Laut dan Sebuah Janji Rezeki di Kampung Berseri Astra Aceh


Kemarin sore, sehari sebelum peringatan 14 tahun tsunami Aceh, sebentar saya merapat ke bibir pantai Alue Naga. Deru ombak yang cadas dan romantis di sisi lain membuat saya tak gentar. Saya memang tidak lupa musibah lalu, saya juga tidak mau terlena dan melupakan keindahan laut dengan penuh cinta dan rezeki di dalamnya. Roda perekonomian di bibir pantai ini juga telah normal meskipun belum berdiri kafe atau restoran besar seperti yang orang-orang inginkan. Namun, siluet senja yang sebentar lagi tiba, Pulau Sabang yang meredup dalam balutan awan serta pesawat terbang yang sedang take-off atau landing begitu menyempurnakan rehat sejenak di sini.

Tsunami 26 Desember 2004 tak akan pernah pudar dalam benak kami. Tiap Desember adalah luka yang menganak airmata. Sampai usia tertutup sekalipun saya akan ingat tentang kepasrahan, rasa putus asa maupun kesedihan teramat dalam, di pagi itu saat berlari dikejar ombak besar. Gemuruh yang entah berwujud apa, kepanikan di mana-mana adalah panorama yang kemudian melarutkan isak tangis dalam kehilangan panjang; sampai kini.

Soal anak istri. Kekasih hati. Dan juga harga benda. Yang mana ‘kami’ di bibir pantai bukanlah pegawai negeri atau pegawai perusahaan besar yang mendapat sokongan dengan mudah. Semua kembali dari awal. Berangkat dari keterpurukan dan dari tidak ada. Bala bantuan yang datang namun tak pernah menggenapkan kehilangan mata pencaharian seperti semula. Cukup lama – saya pikir – saudara kami di Alue Naga untuk berbenah, bahkan sampai saat ini masih terasa asing di negeri sendiri.  
Kampung Alue Naga dengan laut indahnya.
Termenung di sini, hari ini, adalah luka yang masih tersisa dalam tak terucap kata. Mau tidak mau, tiap orang memiliki kisah yang berbeda. Dan tentu, di bibir pantai ini hanyalah nyalak pilu berkepanjangan. Kampung yang dulu pernah permai kini seperti gersang dalam kubangan ombak yang sesekali ganas. Saat masuk ke perkampungan penduduk, pohon rimbun dengan daun luruh menyapa dengan mesranya. Tiap lorong adalah sepi yang terasa. Mungkin, padatnya penduduk dahulu telah terganti dengan riak duka di mana-mana.

Ombak yang memecah pantai semestinya selalu indah. Awan bergumpal hari itu seharusnya mengabarkan berita baik. Namun, entah kenapa, kesunyiaan yang semula ada kian menjadi-jadi. Saya bertanya tentang asa, soal harapan dan juga mengapa bertahan di tanah yang tak lagi bersahabat ini.

“Inilah rumah kami!” begitu jawab mereka. Bulu kuduk saya berdiri. Penegasan dalam kalimat ini menjabarkan banyak hal tentang mengapa mereka tidak pindah atau alasan lain yang bisa diterima akal sehat sebagian orang.

“Jiwa kami adalah pelaut,” tegas yang lain di mana raut lelah diwajahnya menggambarkan segala daya tentang gaharnya ombak di tengah lautan.

“Di sinilah kehidupan kami sebenarnya,” Maryati, S, yang saya temui di depan perahu kecil di sungai itu, di dalam kios miliknya yang sempit, di samping jalan yang tak ramai lalu-lalang, mengumbar senyum hambar. Baginya, kehidupan yang berwajah bahagia selalu datang tanpa perlu mengumbar soal susah dan senang. Wanita 42 tahun ini tak menguratkan sedih tetapi di dalam hatinya mengisyaratkan luka mendalam.

“Kehidupan kami terus berjalan,” dan saya tak mau bertanya lagi soal luka lama itu. Kios miliknya yang sepi pembeli memberikan ‘gurauan’ panjang pada hari itu. Kak Mar, begitu orang memanggilnya. Tak ada yang istimewa dari wanita yang baru saja meletakkan mi instan rebus di atas meja sebelah kiri kami. Dirinya bersama suami dan dua orang anak tampak biasa-biasa saja; sama halnya dengan kebanyakan warga Alue Naga. “Kami harus bekerja seperti biasa, mencari nafkah untuk kehidupan lebih baik!”

Kak Mar dalam tatapan mata kosong – sesekali – menyelipkan kenangan pahit dahulu. Ia pikir, mata pencahariannya telah menghilang seiring kios miliknya dibawa tsunami. Kios kecil di Kampung Alue Naga yang dulu padat tak berbekas. Kak Mar memulai dari awal, menanjak ke tangga yang licin demi anak dan suami yang kini sudah tidak sanggup lagi bekerja. Sebelum tsunami – mungkin – kios Kak Mar berjalan seadanya namun usai musibah itu kiosnya tak ada perubahan berarti. Dengan kehidupan di Alue Naga yang demikian adanya, tak mudah untuk menarik modal kembali dengan cepat. Kak Mar berpikir lagi, tak mungkin ia bertahan dengan kios kecil itu. Setidaknya, ada usaha lain yang bisa membuat dapurnya mengepul asap tiga kali sehari.

Bibir sungai yang selalu penuh air laut pasang saat purnama menyimpan rahasia sejak dulu. Ombak yang datang menggulung bekas jembatan di sana. Pagi hari air laut selalu penuh, siang akan surut dan di sore sungai ini akan kering yang meninggalkan perahu di atas tanah bercampur pasir. Di belakang rumah warga, tanaman liar tumbuh di tanah bekas tsunami yang membentuk kubangan besar. Di sana, batang bakau ditanam membentuk formasi pertahanan yang cukup kuat. Airnya yang keruh dan tanah berlumpur adalah tempat yang nyaman untuk tiram bertahan hidup.
Di sinilah warga mencari tiram.
Kak Mar memulai dari sana. Ambil tiram di rawa-rawa itu, sudah biasa. Jual-beli tiram di kios miliknya tidak mungkin membawa penghasilan besar karena warga Alue Naga bisa mencarinya sendiri. Ide kreatif itu datang. Inilah rezeki yang bermula untuk bertahan hidup. Kak Mar mencoba peruntungan lain, membuat kerupuk tiram khas Aceh.

Perjalanan panjang dimulai sejak tahun 2014. Larut dalam sedih, duduk menunggu pembeli di kios sempitnya, bukanlah perkara terbaik untuk mendapatkan uang lebih. Kar Mar memblender tiram, mencampurnya dengan tepung gandum dan terigu, menambah bahan dapur, tak lupa garam dan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis dari tiram. Kompisisinya sudah dicatat dengan baik oleh Kak Mar yang menjadi ‘rahasia’ dapur kerupuk gurih miliknya ini. Adonan kerupuk tiram lalu ia kukus, didinginkan dan dipotong kecil-keci kemudian dijemur minimal sehari di bawah panas matahari yang terik.

Usaha kecil Kak Mar membuahkan hasil. Ide kreatif dan unik membuatnya sering diundang untuk mengikuti kegiatan UMKM. Puncaknya di tahun 2015, Kak Mar mendapat perhatian lebih soal merek dagang agar kerupuk tiram miliknya menjadi brand yang kuat. Kak Mar kemudian mencetuskan ide memakai nama dirinya, KAK MAR, di kemasan kerupuk tiram. Lantas, membubuhkan Sinar Naga sebagai ‘pabrik’ atau nama usaha dari kerupuk khas ini.
Kerupuk Tiram Khas Aceh, Kak Mar, di Alue Naga, Banda Aceh.
“Saya kan tinggal di Alue Naga, jadi gitu, saya pakai Sinar Naga yang artinya suatu saat Alue Naga ini akan bersinar!” dengan brand kerupuk tiram – tambah saya dalam hati. Senyum Kak Mar menguratkan harapan dan cita-cita jauh ke depan. Usahanya yang telah mapan, merek dagang telah dimiliki dan banyak sekali sertifikat yang ia pamerkan, soal keseriusan dan pembenaran atas apa yang dilakukannya selama ini.
Kak Mar dengan sertifikat izin usaha dari Pemerintah Kota Banda Aceh dan sertifikat dari Dinas Kesehatan.
Usaha tak pernah memanipulasi hasil. Demikian juga dengan Kak Mar. Perjalanan yang melelahkan di mana semua dilakukan sendiri dan secara mandiri membuahkan izin usaha dari Pemerintah Kota Banda Aceh. Kak Mar juga tak lagi khawatir soal kelayakan kerupuk tiram miliknya karena Dinas Kesehatan telah membubuhkan tanda tangan bahwa kerupuk Kak Mar layak untuk dikonsumsi. Ada bagian yang saya tidak bisa menjabarkannya dengan baik. Namun, sisi ini yang jadi sebuah keharusan untuk membuat saya lebih merinding. Usaha kecil yang mendapat perhatian namun di segi pemasaran belum seperti usaha orang lain; sehingga saya pikir perlu pendampingan lebih serius lagi. Maka, Kak Mar akan mendapatkan hasil yang setimpal atas apa yang dicita-citakannya selama ini.

Tak terasa, hampir siang saya duduk di kios dengan kursi warna orange itu. Saya berulangkali mengambil dan meletakkan kembali kerupuk tiram yang belum digoreng itu. Saya juga bertanya, bagaimana rasanya kerupuk itu. Mungkin, karena Kak Mar kasihan kepada saya yang penasaran, tangannya mengambil segenggam kerupuk itu lalu digorengnya.

“Benar kata Kak Mar, nggak seperti rasa tiram,” ujar saya setelah merasakan sepotong yang telah digoreng, rasanya gurih.

Kan, nggak semua orang bisa makan tiram karena kesehatan, jadi saya buatnya nggak banyak tiram, dibanyakin tepung saja, tapi tiramnya masih terasa,”
Kerupuk Tiram Kak Mar rasanya gurih.
Jujur saja, saya merasa pertimbangan Kak Mar terhadap kesehatan konsumen menjadi hal yang melebihi kewajaran dari produk itu sendiri. Namun, Kak Mar juga tidak menghilangkan identitas dari produk ini. Tiram yang mudah didapat, diolah dengan baik sehingga menjadi makanan aman dikonsumsi. Semula, Kak Mar mencari tiram sendiri namun seiring waktu karena tidak ada yang jaga kios dan produksi kerupuk yang memakan waktu lama, ia memutuskan untuk membeli tiram kepada warga lain. Tiram yang dipungut di dalam rawa-rawa berlumpur itu memang tidak selamanya laris manis, setidaknya Kak Mar telah membantu mereka yang kesulitan menjual tiram. Belum lagi bicara dalam keseharian, ibu-ibu di desa Alue Naga dengan suka cita menjadikan tiram sebagai mata pencaharian utama.

Tiap bulan, Kak Mar memproduksi kerupuk tiram, ada atau tidak ada pembeli dan pelanggan tetap. Dalam sebulan, biasanya Kak Mar mampu menjual 10 kilogram kerupuk tiram dengan perhitungan penghasilan antara Rp 800.000 sampai dengan Rp 1.500.000. Kerupuk yang telah dibungkus dalam kemasan akan dijual Rp 10.000, sedangkan 1 kilogram dijual Rp 80.000.

Belakangan, usaha Kak Mar menjadi lebih baik semenjak Alue Naga menjadi binaan Kampung Berseri Astra. Perkampungan yang cukup panas di siang hari karena hawa laut itu memang tidak seindah kampung lain. Aroma nelayan begitu kental. Perahu kecil diparkir sendirinya sebelum kembali melaut. Namun, tiram dan bakau mudah sekali ditemui di sini. Sejak Astra dan Universitas Syiah Kuala – kemudian disingkat Unsyiah – memberikan bantuan, Alue Naga seolah-olah kembali bersinar.

Kerupuk tiram Kak Mar menjadi makin mandiri bahkan telah dibawa sampai ke Medan, Jawa sampai Malaysia. Kak Mar berujar, salah seorang Dosen Unsyiah – yang tidak saya sebutkan namaya di sini – yang selalu mendampingi tiap acara Astra selalu memesan dalam jumlah banyak untuk oleh-oleh jika keluar kota. Demikian pula dengan salah seorang staf dari lembaga pemerintah yang juga mendukung industri kecil Kak Mar, di mana selalu memesan kerupuk tiram untuk berbagai kebutuhan.

Selebihnya, Kak Mar menjualnya di kios miliknya dan juga dari mulut ke mulut. Inisiatif untuk menjualnya ke toko lebih besar sudah ada tetapi masih terkendala produksi dan kemasan yang belum maksimal.
Alue Naga, Kampung Berseri Astra di Aceh.
Sampai di sini, saya merasa bahwa perjuangan panjang Kak Mar patut menjadi inspirasi di kampung-kampung binaan Astra – Kampung Berseri Astra. Tak mudah menemukan sosok dengan semangat seperti Kak Mar, di mana mampu bangkit dan menghadirkan ide kreatif setelah terpuruk sekian lama; kehilangan anggota keluarga dan harta benda.

Nyali Kak Mar telah teruji. Kemampuannya mengolah tiram menjadi makanan berbeda dilirik Astra dan bahkan menjadi ciri khas di Kampung Berseri Astra, di Alue Naga, Banda Aceh. Kontribusi Kak Mar untuk program Astra cukup menonjol daripada yang lain. Kak Mar tak segan berbagi pengalaman dan juga ilmu meracik kerupuk tiram kepada banyak orang. Di kios Kak Mar yang sempit ini pula, wanita tersebut ‘melatih’ keterampilan membuat kerupuk tiram yang didukung oleh Astra dan Unsyiah pertengahan tahun 2018.

Kampung Berseri Astra di Alue Naga tergolong baru. Masyarakat yang diberdayakan adalah petani tiram dan juga penanaman bakau. Cerita Kak Mar tak lain bukti sukses dari program kewirausahaan dari Kampung Berseri Astra itu sendiri selain program pendidikan, kesehatan dan lingkungan (sudah termasuk di dalamnya penanaman bakau untuk ternak tiram lebih baik dan juga untuk menghalau air pasang lebih tinggi).

Saya ceritakan tentang Kak Mar dari Kampung Berseri Astra karena sosok begini telah lahir dari program Astra. Tak mudah menemukan sosok demikian saat ‘bantuan’ usaha datang. Namun Kak Mar berangkat dari usaha yang telah ada, izin yang telah dimiliki sehingga dalam waktu lama akan menjadi kisah inspiratif lain dari cerita di Kampung Berseri Astra. Hanya saja, saya merasa bahwa sosok begini haruslah diberdayakan lebih layak dan mendapatkan modal yang besar.

Kak Mar hanya duduk di kios miliknya. Tak ada kesempatan untuknya mencari dana lebih untuk modal usaha. Tak mengerti pula dirinya mendapatkan suntikan modal dari lembaga lain. Kemudian, Alue Naga menjadi pilihan yang tepat sebagai Kampung Berseri Astra, meski panas, gersang di sisi lain, seakan-akan hilang mata pencaharian tetapi warga di sini masih tetap bertahan.

Pesan Kak Mar kepada saya, mungkin lebih tepatnya kepada Astra yang selama ini menyokong aktivitasnya. Ia ‘hanya’ membutuhkan alat bantu jemur kerupuk, penggiling dan pemotong saja. Namun, saya yakin sekali di lubuk hati Kak Mar terdalam, ia memiliki cita dan harapan yang akan terwujud jika program Kampung Berseri Astra memperhatikannya dengan baik. Suksesnya usaha Kak Mar memberikan kontribusi – sekali lagi – lebih besar kepada Kampung Berseri Astra. Kerupuk tiram Kak Mar telah memiliki brand tersendiri sehingga melekat di benak pembeli. Kak Mar hadirkan cerita ini untuk kita yang mungkin saja terlupa akan jerit hati mereka di bibir pantai bekas tsunami.

Bagi saya, Kak Mar di Alue Naga telah ‘menghidupkan’ Kampung Berseri Astra di Aceh dengan caranya sendiri. Tak mudah namun pasti. Tidak cepat tetapi perlahan. Tentu, saya tidak ingin usaha Kak Mar kemudian membawa nama besar kepada orang lain. Saya bahkan ingin sekali Kak Mar menjadi contoh terbaik dari pengusaha sukses di Kampung Berseri Astra.

Jika ke Alue Naga suatu ketika, jangan cuma terlena dengan sunset yang indah. Tengoklah kios Kak Mar di pinggir jalan itu. Coba rasa kerupuk tiram miliknya, mungkin akan kembali kapan-kapan untuk membelinya lagi.

Jalan masuk ke Kampung Berseri Astra yang permai. Pohon rindang menutup jalan. Kiri dan kanan sungai adalah Kampung Alue Naga. Sebuah monumen menceritakan pedih kisah mereka di 2004, juga tentang bantuan yang pernah mereka dapatkan pada masa kontruksi dan rehabilitasi. Jalan lurus itu akan membawa kita ke kios Kak Mar, juga ke batang bakau dengan tiram bersembunyi di semak-semaknya.
Jalan masuk ke Alue Naga, Banda Aceh.
Sekilas, tak ada keindahan di kampung ini. Namun, semangat mereka, semangat Kak Mar adalah cerita terindah soal rasa bangkit dari keterpurukan. Kak Mar seolah ada dan tiada, maka dari sini saya ingin tegaskan bahwa Kak Mar memberikan pelajaran penting untuk kita. Kampung Berseri Astra – melaluinya – Kak Mar menjadi tokoh penting dari calon pengusaha sukses. Saya yakin sekali dengan binaan yang tepat dari Astra, Kak Mar akan demikian suatu saat nanti!
Kak Mar dan Kerupuk Tiram miliknya.
Alamat Lengkap Kerupuk Tiram Kak Mar
Sinar Naga – Desa Alue Naga
Dusun Kutaran Banda Aceh, 23111
HP. 085296102252

0 Response to "Laut dan Sebuah Janji Rezeki di Kampung Berseri Astra Aceh"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel