Thursday, September 20, 2018

Secangkir Kopi Aceh untuk Temani Hari Bersama ASUS ZenBook


Gampoeng Coffee and Roastery tampak sepi siang kemarin. Kupikir, sebagian dari penggemar kopi di Meulaboh sedang bersenang-senang bersama keluarga weekend ini. Mungkin juga, mereka sedang bersama kekasih di salah satu pantai dengan menyeruput aneka juice sebagai penghabis waktu dalam diam. Waktu yang kuhabiskan begitu lama di salah satu sudut dengan kursi kayu mengilap dan lampu temaram mirip lampion tergantung banyak di langit-langit. Nanti malam, mungkin juga jelang magrib, di sini akan terasa begitu romantis dalam definisi mereka yang ingin menjabarkannya.

“Minum apa, Bang?” aku tersentak saat anak muda menghampiri dengan menu di tangannya. Aku menarik menu dan melihat sekilas. Warung kopi ini memang ciri khas anak muda, aneka kopi yang disajikan mulai dari modern sampai kopi Aceh yang sudah terkenal di mana-mana. Pernah dengar, dari teman yang pernah duduk di sini, barista yang kulihat dengan ekor mata di belakang cangkir dan gelas tersusun rapi, akan menyajikan kopi dengan kafein ternikmat. Itulah yang kucari yang barangkali sulit kutemui di sudut barat selatan Aceh ini.

“Kopi tubruk,” pesanku. Kental rasa Aceh tentu ini pilihannya. Kopi yang akan memiliki ampas dalam kepahitan yang pasti. Jangan coba-coba jika meradang karenanya; sebab kopi ini akan membuatmu terjaga sepanjang malam.

Aku mulai membiasakan diri dengan suasana di warung kopi mirip kafe di kota-kota besar ini. Arsitekturnya dan ragam kopi di menu mengingatkanku pada Filosofi Kopi karya Dee Lestari. Sebuah kutipan yang tak bisa kulupa, “Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan!
Secangkir kopi bersama ASUS ZenBook.
Dan benar, kopi tubruk yang lalu disajikan membawa aroma yang begitu kuat. Aku memang bukan Jati Wesi, tokoh lain dari Dee Lestari dalam Aroma Karsa, yang memiliki penciuman mahadahyat. Tapi, untuk membaui cangkir kuning yang baru saja diletakkan di atas meja kayu berwarna cokelat itu adalah perkara lain. Kafein yang terkandung di dalam kopi tubruk itu seolah-olah telah menyesap ke dalam pikiranku.

Kopi tubruk bukan kopi biasa. Kopi tubruk adalah ‘Aceh’ yang sempurna dengan ampas dan pahit yang tidak bisa dibayangkan. Aku tidak bertanya jenis kopi apa yang diaduk dalam air putih sehingga menjadi hitam itu. Aku cuma tahu, rasanya sangat berbeda meski baru sesendok kucicipi. Mukaku langsung berkerut, “Pahit,” yang lantas barista mendatangiku dengan sepiring gula.

“Butuh gula, Bang?” tanyanya yang langsung kuambil tanpa basa-basi. Aku mencelupkan gula aren ke dalam kopi tubruk itu dengan potongan kecil. Kuaduk sampai pecah dan menyatu dengan ampas kopi yang saat kusendok kayak pasir. Saat kurasa, bijih kopi itu bagaikan memakan serbuk-serbuk yang langsung mengisyaratkan ke otak bahwa itu kafein tinggi. Potongan kecil gula tidak cukup untuk memaniskan kopi tubruk itu, lantas kucelupkan potongan lebih besar dan kudiamkan beberapa saat untuk dirinya meleleh dalam kopi yang masih panas.

Aku mulai menyibukkan diri dengan smartphone dan membuka notebook ASUS ZenBook Flip S yang selalu menemani ke mana langkah mencincang waktu. Sesekali kuaduk kopi tubruk yang membunyikan denting tanpa disengaja. Di sisi kanan, berkelompok anak muda telah duduk dengan kesibukan sendiri-sendiri, memainkan smartphone. Di depanku, kelompok lain telah dari tadi terbahak di antara cerita maupun saat seorang dari mereka memperlihatkan apa yang dilihat dari smartphone. Terasing dalam kesendirian memang membuat tidak nyaman tetapi saat notebook menyala sempurna, ada saja yang kukerjakan. Kusentuh layar untuk mulai berselancar di internet setelah dimasukkan password Wi-Fi terlebih dahulu.

Ngopi di Aceh di mana pun itu, internet tidak pernah putus. Aceh tidak lagi sebatas negerinya kopi dan mi. Tidak juga negeri seribu warung kopi tetapi negeri beribu internet. Tanpa batas, tanpa lelet, semua berjalan sesuai mau kita sendiri. Jika di salah satu warung kecepatan selancar berkurang, dengan mudah dalam hitungan menit bisa menemukan warung kopi lain dengan kecepatan lebih tinggi.

Traveling ke Aceh tidak hanya sekadar menyesap kopi seperti cangkir yang baru kusentuh beberapa sendok saja. Kopi hanyalah teman. Kopi sebagai pemanis. Kopi untuk membuatku tidak tidur dalam mengejar pekerjaan sebagai blogger. Duduk di warung kopi jangan cuma memesan kopi tubruk yang meredakan lelah. Cobalah terbiasa bertanya, “Password Wi-Fi apa, Bang?” mungkin pramusaji akan menjawab, “Pesandulu,” mungkin juga akan dijawab, “Jaringanlelet,” bisa dengan jawaban lain, “Jangantanya,” dan tak perlu mengerutkan kening. Urungkan malu dengan bertanya hal yang sama karena pramusaji tidak akan mempermainkan tiap pengopi di sudut Aceh!

Pesandulu tanpa spasi. Tulis saja demikian. Lantas, bisa langsung berkabar kepada kerabat yang jauh di negeri sendiri tentang Aceh yang ramah dengan rasa kopi, juga memanjakan traveler dengan internet cepat. Secangkir kopi saja sudah cukup untuk duduk berjam-jam. Pekerjaan sebagai blogger, influencer atau videomaker terkenal sekalipun akan menjadi lancar dalam hitungan menit.

Kuresapi rasa kopi tubruk yang mulai menghangat. Candunya bagaikan peluru yang menembak langsung ke jantung. Gampoeng Coffee and Roastery sudah mulai padat. Cangkir kopi disajikan hampir di tiap meja. Rasa Aceh adalah rasa kopi. Ke Aceh tak sempurna sebelum mampir ke warung kopi. Secangkir kopi tubruk yang juga masih pahit meski telah kucampur gula dalam jumlah banyak, menemaniku memulai pekerjaan yang entah ada dan tiada. Sebagai blogger barangkali aku bingung menyebut ada pekerjaan dengan penghasilan tetap tetapi begitu ZenBook Flip S dibuka, ada saja yang kukerjakan. Aku bebas berkelana dalam kata maupun di dunia maya dengan ragam cobaan miliknya.

Kemarin itu, aku memang terduduk manis di Gampoeng Coffee and Roastery, belahan sepi dari sudut kota Meulaboh di pinggir barat Aceh. Notebook yang tipis dan ringan itu sebenarnya telah menemaniku berkeliling banyak tempat dan bahkan telah meramu banyak kisah perjalanan. Saat merangkulnya, aku merasa tidak memeluk apa-apa. Saat memangkunya, aku merasa berat ransel yang demikian penuh dengan buku-buku. Saat menentengnya, aku bagaikan memegang buku 600 halaman tebalnya. Meski, kubawa ke mana-mana, bahuku tidak begitu lelah. ASUS benar-benar telah memanjakan traveler dengan menghadirkan notebook ramah pekerja yang suka jalan-jalan ini.

Kututup ZenBook Flip S saat Iqbal datang lewat lima belas menit dari pukul 4 sore. Lalu, kami mulai bercerita tentang rencana perjalanan beberapa waktu ke depan. Iqbal yang belum memiliki notebook tipis dan ringan untuk dibawa jalan, kupikir sangat cocok saat kami membicarakan seri terbaru dari ASUS ZenBook 13 UX331UAL.

“Waktu ke Jakarta ikut pembukaan Asian Games, Abang bawa ZenBook juga?” tanya Iqbal.

“Iya. Kami ikut writingthon bersama Penerbit Bitread sehari, terus baru ikut agenda Kominfo,”

“Jadi sampai sana pemenang blog disuruh menulis lagi, Bang?”

“Iya, ada tugas individu dan kelompok yang cuma diberi waktu sejam,” ujarku mulai bercerita. “Enak saja bawa ZenBook karena tipis dan ringan. Nggak ribet dibawa ke kabin pesawat, nggak masalah simpan di bawah kursi, paling senang sih saat di Terminal 3. Bisa dibayangkan kalau bawa laptop berat, terus turun di gate paling akhir. Jalan kakinya itu jauh kali sampai pegal dan kayak nggak sampai-sampai,”

Iqbal jadi pendengar yang baik. “Biasanya kan, penumpang yang datang dari Aceh selalu di gate terakhir. Nggak cuma datang saja, pulang pun kayak begitu,” tambahku. “Kemarin, kami malah kena Gate 28. Jalan kaki dari setelah check-in ke Gate 28 itu kayak kita keliling kota Meulaboh. Ada sih kendaraan di dalam terminal yang antar jemput tapi nggak seru kalau naiknya kita nggak bebas mau berfoto atau mau lihat-lihat sekitar,”

Aku ambil cangkir dengan kopi tubruk yang mendingin. “Tiga puluh menit mau boarding kami disuruh pindah ke Gate 18,” ujarku. “Nggak sanggup bayangin kalau bawa laptop berat, ransel yang isinya penuh jalan lagi dari Gate 28 ke Gate 18!”

“Iya ya, Bang, enaknya kalau laptop ringan jadi nggak masalah,”

“Betul!”
ASUS ZenBook adalah teman setia.

Tak Semua Berawal dari Alasan untuk Sebuah Keinginan

“Dulu sempat punya keinginan untuk memiliki notebook ringan, biar mudah dibawa jalan,” ujarku begitu kopi tubruk terasa begitu pahit padahal hanya sesendok kukecapi. Jelang senja, warung kopi dengan aneka pernik khas kopi di dindingnya itu makin ramai. Canda tawa terdengar begitu saja.

“Tapi sudah punya ZenBook kan Bang?” kilah Iqbal.

“Iya. Rasanya beda saja. Kayak dulu punya keinginan untuk bisa jalan-jalan ke mana-mana, cuma mimpi saja tetapi sekarang jadi sering. Dulu itu, seperti keren saja ke bandara dengan ransel, naik pesawat lalu buka laptop pura-pura kerja, sekarang sudah mengalami hal serupa,”

“Dan itu dengan ZenBook?”

“Benar. Meski, aku nggak buka ZenBook karena nggak bisa konsentrasi mau ngetik apa di atas 30 ribuan kaki,”

“Sampai di hotel baru ya, Bang?”

“Kebiasaan begitu. Biasanya kan kalau jalan itu ada saja yang harus diselesaikan. Pekerjaan kita sebagai blogger kadang asyik kadang juga nggak. Pas dikejar deadline terus kita memiliki penerbangan, mau nggak mau notebook wajib dibawa. Untungnya, aku punya ZenBook yang tidak hanya ringan tetapi baterainya awet,”

“Cocok kali kalau kita kerja di luar,”

“Iya. Nyalain cepat, kerja cepat beres, acara pun nggak ketinggalan,”

Cerita kami terus berlanjut. Bahasa anak muda yang punya rencana jalan-jalan meskipun entah kapan bisa terjadi. Namun, di satu sisi, karena kesamaan profesi sebagai blogger, kami merasa menemui benang merah saat menjabarkan keinginan-keinginan. Tak ada alasan kuat untukku memiliki sebuah notebook terbaik seperti ZenBook Flip S. Kupikir, blogger hanya butuh notebook yang standar saja tetapi saat bekerja hampir setahun dengan notebook ini aku menemui alasan memilikinya.

Jika kujabarkan, sama seperti Iqbal mendengar, alasan terbaik justru saat memiliki perangkat ini. Aku tidak hanya nyaman saat traveling, tidak kesulitan di Terminal 3 yang luas, tidak kerepotan di dalam kabin pesawat, tidak pula merasa kurang percaya diri saat membuka notebook di tengah keramaian. Aku merasa senang bahwa notebook ini memberikan porsi terbaik untuk menjawab alasan-alasan yang tidak terungkap sekalipun.

“Bagaimana rasanya bekerja dengan ZenBook?” aku mengulang pertanyaan Iqbal, “Aku seperti menemukan diri kembali saat menatap layarnya dan mengetik di keyboard yang lembut itu!”

Aroma yang dihadirkan sore kian kentara dengan kopi. “Kita tidak ada alasan untuk mengelak atau memilih pilihan lain saat diberikan kepercayaan. Bayangkan, aku harus menyelesaikan Writingthon Asian Games2018; Sebuah Pengantar di Rindu ke-18, hanya dalam 1 jam saja di tengah malam,” ujarku sambil membayangkan masa yang telah lewat, “Pagi dari Banda Aceh, di atas udara selama lebih kurang 3 jam, jalan keluar terminal dan antrean ambil bagasi hampir 30 menit, terus menunggu bus jemputan sampai 1 jam lebih, baru sampai hotel itu sekitar jam 4 lewat,” Aku menarik napas sejenak, “Kami diberikan waktu istirahat sampai jam 6 sore terus dilanjutkan dengan pembukaan dan langsung menulis,”

“Capek kali ya, Bang?” tanya Iqbal merasa iba.

“Iya. Risiko seorang traveler rupanya demikian. Kita dituntut untuk selalu di depan notebook. Kali itu aku mengerjakan tulisan yang menjadi tugas tetapi di waktu lain kadang kita harus segera menulis saat ide terlintar agar tidak terlupa begitu saja,”

“Dan, ZenBook sangat membantu Abang?”

“Lebih dari itu!” ujarku mantap. “Aku merasa telah berteman sangat baik dengan ZenBook Flip S, tidak hanya sekadar mengejar deadline tetapi bisa menghadirkan tulisan yang lebih menggoda dari sebuah perjalanan yang selama ini belum aku tulis!”

ZenBook Itu Berkelas, dalam Rasa dan Imajinasi Kemewahan

ASUS selalu hadirkan notebook yang tidak cuma bagus di tampilan luar saja tetapi gesit tak ada lawan. Ibarat anak gadis yang harus dilamar dengan mahar emas bermayam di Aceh, maka ZenBook adalah pesona tak lekang itu. Kita rela mengejar karena memang ‘cantik’ dalam segala definisi. ZenBook 13 UX331UAL yang baru saja di-launching ASUS baru-baru ini tak hanya cantik tetapi ganas. Bisa dibayangkan sebuah notebook tipis, imut dan manis itu diinjak-injak, dibanting bahkan dilempar tetapi tetap dalam posisi semula. Rasanya, memang tidak rela untuk melakukan hal demikian pada sesuatu yang cantik tetapi ASUS berani memberi lebih.
Kemewahan ASUS ZenBook 13.
Apa jadinya jika memiliki notebook secantik ini? Perpaduan yang indah akan kelembutan dan juga daya tarik yang tidak hanya memberikan hal menarik namun mampu meningkatkan produktivitas. ZenBook 13 UX331UAL tak lain mahakarya dari ASUS yang mencerminkan keindahan, keunikan dan juga kelembutan. Bodi halus menghadirkan persepsi lebih tinggi untuk terus larut di atas papan ketik atau sekadar mengelusnya.

ZenBook ini memiliki ukuran layar 13,3 inci yang tampak sangat imut dan tipis. Tebal notebook ini adalah 13,9 milimeter dengan bobot hanya 985 gram. Alasan terkuat karena notebook ini menggunakan konstruksi magnesium alloy yang sangat ringan dan penggunaan integrated graphics. Selain membuatnya jadi lebih ringan juga membantu dalam penghematan energi. Kontruksi magnesium alloy tidak hanya membuat indah saja tetapi sangat tangguh dan kuat. ASUS mendapatkan standar military-grade MIL-STD 810G untuk ZenBook 13 UX331UAL. Dalam segala kondisi, notebook ini akan memiliki daya tahan yang sangat kuat. Jadi, jangan tertipu dengan bodinya yang tipis dan ringan.

Sering kerepotan memasukkan notebook ke dalam ransel saat traveling? ASUS memberi jawaban dengan ZenBook 13,3 inci. Notebook ini mudah diselipkan ke dalam koper, backpack, tas jinjing wanita atau ransel yang ukurannya imut. Ukuran layarnya sama seperti ukuran kertas A4. ASUS memberikan sentuhan NanoEdge pada notebook ini sehingga memberi kesan yang benar-benar ‘kecil’ untuk ukuran notebook kebanyakan.

Imut bukan berarti tidak menawarkan performa yang lebih gahar. Dapur picu ZenBook 13 UX331UAL adalah prosesor tercepat Intel Core-i generasi ke-8. Kecepatan kinerja sudah tidak bisa diragukan lagi dan akan menghadirkan kenyaman saat bekerja di dalam maupun di luar ruangan, saat terdesak maupun sedang dalam kondisi santai. Prosesor yang kuat ini dipadu dengan RAM yang tak kalah cepat yaitu 8GB DDR4 2133 MHz dan media penyimpanan 256 GB SATA3 berbasis M.2 SSD.
ZenBook 13 inci ini larinya sangat kencang, ini ilustrasinya.
Larinya kencang, itu pasti. Kinerja secara offline sudah tidak diragukan lagi. Sekadar mengetik, tampak ‘biasa’ saja. Edit foto juga tergolong ‘santai’ saja. Traveler yang kini dimanjakan dengan video maka notebook ini sangat cocok untuk mengedit video, menambahkan suara dan memberikan animasi terbaik dalam kecepatan lebih tinggi. Koneksi ke internet juga sangat kencang karena ASUS membenamkan fitur Wi-Fi Master yang akan mampu mendapatkan kecepatan transfer lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan notebook yang lain.

Traveler yang kadangkala berebut jaringan Wi-Fi di penginapan tidak perlu khawatir pekerjaan akan tertunda. Kecepatan menangkap jaringan akan menjadi daya tarik lebih kuat, saat notebook lain masih mencari jaringan kita telah terkoneksi dengan cepat. Wi-Fi Master akan memanjakan pengguna ZenBook ini dengan jaringan yang jarak 300 meter atau lebih, bisa menikmati streaming video FullHD di Youtube. Dalam jarak lebih dekat bisa dibayangkan kecepatan yang akan diterima. Wi-Fi Master hadir dengan teknologi dual-band 802.1ac dengan kecepatan 867 Mbps atau 6x lebih cepat dari single-stream 802.11n.

Nyaman bekerja dan meng-upload video hasil jalan-jalan tak bisa dihindari lagi. Duduk di warung kopi dengan banyak notebook lain yang menyala, juga berebut jaringan dengan pengguna smartphone, kita akan lebih santai karena selalu terdepan dalam menangkap jaringan.
Pesona tipisnya nggak bisa dipungkiri lagi. 
Kita pikir, di mana ASUS menempatkan baterai untuk notebook setipis ini. ASUS telah melakukan banyak percobaan termasuk dalam menanam baterai terkuat di notebook tipis. Kinerja baterai kelas atas di kelasnya menjadi sisi paling menarik karena traveler dikenal sosok yang banyak menghabiskan waktu di luar daripada selalu terhubung dengan aliran listrik. Kebutuhan daya yang lebih besar sangat dirasa oleh seorang traveler maka ZenBook yang telah melewati tes di berbagai aplikasi ini menjawab keraguan itu.

Ketahanan baterai dari ZenBook yang memiliki dua warna, Deep Dive Blue dan Rose Gold, dilakukan melalui pengujian dengan aplikasi benchmark PCMark, 3DMark, Geekbench, Cinebench dan Unigini Heaven Benchmark. Bagaimana hasilnya?
Hasil tes ketahanan baterai.
ASUS mengklaim bahwa daya tahan baterai ZenBook 13 UX331UAL adalah sampai 15 jam pada penggunaan normal. Uji coba yang dilakukan oleh PCMark misalnya dengan multitasking tak henti, daya tahannya sampai 4 jam 43 menit. Daya tahan ini mengintepretasikan kemampuan terbaik dari notebook dengan layar nyaman untuk mata.

ASUS menghadirkan layar yang sempurna untuk pekerjaan kantor atau jenis pekerjaan standar lainnya. Layar ini akan bekerja lebih sempurna saat mengeditan foto maupun video sehingga konten yang dihadirkan menjadi lebih bertenaga. Aplikasi rendering mampu bekerja dengan baik karena prosesor yang kuat dan juga memori lebih luas. Tak hanya itu, untuk menghilangkan penat dan bermain beberapa game 3D masih mampu dilakukan dengan baik.  
Layar yang indah sekali bukan?
Pemandangan yang indah. Game yang bisa dimainkan saat santai. Mungkin menikmati sebuah tontonan melalui online maupun offline. Adalah hal biasa di ZenBook 13 yang cukup menggoda ini. Bagaimana kinerja lainnya yang lebih baik? Kita patut mencobanya suatu saat nanti.
Main Spec. ASUS ZenBook UX331UAL
CPU Intel® Core™ i5-8250U Processor, 6M Cache, up to 3.40 GHz
Operating System Windows 10 Home
Memory 8GB LPDDR3 2133MHz SDRAM
Storage 256GB SATA3 M.2 SSD
Display 13.3" (16:9) LED backlit FHD (1920x1080) 60Hz, Ultra Slim 300nits
Graphics Integrated Intel UHD Graphics 620
Input/Output 1x micro SD card, 1x audio jack COMBO, 1x Type C USB3.0 (USB3.1 GEN1), 2x Type A USB3.1 (GEN1), 1x HDMI, Support HDMI 1.4
Camera VGA Web Camera
Connectivity Built-in Bluetooth V4.2, Integrated 802.11 AC (2x2)
Audio Built-in Stereo 1 W Speakers And Array Microphone, ASUS SonicMaster Technology, Support Windows 10 Cortana with Voice, Harman kardon
Battery 50 Whrs Polymer Battery
Dimension 310 x 216 x 13.9 mm (WxDxH)
Weight 985gr with Battery
Dukungan di Indonesia Ya
Colors Deep Dive Blue, Rose Gold
Price Rp 14.299.000
Warranty 2 tahun garansi global
Mewah sudah pasti. Elegan apalagi. Kinerja cukup mumpuni. Mungkin untuk merek lain akan dihargai dengan cukup pelik namun berbeda dengan ASUS. ZenBook 13 UX331UAL dapat dipinang dengan harga Rp 14.299.000 saja.

Mungkin Jika Ada Alasan, ZenBook Tak Cuma Teman Ngopi

Cangkir kopi tubruk di atas meja kayu mengilap itu baru setengah kuteguk. Cerita kami terlalu seru untuk dilewatkan begitu saja. Memang, tidak ada alasan yang kuat soal ‘pamer’ sebuah perjalanan tetapi saat bertemu kawan dekat atau kawan yang jarang jumpa sekalipun, cerita demikian perlu disampaikan.
Secangkir kopi di sudut kota Meulaboh. Ayo jalan ke sini!
Aku telah menutup ZenBook Flip S karena tidak ada lagi yang akan kami kerjakan. Kami telah menulis beberapa rencana ke depan dan mungkin akan segera menjadi catatan yang akan dilaksanakan atau tertunda. Bagiku, ZenBook dengan segala kecepatan yang dihadirkannya telah memberikan efek yang cukup besar terhadap perkembangan menulisku sebagai guru dan traveler; akhir-akhir ini.

Warung kopi akan menjadi teman terbaik untuk melahirkan ide maupun langkah akan masa depan. 2018 Pakai Laptop ASUS, aku pikir telah menjadi keharusan karena pengalaman tidak pernah menipu hasil. Telah kucerita, telah kugambarkan juga bahwa notebook ASUS menjadi teman ‘bermain’ yang sangat indah dalam menulis kisah. Aku tidak mungkin melupa, tidak pula berhenti untuk merekomendasikan karena inilah yang nyata.

Aku titipkan jejak di dunia maya kepada siapa saja berkat ZenBook Flip S yang menawarkan performa lebih kencang dari apa yang sebenarnya kuingini. Jika dulu, aku begitu tersendat untuk menulis sebuah karya maka saat ini begitu menggebu-gebu karena perangkat telah mendukung. Soal dunia menulis barangkali telah menjadi makanan sehari-hari dan wajib bagiku. Namun, beberapa detik ke depan, ada bagian yang akan membuat memori notebook ASUS-ku ini akan makin tambah penuh. Meski terlambat, tidak ada salahnya aku membuat rencana; belajar videografi dan mencoba berbagi cerita lewat visual yang mungkin menarik dan juga tidak.

Mungkin, kisah perjalanan telah banyak orang memvisualisasikannya namun kisah guru yang dilempar batu oleh siswa, guru yang menjadi teman curhat siswa atau bahkan siswa yang galau soal masa remaja mereka, akan menjadi visual yang berbeda. Aku cuma percaya satu hal, dengan ZenBook yang kumiliki saat ini atau bahkan ZenBook 13 UX331UAL yang bisa jadi milikku di separuh purnama nanti, aku akan keluar dari zona aman sebagai seorang penulis saja. Penulis blog barangkali telah ‘biasa’ dan penulis blog merangkap Youtuber juga telah umum, namun penulis blog, guru yang begitulah adanya, lantas bermain cerita melalui video barangkali menjadi tantangan tersendiri.
ASUS ZenBook 13 UX331UAL - photo by Katerina
 Tidak ada kata berhenti untuk memulai. Gagal itu adalah urusan belakangan. Dihujat tak lain adalah bumbu untuk membuat ‘menu’ makin terasa asin, asam atau bahkan manis. ZenBook akan memberiku ruang lebih besar dalam mengekspresikan diri dan menyiapkan bahan ajar yang selalu berubah sesuai tipe anak di sekolah bahkan kurikulum yang tak tentu.

Waktu terus merangkak cepat. Kampungku mungkin selalu demikian; sawah, hujan, kemarau. Tetapi, saat koper ditarik ke pinggir jalan menanti jemputan ke sebuah destinasi, aku akan melihat sisi yang berbeda dan saat itu aku merasa tertinggal banyak hal. Maka, karena ini aku akan terus berkisah, untuk tidak jadi kampungan seperti kata orang atau sekadar berbagi kisahku saja. Aku tidak takut, ZenBook menjadi teman setia sepanjang waktu, bangun tidur, dalam hujan, banjir yang menjadi ajang tahunan bahkan bentakan anak-anak yang tak bisa diatasi lagi di era ini.

Aku telah berbuat banyak dengan ZenBook. Bukankah menarik sekali jika tahun 2018 ganti laptop ke ASUS ZenBook?

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

34 comments:

  1. Pak guru yang sukses ngeblog... nice inpoh pak

    ReplyDelete
  2. manis banget sih tulisannya kak bai, terenyuh akutu. Btw kenapa nama pacarku si wesi di bawa bawa di sini, tolong minta ijin dulu dong! Wkwkwk

    NICE JOB KAK!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, izin ya, mana tahu keberuntungan saya bisa menyamai Jati Wesi :)

      Delete
  3. Mantab banget tulisanya, khas novel best seller. Gak heran kalo ikut writingtone

    ReplyDelete
  4. hasil uji baterainya dapetin hasil yg beda2 ya angkanya tiap aplikasi banchmark

    ReplyDelete
  5. Keren pak Guru. ASUS dengan sensasi Romantisme. Membuat terenyuh siapapun yang membaca. :)

    ReplyDelete
  6. Keren artikelnya, mas. Btw, kalo warkop langganan saya pake password wifi 'belidulu', eh kemarin diganti 'pengennyaapa'... :)

    ReplyDelete
  7. Wah pengen ikutan lomba juga... Belum punya konsep hehehe... :D

    ReplyDelete
  8. Jadi ternyata di Aceh juga banyak cafe dengan wifi macam di Bandung ya, Bang. Sip dah, nggak takut bakal sakaw kalo lagi butuh nongkrong :D

    bang Indra suka mampir ke blognya kak Olive atau mas Yofangga? Gaya mereka bertutur itu romantis, pemilihan diksinya cantik dan kaya kosakata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, belum pernah mampir di dua blog ini, semoga bisa suatu saat nanti.

      Ayo ke Aceh, banyak warkop asyik di sini :)

      Delete
  9. super sekali, baca ini seperti mengingat pengalaman pribadi. hehehe... maklum kemaren ane pas di bandara sok santai, taunya 10 menit sebelum berangkat gate nya dipindah ujungnya lari-larian macam film india di bandara. mana laptop berat lagi fiuhh.....

    hehehe.. ane jadi pengen nyobain ngopi khas Aceh sambil ngetik di laptop ASUS premium macam ini. semoga (berkunjung ke Aceh dan punya Laptop ASUS Premium) bisa kesampean aamiin.
    nais pos bro, sory niatnya mau mampir kmaren tapi macet di jalan hehe

    ReplyDelete
  10. Enak nian nampaknya Kopi Acehnya, Bang. Seenak membaca tulisan Abang ini. Sukses untuk lombanya, semoga diberikan yang terbaik ya, Bang. Amin. Salam hangat.

    ReplyDelete
  11. wuah keren loh bang zenbooknya

    dulu aku mundur duluan buat daftar writingthon
    minder sama laptopku yang gak bisa diajak kompromi kalo perjalanan jauh.
    berat, harus cari colokan. merepotkan
    ya semoga disegerakan meminang laptop baru

    lah aku malah numpang doa di sini
    hahaha

    ReplyDelete
  12. Wahhh aku baru tau Bai itu teacher blogger :)
    Anw, selamat ya Bai. Artikelnya emang kereen :)

    ReplyDelete
  13. selamat bang Ubai.. jam tangan baru, bisa untuk gaya bersama keluarga :D

    ReplyDelete