Secangkir Kopi Aceh Saja Tak Bisa Dibayar Pakai Uang Elektronik #AmanBertransaksi

Aman bertransaksi di bank dengan mudah pakai kartu kredit. Aman bertransaksi di bank mudah dengan pakai debit. Transaksi di toko ritel dengan kartu kredit dan debit. Kartu flazz aman untuk transaksi di toko-toko Indonesia. 

“Maaf, Bang, kami belum bisa menerima pembayaran melalui kartu flazz!” tegas kasir dengan jilbab biru itu mantap. Rasanya, secangkir kopi langsung terasa pahit meskipun telah ditambahkan gula lebih dari dua sendok. Hari itu, saya terburu pulang, gerimis tiba-tiba menggoda siang yang begitu terik. Tak mungkin saya balik ke warung kopi karena memang tidak ingin.

Saya merongoh kantong dan menarik selembar dari sana namun belum cukup membayar kopi dalam gelas plastik itu. Dalam hela napas, saya mengambil dompet kembali yang terlanjur dimasukkan ke dalam ransel dan menyerahkan uang lima puluh ribuan kepadanya. Saya sungguh ingin tergesa, tak mau terjebak dalam gerimis namun waktu berkata lain. Begitu saya dorong pintu minimarket itu, hujan lebat mengguyur tanah yang semula benar-benar kering.

Saya telah terjebak di depan Masjid Agung Baitul Makmur, Kota Meulaboh. Rintik yang jatuh memutih dengan seindahnya godaan dalam dingin. Siang berlalu dengan percuma. Kopi panas telah menghangat. Saya menatap ke jalanan yang biasanya macet itu.

Tak ada pergerakan yang berarti. Cuma, beberapa saja yang bertaruh dalam dinginnya hujan. Sebagian dari mereka tentu membawa pulang banyak barang belanjaan. Pusat ekonomi di Aceh Barat adalah di sini. Namun, transaksi dengan sistem konvensional masih menjadi best seller. Mungkin, karena pola barter ini yang merakyat, saya tidak mudah menemukan toko maupun minimarket yang mau menerima pembayaran melalui kartu flazz atau lebih dikenal dengan uang elektronik.

Tentu, bukan ini pertama kali saya tidak bisa melakukan transaksi dengan uang elektronik. Minimarket yang terkenal di seluruh Indonesia ini saja tidak bisa melayani, saya tidak akan mungkin menggunakannya di toko kecil lain.

Kartu untuk Uang Elektronik Beragam Model

Ngomong-ngomong uang elektronik yang saya pegang saat ini, hanyalah kebetulan, keberuntungan atau rejeki tiba-tiba yang saya dapat dari menulis blog. Saya memiliki kartu Flazz BCA dari Bank BCA dan kartu BRIZZI dari Bank BRI. Kedua kartu ini memiliki fungsi yang sama dan bisa diisi ulang kembali saldonya melalui ATM atau top up online.  
Kartu Flazz BCA dan BRIZZI
Uang elektronik yang tersimpan di dalam kedua kartu saya ini sama dengan kartu kredit, bedanya cuma terletak pada model penyimpanan uang. Jika kartu kredit kita bisa berbelanja secara langsung kemudian pembayaran bulanan diakumulasi. Kartu jenis flazz ini hanya bisa dilakukan pembayaran jika telah mengisi saldo yang mana maksimal bisa terisi sampai Rp 1.000.000 untuk kedua kartu yang saya pakai.

Ngomongin keuntungan, untuk saya yang tidak terbiasa dengan kartu kredit, sering kalap kalau belanja, uang elektronik yang tersimpan dalam kartu flazz sangat berguna. Saya bisa menekan sistem belanja dan tidak akan kalut ketika di akhir bulan tagihan dari bank terlampau banyak.

Untuk sebagian orang yang ingin berhemat, kartu flazz juga sangat bermanfaat di mana kita hanya akan membelanjakan uang yang telah tersimpan di dalam kartu saja dan tidak akan ambil pusing dengan tagihan bank tiap bulannya.

Baca Juga: 

Mengenal Sejarah Baju Cheongsam dan Tips Tampil Cantik Mengenakannya Saat Imlek


Untuk saya yang penghasilannya ‘pas-pasan’ dan sangat ingin menabung, modal kedua kartu ini sangat optimal saat traveling. Saya cukup mengisi saldo sebelum berangkat dan sampai di tempat tujuan – seperti Jakarta misalnya– mudah saja belanjakan tanpa perlu membawa uang banyak di dompet.

Uang Elektronik Mudah Digunakan Di mana-mana

Masyarakat kita masih merasa takut menggunakan kartu kredit karena akan sedih melihat potongan bank akhir bulan. Saat berbelanja, kita dengan sukacita menarik ini itu ke dalam keranjang, lupa bahwa akhir bulan potongan otomatis membengkak.

Pihak bank tentu saja tidak memedulikan hal ini karena keuntungan di mereka. Namun, masyarakat yang gemar menabung untuk masa depan mereka akan cuek saja dalam ‘iklan-iklan’ uang elektronik. Bagi mereka, uang elektronik hanyalah kartu kredit semata.

Saya juga demikian, sebelum Flazz BCA dan BRIZZI tersimpan dengan baik di dalam dompet, saya bukanlah tipikal orang yang tergoda dengan rayuan customer service bank. Saya selalu berujar “Cukup menggunakan ATM saja,” yang mana bisa dihemat secara pengeluaran.

Namun, setelah Flash BCA dan BRIZZI memudahkan segala aktivitas, saya mulai berpikir tidak perlu membawa uang cash dalam jumlah banyak saat bepergian. Saya cukup mengisi saldo keduanya, masing-masing Rp 500.000 yang bisa dipakai untuk beli oleh-oleh atau secangkir kopi di mal.

Kurangnya sosialisasi bank terkait kartu uang elektronik mereka ini mungkin saja karena keuntungan yang didapat lebih sedikit. Belum lagi soal top up tabungan ke dalam kartu uang elektronik yang lebih ribet tanpa melalui potongan bulanan, sehingga pengunaan kartu uang elektronik ini lebih sedikit.

Di Meulaboh, tempat yang saya pikir telah lebih modern setelah ditinggal tsunami 14 tahun lalu, sudah terbuka akses untuk transaksi melalui uang elektronik ini. Di mana-mana adalah toko ritel yang dikunjungi banyak orang; terlebih remaja dan mereka yang gemar gaya hidup lebih stylish.

Toko ritel ini tentu saja menerima pembayaran melalui kartu kredit yang mana kartu uang elektronik sejenis yang saya pakai juga akan mudah diterapkan.

Kalangan remaja tidak hanya meminum secangkir kopi, mereka juga gemar belanja tak terkendali sehingga dengan menggunakan kartu uang elektronik akan membatasi keluar uang jajan dalam jumlah banyak. Remaja yang gaya hidup mereka sudah mengarah ke kehidupan kota besar akan mendapat porsi khusus dari orang tua.

Keuntungan Pakai Uang Elektronik untuk Orang Tua dan Anak

Orang tua cuma menyetor ke kartu BRIZZI – sebagai contoh – dalam sebulan Rp 600.000 yang mana harian adalah Rp 20.000. Anak-anak masa kini kemudian mengolah uang elektronik mereka dalam batasan itu saja. Namun, sekali lagi, jika masih kurangnya sosialisasi dari bank terkait, di kota besar sekalipun hal ini tidak mudah terwujud.

Hidup di daerah memang lebih sulit, meskipun bukan terpencil di mana hampir 24 jam warung kopi terbuka dengan internet kencangnya. Meulaboh adalah kota minipolitan yang ekosistem anak muda merambah ke gaya hidup mewah.

Mungkin saat ini kasir terheran saat saya berbelanja dengan uang elektronik, bukan dari kartu kredit. Beberapa tahun ke depan, saat bank-bank gencar dengan sosialisasi mereka, maka di mana-mana adalah anak muda yang mengandalkan uang elektronik ini untuk membayar ‘gaya hidup’ meskipun hanya secangkir kopi semata.
Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh
Toko ritel terkenal seperti Indomaret dan KFC belum mampu memenuhi pembayaran nontunai ini. Saya tidak tahu alasan yang pasti, barangkali karena kebiasaan masyarakat yang lebih sering menggunakan uang tunai dalam bertransaksi.

Meskipun Meulaboh adalah kota bekas tsunami, kota ini telah memenuhi ragam kebutuhan perekonomian. Faktor yang menentukan sebuah kota kecil tidak mengerti soal pembayaran dengan uang elekronik karena kurangnya sosialisasi.

Misalnya, bank-bank besar seperti BNI, Mandiri maupun BRI tidak memberikan pemahaman khusus kepada masyarakat. Masyarakat cuma tahu bahwa transaksi bisa dilakukan melalui sistem tunai, sebagian mengerti dengan penggunaan kartu kredit namun belum tentu ada yang paham dalam menggunakan uang elektronik.

Ketidaktahuan masyarakat soal uang elektronik ini akan membuat transaksi berkurang melalui jalur tersebut. Program dari Bank Indonesia saja tidak cukup tanpa dibarengi oleh bank-bank terkait, apalagi di daerah hanya beberapa bank saja yang berdiri.

Perlu Sosialisasi dari Bank Soal Keuntungan Uang Elektronik

Maka, bank-bank yang berada di bawah naungan Bank Indonesia seharusnya melakukan sosialisasi terkait aman bertransaksi melalui kartu uang elektronik. Tanpa sosialisasi, program ini akan berjalan di tempat atau bahkan hanya mampu dinikmati oleh mereka yang telah terbiasa demikian di kota besar. Padahal, kehidupan serupa telah terjadi di daerah, bahkan di Meulaboh yang dulu hancur lebur oleh tsunami.

Perekonomian begitu pesat di Bumi Teuku Umar ini. Warung kopi ada di mana-mana dengan akses internet cepat. Toko ritel telah saya sebut menyemarakkan wajah ekonomi kota kecil kami. Belum lagi SPBU yang berdiri beberapa kilometer saja. Jadi, pembayaran melalui uang elektronik sangat membantu pertumbuhan ekonomi ke arah lebih baik.

Kenapa saya katakan lebih baik? Saya mengulang apa yang disebut di atas, saya takut menggunakan kartu kredit karena tidak bisa mengerem tiap saat mau belanja.

Maka, dengan menggunakan uang elektronik yang dibatasi penyimpanan uang dalam satu kartu ini bisa menghemat, merencanakan keuangan lebih baik dan mengatur uang jajan anak-anak yang mungkin saat ini tidak tertulis.

Orang tua yang terbiasa langsung memberikan uang saat anak meminta, akan terbiasa memberikan kartu uang elektronik tiap bulan yang telah terisi. Orang tua harus tegas dalam hal ini di mana tidak akan memberikan lagi uang cash meskipun uang elektronik telah habis.

Anak pun akan terbiasa membelanjakan uang mereka tiap bulan; kecuali dalam pengeluaran beli buku, SPP dan lain-lain yang masih berada di ranah uang tunai.
Secangkir kopi terbalik selalu terasa nikmat.
Makin hari, makin berubah sistem pembayaran. Namun, yang pasti, secangkir kopi tidak akan pernah lekang. Akan menarik nantinya secangkir kopi Aceh dibayar dengan menggunakan uang elektronik. Bukankah ini lebih aman daripada membawa segepok uang tunai lalu lupa disimpan di mana?

2 Responses to "Secangkir Kopi Aceh Saja Tak Bisa Dibayar Pakai Uang Elektronik #AmanBertransaksi"

  1. Cara minumnya unik gitu ya, gelasnya di balik. Kalo misal saya menirunya di tempat saya, pasti orang pada ketawa pengen coba hihihihi

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel