Thursday, July 19, 2018

Jangan Katakan Tidak Main Medsos pada Anak Usia Sekolah


Imajinasi dunia maya, begitu istilah yang bisa saya gambarkan ketika masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan teriakan, coret-coret papan tulis dan meja, bau keringat sehabis olah raga maupun ballpoint yang patah karena berebutan satu sama lain. Imajinasi lahir begitu saja, dengan mudah, tak terkendali dan menyasar kepada guru muda seperti kami yang dipandang paham betul dunia kekinian. 

Tak mungkin kau bertanya kepada guru sesepuh, yang mungkin akan pensiun dua hari lagi, soal status Facebook beberapa menit lalu, atau trending topic Twitter yang disusupi iklan gratis, mungkin juga gambar-gambar dengan betis tak berkaos bebas dijajakan melalui sponsored post Instagram. Tanya itu akan tertuju kepada kita yang memiliki akun media sosial dimaksud, di mana dengan mudah pula siswa-siswi menambahkan pertemanan tanpa pikir panjang, dengan membuang tata krama bahkan menganggap biasa saja karena “Oh, nanti bisa kirim pesan ke Bapak kalau ada pelajaran rumit,”
Begitu mengalir imajinasi itu, tak terbendung dan tak bisa dikalahkan dengan soal-soal hitungan matematika sampai ratusan sebagai hukuman ribut di dalam kelas. Dalam imajinasi itu, mereka cengengesan bahkan saat pensil hampir patah dalam mengalikan satuan dengan puluhan. Tak ada rasa bersalah soal imajinasi di embun pagi, di siang terik dan juga di waktu hampir bel pulang berbunyi.

Imajinasi mereka tak bisa ditutupi karena ini adalah masa, ini hanya perubahan yang tidak bisa dihindari, ini zamannya sudah demikian. Tak perlu saya harus menyebut, “Oh, zaman Bapak dulu ini belum ada,” karena memang pengembangan teknologi termutakhir baru sepuluh tahun terakhir. Facebook menjadi kekinian sejak smartphone mulai naik daun di atas tahun 2010. Twitter kemudian menyusul dan Instagram tak lama kemudian menjadi tren aplikasi berbagi foto yang bebas diakses oleh siapa saja.

Anak merengek, orang tua dengan bebas membelikan smartphone tipe terbaru yang baik untuk swafoto, gahar untuk main game, dan tentu harga mahal. Sekarang, lebih sulit menemukan feature phone dibandingkan melihat smartphone yang rata-rata di atas 5 inci. Jika dibiarkan, sekali saja, halaman sekolah, di dalam kelas, akan bersemak perangkat layar sentuh tersebut.

Update status, upload foto, cekikan di grup chatting; adalah hal yang sangat wajar di kacamata seorang siswa. Bahkan, guru pun berani bertanya kepada siswa yang lebih paham jika, “Handphone Bapak kok nggak mau konek ke internet ya?” di mana dengan sigap siswa yang ditanya memberikan solusi terbaik sampai smartphone itu kembali terhubung ke dunia maya, dengan notifikasi grup hampir membuat perangkat jatuh saking keras getarnya. Cepat. Gesit. Peka dan penuh imajinasi. Sekali lagi. Imajinasi. Dan imajinasi siswa soal teknologi terutama internet tidak bisa diracuni sehingga layu bahkan sampai mati.

“Bapak suka like foto cewek cantik ya?” itu karena mereka tahu aktivitas kita di dunia maya.

“Status Bapak kok aneh-aneh terus ya?” itu karena status kita mask ke timeline mereka.

“Bapak kok share berita itu, padahal belum tentu benar,” misalnya saat kita salah bagikan informasi tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

Tidak perlu ditangkal. Tidak perlu pula disebut ‘haram’ bahkan blokir seperti kejadian-kejadian yang telah lewat. Sekali lagi, ini adalah masanya. Tidak bisa dibendung. Tidak bisa ditutupi. Tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ia mengalir seperti air maka kita ikuti arus tersebut dengan tertatih atau berlari kencang. Patut diingat bahwa hilang satu tumbuh seribu. Hukum ini sangat berlaku di dunia maya. Saat kita memblokir satu situs misalnya, tak berselang menit, situs yang sama akan kembali muncul hanya berbeda akhiran atau domain saja.

Misalnya, kita sebut situs.com mengandung unsur pornografi dan wajib blokir karena akan diakses oleh siswa-siswi yang masih polos. Maka, situs.com tumbang, tak lama akan muncul situs.net atau situs.xyz atau situs.me dan sejenisnya. Catatan penting bahwa pengelola situs adalah mereka yang mencari uang dengan cara demikian, mereka membutuhkan pengunjung untuk trafik dan klik iklan, mereka memiliki cadangan server di luar negeri yang mudah menghidupkan situs yang diblokir. Dalam mengibuli aturan main pemerintah yang kerapkali mudah goyah soal kebijakan, pengelola situs akan menanamkan server utama di negara-negara yang ‘halal’ akan perkembangan situs demikian.

Saat saya berbicara di depan kelas, “Situs.com nggak boleh kalian akses karena pornografi,” maka pulang ke rumah siswa-siswi akan membuka – bagi yang penasaran dan nakal tentunya – situs dimaksud karena ingin tahu isinya. Padahal, tanpa saya kasih tahu mereka sama sekali nggak tahu situs-situs tertentu yang mengandung unsur mematikan tersebut.

“Jangan cari cewek goyang seksi atau goyang gergaji di Youtube!” maka kata kunci itu yang paling utama siswa-siswi cari dan kemudian Youtube akan merekomendasikan ‘goyang-goyang’ serupa, bukan Upin & Ipin atau Marsha and the Bear atau juga Spongebob.
Sebenarnya, kita – orang dewasa – yang lebih banyak mengarahkan anak-anak di usia paling bahagia untuk masuk dan terjerumus ke dampak negatif dunia maya. Kita yang memulai dan kita pula yang harus mengakhiri ‘pertikaian’ di dunia maya tersebut. Aktivitas anak-anak seusia sekolah saya pikir tidak perlu dibatasi dan menghakimi. Dampak dari ini lebih parah daripada mereka terlihat langsung.

Berita palsu berseliweran, kita berikan pemahaman lebih dalam berdasarkan teori dan fakta yang akurat. Akses internet yang tak bisa dibatasi, kita atasi dengan memberikan pemahaman isu ini boleh dicari di dunia maya, mereka bisa lakukan ini di internet, mereka bisa dapatkan penghasilan dari endorsement media sosial.

Kita arahkan. Kita berikan manfaat yang lebih besar bukan hanya sekadar, blokir, haram, nggak boleh, jangan lakukan. Karena, anak-anak makin dilarang makin mendekat.

Duduk di barisan depan sebagai guru, 2 jam pelajaran lebih dari cukup untuk memberikan pemahaman-pemahaman soal masa depan cerah. Entah saya tidak tahu, entah media lupa memberitakannya, entah memang belum pernah dilakukan sama sekali. Ribuan program dari menteri agama hanyalah mendekatkan diri dengan orang-orang dewasa. Kemudian, orang dewasa ini menyalahkan anak-anak yang terbawa arus diskomunikasi, disinformasi dari dunia maya. Padahal, anak-anak perlu didekati, dijadikan teman, ditemani saat bersama gadget.

Kurikulum mudah sekali diubah. Jam pelajaran tidak bisa digoyah. Tetapi, 2 jam yang tentatif ini bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan bagaimana strategi yang ditentukan oleh orang dewasa. Dalam 2 jam diambil ini, tidak akan rugi pelajaran menghitung karena ada waktu lain, tidak akan tertinggal mengetahui kerangka tubuh manusia karena masih ada sisa jam yang banyak, tak juga anak-anak nggak bisa menghafal doa-doa karena masih luang waktu untuk menjamahnya.

Kita lakukan. Kita masuk ke dalam kelas. Kita bersahabat dengan siswa yang akan diam saat orang baru masuk dengan semangat berbeda dari gurunya. Di saat ini pula kita mengambil hati mereka, meraih imajinasi mereka dan membawa ke arah lebih baik. Tak perlu banyak teori, tak perlu kebutralan dengan menyebut haram dan blokir, tak perlu berteriak-teriak sampai urat leher terlihat jelas. Kita hanya duduk, menikmati, diskusi yang nyaman maka anak-anak akan merasa dirangkul dan didengar.

Dari satu sekolah berpindah ke sekolah lain. Dari satu sekolah kita memahami watak anak-anak. Satu sekolah berbeda dengan sekolah lain yang kemudian akan membuat kita berpikir, merenung banyak hal, program yang begini cocok untuk sekolah di pedalaman, program yang begini cocok untuk di sekolah dekat kota, program yang lebih atraktif cocok untuk sekolah di dalam kota.

Kadangkala, mudah untuk kita menyebut informasi itu adalah hoax di depan anak-anak sekolah pinggir sungai yang selalu banjir. Kita tidak melihat kening mereka berkerut karena menganggap paham betul maksud ucapan kita. Kita dengan mudah berujar, “Jangan main Mobile Legends!” pada anak-anak yang seharian hanya mencangkul bersama orang tuanya di sawah dan ladang. Tentu saja, pesan yang demikian tidak akan pernah sampai.

2 jam saja lebih dari cukup untuk saya keliling sekolah. Dari Sabang sampai Meurauke. Dari gunung ke lembah. Dari jalan becek ke jalan mulus. Dari bangunan atap rumbia ke gedung bertingkat. Kita harus memulai. Kita tidak bisa meninggalkan. Karena yang cepat ‘tiada’ adalah kita dan mereka akan tertinggal di usia belia. Nanti, hanyalah mereka yang akan membawa pengaruh, membawa obor kemenangan, membawa ke mana negeri ini dilanjutkan dalam cerita bersambung penuh ilustrasi.

Saya pikir, ini mungkin hanya program kecil saja. Tetapi, jangan lupa bahwa kecil-kecil cabai rawit masih berlaku di mana-mana. Kita harus memulai dari mereka. Kita abaikan mereka maka apa yang selama ini dikhawatirkan mudah terjadi. Siap atau tidak siap. Dalam 10 sampai 20 tahun ke depan, merekalah yang akan memimpin!

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

0 komentar: