Monday, November 19, 2018

Wonderful Indonesia; Titip Rindu dari Jejak Tsunami Aceh


Entah rindu darimana mendera begitu saja jika bicara Aceh. Terkesan begitu cengeng saat menyalut luka ke permukaan. Tetapi, tak ada seorang manusia mampu menghalau perkara ini; mungkin akan berbeda dengan mereka yang amnesia. Di saat sendiri, adalah potongan ayat senja yang pernah melabuh luka terperih lewat sewindu lalu. Tak mau dikenang namun melintas begitu saja.

Tiap waktu, adalah itu yang dilihat, dirasa dan diraba. Maka, wajar jika rindu berpendar ke mana-mana karena ia merasa akan iba dan suka yang pernah mengabadikan kenangan. Potongan itu saya mulai dari bibir pantai yang akhir 2004 hanya jerit tak bersuara dalam kecamuk ombak ganas. Sebuah pantai yang indah, tak ada kata untuk menjabarkan tiap kenangan dari sini. Meski saya memberi definisi dalam banyak warna, tidak ada yang bisa mendeskripsikannya dengan sempurna keindahan di dalam dirinya. Semenit saja berlalu, haluan itu akan berbeda bahkan memberikan suguhan lebih manis dari sebelumnya.

Kau tak akan pernah lupa tentang Cut Nyak Dien atau Teuku Umar. Begitu juga dengan kami di sini. Di Ujung Kalak yang penuh sejarah, pernah disapu tsunami hingga ke akar-akarnya, tugu kopiah menjadi tempat paling bersejarah di pantai barat Aceh. Kau mungkin berpikir bahwa kami gagal move on karena musibah mahadahsyat sepanjang kehidupan manusia itu. Tetapi, roda becak di seputar Kota Meulaboh tak pernah berhenti. Deru mesin kendaraan makin hari makin banyak. Kota yang dulu pernah sepi, dalam sekejap bangkit dan mengubah haluan menjadi salah satu kota ‘metropolitan’ di Aceh.

Memang, dalam sejengkal kau bisa menemui warung kopi tetapi kota ini telah menabur keindahan dalam menciptakan wonderful Indonesia dalam sesaat. Mari kita mulai dari bibir pantai, tempat di mana Tugu Kopiah Teuku Umar telah berdiri kembali – serupa – seperti dahulu. Deru ombak tak pernah berubah dari waktu ke waktu; gahar, ganas, menggeliat, menabur luka, memerihkan hati, dan juga sangat lembut di sisi lain dalam mengalun pernak-pernik rindu pada luka dan suka.
Pantai Aceh Barat yang meleburkan rindu bersama matahari terbenam.
Tiap sore, pantai yang hanya lima menit dari pusat kota ini dipenuhi oleh muda-mudi sekitar, juga dari daerah lain. Alam selalu berbicara dalam definisi berbeda tentang keindahan. Matahari yang terbenam di tiap senja memancarkan aroma yang lebih perkasa meski usianya tak lagi muda. Awan bergumpal membentuk ‘payung’ yang teduh di senja hari. Angin laut yang kencang menggoyang-goyangkan daun kelapa yang telah tinggi lagi, meskipun tsunami telah mencabutnya sampai ke akar.

Apakah ombak di sini masih ganas? Tentu. Di mana-mana barangkali demikian. Sejauh mata memandang adalah laut yang tak pernah berhenti mengayunkan nada-nada terindah. Kepiting-kepiting kecil bersorak gembira saat menjumpai bibir pantai, lalu membawa kesan kecewa saat air laut surut. Mereka ditinggal, dalam ingin dan tak ingin kembali mengejar ombak yang datang silih berganti.
Matahari terbenam adalah keindahan di sini.
Kau yang suka aroma laut. Bibir pantai yang indah. Buih yang memiliki irama tersendiri. Pantai ini cukup menjadi pelepas dahaya itu. Bukan belok kanan Barcelona, tetapi belok kanan dari jalan Manek Roo, Kota Meulaboh, Aceh Barat, kau akan menemukan tugu pahlawan Indonesia itu, ciri khas yang kami punya, segala upaya untuk dikenalkan kepada banyak orang, kemudian deru ombak mengalun sangat merdu di belakangnya.
Ombak yang indah di pantai Aceh.
Saya menyukai keindahan ini. Walaupun tiap hari adalah laut. Meskipun tiap saat selalu mendengar deru ombak. Jelang tidur adalah hentakan lautan dalam perang ombak besar. Saya selalu menikmati keindahan ini karena seolah-olah hanyalah kami yang punya! Bukankah sebuah gambar bisa menjabarkan suasana hati dan keadaan? Mungkin saja gambar di atas bisa menjelaskan kondisi pantai kami usai tsunami. Ini bukanlah lukisan tangan, ini perkara ketangkasan mengarahkan kamera smartphone lalu berkejaran dengan ombak agar sepatu tidak basah.

Tiap senja, saat matahari tidak lagi panas, kau akan menemui sepilu apapun irama laut di pinggir pantai ini. Bukankah ini sangat menggoda rasa?
Tugu Kopiah Teuku Umar di Aceh Barat.
Lihat kopiah model begini, tentu Aceh di dalam benak banyak orang. Benar sekali. Itu tentang kami. Tentang pahlawan dari jati diri kami. Tentang kenangan pahit dan manis. Tentang perang sebenarnya melawan penjajah. Juga, tentang keindahan tiap senja jika suatu saat kau ke mari. Kopiah Teuku Umar menjadi landmark di Kota Meulaboh. Tempat ini menjadi persinggahan banyak orang, bukan saja mengenang sejarah tetapi ‘keindahan’ yang hanya bisa dijabarkan jika kau merasa sendiri di sini nantinya!

Lantas, penat yang sebenarnya belum ada saat mengelilingi Kota Meulaboh yang kecil, kau pasti wajib mencicipi kopi ciri khas Bumi Teuku Umar. Kopi terbalik atau kupi khop. Segelas saja dengan ampas yang hampir setengah gelas, akan membuat mata terbelalak hingga pagi. Kerasnya kafein dari kopi ini tiada tanding namun cara mencicipinya juga sangat istimewa.
Menikmati kopi terbalik di Aceh Barat.
Jangan pernah kau angkat gelas ini. Jangan pula khawatir kopi tidak keluar. Kau cukup meniup perlahan lalu rasa kopi yang pahit langsung membangunkan nada-nada indah di alam bawah sadar. Tiup lagi. Hirup lagi. Sesederhana itu tentang keindahan di kami, pada wonderful Indonesia yang lain, yang lebih kompleks dari sekadar kopi mahal!

Catatan untuk kau yang mungkin akan singgah di sini, tidak semua warung kopi menyediakan kopi terbalik. Jadi, saya sarankan untuk ke tempat khusus yang mungkin guide dari rombonganmu tahu tentang itu. Duduk di warung kopi di tengah kota, dengan Wi-Fi sangat kencang barangkali sama dengan kehidupan perkotaan yang kau jalani. Lekuk jalan yang menanjak, masuk ke pemukiman penduduk yang padat, kau akan menemui gelas-gelas kopi terbalik ditiup dan dihirup. Nikmat aromanya.

Candu. Tentu. Kau tak akan pernah bisa melupakan ‘rasa’ segala rupa yang dihadirkan kopi ini. Sekali dihirup, berkali-kali keinginan untuk mengulang waktu.

Dan, kita tutup tentang wonderful Indonesia dengan sujud panjang di Masjid Agung di tengah Kota Meulaboh. Kubah orange juga menempatkan rindu teramat sangat. Tiang-tiang tinggi adalah saksi tsunami lalu. Namun keindahan yang kini terasa lebih kepada kebahagiaan dari rasa syukur tak pernah henti.
Masjid Agung Baitul Makmur di Meulaboh, Aceh Barat.
Jika di Banda Aceh ada Masjid Raya Baiturrahman, maka di Meulaboh adalah Masjid Agung Baitul Makmur dengan segala keanggunan yang dimilikinya. Arsitektur yang mirip gaya bangunan Eropa dipadu dengan ciri khas Timur Tengah membuat masjid ini tak hanya sebagai ikon tetapi wisata religi bagi hampir semua orang yang singgah. Letaknya di pinggir jalan utama lintas barat selatan Aceh – juga menuju ke Medan – menjadikan masjid ini sangat strategis. Kini, saatnya kau merasakan sendiri teduhnya keindahan di atas lantai keramik yang dingin, langit-langit yang tinggi dengan kaligrafi indah di sekitarnya!
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Wonderful Indonesia Blog Competition. Tertarik ikut lomba ini? Ayo tuliskan tentang keindahan Indonesia dan daftarkan di sini https://goo.gl/forms/RJuGs5pjTXEj5ZpD3



SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

6 comments:

  1. masih pingin ke sana tapi belum kesampian saja

    ReplyDelete
  2. makin keren aja meulaboh ya Bai.. atau jangan2 memang hape dikau yng makin keren hihihi

    ReplyDelete
  3. Moga ada kesempatan ke Aceh... Tempat indah dengan sejarah yang keren

    ReplyDelete