Piala Dunia 2018 Hanya Milik Korea Selatan dan Penggemar K-Pop


Meski, Timnas Korea Selatan telah angkat koper setelah mengalahkan Jerman pada fase Grup F di 27 Juni 2018, tampaknya ‘juara’ liga dunia terbesar ini tetap milik negeri Ginseng. Son Heung-min dan kawan-kawan senegaranya, yang bukan boyband papan atas dengan lagu-lagu hits di tangga lagu Billboard, tetap dikenang karena menjawab ‘kutukan’ empat tahun juara dikalahkan dalam fase grup. Drama yang dibuat oleh oppa-oppa tampan di lapangan hijau adalah salah satu laga termanis sepanjang perjalanan Piala Dunia 2018 di Rusia. Coba lihat, adakah gempita dunia maya dan trending topic yang menghalalkan segala cara usai Korea Selatan permalukan Jerman?

Tampaknya belum. Kini, hanya terdengar desahan sesaat, riuh sebentar, dan biasa saja karena negara-negara jagoan telah tumbang. Sudut pandang para pecinta bola adalah saat Jerman, Brazil atau Argentina bahkan Portugal sebagai tim terkuat masih tersisa di laga. Bahkan, mereka rela bergadang untuk meneriaki gol saat Messi mendekati gawang atau Ronaldo mengumpan bola. Duduk di depan televisi sekarang, hanya untuk memulihkan rasa penasaran siapa yang akan menang dan berhasil menaklukkan musim yang belum bersalju di Moscow.
Korea Selatan telah pulang duluan. Tidak ada lagi drama dengan happy ending seperti saat melumpuhkan pertahanan Jerman di menit-menit terakhir. Semua akan ingat bagaimana kepala tertunduk Mesut Ozil saat keluar dari lapangan di Kazan Arena. Sorotan kamera ke arah megabintang Arsenal itu tidak bisa menutupi kesedihannya karena Heung-min yang hanya merumput di Tottenham berhasil melumpuhkan langkahnya. Berulangkali kenangan itu diputar, pemain Timnas Jerman tidak akan pernah melupakannya karena telah ‘menganggap’ Korea Selatan bukan lawan sepadan.

Begitulah drama yang bisa berubah apa saja di lapangan hijau. Dukun pun yang bertindak semena-mena bisa kenal offside bahkan penalti. Gempita Korea Selatan tak terkalahkan. Gaung penggemar terhadap negeri para aktor dan artis hebat ini mulai mengubah paradigma terhadap tampan dan cantik rasa plastik. Mungkin memang masih dipandang sebelah mata, tetapi setelah tahu soal kekuatan mereka di Piala Dunia 2018, maka tak bisa dielak bahwa ajang dunia terbesar ini hanyalah milik Korea Selatan dan juga penggemar K-Pop!

Pertandingan Korea Selatan melawan Jerman memang manis yang menjadi pahit. Gesitnya tiap pemain dalam membela negaranya memang telah menjadi hal yang sangat wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan. Kemudian, muncul hal-hal yang ringan, mungkin dianggap nggak penting tetapi sangat berguna untuk menjadi sebuah aroma yang menyegarkan. Hal itu adalah theme song yang membawa pengaruh besar terhadap gaung Piala Dunia itu sendiri. Tiap ada Piala Dunia, saat itu pula masuk sebuah lagu latar yang akan diingat sepanjang waktu. Tak ada lagu latar akan hambar rasanya Piala Dunia. Bahkan, beberapa orang termasuk saya selalu menunggu lagu latar Piala Dunia tiap tahunnya.

Kita tak pernah lupa dengan dentum Waka Waka (This Time for Africa) dari penyanyi cantik Shakira. Lagu yang dinyanyikan bersama grup musik Afrika Selatan, Freshlyground, menjadi theme song untuk Piala Dunia 2010. K’naan juga menyemarakkan olahraga sejuta umat itu dengan lagu Waving Flag di tahun yang sama. Theme song paling fenomenal barangkali milik Ricky Martin yang diberi judul La Copa De La Vida. Lagu latar dengan bait terkenal go go go, ale ale ale, diciptakan untuk Piala Dunia 1998 di Perancis. Lagu ini tidak hanya memuncaki tangga lagu Billboard tetapi berhasil meraih Pop Song of the Year pada tahun 1999.

FIFA tampaknya ingin mengulang sukses theme song untuk Piala Dunia. Jika lagu-lagu yang telah saya sebutkan seperti Waka Waka atau La Copa De La Vida, dihadirkan khusus untuk momentum Piala Dunia, berbeda dengan tahun 2018 di mana organisasi terbesar sepak bola dunia ini mengubah strategi. Saya tidak tahu pasti alasan mengapa FIFA tidak ‘mengeluarkan’ dana khusus untuk sebuah theme song ala Rusia dengan menggandeng musisi papan atas dunia. Mungkin juga pendapat dari Alex Stone, selaku manager media sosial Piala Dunia 2018 menjadi takaran yang manis. Stone menyebut bahwa pemilihan lagu untuk theme song Piala Dunia 2018 berdasarkan reaksi penggemar di seluruh dunia.

Maka, hasilnya cukup mencengangkan dan inilah kuasa penggemar K-Pop yang tidak bisa dibendung. FIFA akan mengelar ‘seremoni’ penutupan Piala Dunia 2018 di Stadiun Luzhniki, Moskow. Tentu saja, penutupan ini menjadi momentum yang sangat dinantikan oleh seluruh dunia. Semua mata tertuju kepada penerima tropi; baik negara maupun pemain terbaik. Penutupan Piala Dunia sendiri tak bisa dibendung auranya, lebih cadas, berenergi dan tentu saja akan menjadi kenangan paling manis. Di saat itu pula, lagu-lagu latar akan diputar dengan semerbak.

Sebenarnya, FIFA telah melakukan voting di tiga media sosial terbesar saat ini yaitu Twitter, Instagram dan juga Facebook. Akun Twitter @FIFAWorldCup dengan pengikut sebanyak 6,9 juta telah melakukan voting pada 4 Juli 2018. Lagu-lagu yang dipilih oleh FIFA adalah Fake Love dari BTS, Power dari EXO, Mi Gente dari J Balvin dan The Middle dari Zedd. Hasil vote menunjukkan selisih yang sangat tipis antara dua boyband papan atas Korea Selatan, EXO dan BTS. Di mana, EXO keluar sebagai pemenang untuk lagu Power. Sebagai catatan, lagu Power juga menjadi theme song di acara penutupan Olimpiade Musim Dingin ke-23 di PyeongChang, Korea Selatan. Tak hanya itu, lagu Power juga jadi bagian dari The Dubai Fountain di menara tertinggi dunia Burj Khalifa, Dubai, Uni Emirat Arab.

Di atas adalah akun resmi FIFA dengan hasil voting sedangkan di bawah adalah akun resmi dari Olimpiade yang memamerkan aksi EXO pada penutupan Olimpiade awal tahun lalu. 


Kekuatan Power dari EXO memang tidak bisa dikalahkan. Namun, bagi penggemar Bangtan Boys atau BTS juga tidak bisa berkecil hati karena melalui voting Instagram lagu Fake Love berhasil menyingkirkan Hey Brother dari Avicii dan Waving Flag dari K’Naan. Jawaban akun @fifaworldcup dengan pengikut 10,3 juta setidaknya bisa melegakan penggemar BTS. Stone juga menambahkan jawaban melalui akun Twitter miliknya, @AlexStone7, yang menguatkan lagu BTS akan bersanding dengan We One EXO yang sejak debut tahun 2011 selalu memuncaki tangga lagu. Tulis Stone,“Great news. We also ran a poll on Instagram. Fans of both group are winners! Enjoy the rest of the day/evening.

Catatan dari saya pribadi, lagu Fake Love memang tidak bisa menjadi sebuah theme song yang melegenda karena liriknya menceritakan kisah cinta yang teramat dalam. Sejauh ini, BTS belum menemukan lagu-lagu motivasi seperti Power dari EXO atau Into the New World dari Girls’ Generation yang mengubah pola pikir untuk terus maju dan meraih prestasi.

Voting lain dilakukan melalui Facebook di mana FIFA menyandingkan Waving Flag dari K’Naan dengan The Cup of Life dari Ricky Martin dan We Will Rock You dari Queen dengan Ice Ice Baby dari Vanilla Ice. Hasil vote ini menempatkan Waving Flag dan We Will Rock You sebagai theme song yang akan diputar bersama Power dan Fake Love.

Saya pikir, hasil voting di tiga media sosial ini telah menunjukkan betapa musik dan visual Korea Selatan telah menguasai dunia. Piala Dunia 2018 yang penuh drama di Rusia tidak hanya milik penggemar olahraga tetapi juga penggemar musik. Musik telah mengubah dunia. Lagu EXO dan BTS tentu saja bukan 100% ditulis dalam lirik berbahasa Inggris namun nuansa yang berbeda menjadi nilai tersendiri.

Ini adalah waktu K-Pop menguasai dunia. Tidak mudah untuk Power atau Fake Love masuk ke arena yang hanya disegari oleh pria gagah perkasa, seperti yang dielu-elukan penggemar bola. Kembali lagi, mereka yang disebut olahan plastik adalah mereka yang sebenarnya mencambuk mulut cadas dan tangan kesemutan yang terus menghujat.

Saya tidak tahu sebelum FIFA mengumumkan secara resmi kedatangan EXO atau BTS di malam penutupan Piala Dunia 2018. Saya cuma yakin, jika keduanya didatangkan maka bukan lagi trending topic dunia yang menggelora tetapi lebih daripada itu. Bisa dibayangkan bagaimana pecahnya Stadiun Luzhniki dengan teriakan pengemar kedua idola dunia ini. Saya tahu, untuk mendatangkan EXO dan BTS tidak mudah terkait jadwal padat mereka. Namun, ini adalah Piala Dunia, ini adalah momentum yang membuat kedua idola lebih dikenal dunia, terlebih untuk mereka yang kurang pekerjaan selalu menyudutkan olahan plastik dibalik tampannya penyanyi Korea Selatan.

FIFA tentu saja sanggup memboyong EXO dan BTS untuk menarikan Power dan Fake Love dengan berapapun biayanya. Apakah FIFA mau menyulap stadiun penutupan Piala Dunia dengan ‘konser’ mahal itu? Kita tidak tahu. Tidak ada yang tidak mungkin. EXO dan BTS bisa menunda jadwal lain hanya untuk datang ke Rusia. Jika ini benar-benar terjadi, maka tak bisa dielak lagi bahwa Piala Dunia 2018 hanya milik Korea Selatan!

Penasaran dengan Power dan Fake Love? 


Nah, bagaimana menurut kamu? Lagu mana yang lebih cocok untuk theme song Piala Dunia 2018 di Rusia?

Comments