Saturday, November 3, 2018

Saya Sibuk Tidak Sempat Menulis Tapi Saya Seorang 'Penulis'



“Jika suatu hari nanti, meski kalian terus terjatuh, jika kalian terus bermimpi dan berusaha, kalian akan segera mencapai mimpi kalian!” Namkoong Min, aktor Korea Selatan, dalam KBS Drama Awards 2017.

Prilly Latuconsina, gadis mungil, artis papan atas Indonesia yang melejit lewat drama seri Ganteng-ganteng Serigala, lalu beranjak ke layar lebar dalam film hantu Danur, dan baru saja mempromosikan film Danur 2. Bicara sibuk, selebritas itu seringkali membutuhkan ‘candu’ agar dapat tidur ‘lama’ dalam sehari. Mungkin, kita mengira bahwa saat seseorang tidak tampil di layar kaca, selebriti itu telah lenyap. Namun, untuk sekelas Prilly yang telah mencapai puncak kejayaan, sebagai brand ambassador yang jadwalnya padat, acara offline yang terstruktur rapi, dan seolah tiada waktu untuk tidur; hanya istirahat selama macet saat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di Ibu Kota.

Sibuknya kita, terkadang hanya ‘permisi’ untuk enggan melakukan apa yang ingin dilakukan. Kita ingin menulis; menjadi penulis, tetapi tidak ada satu paragraf pun yang bisa dikeluarkan dari alam bawah sadar sehingga mengakar menjadi aksara bermakna. Isa Alamsyah, dalam buku No Excuse, menyebut tidak ada kata permisi dalam memulai menulis. 5 Detik dan Rasa Rindu adalah bukti bahwa seorang Prilly yang sangat sibuk, mampu melahirkan buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh penerbit terkenal, Mizan. Buku best seller ini nantinya akan difilmkan oleh MD Entertaiment.

Kita ingin menjadi seorang fotografer andal, tetapi tidak ada satu pun hasil foto terbaik yang bisa dibanggakan. Bahkan, kita sama sekali tidak memiliki insting kuat untuk mengambil objek dari sudut pandang terbaik, terbeda, terunik, dan teraneh dari orang lain sehingga layak disebut sebagai karya foto spektakuler. Kita tersudut dalam pendapat ingin menjadi seorang video maker namun dalam merekam momen saja tangan masih bergoyang, apalagi saat membuka aplikasi ringan pengeditan video, Windows Movie Maker, masih gagap dan pikiran buntu. Maka, tidak ada yang bisa kita banggakan kepada orang lain saat hasilnya tidak ada. Saat orang lain telah jauh terbang tinggi, kita masih merangkak dalam mempertahankan egois berkepanjangan. Saat orang lain tidak tidur dalam mengedit foto dan menggabungkan video, kita masih terbahak di warung kopi dengan rencana-rencana yang habis seusai secangkir kopi lenyap sampai ke dasar cangkir.
'Menulis' dengan ASUS ROG, kayak sedang main game!
 Demikian juga dalam menulis, kita terus mendengungkan semangat menulis, padahal tulisan kita sendiri masih kurang titik koma, masih terdapat kesalahan tanda baca, masih tidak sesuai antara satu ungkapan dengan pendapat setelah itu, tidak ada keselarasan antara tema dengan judul bahkan isi tulisan. Kita kembali dalam ‘permisi’ bahwa sebenarnya kita tidak perlu diajarkan lagi karena telah baik dalam menulis, telah bagus dalam menata kata, telah memiliki pengaruh dalam menulis karena mungkin hanya mengandalkan ghost writer untuk memublikasikan tulisan di media massa.

Seorang penulis dikenal baik karena isi tulisan yang benar-benar halus dan terstuktur sesuai ejaan yang benar. Seorang sinematografi disebut profesional saat videonya berbicara di atas kelembutan, kehalusan, bukan video goyang pinggul seperti tidak ada editan. Seorang fotografi akan dikenang bukan saja karena bagus hasil foto tetapi berbeda sudut pandang dalam memotret sehingga orang terkagum.

Apakah ini ada dalam diri kita? Kembali kepada “Saya sibuk tidak sempat menulis!” karena alasan-alasan yang diragukan keabsahannya oleh orang lain. Saat menyebut Prilly, saya sudah memikirkan bahwa saya hanya butiran debu dari aktivitas seorang selebriti. Bahkan, semua orang sibuk dalam melakukan apapun, dalam mengejar ketenaran di manapun, dalam membungkus cita-cita di mana-mana, tetapi hanya segelintir orang yang mampu bangun di subuh, yang sanggup bergadang; untuk menghasilkan karya terbaik!

Dalam satu kesempatan, saya bertanya kepada pemilik akun Twitter @blogdokter yang telah memiliki pengikut lebih dari 1,8 juta, I Made Cock Wirawan, kapan sempat dirinya menulis disela kesibukan sebagai seorang dokter di Bali. Dokter Made, kala itu, terbahak di dalam ruangan dengan suhu yang cukup dingin, di bilangan Jakarta Barat. Pemilik blog blogdokter.net hanya menjawab dalam candaan, “Kapan sempat saja,” tetapi ‘kapan sempat’ Dokter Made bisa mengalahi saya sebagai seorang yang hidupnya banyak suka-suka. Dokter Made tidak hanya aktif di satu blog tentang kesehatan saja, tetapi memiliki blog lain yang isinya ‘suka-suka’ seperti yang saya sebutkan.

Bahwa, manajemen waktu itu adalah kita yang memilikinya. Tiada orang yang tidak sibuk, namun hanya beberapa orang saja yang mampu melakukan banyak hal dalam suatu waktu. Prilly melakoni banyak waktu dalam dunia hiburan tetapi menulis buku yang diterbitkan penerbit besar itu tidak mudah. Dokter Made saya tahu sangat sibuk sebagai abdi negara dan bekerja di klinik, tetapi keaktifannya di dunia menulis tiada tanding sebagai brand BlogDokter; juga telah menerbitkan buku tentang kesehatan.

Lantas kita? Kabur dari keinginan-keinginan? Tidak mau menerima masukan? Ego berkepanjangan? Semua hak milik kita seorang. Namun, kita akan tertinggal jauh. Kita tidak pernah mampu belajar selama tidak pernah menulis. Tulisan kita tidak akan pernah bagus meskipun berkali-kali ikut ‘seminar’ menulis tanpa pernah dikritisi hasil karya. Kita tidak pernah tahu bagus atau tidak tulisan itu sebelum menerima surat penolakan naskah dari redaksi media massa. Kita tidak pernah tahu pasang-surut dalam menulis tanpa terjun langsung ke dalam kubang yang sama.

“Saya sibuk,”

“Saya sibuk,”

Dan,

“Saya sibuk,”

Sibuk diucap belum tentu sibuk pada perbuatan. Sepintas, seperti mengada-ada namun kadar kebenaran hanya diri kita sendiri yang benar-benar paham. Manakala ingin menempatkan ‘sesuatu’ pada tempatnya, maka ia akan bermakna lebih besar daripada keinginan itu sendiri. Manakala manajemen waktu telah membunuh ‘malas’ dengan benar sesuai kodrat keinginan itu sendiri, maka dengan perlahan-lahan akan menemukan irama yang pas dalam mengetukkan nada terindah dalam menulis.

Ucap sibuk karena merasa hari tidak cukup 24 jam saja. Namun perencanaan yang matang akan membuat si sibuk ini tidak lagi meraba-raba dalam menetralisir suasana. Pembiasaan ini yang kemudian enggan ditulis atau diterapkan sehingga benar-benar kaku saat memulai sebuah tulisan dengan tema, yang barangkali sangat ringan. Ada pandangan yang menyebut bahwa waktu terbaik menulis adalah waktu pagi hari, sebenarnya itu adalah hak pribadi seorang penulis. Adakala seorang penulis membutuhkan ruangan khusus dalam menulis agar karyanya spektakuler. Ada pula seorang penulis membutuhkan asisten dalam menuliskan karya, agar tatanan bahasa terstruktur atau bahkan karena si penulis hanya mampu berujar saja tetapi tidak mampu mengetik dengan baik karena beberapa alasan.

Apabila menyebut menulis tidak mampu menghidupi hari-hari, namun menulis adalah salah satu hobi yang bisa mendatangkan uang lebih besar daripada yang dibayangkan. Orang yang telah menjadikan menulis sebagai pekerjaan tentu saja sudah tidak akan menyebut ‘tidak ada waktu menulis.’ Kemudian tinggal mereka yang tersandung selalu ‘permisi’ sibuk sehingga tidak ada karya yang terbit. Penulis terkenal sekalipun, dari dunia bahkan dalam negeri, dari dulu sampai sekarang, tidak mudah menerbitkan karya.

R.A. Kartini tersandung sekian lama dalam surat kepada sahabat pena sebelum kemudian menerbitkan tulisannya di majalah terbitan Belanda, De Hollandsche Lelie. Novelis legendaris Indonesia, Mira W, melahirkan ratusan novel disela-sela kesibukannya sebagai seorang dokter. Bahkan, novel-novel yang dilahirkan oleh Mira W hampir semua best seller dengan sebagian diangkat ke layar kaca. Ary Ginanjar adalah motivator yang kemudian melahirkan buku yang tak kalah hebatnya, yaitu ESQ. Chicken Soup for the Soul adalah kisah sehari-hari yang ditulis oleh siapa saja namun bisa membuka ‘wadah’ curahan hati mereka yang ingin berbagi kisah atau pengalaman hidup.

Kapan mereka memulai? Kapan mereka menulis? Tiada yang tahu. Referensi tentang Kartini, termasuk cerita yang divisualkan oleh sutradara kondang, Hanung Bramantyo, tidak mampu menjabarkan bagaimana seorang Kartini membubuhkan pemikirannya dengan baik sampai kemudian terbit buku Habis Gelap Terbitlah Terang, di mana berada di posisi puncak buku ‘motivator’ soal kesetaraan pendidikan.

“Saya sibuk tidak sempat menulis,” karena memiliki pekerjaan tetap. Maka lihatlah bagaimana Andrea Hirata melahirkan Laskar Pelangi di mana posisinya sebagai ‘komputer’ berjalan di sebuah lembaga besar. Mungkin juga, belajar dari aktifnya Darwis ‘Tere Liye’ disela-sela kesibukannya sebagai akuntan.

Begitu sulit menerjemahkan kesibukan demi kesibukan. Namun, mereka yang telah bersenyawa dengan menulis tidak lagi mengambil sikap bahwa menulis untuk menaikkan pamor atau ingin dikenal orang banyak. Mereka menulis karena mereka ada. Mereka menulis karena berbagi. Mereka menulis karena bersenang-senang lantas batin terpuaskan lalu ‘fee’ akan menyusul kemudian.

Bagian mana yang menyebut sibuk tidak sempat menulis? Itulah bagian di mana kita belum siap menulis. Kita belum benar-benar mampu bertarung dalam dunia literasi yang kejam. Kita belum sanggup memanjangkan sabar untuk mencapai kesuksesan dari sebuah karya. Kita belum apa-apa dibanding mereka; hanya saja mereka telah meraih sukses dari kerja keras sedangkan kita masih mengeluh ‘sibuk’ agar terhindar dari menulis!


SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

2 comments:

  1. betul kadang kita terlalu banyak alasan

    ReplyDelete
  2. Menulis kan tidak harus selalu di blog Bang, buat status di media sosial juga termasuk dalam aktivitas menulis. Benar tak?

    ReplyDelete