Thursday, February 7, 2019

Buku Usang Tak Pernah Pudar Ilmunya di Perpustakaan Unsyiah


Mungkin, teknologi yang mengubah banyak cara di tempat ini. Hampir 16 tahun saya meninggalkan penat di pelataran bangunan tua yang tak roboh karena tsunami akhir 2004. Waktu yang lama untuk kembali dan merasakan bagaimana manisnya duduk di kursi-kursi mengilap dengan meja dipenuhi buku berserak. Catatan di secarik kertas sekonyong-konyong hilang atau terselip di antara buku yang belum tentu dipinjam semua.

Perpustakaan terbaik di Aceh barangkali masih melekat di tubuh Perpustakaan Universitas Syiah Kuala. Saya tak mungkin lupa, malam-malam panjang di 2008, kami duduk di kursi semen di depan perpustakaan ini sambil bermain internet dari Wi-Fi gratis. Dulu belum marak orang menggunakan laptop, kami hanya sebagian dari mereka yang merasakan betapa beruntungnya konek internet gratis di sana.
Perpustakaan Unsyiah terbaik untuk mencari buku.
Perpustakaan dengan visi Terkemuka dan Berdaya Saing di Asia Tenggara kini telah berbenah jauh sekali. Era modern dilahap bagaimana seorang anak yang baru mencicipi sepotong kue pie. Begitu masuk melalui pintu yang sama miripnya dengan dulu, kita langsung dihadapkan dengan petugas perpustakaan yang stand by sejak pukul setengah sembilan pagi.
Petugas perpustakaan yang ramah.
Saya bertanya sesaat kepada petugas wanita dengan senyum ramah di belakang mejanya. Ia mengarahkan saya ke sebelah kanan untuk pendaftaran masuk ke perpustakaan yang masih sepi.

Mungkin karena musim libur pada 21 Januari itu atau karena masih terlalu pagi untuk ke perpustakaan. Saya dan Iqbal bergeser ke petugas pria yang lupa saya tanya namanya.

Pendaftaran untuk menikmati semua fasilitas di perpustakaan ini sebesar Rp 5.000 bagi pemustaka umum – mahasiswa cukup memperlihatkan kartu mahasiswa aktif atau kartu pustaka.
Pendaftaran cepat dan praktis.
Proses pendaftaran dan pembayaran begitu cepat menggunakan mesin pembayaran non tunai atau mesin EDC. Kamu bisa menggunakan pilihan bank tertentu karena petugas perpustakaan tidak menerima pembayaran cash. Kartu ATM digesek ke mesin, masukkan PIN dan bukti pembayaran keluar. Setelah itu, petugas perpustakaan akan menyerahkan secarik kertas untuk akses internet.
Kode akses Wi-Fi di Perpustakaan Unsyiah.
Meski pendaftaran secara daring, kita juga diminta untuk mengisi buku tamu secara manual. Saya menuliskan nama terang dan identitas lain yang diminta. Buku tamu ini wajib diisi untuk mendata jumlah pemustaka tiap harinya.
Pemustaka wajib isi buku tamu di Perpustakaan Unsyiah.
Saya seakan memasuki sebuah ruangan di alam bawah sadar yang sejuk karena pendingin di beberapa sudut. Meski matahari sedang sepenggalah, panas di luar sudah terasa namun tidak demikian di dalam bangunan yang telah berdiri sejak tahun 1994 ini.
Rak buku di Perpustakaan Unsyiah.
Perpustakaan Unsyiah sendiri berdiri sejak tahun 1970 dan baru pada tahun 1980 statusnya berubah menjadi Unit Pelayanan Teknis (UPT). Aroma yang tercium bukanlah buku usang yang tak terawat, melainkan aroma yang seolah-olah berada di sebuah taman. Sungguh itu menjadi sebuah daya tarik saat sedang membaca buku.

Perpustakaan Terbaik dengan Ragam Koleksi Buku dan Aroma Khas

Buku. Di mana-mana adalah buku. Memang demikian adanya jika kita masuk ke dalam perpustakaan. Mata saya menyalak ke segala sudut. Saya memang tidak mencari buku tertentu, namun lebih kepada terpesona dalam diam dengan suasana yang diterima oleh saraf di otak secara bertubi-tubi.
Pemustaka yang sedang sibuk dengan buku atau laptop.
Perpustakaan Unsyiah memiliki 75.114 judul buku di tiap raknya dengan jumlah 136.925 eksemplar. Hemat saya, buku-buku di perpustakaan ini tidak berdampak tsunami sehingga koleksi lama tetap utuh, sedangkan koleksi buku baru terus bertambah seiring waktu dan perkembangan pengetahuan.  

Tiap mata memandang di dalam ruangan lantai 1 – kemudian lantai 2 dan 3– terdapat apa yang diinginkan. Perpustakaan Unsyiah telah difasilitasi rekam jejak digital sehingga pemustaka dengan mudah mencari letak buku dimaksud. Ragam koleksi di perpustakaan yang berdekatan dengan Kantor Pusat Administrasi (KPA) Unsyiah ini antara lain buku teks, jurnal, laporan akhir, skripsi, tesis, disertasi, majalah, buku referensi, laporan penelitian, CD-ROM dan dokumentasi, serta e-book dan e-journal yang telah diterbitkan oleh penerbit internasional.

Cukup duduk saja di depan komputer yang tersedia, seperti salah seorang mahasiswa yang saya temui. Sebut saja dirinya mahasiswa yang mencintai literasi. Tangannya langsung menggerak-gerakkan tetikus di komputer yang sudah menyala. Laman yang dimaksud adalah ‘mesin’ pencari buku-buku yang ingin dibaca atau dipinjam. Sesaat saya lihat mahasiswa tersebut termenung, mungkin memikirkan koleksi apa yang ingin dirinya cari.
Akses mudah untuk mencari buku.
Ketukan di papan ketik menandakan kalau keputusan buku yang dicari telah ada. Tak lama, ia mengeja letak buku di dalam layar itu dan bangkit dari duduknya. Cepat dan mudah sekali. Langkah mahasiswa yang membawa ransel berat itu menghilang di antara rak-rak buku di depan saya. Dirinya sudah tahu di mana letak buku yang dicari berdasarkan hasil pencarian yang lengkap.

Saya mencoba masuk ke portal dan mencari buku. Saya mengetik kata kunci Fisika Matematika dan tak lebih 30 detik deretan pilihan keluar. Koleksinya cukup lengkap dan tinggal memilih buku dari penulis dan penerbit yang sesuai.
Cepat dan hemat waktu cari buku di komputer yang selalu hidup tiap jam berkunjung.
Ramahnya pelayanan Perpustakaan Unsyiah soal proses pencarian buku menjadi nilai utama. Biasanya, kita menghabiskan waktu untuk mencari buku di rak-rak tertentu tanpa mengetahui ketersediaannya. Meski koleksi buku di sini ribuan namun sistem yang baik dengan cepat memberi ping bahwa buku yang sedang dicari telah dipinjam orang lain atau berada di rak dengan nomor berapa.

Saya menyusuri rak-rak buku dan bersinggungan dengan pengunjung lain. Suatu kenikmatan tersendiri berjalan di lorong rak buku.
Koleksi  buku yang banyak di Perpustakaan Unsyiah.

Pemustaka sedang mencari buku di rak.
Sekadar nostalgia, dulu mencari buku bagaikan mencari jarum di dalam karung beras. Cari terus sampai tiba-tiba mendapatkan buku yang ingin dicari tergeletak di rak lain. Saya mengambil beberapa buku dan membuka halamannya. Usang sudah pasti karena dimakan usia. Jarang sekali saya mendapati buku dalam kondisi utuh atau kertasnya masih keras.

Buku yang saya buka halamannya sudah lusuh. Warna kekuningan menjadi bukti lain kalau buku itu sering disentuh. Lipatan di mana-mana yang menandakan buku sering dibaca. Saya kembalikan buku ke rak semula. Pemustaka yang baik harus demikian, bukan meletakkan buku di atas meja begitu saja.
Baca buku nyaman di atas meja yang bersih.
Aroma ruangan di lantai 1 itu membuat saya betah berlama-lama di dalam Perpustakaan Unsyiah. Memang tidak sewangi yang kita inginkan, namun aroma khas itu dengan koleksi buku yang banyak membuat pemustaka benar-benar mendapatkan apa yang dingin diketahui.

Perpustakaan Unsyiah telah menjelma menjadi perpustakaan terbaik yang mengedepankan kualitas dan kuantitas. Sejak pertama masuk ke perpustakaan ini di awal perkuliahan, saya merasa bahwa gedung ini akan menjadi saksi lahirnya generasi unggulan dari Aceh!

Ruang Baca Bagai di Kamar Pribadi

Saya sendiri terbiasa membaca buku sambil berbaring. Duduk di kursi terlalu lama dengan buku 200 halaman bisa sakit pinggang. Perpustakaan Unsyiah menghadirkan sebuah terobosan yang bisa saya sebut ruang privasi. Kita bebas mau berbaring, telungkup atau apa saja di dalam ruang tertutup yang adem itu. Dr. Taufiq Abdul Gani M.Eng, Sc, selaku pimpinan Perpustakaan Unsyiah saat ini tentu sadar betul bahwa pemustaka adalah raja.

Di lantai 1 maupun di lantai 2 terdapat ruang lesehan. Bahkan, di lantai 2 terdapat kasur dengan warna ungu yang dapat digunakan untuk membaca sambil berbaring. Ruang baca itu bisa digunakan secara individu maupun kelompok belajar. Ruang yang luas membuat kita nyaman dalam keheningan. Tentu, konsentrasi penuh bisa dirasakan di dalam ruangan tersebut. Perpustakaan ini menjaga dengan baik mau pemustaka. Ruangan yang seolah pengap itu sebenarnya adalah ‘kamar’ sendiri untuk menyelesaikan tugas.
Ruang baca lesehan di Lantai 1 Perpustakaan Unsyiah.
Ruang baca dengan kasur warna ungu di Lantai 2 Perpustakaan Unsyiah.
Ruang baca yang private saja sepertinya tidak cukup. Perpustakaan ini memperhatikan detail kebutuhan pemustaka. Di bawah tulisan Ruang Baca di samping kiri pintu masuk terdapat rak sepatu. Pemustaka yang menggunakan ruang baca bisa menyimpan alas kaki mereka di dalam rak agar tidak berserak di depan pintu masuk. Rak sepatu ini ditutup dengan pintu kaca yang tidak berderit saat dibuka.
Ruang Baca private di Perpustakaan Unsyiah.
Rak sepatu di depan Ruang Baca Lantai 2 Perpustakaan Unsyiah.
Di segala sisi sebenarnya adalah meja dan kursi yang dapat digunakan pemustaka secara bebas. Di tiap ruang terdapat kursi dan meja mengilap yang menandakan selalu dibersihkan dalam suatu waktu. Meja baca itu tak berdebu sama sekali. Kursi juga hampir hilang warna aslinya seiring banyak pemustaka yang menghabiskan waktu bersamanya.
Meja dan kursi baca yang memiliki aliran listrik.
Saya menikmati kesendirian di ruang baca private itu. Saya pun merasakan bagaimana waktu bermelodi dalam nada cepat di meja panjang tiap ruangan. Tak ada yang melirik ke kiri atau kanan. Tak ada nyaring suara smartphone yang kini mengubah gaya hidup anak muda. Tak ada juga bisik-bisik meskipun pemustaka duduk berdekatan.

Semua pemustaka di Perpustakaan Unsyiah menghemat suara, mengelabui waktu dalam tiap kata pada buku berserak di atas mejanya, dan mengubah pola pikir dengan menimbun pengetahuan baru ke otak kiri mereka.

Menariknya, pemustaka tidak akan tersesat di rak yang bukan keinginannya. Di tiap ruang terdapat informasi di atasnya mengenai koleksi yang ada di sana. Di tiap lantai ada informasi penting yang digantung tersebut. Di tiap lantai juga terdapat beberapa ruang dengan koleksi berbeda.
Cari Jurnal ke ruangan ini.
Karya Ilmiah di ruangan ini.
Meski bangunannya tidak terlalu tinggi, Perpustakaan Unsyiah juga memiliki fasilitas lift yang mudah diakses oleh siapa saya – selain tangga. Lift ini berada di sebelah kanan pintu masuk. Jika tidak kuat menggunakan tangga, pemustaka bisa menggunakan lift ke lantai berikutnya.
Lift di Perpustakaan Unsyiah

Paduan Rak Konvensional dengan Rak Digital

Barangkali, karena sebuah perpustakaan diisi oleh buku-buku cetak maka jejak digital tidak perlu ditambah. Perpustakaan Unsyiah tidak demikian. Di tiap ruangan terdapat aliran listrik yang memudahkan pemustaka mengisi daya laptop. Pemustaka tidak hanya mengetik tugas di laptop secara offline tetapi bisa mengakses internet dengan ID dan Password yang diberikan sewaktu masuk.

Rak buku konvensional sudahlah menyimpan koleksi buku yang menjadi referensi ilmiah. Perpaduan antara yang lama dengan dunia modern tampaknya memudahkan akses tiap pemustaka. Rak digital di laptop masing-masing memberikan celah pemustaka untuk mengakses dunia luar tanpa batas.
Akses internet secara gratis di Perpustakaan Unsyiah.
Kursi-kursi yang disusun rapi, dalam hening pemustaka, hanya ketukan di atas papan ketik laptop, semuanya menjadi irama bahwa sukses harus melewati kerja keras. Duduk sendirian di dalam perpustakaan memang tidak asing karena itulah yang kita butuhkan. Tak ada diskusi panjang di dalam ruangan ini.

Di beberapa sudut, meja baca diberikan sekat pemisah agar tidak berhadapan. Kita memang masih bisa melihat ke kiri dan kanan namun untuk bersitatap dengan pemustaka yang ada di depan. Kita harus berdiri terlebih dahulu dan tentu saja itu sangat menganggu. Sekat pemisah ini sebagai bukti keseriusan Perpustakaan Unsyiah dalam mencetak generasi yang tahu banyak hal meskipun terkurung di balik tirai.
Tiap pemustaka punya akses privasi masing-masing.
Konsentrasi penuh tanpa bisa diskusi dengan orang lain.
Saya mencoba untuk duduk di kursi empuk itu. Sensasinya sangat berbeda. Sekat berwarna putih seolah menjadi benteng dalam melampaui batas waktu. Meskipun duduk diam, dengan buku maupun laptop di atas meja, saya harus mampu melewati pemisah itu dan tahu apa yang ada dibalik sana.

Simpan Barang Bawaan dalam Loker Warna Kuning

Tiap masuk ke perpustakaan pasti akan ditemui loker atau tempat penyimpanan barang. Nah, loker di Perpustakaan Unsyiah memiliki pola yang menarik. Jika dulu, begitu masuk kita diwajibkan untuk menyimpan barang bawaan di dalam loker yang telah tersedia, kini kita bebas mau memasukan ransel atau tas ke dalam perpustakaan. Kita diberikan alternatif lain, apabila tidak ingin menenteng barang bawaan, telah disediakan loker khusus di beberapa sudut.

Loker berwarna kuning itu menarik perhatian saya. Loker dengan tepi warna putih itu memiliki nomor dan kunci. Loker yang tersangkut kunci menandakan bahwa belum terisi. Saya membuka kunci dan menarik pintu loker itu. Meski tidak begitu besar, ruang yang tersedia di dalam loker cukup untuk ransel ukuran 14 inci dengan ketinggian rata-rata sejengkal tangan orang dewasa. Saya menempatkan ransel di dalam loker agar bebas berjalan-jalan keliling rak untuk mencari buku.
Loker yang mudah ditemukan di Perpustakaan Unsyiah.
Buka loker yang ada kuncinya.
Tiap lantai memiliki loker tersendiri. Misalnya, kalau ingin berlama-lama di lantai 2 maka nggak perlu simpan barang bawaan di loker lantai 1. Pemustaka cuma cukup mengunci dan menyimpan kuncinya saja. Dengan kamera CCTV di Perpustakaan Unsyiah, media penyimpanan ini cukup aman. 
Simpan barang bawaan dengan aman di dalam loker.
Loker tidak mudah dibuka tanpa kunci. Ruang yang cukup juga menjadi keunggulan tersendiri. Simpan barang bawaan di dalam loker tidak hanya memudahkan tetapi memberikan ruang gerak lebih untuk pemustaka selama berada di dalam perpustakaan ini.

Aman simpan barang bawaan di dalam loker karena tiap gesekan atau bunyi sekecil apapun akan membuat orang lain menoleh. Petugas perpustakaan yang duduk tak jauh dari loker akan memasang mata waspada untuk orang yang membuka loker bukan milik sendiri.

Ruang Baca Rasa Korea di Perpustakaan Unsyiah

Saat Iqbal berujar di lantai 2 terdapat satu ruang khusus tentang Korea Selatan, saya langsung girang. Negeri Ginseng ini telah lama menarik minat saya baik soal kebudayaan, hiburan maupun teknologi.

Saat ini, idola Korea Selatan begitu menarik perhatian dunia. Budaya Korea Selatan kemudian dikenal banyak orang termasuk kerjasama mereka dengan Perpustakaan Unsyiah.
Korea Corner di Perpustakaan Unsyiah.
Korea Corner tak lain nama ruang yang hanya disekat dengan rak buku. Ruangan yang tidak begitu besar namun cukup padat informasi mengenai negeri EXO tersebut. Budaya Korea Selatan masuk begitu saja melalui buku-buku berbahasa hangul. Bagi penggemar K-Pop, mungkin saja ruangan ini adalah tempat favorit.
Koleksi buku berbahasa Korea di Perpustakaan Unsyiah.

Adat dan budaya Korea di Perpustakaan Unsyiah.
Literatur Korea Selatan cukup lengkap, namun sayangnya belum ada petugas di pagi itu. Saya tidak bisa bertanya banyak hal dan cuma bisa melihat apa yang tersusun rapi di rak. Pernak-pernik khas terlihat dan begitu familiar dengan saya seperti pakaian adat hanbok pria dan wanita, baju bangsawan anak-anak sampai dewasa, tarian tradisional dan juga gaya modern kehidupan di negara maju itu. Tak lupa miniatur taekwondo yang menjadi ikon olahraga Korea Selatan.
Hanbok, pakaian tradisional Korea di Perpustakaan Unsyiah.
Pakaian bangsawan Korea Selatan.

Gaya hidup modern di Korea Selatan.

Taekwondo, olahraga Korea Selatan yang khas.

Miniatur yang memakai hanbok di Perpustakaan Unsyiah.

Tarian khas anak muda Korea Selatan.
Sepatu hanbok wanita berwarna putih menarik perhatian saya. Semula, saya mengira sepatu itu adalah miniatur tetapi saat diperhatikan rupanya sepatu adat Korea Selatan itu adalah asli. Bordiran bunga terlihat usang namun masih indah dan rapi. Sol sepatu sudah terlepas yang memberi isyarat sering dipakai. Bagian dalam sepatu juga terkelupas yang memberi kesan tersendiri pada orang yang melihatnya.
Sepatu hanbok yang asli dari Korea Selatan di Perpustakaan Unsyiah.
Saat berada di ruangan Korea Corner saya benar-benar merasakan aura negeri Descendants of the Sun. Ibarat berada di dalam sebuah scene drama, saya merasakan bagaimana pola kehidupan di negeri itu sehingga menjadi sebuah negara yang kuat. Perpustakaan Unsyiah telah memberikan ruang kepada saya untuk tahu lebih banyak hal dan merasakan sendiri bagaimana budaya Korea Selatan memengaruhi anak muda secara global.  

Peninggalan Sejarah di Perpustakaan Unsyiah

Arkeolog seringkali mencari peninggalan sejarah sampai ke mana-mana. Tokoh fiksi garapan Dee Lestari, Jati Wesi dan Tanaya Suma, yang mencari bunga Puspa Karsa – sebuah bunga yang entah berbentuk apa – seolah mendeskripsikan pekerjaan ‘mencari’ itu begitu sulit. Saya rasa, juga demikian dengan arkeolog yang mendedikasikan dirinya untuk Perpustakaan Unsyiah.

Tak mudah untuk membedakan corak. Mendeskripsikan sebuah produk sejarah sampai ke akar-akarnya. Membedakan antara satu keping dengan keping lain. Butuh waktu lama sebelum mengetuk palu. Tetapi, sebagai pemustaka, kita hanya bisa menikmati bahwa tiap peninggalan sejarah yang ada di Perpustakaan Unsyiah adalah benda berharga.

Jika menelusuri lebih dalam, tiap keping piring maupun guci yang ada di dalam lemari kaca itu memiliki corak khas, berbeda antara satu dengan yang lain. Pengetahuan yang nyata sekali dan tiap negara memiliki identitas tersendiri. Misalnya, China memiliki corak lebih lembut dan tradisional dibanding Eropa yang bercita rasa modern.
Peninggalan sejarah dari China di Perpustakaan Unsyiah.

Peninggalan sejarah dari Jepang dan Eropa di Perpustakaan Unsyiah.

Peninggalan sejarah dari Vietnam dan Thailand di Perpustakaan Unsyiah.
Ke perpustakaan tidak selalu membaca buku. Apa yang kita baca hari ini akan menjadi sejarah. Peninggalan sejarah yang tersimpan di Perpustakaan Unsyiah menjadi sebuah hal penting yang bisa dilihat sampai waktu lama.

'Rate Your Experience' untuk Perpustakaan Unsyiah

Kata rate mungkin melekat untuk kita yang ingin mendukung seseorang. Nilai yang diberikan akan menaikkan poin sehingga orang yang didukung akan menang. Demikian pula dengan Perpustakaan Unsyiah yang memiliki sistem rate ini.

Di pintu keluar – depan peminjaman buku – kita akan dihadapkan pada lima model ikon berbentuk bulat dan berwarna kuning. Ikon senyum atau muram kita masukkan ke dalam kotak suara bening yang tersedia di sampingnya.
Rate untuk Perpustakaan Unsyiah dengan ikon 5 pilihan ini.
Wajib atau tidak melakukan rate kembali kepada pemustaka itu sendiri. Namun, jika merasa puas dengan pelayanan Perpustakaan Unsyiah, mengapa menunda-nunda untuk memasukkan ikon smile ke dalam kotak suara.
Saya berikan 'smile' untuk Perpustakaan Unsyiah.
Saya mengambil satu ikon puas dengan pelayanan, ragam koleksi, tempat yang nyaman maupun suasana yang hening untuk membaca. Sebuah senyum akan sangat berarti untuk meningkatkan pelayanan di masa mendatang.

Kafe Bergaya Modern di Perpustakaan Unsyiah

Jarang sekali menemukan kafe di dalam perpustakaan. Perpustakaan Unsyiah tampaknya cukup peka dengan kebutuhan ini. Lama di dalam ruang baca tentu membuat perut keroncongan. Uniknya, di sini adalah kafe bukan sekadar kantin kecil yang menjual minuman dan makanan ringan semata.
Kafe bergaya anak muda di Perpustakaan Unsyiah.
Sekali lagi, mungkin karena masih terlalu pagi atau musim libur, kafe ini belum buka saat kami keluar dari perpustakaan sekitar pukul 10.00 WIB. Saya bisa merasakan bagaimana suasana di kafe ini saat buka. Kopi menjadi menu yang nikmat sehabis mata perih membaca buku.

Coretan di dinding memberikan makna yang lebih dari sekadar ngopi. Duduk santai di sini sejenak bisa menikmati musik yang dihadirkan – dapat dilihat dari sound system yang berada di sudut ruangan bagian depan. Mungkin, lain kali saya akan mampir lagi dan menikmati suasana romantis di sudut dengan lukisan sepeda hitam putih.
Dari nama sudah tahu kalau kafe ini menyediakan kopi.
Di kafe ini juga tersedia mesin foto kopi. Jadi, untuk kamu yang kebetulan tidak ingin meminjam buku cuma menggandakan saja, bisa langsung ke sini. Fasilitas yang saya lihat di kafe Perpustakaan Unsyiah cukup baik untuk segala kemungkinan yang akan dirasakan oleh pemustaka.
Fasilitas foto kopi juga ada sehingga nggak perlu keluar Perpustakaan Unsyiah.

Taman Bersantai di Halaman Perpustakaan Unsyiah

Di taman inilah dulu kami main internet di malam hari. Tak terbayang berapa lama waktu dihabiskan di sini. Kursi semen telah berlapis keramik meskipun atapnya telah diterpa angin. Duduk di taman ini memiliki sensasi tersendiri.

Biasanya, taman di depan Perpustakaan Unsyiah dipakai untuk menunggu teman yang belum datang, menghabiskan waktu sebelum masuk perkuliahan atau menanti bus datang untuk pulang. Sekarang kursi ini terlihat sepi tetapi bukan berarti ditinggalkan. Saya mendapati beberapa mahasiswa duduk sambil memainkan smartphone.
Kursi di depan taman Perpustakaan Unsyiah.
Bunga asoka masih menjadi ciri khas taman di depan perpustakaan ini. Merah bunga asoka yang selalu mekar menghadirkan panorama terindah. Pot bunga yang dibuat dari semen juga memiliki ciri khas dengan susunan rapi. Di depan kursi itu dibangun taman bunga bulat.

Bunga asoka mengelilingi sebatang pohon – yang saya tidak tahu namanya – di tengah-tengah itu. Potongan bunga asoka itu dibuat dua tingkat sehingga lebih indah dipandang mata. Selain itu, di jalan setapak menuju ke jalan utama juga terdapat bunga asoka yang batangnya memiliki tinggi yang sama. Demikian juga menuju ke area parkir kendaraan roda dua. Perpustakaan Unsyiah memiliki tempat parkir tersendiri yang cukup memuat beberapa sepeda motor.
Taman yang rapi di depan Perpustakaan Unsyiah.

Gedung Perpustakaan Unsyiah.

Area parkir di Perpustakaan Unsyiah yang teduh.
Perpustakaan Unsyiah memperhatikan kebutuhan pemustaka bahkan sampai di area luar. Perpustakaan ini tidak hanya ramah untuk pecinta buku tetapi juga lingkungan di sekitarnya, yang bisa dilihat dari kebersihan lingkungan.  

Perpustakaan Terbaik Itu Bernama Perpustakaan Unsyiah

Perpustakaan tidak selamanya berisi buku usang dan berdebu. Perpustakaan terbaik karena bukunya banyak yang lusuh, halaman buku terlipat, warna halaman buku kekuningan, ruang baca ternyaman maupun keramahan petugas perpustakaan. Perpustakaan Unsyiah telah memiliki semua itu sehingga layak dilabeli Perpustakaan Terbaik di Indonesia.
Perpustakaan Unsyiah dibuka untuk mahasiswa dan umum.
Akses buku yang cepat berkat bantuan komputer pencari. Rak buku yang tersusun rapi. Pencahayaan yang cukup untuk membaca. Akses internet di seluruh ruangan. Loker yang aman untuk semua barang bawaan. Maupun, fasilitas lain yang cuma bisa kamu dapatkan saat berkunjung ke sana.

Saya merasa betah di dalam Perpustakaan Unsyiah karena semua kebutuhan terpenuhi. Saat lapar dan haus, cukup turun ke kafe untuk mengisi perut. Akses dunia luar juga tak terbatas dengan Wi-Fi gratis. Keamanan terjamin berkat kamera CCTV. Mau membaca sambil duduk, lesehan atau berbaring juga hak dari pemustaka.

Perpustakaan Unsyiah melengkapi semua kebutuhan pemustaka yang ingin berlama-lama di ruang baca. Hal ini memberikan dampak yang cukup berarti terhadap kelangsungan perpustakaan yang kini digerus oleh ‘perpustakaan’ dunia maya. Perpustakaan Unsyiah menjawab tantangan dalam kenyamanan yang ditawarkannya.

Tak ada kata untuk berpaling dari perpustakaan selama Perpustakaan Unsyiah masih dibuka untuk mahasiswa dan umum. Apa yang kamu cari ada di dalam perpustakaan. Apa yang kamu impikan ada di dalam buku-buku yang tak pernah padam ilmunya. Jika bukan sekarang, kapan lagi ke perpustakaan. Selagi masih ada perpustakaan terbaik, kenapa harus berpaling dari UPT. Perpustakaan Unsyiah?
***
Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition Unsyiah Library Fiesta 2019.

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

6 comments:

  1. Mantap Bg Ubai, jauh-jauh ke Banda Aceh demi melepas rindu ke Pustaka..

    Bapak/Ibu Perpustakaan, bukankah di Aceh banyak blogger yang keren dan mantap, bahkan teruji di nasional. Semoga tahun ini Perpustakaan Unsyiah bersikap adil dalam melakukan penilaian,bukan karena melihat asal si blogger yang dari luar Aceh. wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat berbagi ya, semoga yang kita bagikan membuka wawasan orang lain.

      Delete
  2. Saya pecinta buku di mana-mana ada buku ada saya. Bangga banget ada perpustakaan macam Unsyiah ini kayak adem saja di dalam bikin betah lama-lama membaca. Sukses terus perpustakaan Unsyiah!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukses juga untuk kamu ya, semoga makin banyak membaca dan bertambah pengetahuan.

      Delete
  3. Tidak di sangka ya Bang jika di Aceh sana ada perpustakaan semodern ini, dan sepertinya ini juga merupakan kampus ternama dan kebanggaan rakyat Aceh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lengkap banget, Amir. Kapan-kapan kalau ke Aceh dibawa ke sini ya!

      Delete