Kuantar Siswa Terbaik Pesisir Barat Aceh ke Unsyiah dengan Beasiswa Penuh


Saat duduk di bangku kelas tiga SMA, Unsyiah mengalir begitu saja sebagai tumpuan harapan berikutnya. Anak-anak mungkin terbiasa dengan fenomena ini namun tidak begitu siap untuk menembus pintu gerbang universitas terbaik di Aceh tersebut. Begitu masuk ke dalam kelas tiga di semester 2 tiap tahunnya, saya akan dihadapkan pada dua pilihan; melanjutkan pelajaran atau memberikan solusi ke mana tujuan mereka di perguruan tinggi.

Kebiasaan saya di laboratorium komputer, atau mungkin sering bercerita tentang dunia teknologi yang makin agresif. Anak-anak terbiasa pula dengan motivasi yang saya bangun tanpa disengaja. Mungkin dari sini pula, kacamata mereka bertambah tebal untuk melihat apa yang sebelumnya menjadi tabu. Saya membuka fenomena ini dengan perlahan, memberikan bayangan dan bahkan menelisik anak-anak yang memiliki kemampuan di bidang tertentu.

Kemudian, saya memberi catatan penting, “Kamu cocok jadi guru sekolah dasar,” atau juga “Kamu sangat cocok masuk teknik,” dan beragam pendapat lain yang bisa menembusi keinginan mereka dan juga hanya sekadar angin lalu. Anak-anak yang sedang bimbang bisa saja memilih jurusan lain karena ajakan teman atau karena ‘ajakan’ pekerjaan di depan mata. Meskipun, tidak semua berbuah manis tetapi anak-anak sadar bahwa mendekati saya adalah solusi terbaik untuk ‘meluluskan’ mereka ke perguruan tinggi.

Semenjak seleksi masuk melalui jalur undangan tidak lagi menulis di kertas, anak-anak sangat berhadap kepada saya untuk menemani mereka membuka halaman pendaftaran. Saya tidak lantas menjadi pendengar segala keinginan mereka, saya tidak pula sebatas membantu pendaftaran tetapi mengarahkan jurusan apa yang benar-benar sesuai dengan kemampuan mereka. Tentu, hal ini sangat mudah karena saya paham betul anak-anak yang telah dikenal selama 3 tahun terakhir.

Mulailah saya merangkai keputusan membantu mereka sejak tahun 2014. Masa di mana saya tahu bahwa itu akan sulit sekali di mana saya bukanlah pegawai negeri, bukan pula tenaga kependidikan, yang mana saya harus berkorban waktu lebih besar untuk mendengar ocehan anak-anak dengan laptop terus terkoneksi jaringan kencang. Saya menyiapkan diri dengan baik saat anak-anak meminta daftar ke jurusan yang mereka sukai, saya juga harus bersabar saat mereka enggan memilih jurusan atau kebingungan antara jurusan ini dan itu.

Unsyiah tetap menjadi andalan nomor satu. Mereka selalu memilih Unsyiah sebagai tujuan kampus utama dan memilih jurusan sesuai keinginan yang terpendam. Saya menemani mereka – lebih tepatnya – menyelesaikan pendaftaran sampai bisa cetak kartu dan juga membantu pendaftaran Bidikmisi. Semua saya lalui untuk satu tujuan, bahwa anak-anak saya di pesisir barat Aceh, dari MAN 2 Aceh Barat, bisa duduk dengan manis di bangku Unsyiah yang selalu menjadi idaman semua masyarakat Aceh.
Unsyiah adalah impian - Instagram @univ_syiahkuala
Mungkin saya terlalu lupa karena ratusan dari mereka yang meminta ‘tolong’ saat itu dan kini. Namun, saya ingat beberapa nama yang telah lulus dan bahkan masih kuliah di Unsyiah dengan bekal beasiswa Bidikmisi. Saya ingat bagaimana warung kopi di sore hari menjadi tempat berkucuran airmata saat anak-anak berburu waktu mendaftar Bisikmisi. Tak mungkin saya lupa bagaimana mereka meratap tidak mudah menyiapkan berkas dan harus mengeluarkan biaya untuk scan data tersebut. Saya cuma berujar dengan tegas, “Sedikit pengorbanan saja untuk mendapatkan hasil terbaik!”

Lantas, saya merasa telah berbuat lebih untuk itu. Saya telah mengantarkan mereka ke pintu gerbang Unsyiah yang terkesan gahar, gagah, penuh pesona dan impian banyak pelajar. Mereka telah dengan mudah duduk manis, mengenyam pendidikan tanpa perlu menanti kiriman dari orang tua. Di satu sisi, saya benar-benar percaya kepada keajaiban dan usaha yang tidak pernah kenal lelah. Di sisi lain, mungkin saya menyesali emosi yang tiba-tiba meledak saat anak-anak minta diganti jurusan, surat keterangan kurang mampu lupa di-scan, atau tidak tahu lagi meletakkan nomor pendaftaran dan password. Saya menarik napas untuk memberikan kartu lain untuk mereka atau bahkan memilih tidak memberikannya, biar di laptop saya saja.

Saya merasa sendiri bahwa Unsyiah sangat membantu pendidikan anak-anak kita di Aceh. Tiap hari, saya berkelana bersama anak-anak di sekolah, tahu bagaimana kondisi mereka dan begitu terharu saat anak yang lulus berkata atau mengirim pesan melalui WhatsApp, “Bapak, saya lulus di jurusan ini dan dapat Bidikmisi!” meskipun kemudian mereka lupa kepada saya tetapi saya telah mengantarkan mereka ke cita-cita.

Siti Kana, sosok yang saya kagumi dengan kegigihan dan linangan airmata saat berujar tentang dirinya. Namun, begitu saya tahu dirinya lulus di Teknik Kimia dan mendapatkan Beasiswa Bidikmisi, saya tidak hanya bersyukur, saya mengirim doa agar langkahnya selalu dimudahkan. Sayup-sayup saya mendengar tentang aktivitasnya di Banda, saya tidak menyebut Bidikmisi tidak cukup untuk biaya kuliah atau biaya hidup, tetapi mengajar les di sore hari adalah penggalan pengalaman yang telah dilakukan oleh banyak orang, termasuk saya sendiri saat masih berstatus sebagai mahasiswa.
Siti Kana, mahasiswi Teknik Kimia Unsyiah alumni MAN 2 Aceh Barat penerima beasiswa Bidikmisi.
Di pintu lain, Khairunnisak juga pernah merajuk dan hampir menitikkan airmata saat sistem pendaftaran down. Tetapi, lepas sekolah di warung kopi adalah waktu untuk saya menyelesaikan pendaftaran miliknya dan juga berhasil mengirimkan semua data yang dibutuhkan oleh Bidikmisi. Saat pengumuman dirinya lulus di FMIPA Kimia saya menarik napas lega. Tentu saja, saya tahu kapasitas Nisak sama seperti saya tahu Kana selama di sekolah. Saya lega karena kelulusan ini akan membawa angin segar untuk sekolah kami dan bahkan membawa pengaruh besar terhadap adik letingnya.
Khairunnisak, mahasiswi FMIPA Kimia alumni MAN 2 Aceh Barat penerima beasiswa Bidikmisi.
“Kamu cocok kuliah di PAUD?” ujar saya kepada Khaula Annisa. “Kenapa begitu, Pak?” tanyanya dengan kening berkerut dan keberatan karena saat itu dirinya ingin memilih jurusan lain. “Kamu terlihat sangat keibuan,” tambah saya dengan beberapa kata lain yang hanya kami berdua tahu. Tentu, soal dirinya, keluarganya dan apapun yang kami tahu tentang kondisi anak-anak di sekolah. Saat saya menerima WhatsApp kalau Khaula lulus di Jurusan Pendidikan PAUD dan mendapatkan Bidikmisi, saya tak hanya lega tetapi lebih dari itu. Saya pikir, saya telah membantu dirinya, keluarganya dan juga masa depannya yang akan lebih baik ke depan.
 
Khaula Annisa, mahasiswi Pendidikan PAUD penerima beasiswa Bidikmisi.
Tahun ini, seorang siswa yang cantik itu mendatangi saya dengan nada khawatir, “Pak, bagaimana jurusan Informatika itu?” tanyanya yang langsung saya tebak telah lulus. “Saat kamu belajar, semuanya akan bisa!” hanya itu kalimat yang saya tumpahkan kepada Risma Kurniawaty yang baru saja diterima di FMIPA Jurusan Informatika. Memang, Risma tidak mendapatkan Bidikmisi karena kondisi ekonomi keluarganya yang mampu. Tetapi, lepas dari itu saya telah memacu dirinya keluar dari zona aman. Bahkan, saya berujar kepada dirinya, “Nggak selamanya anak-anak rangking bisa lulus Unsyiah, kamu salah satunya!”
Risma Kurniawaty, mahasiswa FMIPA Informatika.
 Ada haru, ada bahagia dan bangga. Saya selalu berujar kepada anak-anak yang akan mengisi jurusan secara online itu, “Asalkan kalian tepat memilih dan baik melihat peluang dengan membandingkan nilai di raport, maka kalian akan lulus!” tidak ada yang tidak mungkin. Kiblat pendidikan di Aceh adalah Unsyiah maka tujuan mereka harus saya ‘luruskan’ meskipun bagaikan mencari jarum di dalam beras. Sekali ditusuk maka itulah rejeki namun berkali-kali digali tak tertusuk juga maka belum jodoh di sana.

Pendidikan Aceh yang makin semarak. Di sinilah tempat kami mengais masa depan. Peran saya mungkin tidak seberapa dibanding tokoh-tokoh lain. Saya bahkan bisa tidak dianggap. Mungkin juga sangat mudah dilupa. Saya cuma ingin anak-anak yang telah lulus di Unsyiah, dapat beasiswa, bisa menyelesaikan pendidikan dan bahkan bisa melanjutkan pendidikan dengan beasiswa yang sama.

Di sini, saya menunggu kabar dari mereka yang telah menempuh pendidikan di Unsyiah. Ada yang berkabar, ada pula yang enggan menyapa. Namun, saya tahu, mereka telah sukses, mereka telah mendapatkan ilmu yang layak dari Unsyiah. Di tahun-tahun yang akan datang, saya mungkin akan mengulang hal yang sama, terus terjadi dan saya tahu mereka telah bersama saya dalam membangun pendidikan di Aceh!

Comments