5 Rasa Unik di Writingthon Asian Games 2018

Siapa sangka, empat putra-putri Indonesia yang mewakili daerahnya masing-masing bisa duduk di satu meja. Merangkai kata mengubah makna, berkompetisi dalam ajang Writingthon Asian Games 2018. Mereka tergabung dalam kelompok 9 dengan identitas berbagai rasa mi Aceh, rendang, ketoprak sampai sagu. Saranghaeyo menjadi slogan mereka. Dari pengalaman mereka eksis di Writingthon Asian Games 2018 lahirlah sebuah karya tentang 5 rasa unik yang jika dirasa akan manis, mungkin asam, juga pahit tetapi akan membuatmu tergoda untuk mencicipinya kembali.

Challenge yang Gokil dan Panik 
Selama mengikuti Writingthon Asian Games 2018 semua peserta diberikan tantangan yang unik dan gokil. Para peserta harus memposting cerita, foto maupun video dalam akun media sosial mereka. Uniknya, postingan tersebut berisi tentang kisah perjalanan masing-masing dari rumah menuju bandara. Postingan itu bisa dilihat di #writingthonasiangames #dukungbersama #asiangames2018. Gokilnya, waktu yang diberikan panitia sangat terbatas. Hanya berselang waktu 12 jam postingan sudah harus selesai. 

Di antara peserta ada yang rela mencari foto di mana-mana. Bahkan, ada yang rela bergadang semalaman untuk mencari ide dan merangkai kalimat yang pas untuk tantangan ini. Beraneka karya dihasilkan hanya dalam waktu semalam saja. Meskipun dalam semalam, karya-karya tersebut nggak kalah kerennya dengan karya-karya lain yang bertebaran di media sosial serupa. Gokil, bukan? 
Selain itu, kami juga ditantang untuk membuat tulisan secara berkelompok. Semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok beranggotakan 4 orang. Kami ditantang untuk menulis artikel semenarik mungkin, hanya dalam waktu 1 jam saja. Bisa membayangkan bagaimana paniknya kita? 

Kejadian di Bandara 
Para peserta Writingthon Asian Games 2018 diberangkatkan dari daerah masing-masing pada 15 Agustus 2018. Mereka berasal dari Aceh hingga Papua. Dari pengalaman mereka selama di bandara, ada yang eksis habis berfoto dengan maskot Asian Games 2018, menebar postingan bermanfaat dan tentu saja promosi Asian Games 2018. 

Keeksisan mereka nggak kalah keren dibanding para atlet Asian Games 2018 dari berbagai negara di Asia. Buktinya, postingan tersebut mendapatkan banyak like dan komentar. Selain itu, ada juga kisah memilukan yang dihadapi oleh salah satu peserta. Di mana laptop miliknya tertinggal di ruang tunggu bandara. Namun untungnya, laptopnya selamat dan dikirim langsung ke lokasi acara. 

Kisah lainnya dapat dilihat dari kegiatan para peserta selama menunggu bus di bandara. Kloter pertama dijemput pada jam 12 siang dan kloter kedua pada jam 3 sore. Selama menunggu penjemputan, para peserta saling berkenalan dan berbagi informasi satu sama lain. 

Writingthon Menyatukan 34 Putra Putri Daerah se-Indonesia 
Ajang Asian Games 2018 yang kali ini diadakan di Indonesia memberikan kesempatan penuh tidak hanya kepada para atlet daerah saja tetapi juga dari para pelajar, mahasiswa dan bloger. Kesempatan emas ini, telah menyatukan 68 penulis terbaik yang mewakili provinsi masing-masing. Mulai dari yang berkulit sawo matang, bermata sipit, berkulit hitam, semuanya menyatu dalam membawa nama baik Indonesia melalui karya masing-masing. Karya-karya ini nantinya akan dibukukan oleh Penerbit Bitread Publishing. 
Keseruan peserta tidak hanya di ajang tulis-menulis. Mereka saling berbagi keseruan dengan logat dan bahasa daerah masing-masing. Saling berbagi follow media sosial dan cerita unik. Ini merupakan kesempatan yang sangat langka yang patut dikenang. 

Kesempatan Nonton Opening Ceremony Asian Games 2018 
Setelah sesi bercerita pengalaman tadi malam, ada satu hal yang mengejutkan. Ternyata para peserta terpilih Writingthon Asian Games 2018 di sini rata-rata tidak tahu hadiah apa yang akan didapatkan jika memenangkan kompetisi ini. Menulis adalah hobi. Menulis adalah kesenangan. Menulis adalah keharusan. Menulis adalah jiwa kami. Begitu mereka mengakuinya hingga mengenyuhkan hati. Benar. Kami tidak peduli apresiasi apa yang akan kita terima. Kita hanya ingin menulis dan berkontribusi bagi negeri. 
Beberapa peserta bahkan lupa jika pernah mengikuti kompetisi ini. Mungkin karena terlalu banyaknya tulisan yang mereka buat. Hingga di hari pengumuman, banyak peserta yang tak menyangka akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti karantina selama 3 hari. Tidak hanya itu, kami mendapatkan undangan menyaksikan upacara pembukaan Asian Games 2018 pada 18 Agustus mendatang. Hal yang awalnya hanya dapat kami saksikan di televisi nasional, kini bukan sekedar mimpi lagi. Sebuah tiket yang harganya mencapai 1 juta, diberikan kepada kami secara cuma-cuma. Sebuah apresiasi yang membuat kami bangga menjadi penulis Indonesia dan mendukung bersama Asian Games 2018. 

Tentu saja kami juga mendapatkan berbagai fasilitas, suvenir, dan berbagai hadiah menarik lainnya. Namun yang terpenting kami bisa memiliki teman-teman yang luar biasa dari seluruh penjuru Indonesia dan pastinya ilmu yang bermanfaat. Kami tidak sabar untuk menyaksikan kemegahan Opening Ceremony Asian Games 2018. Berjuanglah Indonesiaku! 

Stand up Comedy dari si Anak Sagu 
Asian Games 2018 semenjak aku menjadi Liaison Officer pada kegiatan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Provinsi Maluku Utara aku sudah bercanda sama teman bahwa akan menonton Asian Games 2018. Alhamdulillah, kesampaian berkat kegiatan lomba menulis yang di selenggarakan oleh Kementerian Kominfo bekerja sama dengan Penerbit Bitread Publishing. Sebenarnya, aku nggak ikut bahkan nggak tahu kalau ada lomba ini, namun aku didaftarkan oleh teman. Setelah didaftarkan, baru dia memberitahuku, dan yang lebih membanggakan lagi aku menang dan mewakili provinsi Maluku Utara. 
Menjelang pengumuman aku begitu deg-degan. Saking deg-degannya, aku nggak ngaji tapi malah melihat handphone menunggu pengumuman. Padahal lagi di acara tahlilan salah seorang kerabat yang meninggal orang tuanya. 

Akhirnya, aku menang dan berangkat ke Jakarta. Ada cerita lucu ketika perjalanan menuju Jakarta, kita hampir ketinggalan pesawat karena sudah mau berangkat tapi kita masih foto-foto. Kita dipanggil oleh petugas bandara. Kata temanku, “Biarin saja kita foto dulu di sini,” saking antusiasnya. 

Karena sudah takut terlambat, kami nggak sempat sarapan. Alhamdulillah, kita transit di Makassar selama 45 menit. Awalnya sesampainya di Makassar kita ingin mencari makan, eh malah kita disuruh naik lagi ke pesawat karena akan segera berangkat. Setelah naik, pesawatnya nggak berangkat-berangkat. Di dalam pesawat, kurang lebih kita menunggu selama 1 jam. 

Biarpun kita berbeda darah tapi kita tetap saudara. Saya David, si Anak Sagu dari Maluku Utara. 

Inilah 5 rasa unik yang kami rasakan selama mengikuti Writingthon Asian Games 2018. Ayo dukung bersama Asian Games 2018. Salam sukses untuk para atlet Indonesia! Saranghae!
***
Copyright kelompok 9 Writingthon Asian Games 2018

Comments