Insto Dry Eyes Hadiah untuk Guru yang Mencerdaskan Anak Bangsa


Guru dengan buku tak lain jodoh yang tak pernah akan bercerai. Guru mengajar di dalam kelas, membutuhkan buku ajar. Guru membimbing siswa menulis, membutuhkan buku bergenre novel atau kumpulan artikel. Guru membuat soal-soal ujian juga berangkat dari materi di dalam buku yang sesuai kurikulum berlaku tahun tersebut – sekarang Kurikulum 2013.  

Buku gudang ilmu yang tak pernah habis. Kau yang sudah dewasa pun ‘mau tidak mau’ masih membaca buku diwaktu senggang. Jika tidak, kau ‘hanya’ akan membangun diskusi penuh ‘omong kosong’ di warung kopi tiap waktu.

Bertahun-tahun lalu, buku telah menjadi primadona. Bahkan, tiap agama di muka bumi memiliki ‘buku panduan hidup’ yang kemudian kita sebut Alquran untuk umat Islam, Injil untuk umat Nasrani maupun kitab-kitab lain yang telah menjadi ‘buku’ sepanjang hayat.

Kau membaca buku maka dunia akan menjadi milikmu segera. Demikian pula dengan guru di sekolah. Berkutat dengan buku bukan sekadar memantapkan materi ajar namun belajar kembali soal kehidupan sebenarnya di dunia ini.
Saya sering mengalami mata perih usai mengajar.
Bisa kau bayangkan bagaimana seorang guru tidak mengamalkan kaidah-kaidah di dalam buku. Bisa kau tebak ke mana arah anak-anak jika guru mengajar tanpa buku. Bisa kau hujat guru yang memberikan nilai merah ke raport jika guru tak membaca buku sebagaimana mestinya.

Guru tiap hari membaca buku. Meski mengajar materi yang sama, guru tetaplah membaca buku untuk meng-upgrade pengetahuan baru sesuai zaman yang berlaku. Anak-anak yang kian tergerus teknologi, bersifat kritis dan menyukai hal yang tabu, membuat guru tak boleh lengah, tak ada kata berhenti di satu buku ajar saja, tak boleh lagi cuma mengajar dengan teori-teori kuno, tetapi harus berbenah dengan ragam buku keluaran terbaru.

Agar, anak didik juga ikut membaca perubahan, mengubah prestasi dan menghantam cita-cita setinggi angkasa. Guru tanpa membaca sama saja membawa pengetahuan zero to zero ke dalam kelas bukan zero to hero. Jadi, wajar jika kau ‘mampir’ ke sekolah, melihat rata-rata guru memakai kacamata.
Mengajar di dalam kelas dan juga di dalam laboratorium komputer.
Guru membaca tiap saat. Lepas dari buku ajar, guru memeriksa lembar jawaban dari anak-anak, jawaban anak rancu, guru kembali membuka buku, tak dapat di satu buku, mencari lagi di buku lain, sampai seterusnya supaya mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan.

Mata guru ‘cuma’ ada dua itu saja. Ditambah kacamata, kami sering bercanda, “Mata guru ada empat,” namun lelahnya mata seorang guru tentu berbeda. Guru terus membaca. Tak kenal waktu untuk berhenti. Terjadi begitu saja. Dari dulu sampai kini karena bekal guru adalah membaca; buku.

Mata PERIH seorang guru tak terdefinisi lagi. Guru melepas kacamata, mengucek-kucek mata PEGEL seharian berkutat dengan buku dan jawaban siswa. Guru tak boleh berhenti, lepas memberi tugas, ada ujian semester, habis itu pengisian raport yang kini berbasis komputer, anak naik kelas, guru ikut ‘naik’ dengan jenis buku – materi – yang berbeda. Anak tamat sekolah, guru kembali lagi dari awal dengan generasi berbeda.

Lelah? Tentu saja. Guru berkutat di situ saja, dengan buku, dengan angka-angka dan juga dengan amarah karena anak-anak telah ‘melupakan’ kewajiban mereka membaca buku.

Saya di antara guru-guru lain dengan buku bertumpuk di atas meja. Saya biarkan berserak begitu saja, agar disebut ‘rajin’ oleh guru yang lain meskipun mata SEPET. Satu kelas hampir 30 anak didik, memeriksa lembar jawaban yang dicocokkan dengan materi dari buku, kalikan saja jika mengajar 12 kelas.

Tak ada kata ‘finish’ bagi guru dalam membuka mata lebar-lebar di depan buku dan lembar-lembar jawaban anak-anak. Semua akan setuju jika saya sebut mata guru sangat lelah untuk ‘menendang’ generasi muda ke puncak kejayaan mereka. Tendangan bebas berupa nilai itu akan membawa perubahan pada anak-anak kita. Semua itu berangkat dari mata guru yang PERIH mengintip materi ajar dan mengulik lembar jawaban anak.

Guru membutuhkan ‘penenang’ agar mata kembali segar, agar anak-anak kita lulus; lalu menjadi orang sukses. Mata guru yang sehat menjadi tumpuan harapan anak-anak kita setiap saat.
Mereka adalah pejuang; sukses untuk masa depan kalian!
Kau tentu sangat khawatir jika melihat mata guru menyala di dalam kelas. Di sisi lain mungkin kasihan karena meski mata PERIH guru tetap mengajar. Begitulah tanggung jawab. Kebutuhan dan tantangan yang harus dihadapi oleh guru-guru kita. Sepanjang waktu memang demikian.

Mata Perih Sangat Dekat dengan Guru

Mata PERIH sering sekali saya alami usai dari dalam kelas. Ruangan yang sedikit gelap, efek dari pohon rimbun di sekitar sekolah, membuat mata mudah sekali perih. Pancaran cahaya matahari dari luar kelas menjadi faktor gejala ini muncul.

Di sisi lain, saat berada di dalam laboratorium komputer saya dihadapkan pada banyak komputer dengan layar yang tidak serupa saking tuanya perangkat itu. Cahaya lampu yang sedikit remang di sini juga membuat mata cepat lelah.  

Sebagai guru, saya tetap harus mengajar, membaca materi ajar dari buku, menulis di papan tulis dan menjelaskan pelajaran di hadapan anak-anak. Silau dari luar makin tak terkira dan makin menanjak siang, makin perih mata di dalam kelas.

Anak-anak duduk dengan lugu dan tegas di dalam kelas. Saya tentu tidak cukup dengan menjelaskan materi ajar semata, saya harus memperhatikan tabiat anak-anak yang berubah sewaktu-waktu. Mata bisa tidak bersahabat jika mengajar siang hari. Dengan pantulan cahaya dari luar kelas, suara ricuh tak terbendung, bisa membuat amarah sampai ke ubun-ubun.

Saya tetap saja mengajar meskipun mata mengabur karena panas dan cahaya dari luar yang tidak stabil. Mata dan telinga tak lain senjata guru dalam mengajar selain mulut. Mata harus jeli ke segala sisi. Telinga harus peka pada suara-suara sumbang. Dan, mulut tak boleh berhenti ‘mengoceh’ di dalam kelas.

Lirik ke sana-sini. Berpindah antara satu anak ke anak lain yang ribut. Berpaling ke anak pintar yang sedang mengerjakan soal di papan tulis. Lalu ke anak-anak yang menerbangkan pesawat kertas. Sengaja atau tidak, pandangan ke luar kelas selalu diarahkan seketika.

Lalu, mata PERIH terjadi begitu saja. Rasanya, saya memang mau menghindar, ingin segar kembali mata perih agar bisa memantau anak-anak selagi jam pelajaran berlangsung. Namun, tidak bisa secepat itu.

Mata saya antisipasi ke mana-mana. Ada anak yang melempar kertas, mulut langsung menegur. Anak lain menjahili teman sebangku, teguran lain dialamatkan kepadanya. Angin sepoi-sepoi yang masuk ke dalam kelas membawa serta debu, membuat mata menjadi lebih PERIH tak terkira.

Mau keluar dari kelas, tidak mungkin dengan kondisi anak-anak dan jam pelajaran belum tuntas. Bertahan di dalam kelas, tentu dengan pandangan tajam meskipun mata kian perih. Pandangan saya tidak boleh luput dari sudut kelas dengan seorang anak tertidur dengan buku menutupi wajahnya.

Mata saya tidak boleh ‘mengabur’ dari tangan anak-anak yang terus menulis jawaban dari soal yang diberikan. Ke segala sisi adalah pantulan yang mengerikan agar anak-anak menjadi ‘seseorang’ usai sekolah nanti.

Konsentrasi mata saya sejalan dengan capaian yang ingin diraih. Mata saya tidak boleh luput dari apapun di dalam kelas. 30 kepala. 30 karakter. 30 IQ dan EQ. Semuanya berbeda. Dan saya tidak boleh meninggalkan ‘bekas luka’ untuk jiwa muda mereka.

Sekali saja mata PERIH saya kucek-kucek, saat itu pula teriakan anak didik perempuan terjadi setelah dijahili si bocah suka nyinyir di dalam kelas. Di lain waktu saya sibuk mengusap wajah karena debu masuk lebih banyak ke mata, seketika pesawat kertas beterbangan di dalam kelas.

Di dalam kelas, 2 jam pelajaran semua konsentrasi panca indera guru wajib ‘menyala’ tanpa terkecuali. Anak-anak dengan tabiat mereka yang demikian adanya membutuhkan perhatian. Saya tidak melihat ke arah anak yang suka cari perhatian, maka sampai akhir jam pelajaran dirinya tetap berbuat onar.

Dari satu kelas saya ‘melompat’ ke kelas lainnya. Bahkan, sehari bisa 6 jam di dalam kelas. 6 jam pelajaran dengan mata dipaksa untuk terus menaburkan segala suasana, sangat mudah untuk membuatnya perih.

Mata PERIH terjadi begitu saja. Mungkin hari ini, entah juga besok. Saya benar-benar tidak bisa menghindari mata PERIH. Bahkan, makin dikucek-kucek, mata yang semula PERIH sedikit bisa bertambah parah dan menjadi merah.

Saya termasuk orang yang matanya mudah perih. Selain mengejar jam pelajaran di dalam kelas juga hampir seharian di depan notebook dan smartphone. Mata saya tidak beristirahat dengan baik karena pekerjaan yang menuntut demikian.

Saya baca banyak buku untuk mengajar lebih baik. Buku-buku lama yang sudah usang tentu mempengaruhi mata. Buku-buku baru dibaca untuk mendapatkan pembaharuan lebih pasti.

Saya membuka notebook untuk mengetik nilai, mengisi raport di akhir semester, bahkan berhadapan dengan aplikasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UN-BK) dari pagi ke sore. Interaksi dengan smartphone tentu tak perlu saya jabarkan lebih detail karena gadget ini tidak bisa dipisahkan dari keseharian saya sebagai blogger dan teacher.

Mata Kering 'Milik' Guru Bangsa dalam Mengajar di Kelas

Perih di mata karena terlalu lama membaca tak bisa dipisahkan dari seorang guru. Saya sering mengalami hal demikian bahkan dalam sebulan sekali selalu rutin. Ibu di rumah sering mengeluh, “Merah kali mata kau!”

Saya biasanya berujar, “Kelelahan mungkin, Mak,” sambil lalu dan berharap keesokan harinya akan sembuh. Saya yakin kalau mata memerah dibawa tidur akan sembuh dengan sendirinya.

Sekali dua kali saya memang membiarkan hal itu terjadi. Belakangan, saya khawatir karena terlalu sering mengalami masalah mata. Mata kering membuat aktivitas saya sangat terganggu.

Saat mengajar saya sering merasa kabur. Seolah banyak sekali debu yang melekat di mata. Kebiasan mengucek-kucek mata malah makin membuat perih itu menjadi-jadi.

Perhatian yang saya dapatkan juga dari anak-anak, “Pak, mata kanannya merah!” segitunya keringnya mata saya sampai orang lain sadar akan hal itu.

Saya jadi tidak fokus saat berada di dalam kelas. Anak yang sering berbuat tingkah tidak saya tegur dengan indahnya. Anak yang sering berbicara saat guru di dalam kelas, saya biarkan begitu saja.

Perih mata yang kering menjadi kendala yang dalam mengajar. Materi ajar yang seharusnya saya baca dan telaah lebih dalam malah tak terlihat dengan nyata. Buku-buku usang yang saya baca mengabur dengan sendirinya.

Saya sadar bahwa mata PERIH karena gejala mata kering. Mata saya terlalu PEGEL diajak bekerja dan terus bekerja. Istirahat yang saya lalui sepertinya tidaklah cukup untuk ‘menidurkan’ mata.

Seperti ada sesuatu yang melekat di mata saya tiap habis dikucek. Saya kucek-kucek lagi malah makin SEPET dan saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Sedangkan, anak-anak di dalam kelas menunggu dengan buku pelajaran terbuka atau malah sambil berteriak, bercerita, bermalas-malasan sebelum bel jam pergantian pelajaran dibunyikan.

Gejala mata kering sebenarnya bukan hanya saya saja yang mengalami hal demikian. Guru-guru yang sudah berumur malah lebih parah. Bayangkan saja, mereka mengajar dengan mata yang sudah tidak lagi normal, di dalam kelas yang lebih gelap dan pantulan cahaya matahari dari pintu dan jendela, ditambah kacamata minus tebal, masuk ke kantor sambil mengucek-kucek mata.

Tak perlu ditanya lagi, guru-guru di sekolah saya mengalami mata PERIH atau bahkan SEPET dan mungkin juga PEGEL karena banyak waktu di dalam kelas. Kacamata sama sekali tidak mampu menyembuhkan gejala mata kering ini.

Mata kita membutuhkan kesegaran lain sehingga akan bangkit dari lelah dan keinginan terus bekerja. Satu tetes saja ‘vitamin’ yang masuk ke dalam mata maka rasa PERIH, PEGEL dan SEPET segera hilang, dan terhindar dari mata lelah. Kita hanya butuh obat tetes mata yang paling ampuh!

Solusi Kekeringan Pada Mata adalah Insto Dry Eyes

Obat tetes mata biasa tidak cukup untuk memulihkan gejala mata kering. Saya membutuhkan Insto Dry Eyes yang digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata, mengatasi gejala kekeringan pada mata, meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata (biasanya pada penderita rheumatoid arthritis, keratoconjuctivitis dan xerophthalmia), juga digunakan sebagai pelumas pada mata palsu.

Di dalam ransel, botol imut Insto Dry Eyes dengan penutup warna biru itu tak pernah saya keluarkan. Mata kering karena banyak membaca dan sering berada di dalam kelas, maupun perpustakaan, membuat saya mudah menyegarkannya kembali

Peringatan dan Perhatian Insto Dry Eyes

Tiap obat jenis apapun, mestinya memiliki peringatan khusus untuk pengguna. Peringatan dan Perhatian Insto Dry Eyes adalah sebagai berikut:
  1. Jauhkan dari jangkauan anak-anak
  2. Tutup rapat dan hindari pencemaran
  3. Jangan dipakai setelah dibuka 1 bulan
  4. Jangan digunakan bila larutan berubah warna atau keruh
  5. Hentikan pemakaian dan konsultasi dengan dokter bila iritasi tetap, lebih buruk, sakit kepala, sakit pada mata, gangguan penglihatan, atau mata merah terus-menerus
  6. Untuk mempertahankan sterilitas, alat tetes tidak boleh menyentuh mata atau permukaan yang lain
  7. Produk ini dapat menyebabkan keburaman sementara pada penglihatan dan sengatan sejuk pada saat pemakaian

Peringatan pemakaian Insto Dry Eyes.


Antisipasi Insto Dry Eyes

Selain peringatan, juga terdapat antisipasi terhadap obat yang akan digunakan. Antisipasi Insto Dry Eyes adalah:
  1. Obat ini mengandung pengawet Benzalkonium klorida, penggunaan jangka panjang dan berlebihan dapat menyebabkan kerusakan selaput mata
  2. Jangan menggunakan obat ini secara rutin dan untuk jangka panjang
  3. Jika gejala telah hilang, hentikan penggunaan obat
  4. Jangan menggunakan kontak lensa ketika menggunakan obat ini
  5. Kontak lensa dapat digunakan minimal 10-15 menit setelah obat diteteskan

Antisipasi penggunaan Insto Dry Eyes


Aturan Pakai Insto Dry Eyes

Dalam penggunaan obat-obatan, kita SANGAT dituntut untuk mematuhi aturan pakai obat dimaksud. Aturan Pakai Insto Dry Eyes adalah bagian penting yang harus dipatuhi itu:
  1. 1-2 tetes pada setiap mata, 3x sehari atau sesuai anjuran dokter

Aturan pakai Insto Dry Eyes


Kandungan Insto Dry Eyes

Tidak semua orang bisa memakai obat tertentu karena terdapat kandungan-kandungan bahan yang harus dihindari. Kandungan dalam Insto Dry Eyes adalah sebagai berikut:
  1. Tiap mL larutan isotonik steril mengandung: Hydroxypropyl methylcellulose 3,0 mg, dan Benzalkonium chloride 0,1 mg

Kandungan bahan dalam Insto Dry Eyes
  
Keterangan lengkap dari kemasan Insto Dry Eyes

Penghargaan untuk Insto

Saya menjadi yakin menggunakan Insto Dry Eyes karena kepercayaan konsumen kepadanya. Rasa percaya itu dibuktikan dengan penghargaan yang diterima antara lain: Insto Raih Penghargaan Indonesia WOW Brand 2015, INSTO Raih Penghargaan Superbrands Grand Awards 2015, INSTO Raih Social Media Award 2015.
Penghargaan untuk Insto


Mengapa Insto Dry Eyes Sangat Penting untuk Guru

Saya tahu betul bagaimana tugas guru dalam keseharian. Guru dituntut untuk jeli dan juga tidak salah ‘memberi’ tahu kepada anak-anak tentang materi ajar. Makanya, guru harus banyak membaca, melihat dan merasakan alam sekitar agar didikannya tepat sasaran.

Profesi guru tentu berbeda dengan pekerja kantor kebanyakan. Sakitnya guru sama dengan ‘menelantarkan’ ratusan anak-anak sama sehari. Sakitnya orang kerja kantor, barangkali, cuma excuse me ke klien atau kertas-kertas menumpuk yang bisa dikerjakan lain waktu.

Namun, berhadapan dengan anak-anak; masa depan, soal cita-cita dan juga tanggung jawab moral terhadap generasi muda yang tidak bisa diubah seperti membalik telapak tangan. Jika, sekelas saja tidak ada guru maka bisa ditebak apa yang terjadi. Bayangkan jika banyak kelas yang kita tinggalkan sampai beberapa hari, bisa ‘berubah’ status anak-anak yang semulanya sudah baik-baik saja menjadi kurang baik.
Satu tetes untuk kembali cerdaskan anak bangsa
Maka itu, saya garisbawahi bahwa kesehatan guru sangatlah penting, terutama mata yang tiap hari memelototi papan tulis, laptop, tugas-tugas siswa yang ratusan buku, belum lagi menyiapkan materi ajar yang kreatif agar anak-anak mudah memahaminya.

Insto Dry Eyes yang saya pegang sangat membantu mata lelah seharian di dalam kelas. Rehat semalam, besok bisa kembali segar dan terhindar dari perih bahkan mata merah yang seringkali mendapat protes dari anak-anak.

Insto Dry Eyes yang cepat sekali menyembuhkan mata sepet juga memudahkan saya selama di dalam kelas atau saat memeriksa banyak lembar jawaban siswa. Praktis dibawa ke mana-mana karena kemasan yang imut.
Sudahkah kau mengantongi Insto Dry Eyes hari ini?
Kebiasaan kami sesama guru ada ‘membagi’ apa saja dengan orang lain. Insto Dry Eyes juga dengan mudah saya bagikan kepada guru lain yang matanya terlihat lelah, sepet maupun perih. Jadi, urusan mata itu bukan cuma saya saja tetapi juga sesama guru lain yang saat ini – di mana-mana – sedang mencerdaskan anak bangsa.

Kau bisa bayangkan bagaimana jika negeri ini tidak ada guru? Lalu, belajarlah dengan rajin agar doa gurumu tidak berhenti di satu titik melainkan kepada kebahagiaan hidupmu kelak!

7 Responses to "Insto Dry Eyes Hadiah untuk Guru yang Mencerdaskan Anak Bangsa"

  1. Kesibukan harian guru kerap membuat mata menjadi perih dan lelah ya, Pak. Jadi mesti sedia sejenis "pertolongan pertama" untuk masalah ini. Untung ada Insto yang bantu masalah guru ini.

    ReplyDelete
  2. betul pak guru, banyak baca bikin mata perih

    ReplyDelete
  3. Betul, Mas Bai. Kesehatan guru, terutama pada mata sangat penting untuk selalu dijaga. Apalagi saat mengajar dengan laptop atau komputer dengan waktu yang cukup lama. Tidak jarang akan menimbulkan masalah pada mata.
    Tapi beruntungnya sekarang ada Insto ya. Jadi tidak perlu khawatir lagi.

    Good luck ya, Mas..

    ReplyDelete
  4. Iya sih, guru kan harus membaca setiap hari, membimbing murid-murid. Pasti rentan mata kering. Syukurlah sudah ada Insto ya, produknya mungil jadi gampang dibawa kemana-mana.

    ReplyDelete
  5. kalau guru kebanyakan matanya sepet deh.
    sepet plus males ngeliat riuhnya anak didik, haha
    untung ada insto yang bisa melegakan dan menyegarkan mata
    alhamdulillah~

    ReplyDelete
  6. Terima kasih semua ya, semoga kita selalu sehat

    ReplyDelete
  7. Semoga selalu menjadi guru yang menginspirasi ya Bang buat murid-muridnya. Btw ngajar SMA juga ya ?

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel