Jadi Guru di Daerah 3T Indonesia Bagai Menusuk Jarum ke Jantung Sendiri


Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno pernah berkata, ‘Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!’ falsafah yang membumi sepanjang kemerdekaan Indonesia. Sejalan dengan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad, saw. alquran surat al-Alaq ayat 1 sampai 5. Bacalah. Bukan sekadar ‘membaca’ tetapi lebih tepatnya mencari ilmu.
Soekarno, Bapak Bangsa Indonesia.
Dengan membaca; mencari ilmu, semua dapat dilakukan. Seorang anak dari keluarga miskin akan mampu menaikkan derajat keluarganya, dengan cara, bersekolah setinggi-tingginya. Pendidikan bukan saja mengubah watak, perilaku, menstimulasi pengetahuan namun memberikan kelayakan hidup sewajarnya.

Kita lihat contoh di sekitar. Kehidupan yang timpang. Orang yang berpendidikan rendah dengan berpendidikan tinggi. Orang yang kurang mampu bersekolah tinggi, hanya terpaku pada apa yang sanggup dikerjakan. Lalu pasrah pada keadaan, memang sudah begini nasib.

Beda dengan orang berpendidikan tinggi – ada titel atau tidak, sekolah formal maupun nonformal – di mana akan mengubah nasib dengan ide-ide segar, kreativitas yang dibentuk akibat berpikir dalam jangka panjang, kerja keras yang tak kenal waktu. Juga, ada media maupun orang-orang yang mendukung sesuai takaran kemampuan dan pergaulan.

Batavia sebelum menjadi Jakarta adalah daerah yang kumuh. Kita tahu bagaimana ‘rupanya’ dalam dikte sejarah panjang. Tanah yang tidak begitu subur, bahkan rawa-rawa yang sebenarnya ‘enggan’ untuk orang ke sana. Karena Batavia pelabuhan bebas, mudah masuk siapa saja mau penjajah ataupun pendagang, maka gemerlap Jakarta kini karena pembangunan dalam waktu lama.

Tentu, bukan karena banyak pengusaha dan perusahaan datang membedah Batavia menjadi Jakarta yang mewah. Orang-orang yang berpendidikan memiliki andil besar dalam mengubah struktur Ibu Kota Indonesia itu. Seorang arsitek yang menggambar gedung-gedung pencakar langit, mereka telah melewati masa ‘karantina’ tidak sehari atau dua hari di pendidikan formal dan juga pengalaman menggambar ribuan kali sebelum jadi gambar utuh!

Jepang ‘kembali’ dibangun di atas laut dengan mengerok pasir pasca kekalahan di Perang Dunia II. Mata dunia memberi sanksi terhadap negeri Sakura tersebut. Biarlah hancur akibat ulah sendiri. Apa yang terjadi kemudian berbanding terbalik dengan keinginan negeri barat yang mau mereka Jepang terus menderita dalam kekalahan.

Penguasa Jepang tahu mereka telah kalah. Tidak ada bala bantuan dari sekutu. Pemikiran yang serupa dengan Soekarno, Jepang kemudian menyelamatkan guru dan pemuda. Sah. Jepang kembali berkuasa dan adidaya di Asia bahkan dunia sampai detik ini. Tanpa perlu saya sebut, beberapa merek dagang elektronik maupun kendaraan bermotor adalah produksi negeri Doraemon ini.

Belajarlah Jika Kau Ingin Mengubah Dunia

Ilmu adalah untuk mengubah dunia. Pemuda adalah pemangku estafet yang tak pernah berhenti mencari ilmu. Kapanpun ilmu akan mengubah keadaan seseorang menjadi lebih baik. Ilmu membawa perubahan ke dua sisi; menjadi manusia berbakti dalam kaya raya atau menjadi manusia bengis dalam banyak harta. Namun, sekali lagi, ilmu yang mengubah itu semua.

Saat saya berdiri di depan kelas, dengan tabiat anak-anak pedalaman, mungkin saya akan segera kabur karena cap daerah tertinggal itu begitu nyata. Di sinilah saya berada; mengajar ilmu, memapah pengalaman, mencambuk kenakalan. Untuk apa?

Biar mereka bisa membelah dunia!
Bersama anak-anak di dalam kelas.
Daerah saya pernah masuk ke dalam daerah 3T di Indonesia; Terdepan, Terluar dan Tertinggal. Dengar sebutan 3T saja bayangan kita langsung tertuju kepada daerah yang penetrasi pendidikan tidak merata. Orang-orang berpakaian kusut. Sektor pertanian terbelakang. Rumah-rumah kumuh di mana-mana.

Meski demikian, Aceh Barat terus berbenah menjadi daerah yang layak masuk ke dalam kategori daerah dengan pembangunan yang cukup pesat. Mungkin, di satu sisi, peran ‘kecil’ orang seperti saya tidak dianggap ada.

Saya terburu di pagi hari. Saya masuk kelas. Saya mengajar. Semua itu dilakoni sesuai porsi seorang guru. Semata-mata untuk anak-anak mendapatkan ‘ijazah’ yang kemudian sekolah lebih tinggi lagi.

Jadi guru di daerah 3T tidaklah mudah. Jika kau mengajar di salah satu sudut kota dengan anak-anak sadar maunya apa. Kau sama sekali tidak mudah bergaul dengan anak-anak di pedalaman ini. Meskipun perlahan-lahan makin modern tetapi tingkah mereka tetap serupa dalam suatu waktu.

Seiring waktu, tentu saja anak-anak yang masih ingusan telah jadi ‘orang’ dan bahkan saya tidak lagi mengenali mereka. Terharu sebagai guru tidak bisa ditipu. Inilah hasil didikan saya selama ini. Itulah potret pentingnya pendidikan seperti yang diagung-agungkan oleh Soekarno.

Waktu yang terus berpacu, gelora yang menjemput asa tidaklah pernah pudar. Kami terus mengajar. Kami terus mencambuk amunisi ke lara dan asa anak-anak. Tidak pernah sekalipun kami membongkar tabiat jelek anak-anak ke luar pagar sekolah.

Mereka punya cita-cita tersendiri. Mereka punya angan panjang. Demi masa depan yang sejatinya telah kami rasakan sampai kini. Sekali lagi, tidak mudah menjadi guru di daerah 3T. Namun, begitu kau lihat hasil jerih payah selama bertahun-tahun; ada yang jadi guru juga, polisi, dokter, perawat, arsitek, pekerja sosial bahkan fasilitator pertanian sekalipun, rasa bangga itu menyeruak tajam.

3T hanya sebutan saja. Kunci utama perubahan itu adalah guru dan pemuda. Orang tua juga berangkat dari anak-anak, jadi pemuda, menempuh pendidikan sampai kemudian jadi ‘orang’ sesuai definisi masyarakat kita.

Porsi saya adalah mengajar. Saya tidak memedulikan apakah mereka di daerah tertinggal, diabaikan karena ada di pedalaman, namun kurikulum dari pemerintah tetaplah sama. Anak kota mendapatkan pelajaran Fisika, anak desa juga demikian. Anak kota bisa berbahasa Inggris, anak desa juga diajarkan pelajaran yang sama.

Anak Muda Jadi Agen Perubahaan

Perubahan untuk Indonesia yang lebih baik sejak dulu dimulai dari pendidikan. Saya bangga terlibat langsung dalam perubahan itu. Tak akan ada kebun sawit dengan pohon tinggi dan buah matang sepanjang waktu, tanpa penyuluh perkebunan. Tak bisa seorang montir menempel ban bocor tanpa melalui proses pembelajaran dan pengalaman. Hal-hal simpel yang kita anggap sepele sebenarnya berasal dari proses panjang mempelajari, belajar tak kenal waktu dan hasil akhir maksimal.

Saya melalui proses perubahan itu step by step; dari kelas tujuh sampai kelas sembilan. Bisa kau bayangkan masa yang saya lalui begitu berat. Mereka adalah agen perubahan itu sendiri. Saya tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan mereka berikutnya. Tugas kami hanyalah mengajar. Itu saja.

Pola pendidikan yang berbeda dengan daerah maju, sikap apatis yang terbentuk karena lingkungan, tetapi mereka ingin perubahan. Pengaruh media sosial yang memperlihatkan gerak-gerik anak-anak kota mengubah pola pikir anak-anak di 3T.

Tugas saya tidak hanya berat dalam mengajar sesuai kurikulum tetapi memberikan pengarahan dalam beretika di internet. Saya mengajar persebaran sawit di Indonesia, bisa saja mereka telah tahu terlebih dahulu daerah mana saja sebagai penghasil sawit terbesar di negara kita.

Saya menyebut panel surya sebagai pendukung dalam pertanian, mereka bisa saja lebih dahulu menonton di YouTube cara kerjanya. Diketahui atau tidak, tantangan seorang guru itu lebih besar di kala internet masuk ke daerah 3T.

Perubahan yang terjadi mau tidak mau harus diterima. Sebagai guru dan orang yang lebih dewasa dari anak-anak, memberikan pengarahan kepada mereka menjadi sangat penting.

Kacamata orang di luar sekolah memang selalu membenarkan pemikiran mereka. Guru cuma ingin yang terbaik untuk anak-anak walaupun di daerah tertinggal dan dikucilkan sekalipun.

Daerah Tertinggal, Anak-anak Belum Tentu Demikian

Hidup di daerah 3T memang tidak semudah di kota besar. Akses ke dunia luar yang sedikit, pola pikir yang lebih rendah, keinginan berubah tidak tinggi, tetapi masih mau meningkatkan derajat kehidupan. Sekali lagi saya tegaskan, tak ada kota sebelum adanya desa.

Saya ikuti irama anak-anak. Perlahan tetapi pasti perubahan itu terlihat nyata. Sulit menebak mau anak-anak di usia remaja – sekolah menengah pertama. Dasar pendidikan yang kuat membuat keyakinan bahwa suatu saat mereka akan berbenah ke arah lebih baik.

Daerah tertinggal boleh menjadi label untuk kami tetapi anak-anak belum tentu demikian. Mereka adalah agen perubahan yang akan mengubah taraf hidup, masa depan dan ragam kebutuhan lain.

Anak-anak belajar. Kami mengajar. Tiap hari kecuali hari Minggu. Pagi ke siang. Siang ke sore. Semua dilakukan untuk mendapatkan perubahan, ubah desa menjadi kota, dan bahkan Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia. Dimulai dari pendidikan secara kontinu. Tanpa pendidikan, jangan coba-coba mau berubah!

Kau tidak bisa membaca tanpa belajar. Kau tidak dapat membangun ruang tanpa belajar. Manakala orang menyebut sukses tanpa belajar, maka dirinya sosok yang tidak bersyukur pernah bersekolah meskipun cuma sampai sekolah dasar.

Akses pendidikan yang kini makin mudah membuat anak-anak 3T jadi terdepan. Saya masih ingat ketika haru melanda beberapa anak yang lulus kuliah tanpa tes dan mendapat beasiswa BidikMisi. Suatu kebanggaan ‘memuluskan’ cita-cita mereka menjadi nyata.

Kemungkinan yang tidak mungkin bisa terjadi meskipun di daerah yang dikucilkan. Asal mau maka kau akan dapat. Saya telah membuktikan bahwa dengan pendidikan perubahan itu nyata sekali di depan kita.

Demikian juga dengan KORINDO. Daerah-daerah 3T telah mendapat ‘perbaikan’ kehidupan dari perusahaan yang telah berlayar selama 48 tahun ini. Kontribusi yang tidak sebentar dalam membangun perekonomian warga lebih matang, dengan menanamkan nilai ramah lingkungan. Sehingga, masyarakat setempat masih bisa menghirup usaha segar meskipun pabrik-pabrik di bangun untuk kemajuan bersama.

KORINDO adalah perusahaan besar yang membutuhkan bibit-bibit unggul dalam menggerakkan berbagai sektor. Mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi kemudian bekerja dalam membuat kertas koran, memilih perkebunan kayu agar dibangun miniatur terbaik, maupun perkebunan kelapa sawit yang sangat menjanjikan sampai kini dan pola tanam padi agar menjadi gabah terbaik.
Pekerja di KORINDO memiliki skil dan berpendidikan agar terampil.
Orang-orang yang telah belajar tinggi, lalu pulang kampung untuk membangun negeri terlibat aktif dalam unit usaha KORINDO. Sebut saja 10.000 pekerja di Asiki yang merupakan bisnis utama di Propinsi Papua. Pekerja lokal yang terampil mendapatkan lapangan pekerjaan selayaknya di daerah sendiri.

Anak-anak muda yang berpendidikan tinggi sangat diperhatikan oleh KORINDO, tidak hanya untuk satu jurusan kuliah semata. Kerjasama dengan Korea Internasional Cooperation Agency membuahkan hasil terbaik dalam membangun rumah sakit umum dengan tingkat pelayanan kesehatan kepada lebih 20.000 orang.
Salah satu klinik di Papua - korindo.co.id
Filosofi KORINDO cukup menarik yaitu berorientasi masa depan, inovatif dan berorientasi pada konsumen. Pemberdayaan masyarakat setempat menjadi tolak ukur kesuksesan KORINDO dalam meningkatkan taraf kehidupan daerah 3T.
Filosofi KORINDO - korindo.co.id
Semua yang dilakukan oleh KORINDO tidak terlepas dari peran pendidikan; guru dan pemuda. Pendidikan yang mengajarkan banyak hal sehingga perusahaan terbesar di Asia Tenggara ini bertahan cukup lama.

1 Response to "Jadi Guru di Daerah 3T Indonesia Bagai Menusuk Jarum ke Jantung Sendiri"

  1. Salut mas atas dedikasinya. Tidak banyak org mau mengajar karna untuk perubahan. Selebihnya hanya krn ingin pekerjaan.

    Semangat terus๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel