Wednesday, August 15, 2018

Writingthon Asian Games 2018; Sebuah Pengantar di Rindu ke-18

Tepuk tangan menghiasi ruangan yang telah diisi 68 peserta Writingthon Asian Games 2018, di lantai 2 Hotel Millennium Sirih Jakarta. Malam baru saja menggantarkan senja ke penginapan terindahnya ketika suara lantang itu berujar, “Asian Games ke-18 di tahun 2018 diadakan di Indonesia!” rasa bangga tak terkira dari sosok tampan di depan kami itu. Pelajar atau mahasiswa dan bloger yang menjadi tamu kehormatan dalam memeriahkan ajang olahraga Asia ini, bersorak penuh semangat. Suara itu kembali berujar, “Saatnya kita buktikan kepada dunia bahwa Asian Games 2018 pernah dilaksanakan di Indonesia, salah satunya melalui karya tulis!”

Begitu, pemantik semangat dari Bapak Andi Muslim, yang mewakili Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) saat menyapa kami dalam persekian menit saja. Tetapi, bagi saya yang duduk di kursi belakang mengambil hikmah yang teramat sangat dari semangat Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Memang benar, tidak bisa dinafikan bahwa seluruh Asia akan menancapkan mata ke Indonesia; terlepas dari apapun semua akan masuk ke dalam ranah penilaian. 


“Kita harus bangga pernah terlibat dalam Asian Games 2018!” merinding tentu saja saat mendengar kata penutup dari Pak Andi. Jauh dari Aceh, setelah 3 jam perjalanan udara, memberikan semangat ‘juang’ lebih tinggi kepada saya untuk menuangkan ide-ide segar dalam menyukseskan perhelatan akbar ini. Saya entah siapa namun tetap Indonesia yang akan menyuarakan tentang ‘kita’ di Asian Games 2018. Benar seperti kata Pak Andi, hanyalah kita yang akan memberikan kabar kepada dunia bahwa Asian Games pernah sukses di tahun 2018. Belum tentu, 60 tahun kemudian kita akan bertemu kembali dengan ‘sosok’ ini.
Sepintas lalu, saya tidak berpikir akan bermalam di Jakarta dalam waktu dalam dengan ragam aktivitas. Waktu tahu Penerbit Bitread bersama Kominfo mengadakan lomba, saya malah bingung sekali untuk mendapatkan ide terbaik. Saya ‘diminta’ untuk mendukung Asian Games 2018 dari daerah sendiri. Saya menemui jalan buntu untuk memulai, saya meraba ke mana tujuan dari lomba ini, saya mencari tahu apa yang sebenarnya ingin kita ‘jual’ dari karya tulis tentang Asian Games ini.

Tentang Aceh. Tidak mungkin saya mencari celah soal hukum Islam maupun suasana pantai yang indah. Sosok Aceh, mungkin saja ada di antara para atlet yang akan bertanding. Maka, dari sini saya memulai mengotak-otakkan ide, membelah kebuntuan dengan searching sosok Aceh asli yang akan berlaga nanti. Kata kunci yang keluar dari mesin pencari dalam sekian detik langsung menyuguhkan berita manis. Bahkan, lebih dari manis dari apa yang ingin saya tuliskan.


Siapa dan mengapa saya menulis tentang gadis ini mungkin mengalir begitu saja. Nurul Akmal menjadi sosok yang membuat saya merinding saat mengingatnya – tentang ide menulis tentangnya. Saya tidak tahu dia. Saya bahkan baru tahu tentang dirinya. Siapa Nurul Akmal barangkali kamu bisa membacanya kembali di artikel yang mengantarkan saya ikut Writingthon Asian Games 2018 mulai hari ini. Namun, soal mengapa saya memilih Nurul Akmal karena alasan ini menjadi kuat bila bicara tentang Aceh, tentang wanita dan juga tentang sebuah hal tabu.

Tidak banyak gadis Aceh yang ‘berani’ seperti Nurul Akmal. Mungkin ini menjadi nilai tertinggi sehingga saya menulis tentangnya. Nurul Akmal juga menjadi seorang lifter yang akan berlaga di angkat besi 75 kg plus yang mana ini tidak mudah untuk seorang wanita. Menarik? Tentu saja, untuk saya yang tidak tahu-menahu soal angkat besi dan mungkin juga untuk kita yang biasanya menganggap soal olahraga angkat beban ini hanyalah milik pria saja.

Hadirnya sosok Nurul Akmal menjadi warna tersendiri bagi saya dalam memaknai Asian Games 2018 itu sendiri. Bahwa, saya teramat bangga saat atlet Aceh menjadi kebanggaan kita semua. Mungkin karena saya terlalu jenuh dengan berita miring tentang Aceh maka sosok Nurul Akmal bisa mengobati luka lara itu.

Saya tidak menyangka saat kemudian Nurul Akmal mengirim pesan melalui Instagram. Kisah ini saya bubuhkan catatannya di Kabar dari Gadis Aceh untuk Dukung Bersama Asian Games 2018. Mungkin saja, karena tidak begitu banyak pemberitaan tentang dirinya, Nurul Akmal merasa terharu. Saya ikut terhibur dan merasa perlu mengenalkan sosok Nurul Akmal sebagai seorang lifter kebanggaan Aceh di ajang Asia ini. Jika saya tidak memulai sebuah ‘catatan’ kecil ini, maka Nurul Akmal mungkin akan dilupa begitu Asian Games 2018 usai atau begitu dirinya tidak mendapatkan medali.

Saya hanya menghidupkan alarm tentang sosoknya, perjuangan yang telah diberikannya dan kecintaannya terhadap negeri kita. Mungkin kita akan rindu pada mereka di tahun-tahun nanti. Di mana perguliran tuan rumah Asian Games itu sendiri tidak sama seperti menarik arisan atau absen kuliah. Masa yang ditunggu cukup lama dan barangkali saat itu tiba lagi nanti, atlet-atlet yang bertanding hari ini telah menua.

Writingthon Asian Games 2018 ini saya jadikan sebagai sebuah pengantar di rindu ke-18 dari ajang olahraga terbesar Asia tersebut. Jangan sebut tidak rindu. Jangan pula melupa karena kita ingin Indonesia menjadi jaya. Jika Nurul Akmal dan rekan atlet lain sedang bertarung, akan bertarung di arena, maka kami juga demikian selama karantina ini. Mari kita coba untuk mengenalkan kembali, mari membuat sebuah catatan penting di mana akan dikenang sebagai sejarah dalam bertahun-tahun ke depan. Seperti kata Pak Andi, jika bukan kita tidak akan ada orang lain yang ikut meleburkan diri untuk menyukseskan Asian Games 2018.

Saat ini, saya telah menjadi bagian dari proses mengharumkan nama Indonesia di Asian Games 2018. Perjalanan lelah dari Aceh belum terobati tetapi sejak di Aceh saya telah merasakan bagaimana gaung ajang ini akan berlangsung lebih semarak. Di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pukul 09.00 lewat pada 15 Agustus, saya sempat memotret diri di depan maskot Asian Games 2018. Sambil menunggu Haikal Razi, pemenang kategori pelajar tiba di depan pintu masuk, saya rasa tidak salahnya mengabari ke dunia maya bahwa Aceh juga membahagiakan ajang olahraga ini.
Lobi Hotel Millennium Sirih Jakarta menyambut kami dengan nada indah dari pianis. Istirahat sejenak sebelum memulai perkenalan dengan Bitread dan Kominfo menjadi waktu yang tepat. Saya menerima kunci kamar dan bergegas ke lantai 12. Pemandangan sore Jakarta menjadi obat rindu yang berbeda. Haikal Razi juga masuk ke kamarnya di lantai 11. Saya menikmati aroma yang berbeda dan menanti kejutan manis dari panitia.
Usai makan malam, kami langsung diboyong untuk perkenalan singkat – dan bertemu Pak Andi seperti yang telah saya tulis di pembuka. Perkenalan yang unik dan lucu bersama panitia membuat lelah terlupa. Canda tawa mulai dibangun, suasana makin cair dan beberapa peserta mulai mengambil kamera mereka. Saya pun tidak mau melewatkan beberapa momen berharga itu. Mungkin nanti akan jadi kenang-kenangan dan juga menjadi konten menarik untuk memotivasi orang lain melalui tulisan ini dan konten di media sosial nantinya.

Rahmat Hidayat, bloger tampan dari Maluku menjadi fotografer saya malam ini. Usai babak perkenalan, saya tidak mau melewatkan momen foto di spanduk dengan tajuk menarik itu. Beberapa foto menjadi hasil menarik seperti di bawah ini.
Seolah ‘memikul’ Asian Games 2018 yang terasa begitu berat demikianlah yang mungkin terjadi sehingga dengan bantuan banyak pihak akan sukses. Saya tak sendiri mengambil gaya yang berbeda dari orang lain, Haikal Razi yang kebetulan lewat saya panggil untuk ikut serta. Tak ada salahnya, 2 orang Aceh di dalam satu frame yang akan menjadi momen terindah di antara kami. 
Writingthon adalah menulis saja. Maka saya mengambil pena, mencoret beberapa ide untuk dituangkan dalam tulisan panjang selama acara ini berlangsung. Tidak mudah menemukan ide dalam sekejap tetapi beginilah keadaan itu. Saya tidak mau mengakhiri begitu saja apa yang telah dimulai. Mungkin, babak lain dari Nurul Akmal akan terburai di sini. Mungkin, saya bisa mencatat beberapa sejarah yang akan dibagikan kepada anak-cucu.

Malam terus menanjak. Saatnya untuk naik ke lantai 12. Tetapi, udara dari lantai 4 terasa memanggil kami untuk menengoknya sejenak. Tak ada salahnya untuk duduk sesaat di kursi dengan rumput hijau malam hari di sana, dekat kolam renang. Saya akan menutup malam dengan sebuah cahaya yang tidak mudah redup. Demikian pula dengan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang yang akan dikenang sepanjang masa.
Mari kita dukung, mari kita berikan catatan sejarah untuk atlet, tempat dan kenangan manis lain kepada dunia tentang Asian Games 2018 di negeri kita. Saat ini waktunya, bukan nanti atau kapan-kapan lagi!
***


SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

7 comments:

  1. Wih, semangat untuk mu kak, untuk bangsa ini, untuk Indonesia 😊
    .
    Semoga writington nya lancar 😊

    ReplyDelete
  2. Wihhh tulisan kamu "bernyawa" banget, Bai!! Selamaaaaatt ya. Aku pantengin terus Asian Games 2018!

    ReplyDelete
  3. Aku bacanya sambil merinding dan terharu. Perempuan angkat besi. Luar biasa.

    Semangat mas, ditunggu tulisan selanjutnya 😬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak semoga bermanfaat ya.

      Delete
  4. » La décoration se veut d'inspiration chinoise.

    ReplyDelete