Monday, August 13, 2018

Pelaksanaan UNBK di MTsN 1 Aceh Barat; Mau Tidak Mau Tapi Wajib

Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat memberikan tugas cukup berat untuk madrasah yang melaksanakan ujian akhir atau ujian nasional. Kewajiban itu tak lain pelaksanaan ujian berbasis komputer dengan standar 100% untuk seluruh madrasah yang berada di bawah naungan Kemenag, baik negeri maupun swasta. Di satu sisi, keputusan ini tak lain palu yang menyakitkan dan simalakama. Di sisi lain, keputusan tersebut adalah tantangan bagi seluruh madrasah baik soal kesiapan maupun mengenai kematangan pembelajaran yang telah berbasis teknologi.

MTsN 1 Aceh Barat menjadi salah satu madrasah yang menyanggupi pelaksanaan UNBK meskipun kala itu belum ada gambaran apa yang akan dilakukan dan terjadi kemudian. Pelaksanaan UNBK dinilai wajib maka madrasah harus menyanggupi hal demikian untuk menaikkan taraf pendidikan maupun nama besar madrasah di kemudian hari.

Persiapan yang termasuk tergesa-gesa – secara teknis – tidak menyulutkan semangat untuk berhenti sampai di titik di mana keputusan bimbang diberikan. Madrasah mencari cara untuk menemukan titik temu pelaksanaan saat Kemenag ‘hanya’ menyiapkan dana untuk penyediaan komputer server utama dan cadangan. Meskipun menekan biaya untuk server ini tidak akan mampu menyediakan laptop sebanyak 24 buah – minimal untuk satu sesi.

Keputusan ikut serta dalam UNBK tidak bisa lagi mundur atau meminta permisi. MTsN 1 Aceh Barat harus siap mau tidak mau walaupun dalam keberatan sekalipun. Kebimbangan sempat membuat keputusan untuk mundur sebelum pelaksanaan rapat dengan orang tua siswa. Meskipun hanya sekadar pemberitahuan soal teknis pelaksanaan dan juga kendala yang akan dihadapi, orang tua siswa tampak antusias untuk kesuksesan anak-anak mereka. Maka, keputusan yang diambil adalah orang tua yang ‘menyediakan’ laptop untuk pelaksanaan ujian berbasis komputer ini.

Dalam segala definisi, madrasah tentu saja lega namun tantangan yang dihadapi tidak semudah mengumpulkan laptop dari siswa yang memilikinya. Kendala itu justru muncul saat siswa-siswi memiliki pandangan berbeda soal teknis maupun kekhawatiran tentang perangkat mereka yang ‘dipinjam’ oleh madrasah.

Pelaksanaan UNBK tidak bisa dijeda bahkan sedetik saja. Madrasah mencari jalan tengah, memberikan pemahaman kepada siswa-siswi yang mungkin saja pengetahuan mereka tentang teknologi lebih tinggi daripada guru di madrasah. Pengumpulan laptop dilakukan, pemasangan komputer server berjalan begitu saja, kabel-kabel LAN (Local Area Network) telah terpasang di laboratorium yang nantinya akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan ujian, meja dan kursi diatur sebagaimana mestinya dengan kabel terserak dan bisa membuat terjatuh jika menyenggolnya, kabel LAN dan kabel aliran listrik menjadi pemandangan yang wajar dan tidak bisa disembunyikan. Internet yang tersendat juga dilakukan perbaikan untuk memudahkan sinkronisasi data dan bahkan pelaksanaan ujian nanti. Buku panduan berserak di mana operator untuk mencari celah kesalahan dan menjawab ketidaktahuan secara teknis. Smartphone tidak boleh jauh-jauh dari jangkauan untuk meminta pertolongan kepada orang lain yang lebih paham. 
Pelaksanaan UNBK di MTsN 1 Aceh Barat
Laptop dan Keraguan Siswa pada Daya Tahan Baterai
Orang tua siswa telah bersedia meminjamkan laptop untuk kebutuhan ujian berbasis komputer ini. Keraguan itu justru muncul dari siswa-siswi sendiri di mana mereka lebih memahami soal teknologi dibandingkan orang tuanya. Tidak mudah mengumpulkan laptop yang telah dijanjikan untuk membantu pelaksanaan ujian. Dalam menguatkan keyakinan mereka dibutuhkan beberapa waktu untuk menyoal tentang keraguan bahkan solusi yang akan madrasah lakukan jika laptop mengalami masalah.

Mustahil jika dalam penerapan akan sesuatu mendekati sempurna. Kendala itu pasti akan ada meskipun tidak tahu kapan terjadi dan kepada siapa akan memihak. Siswa-siswi yang memiliki laptop diminta segera membawa perangkat tersebut seminggu sebelum simulasi tahap 2 dilakukan – simulasi tahap 1 tidak dilaksanakan karena berbagai sebab salah satunya belum ada keputusan yang pasti dari Kemenag soal pelaksanaan UNBK.

Laptop tak lain sebuah perangkat elektronik dan siswa zaman sekarang memiliki pandangan dan bahkan pengetahuan lebih tinggi. Dalam keseharian, siswa-siswa lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop dibandingkan waktu orang tua mereka bekerja dengan perangkat ini. Anak-anak sekarang telah disuguhkan beragam game baik offline maupun online sehingga seakan tahu betul kondisi laptop yang baik dan tidak.

Sebuah laptop yang digunakan secara kontinu untuk gaming atau bahkan hampir 24 jam terkoneksi ke internet, lalu tidak melepas aliran listrik yang tersambung maka tidak tertutup kemungkinan laptop tersebut akan mengalami masalah pada baterai. Hal ini yang menjadi kekhawatiran siswa-siswi MTsN 1 Aceh Barat yang pemahaman mereka telah sampai ke sana. Mereka tahu benar bahwa saat pelaksanaan UNBK – simulasi, gladi sampai ke ujian – laptop mereka akan terkoneksi sepanjang waktu ke internet dan colokan listrik tidak dicopot.

Memang benar, selama pelaksanaan ujian, laptop siswa akan tersambung dengan kabel LAN dan aliran listrik. Salah satu alasan aliran listrik tidak dicabut karena apabila baterai habis tanpa disadari atau tanpa pemberitahuan oleh sistem laptop, laptop tersebut akan mati secara tiba-tiba. Laptop yang mati akan memulai sistem seperti semula saat disambungkan ke aliran listrik dan dinyalakan, internet yang disambungkan melalui kabel LAN juga melakukan refresh dengan sendirinya untuk online kembali. Waktu yang dibutuhkan untuk tersambung kembali ke sistem ujian juga lama di mana 15 menit TOKEN ujian berganti dan jika jaringan internet putus, laptop mati maka siswa yang bersangkutan wajib memasukkan TOKEN kembali.

Siswa yang menerima masalah ini memang tidak memulai ujian dari awal tetapi waktu ujian yang berjalan akan membuatnya tertinggal dalam mengejarkan soal. Dalam mengerjakan soal UNBK untuk jumlah soal 40 akan membutuhkan waktu 3 menit 1 butir soal – jika estimasi waktu 120:40, sedangkan untuk jumlah soal 50 maka 1 butir soal dikerjakan dalam waktu 2,4 menit. Waktu yang dibutuhkan oleh sebuah laptop dalam kondisi hidup tentu saja tidak pada 120 menit di mana ini adalah waktu pelaksanaan ujian.

Laptop dihidupkan minimal 15 menit sebelum pelaksanaan ujian dalam kata wajib di mana saat komputer server dihidupkan, kabel LAN yang tersambung akan melakukan sinkronisasi kepada seluruh laptop yang akan masuk ke dalam ujian. Jika 24 laptop yang akan ikut serta maka bisa disebut ‘proses penyambungan’ ke komputer server dilakukan secara online.

Pelaksanaan ujian – meskipun meleset karena kendala teknis – adalah pukul 07.30 maka setidaknya pukul 07.15, kondisi laptop sudah harus stand by. Ditambah waktu pelaksanaan 120 menit sesi pertama, istirahat 30 menit tetapi laptop tidak dimatikan sebelum masuk lagi sesi kedua pukul 10.00, baru kemudian pukul 12.30 sampai 13.30 laptop dimatikan.

Waktu yang panjang ini kemudian membuat siswa-siswi yang paham kondisi laptop mereka menjadi khawatir. Dalam waktu yang lama, 4 hari UNBK, belum lagi simulasi dan gladi bersih dan juga siklus UAMBK yang serupa, tentu saja dipertanyakan soal baterai laptop mereka yang terus tersambung ke aliran listrik.

Dalam menyikapi hal ini, teknisi dari MTsN 1 Aceh Barat telah memberikan pemahaman yang cukup berarti sehingga siswa-siswi yang laptopnya dipinjamkan mampu memahami dengan baik. Maka, madrasah setidaknya mampu mengumpulkan 30 laptop dari 24 kebutuhan. Hal ini tentu saja prestasi lain mengingat tidak mudah menyatukan persepsi, memberikan arahan maupun dalam pandangan orang desa bahwa teknologi belum terdepan.

Laptop yang terkumpul sampai 30 unit membuat sebuah catatan penting dalam pelaksanaan UNBK di MTsN 1 Aceh Barat. Bagaimana tidak, dalam kondisi yang tidak mudah, terkendala teknis dan beragam masalah lain, dukungan yang penuh dari siswa-siswi – orang tua mereka – justru memberikan efek yang cukup berarti. Proses pelaksanaan UNBK di madrasah ini menjadi acuan di sekitar bahwa dengan kendala dan hambatan yang jelas sekali tampak dan nyata, namun madrasah mampu mencari solusi terbaik dalam pelaksanaan.

Kekhawatiran siswa-siswi memang terjawab saat 2 laptop siswa harus mendapatkan service khusus. Hal ini tidak memiliki dampak yang berarti karena madrasah telah mengantisipasi soal kendala ini. Kedua laptop siswa mendapat perbaikan sedangkan 28 lainnya telah dikembalikan seusai pelaksanaan ujian berbasis komputer ini.

Memang, dalam pengembangan komputerisasi saat ini, beberapa laptop terbaru sejak rilis tahun 2017 memiliki fitur yang menarik. Fitur ini sebenarnya menjawab keraguan siswa di mana produsen laptop telah membenamkan fitur baterai tidak akan lagi terisi apabila telah sampai 100%, meskipun aliran listrik terus tersambung. Namun untuk memastikan ini dibutuhkan pengetahuan khusus dan hanya beberapa tipe laptop dengan harga tertentu yang memilikinya sedangkan laptop yang dipinjamkan oleh orang tua siswa MTsN 1 Aceh Barat belum memiliki fitur tersebut.

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

0 komentar: