Sunday, November 18, 2018

Semua Orang Bisa Jadi Penulis; Semua Orang Bisa Naik Pesawat Gratis di Era Digital


Dulu, majalah Annida menjadi langganan saya sewaktu di sekolah menengah pertama dan atas. Masa itu, di penghujung tahun 1999, majalah tersebut masih menjadi primadona. Saya terbius dengan tulisan dari beberapa penulis yang telah besar di masa itu. Sebut saja Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa maupun penulis lain yang mengawal karir mereka di majalah bernapas Islami tersebut. Mungkin, karena lingkungan yang memengaruhi kondisi, saya seolah hanya membaca Annida, lantas Ummi, dan ‘tidak’ mendapatkan majalah lain seperti Gadis, Hai, femina, maupun Aneka Yes!

Di eranya, majalah Annida menjadi salah satu media untuk penulis muda berkarya. Tak sekali, saya merasa kurang puas dengan pendapat maupun jalan cerita dari penulis yang namanya tertoreh di halaman majalah berwarna tersebut. Maka, saya tidak mau memungkiri bahwa gaya menulis, ide maupun proses kreatif di awal karir kepenulisan dipengaruhi oleh majalah ini. Mulailah saya menulis; fiksi, yang bisa disebut mengikuti gaya cerpen maupun tata bahasa yang telah dimulai oleh Annida.

Kelas 2 sekolah menengah atas, saya terobsesi untuk mengirim cerpen ke Annida. Sulitnya akses di kampung membuat saya ketar-ketir. Belum ada komputer yang bisa saya andalkan untuk mengetik. Komputer masih menjadi barang langka dan mewah jikapun saya melihatnya di rental dekat sekolah. Alternatif yang kemudian saya dapatkan adalah meminjam mesik tik di kelurahan. Malam yang berselimut dingin, kokok ayam yang merdu, dan menyalaknya anjing yang disebut kerusupan tidak membuat saya takut. Mungkin juga, irama mesin tik terlalu indah untuk memedulikan suara malam.

Ketikan saya cukup ‘kacau’ namun bagi anak sekolahan kala itu sangat indah sekali. Dengan penuh percaya diri saya mengirim naskah-naskah yang telah diketik rapi melalui Kantor Pos di kecamatan. Seminggu menunggu, tak ada kabar. Dua minggu, juga demikian. Sebulan, juga demikian. Tak ada sistem cek nomor resi; atau mungkin saya tidak mengerti untuk cek di Kantor Pos. Namun, ada bagian dari majalah Annida yang keren masa itu adalah pertiga bulan, terdapat halaman yang menyebut nama pengarang dan judul cerpen tidak layak muat.

Oh, waktu tunggu yang cukup lama sampai akhirnya ditolak. Saya tidak berhenti menulis. Saya kirim lagi. Ketik lagi. Sampai mesin tik diminta balik oleh kelurahan untuk urusan surat-menyurat. Di kelas 3, saya ikut les komputer di rental depan sekolah. Saya mulai mengetik di perangkat yang modern. Mencetak hasil karya dan mengirimkannya kembali melalui Kantor Pos. Kamu bisa memprediksinya, tulisan saya kembali ditolak!

Pertengahan 2005, saat saya masih kalut dengan ke mana harus melangkah usai musibah tsunami, tulisan saya dimuat di Annida. Baiklah. Saya pikir, perjuangan panjang telah usai. Saya menulis lagi banyak cerita, mengirim kembali dan masih ditolak. Perkuliahan di Banda Aceh membuat saya akrab dengan majalah-majalah yang telah saya sebutkan di atas. Saya pun mengirim cerpen sesuai dengan karakteristik majalah tersebut. Namun, tidak ada satupun yang berhasil membius redaksi dengan tulisan saya. Lantas, Oktober 2013 cerpen saya muncul di majalah femina, lalu berturut-turut di Ummi, dan tidak pernah hadir di Gadis maupuan Hai!

Waktu yang cukup panjang untuk sebuah tulisan dimuat media massa. Enam tahun sebelumnya - mungkin lebih - saya telah berselancar dengan indah di dunia maya. Multiply yang penuh bunga, emoticon menarik, dan tulisan penuh aroma cinta saya gagahi dengan gahar dan ganas. Era digital bagi saya dimulai sejak saat itu, di mana entah membuat tawa atau rindu, saya benar-benar telah ‘mengabdi’ kepada Multiply sebelum memulai di Blogger, Kompasiana dan juga Wordpress. Bekal yang mendayu-dayu sebagai penulis fiksi saya curahkan saat menulis blog – sampai kini. Terkadang, ada kangen untuk membaca tulisan-tulisan di Multiply yang telah tamat masa jayanya. Dulu, tidak ada pengetahuan untuk melakukan backup data; duduk di warnet, menulis, posting, berbalas komentar lalu ditinggalkan begitu saja. Maka, puisi-puisi dan cerpen 'meremaja' tidak membekas di mana-mana. 

Jadi penulis masa itu, kayaknya memang ribet dan ‘ah nggak mau menulis lagi’ karena sering mendapatkan penolakan. Begitu blogger ‘datang’ tak diundang, semua masuk ke era digital karena ingin eksis atau mencari ‘penghasilan’ yang lebih besar. Ada banyak cara untuk seseorang memulai di blog. Ada yang berangkat dari niat tulus untuk berbagi, menjadikan media yang tepat karena sering ditolak media arus utama, atau dengan niat mencari uang.

Tak bisa dipungkiri lagi, saya pun merasa demikian. Saat cerpen dimuat Annida atau femina, misalnya, yang paling saya tunggu adalah honor yang diterima tak lama setelah itu. Di dunia blogging juga demikian. Sebagian mengandalkan clickbait untuk mendapatkan keuntungan dari Google Adsense, sebagian lain memilih mengikuti lomba menulis blog yang hadiahnya juga makin menggiurkan, dan ada pula yang membangun personal branding dengan kuat sehingga mendapatkan job review dengan nilai fantastis.

Era Digital Ubah Seseorang Jadi Penulis

Kamu semestinya percaya dengan hal ini. Bahkan, seseorang yang telah memiliki branding kuat di blog maupun vlog, bisa lebih kaya dari profesor sekalipun - jika semua dinilai dari segi materi. Jika pejabat pemerintah, atau pegawai negeri, bahkan pegawai swasta; tiap bulan menerima penghasilan tetap sejumlah tertulis, maka content creator di dunia maya ‘cuma’ diam saja karena bisa Rp 0 rupiah, bisa juga Rp 100 juta, atau bahkan lebih.
Berkah menulis blog, undangan salah satu produsen smartphone di Jakarta.
Kamu nggak mesti sekolah tinggi untuk main di internet. Percaya dengan apa yang saya sebut dan alami selama ini. Bekal di universitas bahkan sama sekali tidak terpakai saat ‘bekerja’ dengan internet. Pekerja di internet tidak memandang seorang lulusan sekolah dasar maupun perguruan tinggi nomor 1 dunia sekalipun. Kamu cuma perlu memperbaharui ‘jati diri’, mempermak ‘identitas’ dan menjadikannya sebagai bekal bertarung di dunia maya.

Tugas kita adalah duduk di depan komputer. Lahirkan konten. Biarkan berselancar di mesin pencari. Ditemui oleh banyak pembaca atau penonton. Disukai. Dihujat. Diberikan umpan balik. Lalu, ‘fee’ akan berdatangan dengan berbagai cara. Tidak ada pemisahan antara golongan A atau B, tidak ada bos dan bawahan, tidak ada pula siapa paling tinggi jabatan dan rendah. Hanya saja, siapa yang kreatif, inovatif dan bekerja keras, dirinya yang akan berhasil.

Seseorang yang tidak ada basic menulis sekalipun bisa menjadi sangat populer di era digital. Kenapa saya sebut demikian? Jika kamu mencari salah satu kata kunci di Google, misalnya saja, kamu akan menemukan ragam blog yang mengulas perihal yang kamu cari. Mereka bermain dengan konten. Mereka mencari celah untuk masuk ke halaman pertama mesin pencari. Mereka mencari pembaca setia. Mereka menulis – posting – tiap hari. Dan, mereka mencari uang!

Kita? Di mana keberadaan kita di era digital ini? Tentu, serunya hidup di era digital tiap orang berbeda-beda. Namun, kita memiliki celah yang sama untuk menjadi sukses sebagai penikmat maupun pelakon utama. Tinggal kita yang memilih mau jadi apa di dunia maya. Jika diminta memilih, saya tentu menjadi pelakon utama. Bekal sudah punya. Niat sudah ada. Cukup mencari celah menjadi siapa dalam membangun personal branding!

Guru Blogger Itu Identitas Penting

Kita mengenal travel blogger. Bahkan, banyak sekali traveler yang mengabadikan kisah mereka di blog. Ada yang berangkat sebagai penulis andal. Ada pula yang sekadar melampiaskan kata-kata maupun keluhan setelah pergi ke suatu tempat. Nah, identitas sebagai travel blogger begitu melekat di tubuh mereka sehingga saat kamu ingin pergi ke suatu tempat di dalam maupun luar negeri, kamu akan mengunjungi blog dimaksud untuk mencari tahu tentang destinasi itu.

Era digital itu membentuk personal branding dengan sendirinya. Aktivitas sehari-hari bisa menjadi sebuah kewajaran untuk ditulis lalu dipublikasikan. Saya berangkat dari guru – meskipun belum menjadi pegawai negeri – di mana banyak sekali kisah yang bisa saya abadikan, bahkan menjadikan sekolah sebagai ‘objek’ menarik kesimpulan sebuah tulisan. Dalam membangun kepercayaan ini tentu saja saya harus membuat tulisan yang beraroma pendidikan atau edukasi, atau hanya sekadar curahan hati seorang guru semata.

Tidak banyak guru yang mau menulis. Apalagi berbicara dunia blog yang penghasilannya kadang ada, kadang tiada. Lantas, kenapa saya membangun identitas sebagai guru? Di satu sisi karena bagian ini telah menjadi jati diri saya. Misalnya, saat kamu ingin tahu soal ujian nasional berbasis komputer, saya bisa memberikan penjelasan dari kacamata guru, teknisi maupun operator. Saat kamu kebingungan melanjutkan pendidikan usai kelas duabelas, saya bisa memberikan alternatif berdasarkan pandangan kemampuan, keahlian, dan kondisi ekonomi orang tua. Saat kamu mau berdiskusi soal bahan ajar, saya bisa menjawab dengan menarik beberapa kesimpulan berdasarkan mata pelajaran yang kamu ajarkan.

Makin banyak saya menulis, makin kuat pula personal branding yang saya bangun atas nama guru blogger. Maka, hal ini cukup penting karena mengingat keseharian saya adalah demikian. Tidak mungkin saya melabeli diri sebagai travel blogger yang mana kisah jalan-jalannya hanya sesekali. Tidak mungkin saya berkata sebagai penulis profesional, sedangkan buku solo belum satupun yang diterbitkan lantas bestseller.

Saya pikir, semua ada identitas masing-masing. Nah, saat saya menyebut guru blogger, maka saya mengikuti perubahan zaman; mengenalkan efek digital kepada anak-anak di sekolah dalam kacamata positif dan negatif. Sebagai catatan, anak-anak sangat paham teknologi saat ini sehingga butuh pendampingan untuk mengarahkan mereka menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif.

Bersama siswa, mengenalkan dunia internet yang makin seru tiap harinya. 
Di sinilah peran saya sebagai seorang guru. Selain mengajar pelajaran, saya ‘wajib’ mengarahkan anak-anak – bagi yang mau – menjadi content creator di era digital. Saya mulai memberi pengetahuan tentang blogger, konten video yang bisa mereka sajikan, menjadi calon influencer, bahkan komikus di dunia maya. Semua ini ada di jiwa anak-anak kita. Anak kampung yang tiap hari melihat sawah, mungkin kesal melihat saya di kelas, adalah sebagian kecil dari mereka yang butuh ‘teman’ untuk mengarahkan ke pembenahan diri selama berada di dunia maya.

Saya pernah berujar, “Kamu buat yang unik, nyeleneh dan aneh. Kamu memang akan malu. Tetapi, orang terkenal di internet itu harus buang malu. Kamu malu? Kamu tidak akan dapat apa-apa!”

Artinya, saya tidak mengarahkan anak-anak menjadi orang yang melakukan hal-hal negatif untuk menjadi terkenal. Annisa Mahira, salah seorang siswa yang benar-benar saya arahkan untuk menjadi influencer Instagram. Semula, konten yang dilahirkan di akunnya biasa saja. Karena Annisa tidak memiliki kemauan besar untuk menjadi blogger, saya arahkan ke Instagram. Di mana, fashion, inner beauty, style dan juga fotogenik ada pada dirinya. Saat ini, pengikut Annisa dan jumlah like foto di akunnya melebihi akun saya pribadi.


Saya sadar bahwa perkembangan internet makin melambung tinggi. Siapa yang mau, dirinya sajalah yang mendapatkan hasil. Meskipun di kampung yang selalu mendengar suara jengkrik malam hari, saya tidak mau anak-anak pulang sekolah; tidur, menonton televisi, atau bermain saja. Tetapi, mereka harus memiliki bekal yang kuat di internet. Jika lulus sekolah tidak memiliki pekerjaan, maka internet masih bisa diandalkan. Kamu yang sudah bergelut di dunia blogging atau internet secara umum, tentu paham sekali biaya belajar jadi 'sesuatu' di internet. Saya menghadirkan sebuah pembelajaran karena efek kreatif di internet tak lain bekal mereka untuk melakukan yang berbeda, menarik perhatian dan juga memiliki penghasilan selepas sekola - sekali lagi apabila tidak melanjutkan pendidikan atau belum mendapatkan pekerjaan layak. 

Annisa hanya salah satu dari sekian siswa saya yang ingin menjadi ‘sesuatu’ dari internet. Bersama yang lain, setidaknya saya telah menjabarkan serunya menjadi pelakon di dunia maya. Saya tidak lantas berujar semata tetapi memberi bukti bahwa dari menulis saya bisa naik pesawat gratis, misalnya. Saya tidak memaksa harus mengikuti jalan yang saya pilih. Tetapi, pekerjaan 'sampingan' di internet lebih menggiurkan daripada bekerja sebagai pengajar, penyiar radio dan lain-lain di Aceh untuk mengisi dompet selama kuliah. 

Era Digital Ubah yang Tidak Mungkin Menjadi Mungkin 

Tidak mungkin saya naik pesawat terbang; pikir saya waktu itu. Saya tidak sedang berbicara soal siapapun bisa naik pesawat terbang karena harga tiket murah. Semurah apapun tiket tidak mungkin saya beli karena belum ada kemampuan untuk itu dan tidak ada destinasi yang benar-benar ingin saya kunjungi. Tetapi naik pesawat terbang gratis siapa yang tidak mau. Semua dibayar. Semua dihargai. Tentu, hanya satu jalan yang bisa saya lakoni yaitu menjadi penulis. Untuk saya yang tinggal di kampung, ke Ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh, saja sudah ‘terhebat’ mengingat 5 jam di jalan dengan ongkos pergi Rp 100 ribu. 

Jadi penulis di internet kemudian menjadi profesi yang sangat seru. Selain dikenal banyak orang, dihujat pula karena pendapat kita tidak mudah diterima, juga melewati batas yang tidak pernah terbayangkan oleh saya sendiri sebagai seorang guru honorer yang selalu dikucilkan dan direndahkan.

Kita ketepikan profesi saya sebagai guru honorer yang makin hari makin tidak dianggap keberadaannya, lihatlah saya sebagai seorang blogger. Saya bangga dengan profesi ini. Tentu. Bandar udara seolah-olah telah menjadi terminal bus antarkota yang mana cukup sering saya singgahi. Meski, di dompet hanya tersisa selembar berwarna biru, tetapi saya menikmati keindahan yang cuma bisa dinikmati dari hasil kerja keras. 

Jika saya bertahan dengan mengirimkan saja tulisan ke media massa – yang mana kini rata-rata telah tutup – maka tidak mungkin saya jadi begini. Tidak akan pernah saya rasakan serunya era digital. Tidak akan pernah dikenal banyak orang. Tidak akan pernah disebut sebagai guru blogger. Atau paling tidak, jika ditanya blogger Aceh adalah tidak akan saya yang menjadi sosok yang dikenalkan selain blogger daerah lain.
Berkah penulis blog saat ini bisa traveling dengan mudah.
Hal mustahil telah saya raih dari dunia digital ini. Mungkin tidak mungkin tetapi itu sangat mungkin. Jika kamu masih enggan menyebut ini sebuah keberuntungan maka saya bisa menyebut usaha tidak pernah mengelabui hasil. Proses panjang yang telah saya lewati, kecewa karena ditolak, belajar dari kesalahan bahkan titik dan koma, kemudian saya menikmati dengan sebuah perjalanan udara yang 'mahal' harganya dan ekslusif dari segala pandangan.

Proses tertinggi dari seorang penulis blog saat ini adalah menang lomba atau diundang ke suatu acara dengan akomodasi dan transportasi ditanggung panitia. Saya yakin sekali hukum ini berlaku pada sebagian besar blogger. Bukan karena materialistis tetapi blogger itu tak lain profesi yang mirip dengan selebriti, influencer atau penamaan lain yang mana datang ke suatu acara, memotret, lalu menulis. Artinya, memiliki pengaruh besar di dunia maya. 

Mungkin, sebagian menganggap ‘ah biasa saja’ tetapi algoritma mesin pencari akan berbeda kedudukannya jika berhadapan dengan blogger. Sponsor tidak akan pernah rugi mengirimkan tiket pesawat karena tulisan yang ditulis blogger akan naik ke permukaan. Media online menjadi sebuah 'kemunafikan' saat ini karena iklan yang tayang lebih menarik dibanding iklan televisi. Kamu mau membeli smartphone baru, maka Google yang akan menjadi bantuan utama.

Selain naik pesawat gratis, era digital juga mengubah gaya hidup saya yang semula hanya mengandalkan smartphone kelas menengah ke bawah untuk naik level ke smartphone high end. Kenapa ini terjadi? Di sinilah letak ‘keutamaan’ blogger yang saya sebut tadi. Produsen smartphone sangat bergantung kepada reviewer; dari sisi baik dan tidak baik. Makin banyak diulas, makin banyak pula data yang tersimpan di internet. Blogger yang dikasih smartphone akan mengulas produk sedalam-dalamnya. Blogger yang diundang ke acara, dikasih smartphone gratis, lalu akan banyak sekali tulisan yang lahir di antaranya hand on, suasana acara sampai review produk. Yang mana di judul dan kata kunci tentu akan menggunakan tipe produk yang baru saja diluncurkan.

Smartphone dibutuhkan semua orang untuk saat ini di mana tidak hanya mengganti feature phone tetapi teman gaya hidup. Saya selalu bertanya kepada anak-anak di sekolah, “Kalian pilih isi paket data atau pulsa?” kamu pasti bisa menebaknya. Paket data bisa digunakan untuk semua kebutuhan, pulsa hanya untuk komunikasi konvensional yang mahal dan cenderung ditinggalkan atau tidak dipakai oleh anak-anak usia sekolah.

Tentu, era digital bagi saya tidak hanya seru saat menggenggam sebuah smartphone yang baru launching dan belum ada di pasaran. Saya terlibat langsung dalam kemajemukan dunia digital. Apalagi bicara posisi saya di daerah yang bagai mendapat durian runtuh manakala menerima e-ticket untuk sebuah penerbangan. Duduk di depan artis yang memamerkan smartphone terbaru dan tak lupa catatan kecil di hotel berbintang.

Belum lagi jika berbicara diundang ke acara lain dalam skala lebih besar. Kita tidak hanya dihargai sebagai 'manusia' semata tetapi diistimewakan dalam segala aspek. Saya tidak akan pernah lupa, barangkali berterima kasih kepada blog yang memberikan kesempatan untuk saya lebih diakui di era digital. Salah satu adalah mendapat undangan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dalam rangka menyaksikan Opening Ceremony Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Hal ini tentu saja sangat istimewa karena 50 tahun lalu Indonesia menjadi tuan rumah dan belum tentu 50 tahun lagi akan kembali. Saya menjadi saksi acara besar ini bahkan ikut mengabadikannya dalam buku yang dicetak khusus oleh pemerintah
Berkah menulis blog lain bisa ikut serta dalam ajang bertaraf internasional - Opening Ceremony Asian Games 2018 atas undangan Kominfo RI.
Cuma-cuma. Benar. Ini hanyalah dirasakan oleh blogger – penulis – di era digital. Bahkan, penulis blog lebih tajam daripada penulis lain. Penulis blog lebih ditakuti daripada akun media sosial yang sering menghujat. Satu tulisan penulis blog yang melampiaskan kekesalan pada suatu produk, diviralkan, maka akan runtuhlah brand yang dimaksud. Berbeda dengan selebriti yang bekerja sebagai seniman semata. Blogger bahkan tidak terdeteksi dengan baik kecuali telah membangun personal branding seperti yang saya lakukan. Ada sebagian dari blogger berprofesi sebagai pegawai negeri, dokter, pejabat bahkan profesi lain yang telah memiliki penghasilan tetap bulanan. Maka, sekali lagi, tidak ada yang tidak mungkin di era digital ini.

Ulasan Teknologi Bawa Berkah 

Sudah saya sebut di awal, saya adalah penulis fiksi. Karya pertama yang dimuat media cerita pendek. Tulisan saya ‘semula’ lebih banyak fiksi sebelum blog memberikan ruang berbeda dan sentuhan magic yang tidak bisa saya kembali ke bentuk serupa. ‘Sihir’ itu mengubah pilihan hidup saya untuk lebih mencintai dunia digital daripada kehidupan seperti biasanya. Toh, orang lain juga berinteraksi dengan intens di internet sebagai penikmat saja. Mengapa saya harus mengikuti mereka? 

Ulasan teknologi kemudian menjadi pilihan yang tepat. Ada sebab, ada akibat. Alasan utama, saya naik pesawat karena menulis tentang teknologi itu sendiri. Menulis blog mengantarkan keuntungan yang tidak sedikit untuk saya secara pribadi. Produk-produk smartphone terbaru saya tahu lebih cepat. Harga produk menjadi tanya jawab antara saya dengan teman yang ingin mengganti perangkat. Semua berjalan sesuai keinginan saya sebelumnya. 

Di sekolah, apapun permasalahan yang berbau teknologi adalah pangkuan saya sebagai pelabuhan terakhir. Anak-anak. Sesama guru. Seolah, mereka sadar betul bahwa saya tahu benar suatu permasalahan, komputer maupun smartphone. Anak-anak tentu saja menjadi daya tarik yang luar biasa saat ini mengingat mereka pengguna aktif internet. Bahkan, saya sendiri tidak bisa mempublikasi status atau foto ‘aneh’ karena anak-anak bisa menekan like atau memberi komentar. 

Kemudahan dalam akses ke dunia teknologi yang kian tak terbatas, mengantarkan saya untuk fokus, belajar interaksi yang baik dan membuat blog khusus teknologi. Kenapa saya yakin dengan blog teknologi ini? Karena ide tentang teknologi saat ini tidak pernah habis, bulan ini bisa 2 sampai 5 produk diluncurkan. Ulasan bisa beragam untuk satu produk. Bulan depan datang lagi yang lain. Belum lagi berbicara soal kerjasama dan kepercayaan, juga soal aktivitas sehari-hari saya yang tidak pernah lekang dengan teknologi. Sehingga, Tekno Update saya lahirkan untuk mengulas teknologi lebih mendalam. 

Namun, karena blog tekno ini menggunakan hosting gratis, penetrasinya juga begitulah adanya. Saya cukup kewalahan dalam menaikkan ratingnya. Sebagai penulis blog yang telah rutin mengulas tema teknologi, tentu saja saya ingin mendapatkan performa yang terbaik untuk blog tekno ini. Sebagai blogger, blog bairuindra.com telah menjadi identitas saya. Sebagai penulis blog tekno, saya juga ingin mengecap manisnya keseruan di era digital dengan terus meng-update berita teknologi; terlepas tulisan mendayu-dayu di bairuindra.com. 

Rasanya, hidup saya kurang seru jika belum update blog. Blog utama barangkali tidak memungkinkan saya menulis tiap hari tetapi untuk blog Tekno Update, bisa saja sehari beberapa artikel. Hal pertama yang harus saya lakukan untuk membuat hidup makin seru di era digital ini adalah memindahkan atau men-transfer domain dan hosting techno-update.com dari provider sebelumnya ke Domainesia. Domain yang masih mengandalkan hosting dari Google ini akan mendapatkan hosting murah dari Domainesia dengan penawaran terbaik. 

Kenapa Saya Wajib Pindahkan Domain Blog ke Domainesia? 

Seperti yang kamu lihat, blog Tekno Update yang saya miliki saat ini sangatlah sederhana dan masih menggunakan Blogger - Blogspot. Kelebihan dan kekurangan pasti ada. Namun, untuk mencapai puncak tertinggi dan melawan blog tekno lain di Indonesia, saya tentu saja membutuhkan tenaga lebih besar yaitu hosting yang baik dan juga murah. Saya juga membutuhkan cara membuat blog yang tepat, praktis dengan plugin simpel dan ringan, serta penempatan iklan yang sesuai agar blog mudah diakses. 

Hal ini, tidak bisa saya dapatkan dengan mudah di Blogspot yang mana saya harus berpusing dulu dengan rumus HTML. Hijrah ke Domainesia, artinya, Tekno Update akan segera beralih ke Wordpress yang mana memiliki plugin keren dan template responsif serta SEO (Search Engine Optimization) yang akan memungkinkan blog tekno ini mudah masuk ke mesin pencari. Saya membutuhkannya untuk menunjang performa blog tekno yang makin hari makin diincar oleh produsen smartphone

Saya juga telah memiliki satu akun Wordpress dari provider lain dengan harga yang cukup mahal. Asyiknya, jika saya migrasi hosting ke Domainesia maka akan mendapatkan potongan harga sebesar 25%. Saya juga bisa memilih server antara Singapura, Dallas, Tokyo maupun Jakarta. Server yang beda dengan domain blog bairuindra.com tentu menjadi bahan yang menarik. Di satu sisi, sangat bagus di mata Google maupun Bing. Di sisi lain memiliki tingkat keamanan yang terjamin dan juga tidak mudah putus jaringan karena alasan tertentu. 

Di laman resminya, Domainesia memberikan penjelasan bahwa mereka akan memberikan pelayanan yang maksimal selama 24 jam. Standar tinggi ini tentu saja sangat sangat butuhkan untuk performa, mencurahkan permasalahan dan juga berkomunikasi intens terkait jaringan maupun hal lain. 

Terkait pindah domain juga sangat murah sekali, jika saya masih ingin bertahan di Blogspot. Namun jika ingin pindah ke Wordpress tentu saja harus membeli domain + hosting yang sama-sama murah di Domainesia. 
Pindah domain murah di domainesia.

Bayar cepat domain murah di domainesia.
Namun, jika saya ingin pindah dari Blogspot ke Wordpress maka saya mesti membeli hosting terlebih dahulu dengan harga murah tadi. Kemudian melakukan pengaturan seperti biasa pemindahan domain dari Blogspot ke Wordpress. 
Migrasi hosting di domainesia dapat diskon 25%.

Cara Transfer Domain ke Domainesia Mudah dan Praktis

Yang harus saya lakukan pertama sekali adalah login ke Blogspot lalu menuju Setelan, Lainnya dan mengambil Backup Konten. Nanti, file yang tersimpan adalah dalam bentuk .xml yang berisi artikel, gambar-gambar maupun konten lain bisa diunduh. 
Cara Backup Konten dari Blogspot sebelum pindah ke Wordpress.
Langkah selanjutnya adalah login ke Wordpress. Yang perlu dilakukan adalah memasang plugin Blogger Importer agar data-data yang sebelumnya telah tersimpan dalam formal .xml dari Blogspot bisa segera dipindahkan ke Wordpress. Perhatikan gambar di bawah ini untuk lebih jelasnya. 
Pasang plugin Blogger Importer terlebih dahulu.
Pastikan plugin Blogger Importer terpasang dan diaktifkan.
Saya harus benar-benar pastikan bahwa Blogger Importer telah aktif dengan masuk ke Plugins. Jika telah aktif maka langkah selanjutnya adalah menekan Run Importer lalu saya akan diminta untuk meng-upload data .xml yang sebelumnya telah disimpan. Jika proses menginput data telah berhasil maka akan keluar kotak dialog lain yang meminta persetujuan. Saya cukup menekan Submit apabila data yang diberikan telah benar. Dan, Tekno Update resmi berpindah domain dan hosting ke Domainesia! 
Masuk ke plugin lalu Blogger Run Importer.
Unggah data dalam bentuk .xml yang telah disimpan sebelumnya. 
Jika sudah yakin benar maka Submit.
Apabila proses telah selesai, selanjutnya adalah memilih template yang sesuai untuk sebuah blog tekno. Tentu saja saya tidak mau melewatkan plugin untuk memasang Google Adsense agar nilai jual blog makin menarik dan terpercaya. Mudah, simpel, terpercaya dan cepat begitulah pemindahan domain ke Domainesia.

Era digital yang terus berbenah, tidak mungkin saya hanya diam saja. Blog tekno makin aktif, makin banyak pula suguhan menarik yang akan saya hadirkan di internet. Sekarang adalah tugas saya untuk mengoptimalkan blog, bersama Domainesia saya yakin sekali bahwa blog tekno yang saya rilis lebih kurang setahun lalu akan semakin mendapatkan peringkat terbaik di Google. Tentu, bairuindra.com akan tetap menjadi personal branding saya sebagai guru blogger. Inilah serunya kisah saya bersama era digital. Saya tak mau ditinggal, saya hanya mau menjadi bagian terpenting dari dunia digital dengan cara saya sendiri!

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

22 comments:

  1. Akan lebih keren jika istilahnya diganti jadi Cik Gu Blogger, biar terkesan gimana gitu... Btw, tulisannya cukup inspiratif Bang. Memang kalau mau bisa jalan2 gratis, ya ngeblog aja... :-)

    ReplyDelete
  2. Keren Ubai "Guru blogger" Kak Mar harus byk belajar nih sama Ubai.Kak Mar gak aktif blognya

    ReplyDelete
  3. Sangat inspiratif bg, Yel lebih senang mengenal abg sebagai blogger dibandingkan guru karene melalui blog abg begitu diperhatikan. Harusnya negara memperhatikan para guru yg mempunyai skill lebih seperti ini, jangan mengandalkan bisa menjawab soal cpns melalui internet saja. Namun,mereka harus memperhatikan bagaimana seorang guru bisa menghasilkan uang dari internet tersebut.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih semangatnya Yel, semoga kita diberikan kemudahan langkah ya.

      Delete
  4. Bangga pokonya jadi blogger, kontenya lebih di takuti ketimbang akun sosmed penghujat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, Amir, apalagi kalau diulas secara detail bisa jadi senjata mematikan.

      Delete
  5. mantap bg Bai, ngebranding ya, akan lebih keren kalau guru bisa nulis dan ngeblog. seperti blog jnj ya kan, jadi orang2 tau kalau ada guru seproduktif bg bai.

    aku juga pengen ngebranding diriku sebagai pns yang melek finansial. meskipun katanya selama ini pns mapan, gaji terjamin, pensiun pasti dan asuransi ada, ya tetap harus belajar memanage finansial. untuk itulah aku khusus bahas finance.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, Awal. Udah boleh itu, nanti branding akan menyusul dengan sendirinya.

      Delete
  6. Banyak guru, terlebih yang masih muda-muda, yang tidak suka menulis. Mereka di kelas sukanya menyuruh anak-anaknya untuk mengarang, tapi apakah guru-guru ini juga mau mengarang/menulis? hehe...

    Sampai sekarang saya masih memakai blogger. Dulunya wordpress com lalu saya ekspor ke blogger. Masih mikir-mikir mau beli hosting. Kemarin garap web berkonsep blog punya teman, karena ga diperpanjang ya hangus deh, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak alasan hal ini terjadi, semoga ke depan ada guru yang mau menulis ya mas.

      Delete
  7. Keren brandingnya, guru blogger. Semoga selalu menginspirasi. Wah...pemenang Writtington juga. Double keren deh. Salam dari Bandung, sesama pengajar juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Hani, semoga selalu diberkahi dalam menulis ya!

      Delete
  8. muridnya boleh juga tuh bang :D jangan dimodusin muridnya dengan alasan buat diajari ngeblog :D

    ReplyDelete
  9. Ulasanya lengkap sekali, dari awal menulis via mesin ketik hingga blog di dunia digital. Usaha tak mengkhianati hasil akhir hingga bisa terbang manja di udara.

    ReplyDelete
  10. alhamdulillah ya mas, menjadi Travel Blogger jaman digital ini membuahkan hasil yang maksimal, bisa jalan-jalan keliling dunia gratis pula, jadi semakin semangat deh... #jejakbiru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Ayo semangat berbagi, suatu saat pasti bisa jalan-jalan gratis!

      Delete