Thursday, August 30, 2018

Perlindungan Maksimal untuk Senyum Anak Dimulai dari Sekarang

Mungkin saja, mereka saat ini sedang bersenang-senang karena sedang berada di depan kamera atau karena saya ‘paksa’ untuk menjadi model di halaman sekolah kami yang sederhana. Namun, satu hal yang pasti bahwa mereka memiliki mimpi-mimpi tentang masa depan; baik itu soal tubuh selalu sehat, cita-cita yang tercapai maksimal maupun pendidikan setinggi langit.

Ketika saya menulis tentang ‘senyum’ mereka di sini, saat itu pula mereka sedang melukiskan angan-angan di secarik kertas, lalu diberikan kepada guru dan bahkan mendapat ejekan dari teman-temannya. “Kamu bisa kok menjadi dokter,” ujar guru menyemangati, atau “Kamu belajar saja malas mana mungkin jadi tentara,” ujar anak-anak lain. Saya sering mendengar itu, saya bahkan ikut terlibat dalam debat panjang anak-anak yang tengah beradaptasi dengan usia remaja. Wajar jika mereka belum terbiasa dengan cita-cita dan masa depan di bangku SMP. Tetapi, saya kerapkali membubuhkan catatan di akhir pelajaran, “Bahwa, kalian punya cita-cita dan masa depan cerah namun bagaimana cara meraihnya tergantung pada hari ini!”
Senyum anak-anak tiap hari di sekolah.
Kenapa hari ini? Kenapa tidak besok? Kenapa sekarang? Karena ‘sekarang’ adalah waktu untuk menentukan arah, menancapkan jiwa raga pada apa yang ingin diraih dan menyegerakan ‘pekerjaan rumah’ agar hari esok lebih baik. Anak-anak yang berganti tiap tahun, ragam pula tata krama maupun keinginan-keinginan. Tetapi, satu hal yang pasti bahwa mereka ingin menjadi ‘sesuatu’ di masa depan. Usia belasan tahun yang indah memang belum mampu menjabarkan apa dan bagaimana tetapi dalam senang-senang itu mereka ingin sukses, ingin bahagia, ingin memiliki percintaan yang hebat – jika berbicara asmara.

Lihatlah mereka yang sedang melompat di lapangan voli. Indahnya bola di udara saat dipukul. Begitu terus terjadi tiap hari di halaman sekolah kami. Anak-anak tidak mau mengambil kesimpulan bahwa kesehatan mereka besok akan tumbang. Anak-anak hanya tahu cara bermain, cara memainkan perasaan guru dengan banyak alasan dan tentu tidak akan lupa soal cita-cita. Mereka terlena di lapangan voli untuk membentuk otot lebih baik atau membuat perut jadi ‘roti sobek’ seperti atlet-atlet. Saat kembali masuk ke dalam kelas, mereka akan bertanya, mereka akan antisipasi soal masa depan yang entah suram dan benar-benar memihak kepada mereka.
Anak-anak gemar sekali olahraga, pilihan di sekolah cuma voli.
Saya tentu saja tidak ingin kehidupan mereka berikutnya menjadi ‘suram’ sebagaimana yang ditakutkan. Saya kemudian tidak hanya mengajar pelajaran, tidak hanya sebagai pembentak anak-anak yang malas di sudut kelas, tidak juga sebagai sosok yang tak peduli dengan membubuhkan nilai merah pada rapor siswa bandel. Saya datang dengan cerita-cerita. Soal tubuh yang mesti selalu dijaga, soal apa yang akan menjadi rencana di masa depan atau paling keren adalah sekolah mana yang akan mereka jejaki setelah ini!

Sangat penting meluruskan tujuan usai tamat SMP. Babak penentuan itu dimulai karena mereka akan terus berakhir pada babak demi babak seiring berjalan usia. Jika tidak dibumbui pada masa SMP, maka mereka akan terlena saja dengan bola sedangkan di sini jauh sekali klub besar yang akan melirik mereka. Senyum indah dari anak-anak saya di sekolah mungkin tidak seberapa. Mungkin juga tidak bermanfaat untuk sebagian orang namun tahukah kamu bahwa senyum mereka mampu melahirkan semangat lebih besar dan melupakan duka sesaat.

Anak-anak memiliki masa depan indah sekali. Mereka perlu arahan yang tepat. Mereka membutuhkan tangan-tangan dewasa untuk memoles apa yang sebenarnya telah dicita-citakan. Sebagai guru, tugas saya tidak semata menghukum mereka di depan kelas karena tidak bisa menghapal besaran fisika. Tetapi, saya mencoba ‘meramal’ masa depan satu persatu anak yang duduk di bangku depan sampai belakang.
Siapa yang sudi melihat senyum mereka memudar?
Mereka memang tersenyum. Mereka memang menawarkan diri sebagai pembawa keceriaan. Namun, saya kembali masuk ke dalam angan-angan mereka. “Kamu cocok jadi guru karena sifat keibuan,” atau “Ayo berlatih lebih keras, kamu sangat layak jadi polisi,” mungkin saya juga akan berujar, “Jangan takut darah, hapalan kamu sangat kuat, bisa jadi dokter suatu saat nanti,”

Hal-hal kecil ini berlaku dalam keseharian saya. Saya memahami anak-anak satu persatu karena tahu bagaimana mereka bersikap, cara mereka menyesuaikan diri dengan teman-temannya maupun tingkat kecerdasan tiap anak. Di sisi lain, saya tidak mau anak-anak yang selalu memberi senyum ini, langkahnya terhenti karena tidak ada biaya pendidikan, atau karena sakit parah yang tidak bisa ditangani dengan baik.

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

4 comments:

  1. penting banget memang asuransi hari gini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mas, dimulai dari sekarang ya.

      Delete
  2. umat Islam Indnesia tak perlu khawatir lagi dengan halal haramnya asuransi nih, sudah lama asuransi mdel halal Allianz berdear dan perlu banget buat perlindungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, semua untuk memudahkan kita ya.

      Delete