Kubuka Inspirasi dari Meja Guru Honorer ke Blogger Terbaik


Begitu pagi mendera, selalu saja ‘beban’ berat melanda, bukan lagi mimpi-mimpi akan harapan dan cita-cita. Waktu tidak bisa diajak mundur sedetik saja agar dapat menentukan pilihan terbaik menurut definisi kita sendiri. Mungkin, Tuhan memang menggenggam mimpi-mimpi tetapi saat hendak dicapai ia sirna maka sama sekali tak ada arti. Rumus yang tidak berlaku, waktu yang kian berlalu, dan usia tidak mungkin diajak muda kembali.

Mata kerapkali terbinar ketika melihat orang sukses di usia muda. Hati selalu tersentak saat tahu orang-orang lain telah memiliki ‘bonus’ terbesar dalam hidupnya. Namun, begitu dilihat kembali jati diri, maka hempasan usia di atas 30 tahun menjadi catatan kegagalan kian perih. Mau diubah segala upaya tetapi usia terlanjur di makan rayap. Mau digapai cita dan harapan usia menjadi penghalang yang nyata. Mau tidak mau, itu saja yang bisa dilakukan, mungkin dalam kehampaan dan penghinaan yang tidak bisa diabaikan.

Apa yang kau pikirkan saat disebut guru honorer? Manusia bodoh tidak beruntung atau manusia tidak berguna dalam banyak arti di dunia kerja negeri kita. Guru honorer – tahulah – mereka yang tidak memiliki harapan karena mau mengajar tidak dibayar dan ‘hanya’ berharap suatu saat akan disayangi oleh pemerintah dalam janji-janji manis yang mungkin ada dan tiada. Guru honorer yang malang, mau bekerja lain tak bisa karena usia telah membatasi ‘produktivitas’ dan juga dianggap manusia gagal. Guru honorer dianggap tak layak mendidik anak negeri tetapi mereka tetap masuk kelas karena di sekolah tidak cukup guru pegawai negeri. Guru honorer selalu dilirik dengan tatapan sinis seolah menjabarkan bahwa profesi ini begitu ‘sampah’ dalam kehidupan.

Di sinilah aku bermaya sekarang. Dalam kubangan yang enggan kulepas atau juga dalam jerat tali yang tidak bisa putus lagi. Sekali lagi – mungkin karena kebodohan – mungkin karena terhalang usia, atau mungkin karena memang ‘bodoh’ sehingga tidak layak mendapatkan apa-apa bahkan memberi secuil inspirasi kepada orang lain.

Aku pernah membangun cita. Aku pernah mencari suaka untuk kebahagiaan. Aku pernah menggapai asa tetapi seperti layangan yang putus seketika di bawah awan putih bertalu-talu dalam rindu kepada hujan musim kemarau. Aku pernah ingin bahagia seperti mereka, barangkali waktu telah mengelabui potongan kalimat untuk mencapai nada tinggi itu. Aku tersentak di tengah malam karena mimpi-mimpi pemanis tidur yang tak pernah berkabar baik. Saat kubayang dan kuterka harapan masa depan dalam balutan guru honorer, mungkin saat itu pula aku berpikir bahwa diriku telah gagal dalam segala hal.

Kumulai sesuatu yang berbeda, sebuah keengganan yang kuajak bangkit kembali, dari alam bawah sadar, dari negeri antah berantah, dari sebuah khayalan, dari sebuah kata-kata; lalu menjadi kenyataan dalam suatu ketika. Boleh aku bermimpi meskipun sebagai guru honorer yang tiap hari hanya makan ikan asin dan sayur kangkung. Di pandangan orang, aku guru honorer yang tidak beruntung tetapi kupikir jangan sampai diriku demikian. Kau bisa berbaris di deretan orang-orang penuh senyum, mengapa tidak denganku yang kian terburuk dengan kabar guru honorer yang tidak akan diangkat jadi pegawai negeri dalam segala aturan berubah suatu waktu.

Aku tidak pernah merenung untuk membuat usaha karena memang tidak punya modal. Aku tidak pernah membawa lari raga ke pematang sawah karena fisikku terlalu lemah untuk itu. Aku melampiaskan potongan kenangan dalam kalimat merayu, merajuk, mengiba, kepada siapa saja yang merasa dukaku bisa membawa secercah cahaya.

Jika kusebut, “Aku ingin ke Korea!” kepada mereka yang tahu profesiku sebagai guru honorer, niscaya mereka akan berujar, “Mimpi kau terlalu naif anak muda!” mungkin juga kalimat lain atau mungkin juga picingan ekor mata dengan aungan rendah sekali. Tetapi, untuk kau yang membaca kisah ini, mungkin saja terjadi, bukan ke Korea, bukan ke negeri yang sempat kusebut, tetapi bisa saja ke negeri-negeri yang entah terpikir olehku atau tidak, tetapi sekali lagi, aku yakini akan mencapainya; suatu ketika bukan lagi dalam mimpi!

Kurangkai kata di blog ini dalam keterpukuran, tidak tahu arah, tidak ada keinginan-keinginan, karena ingin menumpahkan kekesalan, pada paruh waktu tersisa di delapan tahun yang lewat. Perjalanan yang panjang, terkatung-katung, terlunta-lunta, belum ada secercah harapan tetapi aku seakan lupa tentang masa depan, lupa tentang apa yang perlu kucapai. Begitu sebuah hentakan terjadi, aku tersenyum tipis, aku meradang, aku memandang sayu; bahwa aku bisa menjadi sesuatu dengan menulis di sini, di blog, yang dianggap meracau atau mengada-ada oleh mereka yang juga masih menganggap guru honorer hanyalah kumpulan anak negeri yang kesulitan hidup.
Elvitiana Rosa yang bercita-cita menjadi penulis. 
Kumulai dari Sini, untuk Kau Tahu, Juga Dia Ketahui
Dia benar. Mimpiku memang selalu berubah, bahkan hingga hari ini. Terlalu banyak mimpi, sampai aku pun tak tahu pasti yang mana mimpi yang benar-benar harus dikejar, mana yang tugasnya hanya menghiasi tidur malam,” tulis Agustinus Wibowo dalam Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan.

Aku juga demikian suatu ketika dulu. Mimpiku sebagai guru honorer adalah mendapat secercah harapan hidup ‘mewah’ seperti orang lain yang kerap mengusik hidupku. Beranjak ke sini, mimpiku makin buruk dan dunia guru honorer makin terpuruk dan dianak-tirikan oleh pemerintah – barangkali pemerintah juga menyebut perkumpulan bodoh yang telah mengajar anak negeri dengan lupa banyak konstribusi yang telah diberikan.

Jika kini bicara tentang mimpi barangkali aku telah lupa. Aku hanya mengejar waktu. Aku mengejar ketertinggalan seperti anak-anak yang takut tinggal kelas padahal tidak akan pernah terjadi lagi di masa kini. Aku memulai yang beda dari orang lain di dekatku. Aku mencoba peruntungan yang entah dapat kugapai atau hanya khayalan semata sebelum beranjak tidur. Aku tidak mau mengabari siapa-siapa tetapi dunia yang kujalani kini kerap mengabarkan kepada siapa-siapa tentang lakon yang telah kuraih.

Dari meja guru honorer yang kian lapuk, di antara buku-buku tugas anak-anak yang menggunung, di antara usilan guru-guru pegawai soal tunjangan sertifikasi yang belum masuk rekening, juga di antara honor guru honorer yang entah akan bersentuhan dengan sepuluh purnama lagi, aku melarutkan diri dalam ide-ide, dalam titik tanpa koma, lalu membubuhkan kata demi kata dalam sebuah paragraf tanpa bisa diganggu dengan guru lain yang sudah beralih topik tentang mobil mewah mereka yang tidak bisa diklaim asuransi karena lecet sedikit.

Penggalan kisah menarik itu dimulai pada pertengahan 2014. Aku sudah terlarut dalam keterpukuran, tidak bisa berbuat apa-apa kala sebuah surat elektronik diterima. Kabar itu membuatku panas dingin, mungkin tidak mungkin tetapi itu nyata. Yang tak lama, aku telah dengan gugup duduk di ruang tunggu Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, jam lima pagi lewat seperempat, untuk keberangkatan pertama ke Jakarta, lalu ke Lombok sebagai hadiah lomba menulis kisah inspiratif, GuruKami, Pahlawan Semesta, yang tak pernah kulupa sama sekali.

Makin ku berpikir, makin tidak bisa kubayangkan, seorang guru honorer duduk dengan penuh ketegangan dalam pesawat terbang ke perjalanan jauh. Jendela yang terbuka menampakkan awan beriringan seolah telah melupakan cacian dan lirikan mata merendahkan dari orang-orang di sekitarku. Aku mungkin terlarut dan berpikir, ini adalah perjalanan pertama dan terakhir untukku bagikan kepada anak-cucu. Tetapi, goresan tangan berkata lain. Ke Lombok adalah permulaan, setelah itu aku menjadi terbiasa menarik koper di bandar udara.
Di Lombok tahun 2014.
Mungkin, aku sedang mencoba mencari jati diri atau lebih tepatnya mencari inspirasi untuk diri sendiri dan mengabaikan orang lain. Tetapi, berkali-kali, aku harus keluar dari harapan-harapan yang entah bermuara ke mana di bawah pundak guru honorer. Aku bahkan selalu berpikir, mungkin saja, aku akan menjadi seperti guru honorer temanku di sekolah yang sama, sudah lebih 20 tahun tidak jadi pegawai negeri. Aku tidak ingin hidupku kian terpuruk, aku tidak tahu mungkin besok akan tiada dan dilupa begitu saja. Maka, aku tidak pernah berhenti menghunus ‘pena’ untuk mencapai titik-titik yang enggan merambah kepada keberuntunganku.

Dari sekian yang kulakukan di sekolah, mungkin belum mampu menginspirasi orang lain atau malah hanya ‘dicincang’ oleh kepala sekolah yang tidak puas. Saat sinisan yang kuterima, saat itu pula aku merasa profesi guru honorer adalah pilihan yang tidak pernah membuat hidupku tenang. Aku tidak bisa mengubah apapun selain menarik diri untuk menghancurkan pertahanan itu. Jika ada orang yang kemudian berujar, “Kau ambil cangkul lalu ke sawah sambil menunggu diangkat jadi PNS,” maka kuambil notebook dengan layar ketikan menyala meski tidak ada kalimat yang terburai.

Bagiku, kupikir matang-matang, jika pegawai itu memihak kepada lelahku, maka dia akan datang suatu saat nanti. Jika tidak, maka perjalanan menulis akan melepas dahaga dari segala upaya hidup susah. Kusebut tadi, mungkin di awal aku belum mampu menginspriasi orang lain, setidaknya siswa-siswa di sekolah. Tetapi, saat berkali-kali aku naik pesawat terbang, ke Bali dengan segenap keindahan, ke Bangkok dengan segala upaya kemewahan dan ke berulangkali ke Jakarta dengan kemacetan lalu-lintas sebagai pemandangan terbaik, aku menuangkan kisah kepada siswa-siswa di sekolah dalam tiap kesempatan sebagai penyemangat.
Di Bali tahun 2016 undangan ASUS Indonesia launching ZenFone 3.
Di Bangkok, hadiah lomba menulis dari Priceza Indonesia tahun 2017.
Di Jakarta suatu ketika, abaikan adik kecil yang melongo.
Aku telah mampu. Setidaknya, bisa memberikan secuil kisah kepada mereka yang tahu benar bahwa aku adalah guru honorer yang malang. Aku mencambuk diri untuk lepas dari kungkungan egois yang merata. Aku mulai membagi kisah, lalu mengajarkan cara agar siswa-siswa di sekolah bisa mendapatkan lebih dari apa yang kuraih. Lantas, mereka terbiasa melihat tanganku menenteng ponsel-ponsel terbaru dengan harga mahal, notebook terbaik dan terkencang dengan harga lebih dari mahal dari sepeda motor atau foto-foto perjalanan yang kini menginspirasi mereka.

“Pak, enak kali bisa lihat Opening Ceremony Asian Games!” atau kalimat lain yang bernada gurauan, “Bapak yang jadi stuntman Jokowi ya?” kuberi ruang untuk mereka menerka-nerka namun mereka tahu bahwa undangan dari pemerintah untuk hadir dalam pembukaan olahraga terbesar Asia setelah 56 tahun lalu, karena aku menulis bukan karena undian berhadiah lalu mendapatkan tiket masuk ke Stadion Gelora Bung Karno yang ramai malam itu.

Sampai ke titik ini, aku telah mampu membuat mata siswa-siswa terbinar, meski ada saja yang menyalak dengan ekor mata merendahkan di lingkungan sekolah dari orang dewasa yang merasa merekalah terhebat karena berpangkat dan golongan tinggi. Aku tidak memedulikan hal itu. Aku kian terlarut dengan kedekatan dan canda tawa bersama siswa-siswa di sekolah. Lantas, aku ajarkan beberapa hal yang berada di luar kurikulum agar mereka menjadi seleb sebagaimana rata-rata anak kota saat ini.

“Saya ketemu sama anak SMA yang menang lomba menulis Asian Games!” sebagai pembuka kumulai dengan kalimat menghentakkan, “Dia sama seperti saya, dikawal ke mana-mana, ke Ancol dan Taman Mini dengan gratis, makan malam bersama Menkominfo, dan ikut pembukaan Asian Games ke-18 yang mewah dan merinding dengan Tari Ratoh Jaroe itu!”
Di GBK sebelum pembukaan Asian Games 2018.
Di depan GBK yang ramai oleh penonton pembukaan Asian Games 2018.
Parade atlet di dalam Stadion GBK.
Kisah naik pesawat sudah terbiasa saya bagi. Ketemu artis membuat teriakan tak bisa ditepis lagi dari deretan dengan jilbab rapi itu. “Pak, kok nggak selfie sama Rian d’Masiv?” atau “Bapak bohong nggak ada foto sama Syahrini!” namun mereka lagi-lagi tahu bahwa aku pernah bertemu dengan nama itu dan nama-nama lain.

“Pak, maulah ketemu artis!” ujar anak-anak suatu ketika, dan sering.

“Maka, kamu menulislah!” hanya itu cara yang bisa kubagi saat ini di lingkungan kami yang terbatas. Kubuka pintu mereka membuat blog, kucoret beberapa catatan penting di tulisan mereka yang belum usai, kusebut cara untuk mendapat produk endorse di media sosial, maupun kusarankan untuk mereka lakukan ini dan itu. Kutahu susah, kukasih bukti kembali bahwa meski aku guru honorer yang entah berujung ke mana hidupnya, aku telah berbenah dan mendapatkan lebih dari apa yang kuingini selama ini. Kau pun bisa tahu dengan membaca tentangku yang telah membubuhkan ragam prestasi.

“Pak, bagaimana bisa dapat handphone gratis?” tanya mereka lagi saat kupamer smartphone dari sponsor. Kujawab dengan nada yang sama, “Kamu menulislah!” bagian yang kuyakini dan kudapat pasti maka itu yang bisa kubagi.

Lantas, di kelas tiga SMA, mereka kalut soal jurusan kuliah. Aku yang kemudian menarik jati diri beberapa di antaranya – karena guru lain sibuk dengan uang yang telah habis dipotong kredit bank. Aku arahkan ke jurusan ini dan itu. Aku bantu pendaftaran masuk kuliah yang lagi-lagi guru pegawai nggak paham soal sistem internet yang kian modern. Aku ajak anak-anak ke warung kopi sore hari untuk apabila internet di sekolah lagi ngadat. Begitu seterusnya, bertahun-tahun, bahkan ada siswa yang kini lulus kuliah dan bekerja dengan mapan!

Aku memang terpuruk sebagai guru honorer di pandangan banyak orang. Aku tidak demikian saat menyebut diri sebagai penulis. Sampai kini, aku ingin terus menginspirasi, membuka mata anak-anak bahwa apapun bisa dicapai dengan mudah asalkan usaha lebih keras.

Kumulai Berbagi Inspirasi dengan Mendikte Kata
Dua tahun lalu, aku berpikir tentang sesuatu yang mungkin tidak mungkin dijalankan. Aku pasang surut. Aku merasa terhalang tetapi harus kubuat. Apa yang telah kuraih lantas kubagi kepada anak-anak. Mungkin akan tidak berguna tetapi kuyakin suatu saat akan berarti untuk mereka yang menanti hal serupa.

Aku buat kelas belajar blog di sela-sela mengajar. Protes memang ada tetapi saat presentasi yang menuai keindahan berupa jalan-jalan gratis dan dapat barang mahal gratis, semua terdiam dan ingin memulai. Objek yang nyata menjadi daya tarik tersendiri meskipun proses menuju ke hal-hal indah itu tidak semudah mereka lihat. Aku tak segan menekan pada satu kalimat, “Perjuangan ini bukan semalam saja,” dan kubeberkan perjalanan menulis blog sejak Multiply, lalu Blogdetik, Kompasiana, Steemit dan benar-benar fokus pada blog ini saja.

Kuyakin ada di antara mereka yang memiliki ketertarikan. Bahkan, ada yang telah memulai tanpa sepengetahuanku. Bahkan juga, pengikut mereka di media sosial lebih banyak daripada milikku sendiri. Tak ada jalan menuju blogger, mereka akan bisa menjadi Youtuber atau malah influencer di media sosial. Aku ‘hanya’ membuka jalan, memberi masukan, mencari celah, di mana masa muda mereka yang cantik dan tampan bisa menuju ke arah sana.
Siswi-siswi yang gemar difoto.
Kuabaikan pandangan tidak sedap di luar kelas. Kututup telinga saat aungan panjang pelajaran hari itu tidak penting. Kuyakini, dunia tidak selalu berkutat kepada buku dan kertas. Anak-anak bahkan sangat mahir bermain game, sangat fotogenik saat difoto, sangat paham smartphone terbaru yang mahal dan murah. Mereka larut dalam kubangan ini dan aku membawa langkah mereka ke sana, meski tidak membawa janji-janji. “Siapa yang sabar dia yang akan bertahan!”

Pelajaran membuat blog kemudian menjadi wajib. Satu persatu mereka menekuni dengan serius. Lepas dari sekolah ada yang mengirim pesan melalui media sosial atau WhatsApp. Kuberi jawaban, kuberi masukan. Mungkin mereka akan jadi sesuatu, mungkin mereka akan mendapatkan sesuatu. Entah bisa kutelusuri atau tidak, dalam lupa kutahu pasti beberapa di antara mereka mulai menekuni blog, mulai pamer foto produk endorse di media sosial atau mulai share kanal Youtube.

Aku telah mencambuk mereka. Sedikit memang. Tetapi, aku bangga telah mengenalkan ‘cara’ kepada mereka yang kini bisa menutupi uang jajan kuliah dengan hasil kerja sendiri.

Kuberi Jiwa dan Raga yang Kudapat hanya Angin Lalu
Kau pernah dengar keluhan ini? Mungkin sebagian orang anggap biasa saja. Begitu terjun langsung sebagai guru honorer maka dengan mudah memantik hal ini. Aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Aku cuma merasa makin tersudut dengan sinisan, cibiran dan bentakan dari hasil kerja keras.

Mungkin ini tidak termasuk ke dalam kata menginspirasi. Kutuang di akhir inspirasiku sebagai guru blogger karena ibarat anak-anak yang sedang ujian akhir, bagian ini adalah paling penting dalam menginspirasi masa depan. Aku telah menuangkan ragam inspirasi tiap hari dalam kelas, maka saat tiba melepaskan inspirasi yang datang dari anak-anak bagaikan helaan napas yang enggan keluar. Saat tidak hanya mengajar di dalam kelas menjadi acuan, maka aku merasa dibutuhkan meski enggan hadir dari siapa yang tidak percaya. Namun, anak-anak kerap berujar, “Bapak ada kan saat kita ujian?” karena anak-anak tahu, di sekolah kami, aku yang tiap waktu berujar soal komputer, dan komputer, dan komputer!

Kekalutan mereka saat ujian nasional berbasis komputer wajar terjadi. Aku berdiri di antara mereka karena ‘tugas negara’ yang diembankan kepada guru honorer yang entahlah bagaimana. Tetapi, aku terlarut dalam lelah dari jam 6 pagi sampai 6 sore. Aku lantas memastikan bahwa seluruh komputer menyala untuk bisa ikut ujian. Meski, ada orang yang khawatir nggak keruan, aku tetap tenang karena aku paham bahwa komputer yang menyala tidak akan mudah padam, soal yang dijawab tidak mudah meloncat ke halaman berikutnya, kecuali mati lampu dan internet padam barulah kita bisa istirahat.
Siswa lagi ikut UNBK.
Kuberi waktu lebih banyak membantu sekolah selama ujian. Kuakali siswa-siswa dengan beragam cara agar tidak takut menjawab ujian. Kukasih tahu cara termudah menjawab soal maupun kutegur untuk tidak mengoyang-goyang meja agar kabel LAN tidak copot. Kutahu, mereka sangat tergantung kepadaku meski mereka tahu aku hanyalah guru honorer yang mungkin akan – kembali – disalip oleh mereka sendiri usai kuliah nanti dengan pekerjaan bergaji besar.

Coba kutinggalkan anak-anak dengan kekhawatiran kelulusan, di dalam kantor yang tak pernah bosan membicarakan soal tunjangan kerja, guru-guru yang kini menjadi rekan kerja seolah terlalu manja menjadi maju. Apa-apa masalah kecil akan disodorkan ke depanku, misalnya sekadar membuat tabel di halaman Word. Di akhir semester nanti, guru-guru akan melakukan pendekatan tersendiri dengan beragam cara agar aku mau membantu mengejarkan raport berbasis komputer di Kurikulum 2013.

Begitu orang lain bergantung kepadaku, aku malah berpikir tidak lunak, kepada siapa aku bergantung dalam balutan guru honorer ini? Mungkin aku telah lelah ‘menginspirasi’ dalam bekerja milik orang lain. Mungkin juga aku dianggap bisa tetapi tidak beruntung dalam baju yang compang-camping. Namun, mereka di sini selalu mencariku, anak-anak maupun guru-guru, bahkan hal terkecil sekalipun!

Aku harus bertahan. Aku harus mengirim kabar kepada entah siapa. Aku ada di ‘selokan’ terdalam sedang mengapai mimpi yang belum tentu masih indah. Apakah ini cukup menginspirasi? Atau mungkin juga, “Ah, itu cuma curhat guru honorer yang gagal!” karena itulah aku menulis banyak kisah, agar dikenang, oleh siswa-siswa di sekolah, mereka yang sudah tamat, mungkin juga kau yang jauh dalam jangkauanku. Dengan ini, aku ingin memberi tahu, meski aku cuma guru honorer tetapi bukan berarti tidak ada inspirasi yang bisa kubagi. Aku telah #BukaInspirasi untuk kau kenang atau mungkin dijadikan kenang-kenangan!
***
Artikel ini telah dipublish oleh viva.co.id di: https://www.viva.co.id/blog/lifestyle/1074716-sebuah-inspirasi-dari-meja-guru-honorer-ke-blogger-terbaik

Comments

  1. mENARIK & iNSPIRATIF! oYA, fOTO siswa yang ikut UNBK cakep banget ya~ jadi pingin kenal. hhe, hhem!

    ReplyDelete
  2. Iya honorer... Tapi memang kak Bai itu inspiratif dan semangatnya itu lho.. tularin lah ke aku 😊😊

    Honorer bukan halangan bagi kak Bai, aku dan guru lainnya di Indonesia untuk berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat kakak, terus berbagi ya semoga menjadi amal terbaik untuk kita nantinya.

      Delete
  3. Tulisannya panjang pisan, saya jadi capek mbacanya. Haha. Tapi intinya saya dapet; "Memiliki profesi yang dianggap sebelah mata (guru honorer) seharusnya tidak boleh menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya lebih"

    Saya salut dengan abang. Teruslah menulis dan berkarya untuk Indonesia.

    ReplyDelete
  4. inspiring banget kisahnya...


    keep writing yaa..

    menjadi guru itu profesi yang paling mulia dan di mata murid2 anak-anak gk ada yg namanya guru honorer mereka tetap pak guru..bu guru..


    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Semoga kita selalu menginspirasi orang lain ya.

      Delete
  5. Ternyata Bai ini guru honorer toh, mengingatkan saya dengan masa silam saja saat jadi guru (honorer juga)
    Tapi yang terpenting bisa menjadi guru yang menginspirasi. Saya saja terinspirasi sama semangatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, semoga selalu diberikan kemudahan dalam menulis ya!

      Delete
  6. Aku juga pernah jadi guru honorer yang gajinya sajuta ( SAbar, JUjur, TAwakal ). Sangat menginspirasi, kak Bai. Membantu tanpa pamrih maka akan kita dapat kebaikan dari "pintu" lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Budi, semoga kemudahan menyertai kita ya.

      Delete
  7. Semoga cepat jadi PNS deh Bang, hehehe, amin

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"