Saturday, November 24, 2018

Guru Honorer; Kerja Dipaksa Namun Nggak Dibayar


Jangan mengejek dengan kalimat; mereka mengajar karena tidak ada pilihan, siapa suruh menjadi guru honorer, mereka adalah orang-orang bodoh, mereka tidak pintar, mereka tidak layak mendapatkan posisi sebagai pegawai negeri, kenapa tidak mencari kerja lain saja, sudah dibilang tidak akan diangkat jadi pegawai kenapa masih mau menjadi guru honorer!

Biasanya, cibiran itu terjadi begitu saja di antara ‘penggemar’ dunia maya yang mungkin lebih penggangguran daripada guru honorer, atau bahkan masih gemar ‘memalak’ orang tua untuk membeli paket internet. Posisi guru honorer di Indonesia memang tidak menguntungkan saat ini, mereka kerja, dipaksa memenuhi tuntutan pekerjaan sama dengan guru pegawai namun tidak dibayar layak.
Saya guru honorer, lantas saya harus bagaimana?
Pendapat yang berulangkali muncul – bahkan dari orang berkepentingan, lembaga dan juga tokoh masyarakat – tentang, berhenti menerima tenaga guru honorer, namun mereka tidak pernah terjun ke lapangan. Tidak pernah melihat langsung proses belajar mengajar. Mereka yang gemar memberikan pendapat di media massa atau memenuhi status media sosial tersebut sama sekali ‘jijik’ untuk terjun  ke pedalaman Indonesia dengan becek meskipun tanpa hujan lebat semalam.

Semua sekolah saat ini membutuhkan guru honorer untuk memenuhi tuntutan kurikulum yang terus diubah sesuka hati tanpa memihak kepada anak didik. Guru pegawai yang telah disebut profesional dengan gaji tetap, tunjangan harian dan tunjangan sertifikasi, tidak akan pernah mau mengajar lebih dari 24 jam. Maka, pelajaran-pelajaran atau jam-jam yang tidak terisi tersebut dilimpahkan kepada guru honorer, untuk memenuhi jam yang telah ada di sistem online, SIMPATIKA (Kementerian Agama) dan DAPODIK (Kementerian Pendidikan). Sistem online ini secara jelas membaca kekurangan dan nama-nama guru honorer yang malang itu ada, memiliki NUPTK, punya NPK, punya atribut lain dalam keaktifan mengajar tiap semester, bahkan dibaca dengan otomatis berapa lama mengabdi sebagai guru honorer.

Baca Juga:

Semua Orang Bisa Jadi Penulis; Semua Orang Bisa Naik Pesawat Gratis di Era Digital

Kubuka Inspirasi dari Meja Guru Honorer ke Blogger Terbaik


Kemudian, masih juga disebut tidak kekurangan guru? Nicaya hal ini memanipulasi data di hari terik. Sistem online yang dibuat oleh pemerintah tersebut guna memudahkan, mendata dan kebutuhan mendesak lain yang terbaca secara menyeluruh dan tidak bisa dimanipulasi. Guru honorer yang telah sekian tahun mengajar, dibaca oleh sistem sebagai tenaga pendidik dengan jumlah jam, absensi harian dan juga urusan administrasi lain yang harus dipenuhi sama dengan pegawai negeri. Namun, sekali lagi, di sistem saja telah terbaca dengan jelas bahwa tidak ada pemasukan untuk tenaga lepas ini. Guru honorer tetap saja pulang sekolah harus ke sawah, menjual sayur-mayur, menjala ikan atau merajut benang dalam asa untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Bahkan, saat anak-anak muridnya telah jadi pegawai, tentara, polisi maupun karyawan swasta sekalipun, guru honorer tetap sama derajatnya dalam bekerja. Saat anak-anak murid mereka telah memiliki rumah besar, mobil mewah berkat kerja kerasnya, guru honorer masih menggigit jari untuk menemukan cara menanak nasi yang entah di mana rupiah itu ada. Ini berlangsung bertahun-tahun. Terus terjadi. Begitu saja.

Ada permintaan, pemerintahan daerah ‘haram’ rekrut guru honorer. Kepala sekolah jangan terima guru honorer. Lantas siapa yang mengajar? Guru pegawai? Tentu tidak mau dan tidak boleh sesuai aturan di sistem online tersebut. Guru Fisika HARAM mengajar Geografi karena tidak sesuai ‘kode’ sertifikasi meskipun kaidah ilmunya hampir sama. Namun, guru honorer yang bagai hantu di siang bolong ‘terserah’ mau mengajar apa asalkan jam kosong di sekolah terpenuhi.

Jangan pernah merekrut guru honorer lagi! Pendapat ini terus mengalir dari luar pagar sekolah. Dari orang yang tidak tahu-menahu. Dari mereka yang sok elit hidupnya. Dari orang yang sok mengerti pendidikan. Dari orang yang hanya mengunjungi sarana pendidikan untuk kebutuhan penelitian, naik pangkat, golongan sampai menjadi profesor. Tetapi, keadaan akan membalik situasi saat tuntutan kurikulum melonjak tajam, jam-jam bertambah sesuai banyaknya peserta didik, guru pegawai tidak ada atau tidak mau mengajar lebih dari 24 jam, maka tenaga guru honorer yang tunggang-langgang dengan sepeda ontel masuk ke dalam kelas.

Sama sekali tidak mungkin memecat guru honorer di Indonesia ini. Pecat guru honorer sama saja tutup sekolah dimaksud.

Apakah guru honorer tidak profesional? Saya rasa tidak demikian dalam memandang seorang guru honorer. Guru pegawai dengan sertifikasi saja bisa sangat tidak profesional dalam segala hal saat ini. Saya berikan perbandingan. Guru honorer mampu mengerjakan tugas dengan baik untuk urusan perangkat pembelajaran, guru pegawai ‘hanya’ mampu mengeluarkan uang untuk kebutuhan tersebut. Mereka cukup duduk santai, manis, mempercantik diri, karena urusan RPP, Silabus, dan lain-lain telah diselesaikan oleh guru honorer. Contoh lain, saat Kurikulum 2013 menuntut pembelajaran menggunakan media digital; penggunaan infokus, slideshow dan laptop, maka guru pegawai akan merapat dan sedikit ‘memaksa’ guru honorer untuk menghidupkan laptop, infokus dan juga membuat slideshow yang menarik. Guru dimaksud hanya tinggal menekan tanda panah ke atas dan ke bawah di keyboard.

Di sisi lain, kurikulum yang terus naik derajat, mau tidak mau pengisian raport juga dilakukan melalui aplikasi Excel. Kembali dalam keanggunan dan keindahan hidupnya, guru pegawai akan mendekati guru honorer yang profesional untuk membuat nilai perkelas dan perbidang studi, juga membuat raport sampai selesai. Guru yang telah profesional itu hanya menunggu hasil print out saja untuk dibagikan kepada peserta didik.

Baca Juga:

UNBK: Ini Belum Berakhir Tetapi Baru Dimulai

ZenFone Max Pro M1 Ubah Era Primitif Gaming Jadi Berkelas


Fenomena ini terus terjadi. Di mana-mana. Dikeluhkan. Didengar namun tidak dipedulikan sama sekali. Soal mengajar tentu hal tentatif dan relatif. Saat ini, siapa yang tidak bisa mengajar? Asalkan mental ada, semua materi bisa dikuasi dengan mudah. Masuk ke dalam kelas cuma mengandalkan slideshow hasil unduhan internet sudah bisa jadi guru. Mengajar cuma teriak-teriak di dalam kelas selama 45 menit kali 2, lepas dari itu kembali bercerita soal gaji atau tunjangan yang belum masuk rekening. Saat kesusahan, ada guru honorer yang siap membantu.

Namun, di mana posisi guru honorer tersebut? Entah di langit. Entah di bumi. Entah di alam khayalan. Entah di dunia nyata. Masih saja guru honorer dianggap tidak profesional, tidak bisa diandalkan meskipun telah 10 sampai 15 tahun mengabdi untuk negeri. Padahal, guru honorer sama kedudukan bahkan lebih baik dari guru pegawai dalam mencetak anak negeri. Jika kondisi yang saya sebutkan tadi, semua kebutuhan guru pegawai adalah ‘isi’ otak guru honorer, maka yang profesional itu adalah guru honorer.

Datanglah solusi dari pemerintah dengan merekrut calon guru melalui sistem CAT. Pemerintah melupakan jasa guru honorer yang telah lama mengabdi, memiliki nomor induk mengajar, telah profesional dalam segala hal namun dicampakkan karena kesalahan sistem. Guru honorer ikut tes, jawab soal yang terkadang terlalu mengawur untuk mencari seorang guru profesional, lalu guru honorer hanya mendapatkan nilai 200 yang artinya tidak lulus passing grade sesuai yang dibekukan oleh pemerintah saat ini. Kemudian, datang sarjana baru mampu menjawab sampai 400 nilainya, lulus menjadi pegawai namun begitu tiba di sekolah akan mendekati guru honorer yang tidak lulus tes tersebut dalam segala urusan karena guru pegawai sudah tidak bisa diandalkan!

Layakkah guru honorer yang lebih profesional di lapangan disebut bodoh? Tentu saja tidak. Ada yang disebut keberuntungan, adapula kesalahan sistem. Soal keberuntungan misalnya, saya yakin sekali dari sekian orang yang ikut tes hasil tebak-tebakan kancing baju lalu memenuhi passing grade. Namun, adapula yang menjawab dengan serius, benar namun karena kesalahan sistem malah tidak lulus.

Saya teringat waktu pelaksanaan UNBK. 2 jam tes tinggal lima menit yang artinya peserta harus mengakhiri ujian. Saya mendampingi semua siswa untuk menekan SELESAI, saya cek jawaban sudah terjawab semua atau belum. Peserta keluar ruangan, saya ke komputer server – operator – lalu mengecek kembali jawaban mereka. Sayangnya, beberapa dari siswa saya ini tidak menjawab semua jawaban. Misalnya, soal 50 terjawab 45 padahal waktu menekan selesai semua soal telah terjawab. Tidak ada cara lain untuk solusi ini selain terus mengirim hasil ujian ke pusat. Saya tekan kirim, gagal, kirim lagi, gagal, kirim lagi sampai semua data siswa ini terkirim ke server pusat di Jakarta.

Apakah proses ini sehat? Tentu saja tidak. Sistem ujian online – UNBK atau CAT – belum sebesar server Facebook atau Youtube. Jadi, kesalahan ping soal jawaban bisa tersangkut di alam khayangan sehingga peserta dirugikan. Ribuan klik dalam perdetik dengan server yang demikian maka wajar jika dalam 550 peserta CAT hanya 1 orang saja yang lulus. Tentu, tidak semua 550 itu tidak bisa menjawab, tidak pintar, namun karena masalah ‘kekinian’ ini menjadi sebuah perkara yang serius.

Guru honorer yang lebih profesional, ikut tes meski telah beruban adalah beruntung tidak beruntung dalam menjawab soal dan bersaing dengan mereka yang masih fresh graduate. Beban kerja yang ditinggal, keluarga yang penuh harap, lalu tidak lulus dianggap bodoh, maka pulang ke sekolah kembali menjadi guru honorer ‘bodoh’ meskipun mereka telah mengajar lama, menjadikan anak didiknya seorang pejabat, bahkan jadi pegawai di sekolahnya sendiri!

Dari sudut apapun menilai tentang ini, guru honorer tetap lebih unggul meskipun dikucilkan, dibuang dan disebut bodoh. Pemerintah atau pejabat mengharamkan rekrutmen guru honorer, tetapi di sekolah membutuhkannya. Pejabat berkoar-koar, apakah mereka mau mengajar di sekolah? Tidak akan pernah. Kembali lagi, guru honorer yang menjadi tumbal terbaik.

Baca Juga:

Wonderful Indonesia; Titip Rindu dari Jejak Tsunami Aceh

Writingthon Asian Games 2018; Sebuah Pengantar di Rindu ke-18


Nah, tahun ini telah direkrut begitu banyak guru melalui sistem yang disebut baik sekali itu. Namun, kebutuhan guru juga tetap masih sama. Guru honorer juga tetap diandalkan dalam urusan mengajar, kebutuhan administrasi sekolah, sampai mengurusi anak-anak di ujian nasional. Pemerintah menutup mata, meskipun sistem online berbicara lantang. Saya tidak mengerti kebijakan, saya tidak paham soal aturan ini dan itu. Mungkin benar, saya adalah golongan ‘bodoh’ di lingkaran guru honorer itu. Apakah ke depan guru honorer akan mendapat tempat? Saya tidak tahu. Apakah kami yang telah profesional terus menjadi tenaga honorer sampai pensiun? Saya juga tidak mengerti.

Di akhir, saya ingin membutuhkan catatan. Tidak semua guru honorer kurang beruntung. Bukan karena tidak ada pilihan. Tetapi, karena sekolah butuh maka guru honorer itu ada. Kita, biasanya, akan kehilangan ketika tidak ada!

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

14 comments:

  1. Persoalan honorer di tiap instansi hampir sama. Kebutuhan tenaga tinggi, tetapi budget honor terbatas.
    Yang PNS dituntut lebih rajin. Kenyataannya gak semudah itu. Pekerjaannya memang sudah banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, semua tahu tetapi telah diabaikan karena "Oh, ada honorer yang kerja"

      Delete
  2. Jika dari awal sudah mendapat gambaran seperti apa tugas, beban, serta balas jasa yang diterima jika memilih profesi sebagai guru honorer, mengapa orang-orang tetap memilih profesi ini? Apakah alasan terbesarnya karena tidak ada lowongan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan?

    Manusia adalah pemegang kendali atas kehidupannya sendiri. Jika kurang sesuai, silakan berhenti menjadi guru honorer untuk menjadi profesional lain yang kiranya lebih menjanjikan. Resiko dalam hidup akan selalu ada. Demikian pula resiko yang diampu oleh Pemerintah dan instansi pendidikan jika sekiranya lowongan guru honorer menjadi sepi peminat.

    Jikalau pada zaman ini profesi guru tidak lagi dipandang sebagai sebuah pengabdian, mungkin profesi ini tak lebih dari sekadar idealisme yang tidak realistis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Tanpa Nama, di awal paragraf sudah saya tulis "Jangan mengejek dengan kalimat; mereka mengajar karena tidak ada pilihan, siapa suruh menjadi guru honorer, mereka adalah orang-orang bodoh, mereka tidak pintar, mereka tidak layak mendapatkan posisi sebagai pegawai negeri, kenapa tidak mencari kerja lain saja, sudah dibilang tidak akan diangkat jadi pegawai kenapa masih mau menjadi guru honorer!" Semoga mau mmau membaca sampai akhir dan tidak memberi komentar tanpa jejak, merendahkan dan mengganggap benar tanpa melihat maupun merasakan secara langsung.

      Delete
    2. saya merasakan sendiri ketika Ibu guru honorer yang mengajar di kelas anak perempuan saya, alhamdulillah lulus dan diterima menjadi PNS tetapi tidak dinas menjadi guru di sekolah yang lain. Saya yakin beliau bahagia karena menjadi PNS. Akan tetapi beliau selalu menangis di akhir jam sekolah di hari-hari sebelum harus pindah bekerja. Nyatanya yang dirasakan adalah beliau menangis karena terlalu berat untuk berpisah dengan anak-anak didiknya, yang sudah dianggap dan diberlakukan seperti anaknya sendiri.

      Jadi menurut saya, bahkan mereka "guru honorer profesional" terlalu berat untuk meninggalkan profesinya sebagai guru honorer karena adanya ikatan batin yang kuat dengan anak didiknya

      Delete
    3. Ini tidak bisa dibayar dengan apapun ya.

      Delete
  3. Wow menarik ya bagaimana nasib seseorang ditentukan oleh sebuah sistem yang nyatanya tidak cukup mumpuni dan memiliki tingkat kesalahan yang tinggi.

    Saya baru tahu ada cerita seperti ini di wajah dunia pendidikan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin ada yang setuju mungkin juga tidak. Kita lihat ke depan sebuah pembenaran tentang ini.

      Delete
  4. Miris. Dengan kondisi seperti itu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup di usia senja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demikian yang terjadi dan nggak ada yang peduli.

      Delete
  5. Ada yang salah dengan bagaimana membuat kebijakan di senayan sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita nggak mengerti soal ini mas, yang lalu-lalu soal kebijakan kita bisa nilai sendiri.

      Delete
  6. Akan lebih adil rasanya jika para guru honorer ini diprioritaskan untuk diangkat menjadi guru pns tetap.

    ReplyDelete