkali mengacu kesiapan masing-masing sekolah maupun berdasarkan kesuksesan pelaksanaan ujian berbasis komputer tahun lalu. Meskipun banyak faktor penghambat, terutama sarana yang tidak memadai, tampaknya pemerintah tidak ambil pusing dan memberikan beberapa celah untuk dapat ikut ujian.

UNBK telah didasari sebagai salah satu bentuk ujian yang mengutamakan kejujuran dan juga kemampuan peserta ujian akan teknologi. Selaras dengan capaian yang ingin diraih dalam pelaksanaan UNBK ini tak lain telah mengacu kepada Sistem Pendidikan Nasional itu sendiri yang telah tertuang dalam Pasal 35 No. 20 Tahun 2003. Poin pertama menegaskan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Poin kedua menegaskan bahwa standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

Penerapan teori boleh berupa apa saja tetapi saat sekolah diwajibkan pelaksanaan UNBK sedangkan sarana tidak mendukung, simalakama terus terjadi. Teknisi dan operator di sekolah menjadi sasaran empuk siswa-siswi yang mau ujian. Lantas, meminjamkan laptop kepada orang tua siswa adalah hal lumrah dan tidak diangap merugikan banyak pihak karena mendukung pendidikan. Pemerintah yang hanya menyediakan soal-soal versi online hanya terdiam saja saat satu sekolah harus ‘numpang’ sekolah lain agar lancar melaksanakan ujian berbasis komputer ini.

Saya tidak memiliki data yang akurat berapa sekolah yang kemudian ‘meminjamkan’ laptop kepada orang tua siswa. Saya yakin sekali sangat banyak sekali karena tidak semua sekolah ‘kaya raya’, tidak semua sekolah di kota besar dengan fasilitas lengkap, tidak semua sekolah memiliki sarana penunjang ini. Kacamata saya sebagai seorang teknisi yang cukup lelah memberikan penjelasan kepada siswa yang kritis. Anak-anak sekarang bahkan lebih paham daripada guru mereka soal laptop – teknologi. Saya bahkan berdebat panjang lebar soal baterai laptop mereka yang akan rusak karena dalam waktu lama dihidupkan untuk ujian.
Sekali lagi, pemerintah bahkan tidak menyediakan – setahu saya – dana khusus untuk sewa laptop ini selain dari alokasi dana yang telah diberikan – seperti pembelian komputer server dan pendukungnya. Siapapun memang bisa melakukan UNBK jika demikian karena anak-anak saat ini mudah sekali meng-klik jawaban, tidak dibutuhkan pengawas dan kertas, tidak dibutuhkan apapun selain mesin dan mesin. Maka, siapkah kita menyediakan mesin ini dalam tahun-tahun ke depan?

Tahun ini orang tua siswa rata-rata sudah mapan dan memiliki laptop untuk dipinjamkan. Tahun depan belum tentu. Sekolah ini memiliki alokasi dana dan mampu menghipnotis orang tua siswa soal laptop. Sekolah lain bahkan kalang-kabut memikirkan komputer server yang ‘wajib’ beli di atas Rp 10 jutaan. Pelaksanaan UNBK memang sukses di mana-mana meskipun sekolah tersungkur, teknisi dan operator tidak tidur dan bahkan anak-anak stress karena TOKEN tidak dirilis sesuai jadwal.

Sikap tergesa-gesa dari pemerintah kita yang belum sepenuhnya siap soal UNBK ini setidaknya jangan menilai di kota saja. Ayo bermain dengan kami di pedalaman yang mati rasa soal UNBK. Lihatlah bangunan sekolah yang reot, tengoklah fasilitas sekolah yang tidak layak, lalu pedulikan kepada anak-anak yang sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. Inilah kenyataan pahit tetapi dianggap telah usai dalam pelaksanaan UNBK. Bagaimana tahun depan? Kita tunggu saja kejutan manis dari pemerintah! []

Guru Blogger | Email: bairuindra@gmail.com

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"