Segelas Pesan – Bagian 3


Perjalanan hidupku berubah drastis. Tidak ada lagi anak sekolah menengah atas pulang sekolah malam hari. Tidak ada lagi jadwal nongkrong bersama teman-teman tomboi
Ilustrasi cerita.
Tidak ada lagi jadwal main voli bersama teman-teman pria. Tidak ada lagi uang jajan. Tidak ada lagi hari di mana aku bangun kesiangan.


Tidak ada lagi orang yang tiap  saat kuminta bikin makanan lezat siap tersedia. Tidak ada lagi orang yang memukulku dengan sapu lidi. Semuanya sudah terkubur bersama jasad kedua orang tuaku.

Aku masih belum percaya mereka begitu cepat meninggalkanku. Gadis kecil mereka ini masih belum mampu berdiri sendiri di tengah lalu lintas kota besar. Mereka tidak tahu aku kesepian. 

Kuakui, aku sering membangkang. Aku sering membantah nasehat Mama. Aku sering lupa teguran Papa. Aku diamkan mau mereka, kujalani mauku saja.

Mama Papa mengalami kecelakaan, itu yang kudengar. Aku masih mencerna apa yang terjadi pada kedua orang tuaku. 

Seperti ada yang janggal setiap perkataan yang menimpa mereka. Orang tuaku seakan murni kecelakaan, padahal dari raut mereka ada sebersit rahasia yang tidak bisa kuketahui.

Hampir tiap malam aku merenung. Bertanya pada Tuhan, apa yang terjadi pada kedua orang tuaku? Jarang sekali aku mengadu pada Tuhan, karena selama ini hidupku senang-senang saja. Aku berkecukupan. 

Punya keluarga bahagia dan harta tak kurang satu apapun. Setiap yang kuminta pasti akan dikasih, walau aku berdebat terlebih dahulu dengan Papa. Orang tuaku tidak pernah menolak, mereka cari uang hanya untuk aku seorang. Hanya aku!

Kali ini, aku telah kalah. Aku harus mengadu. Meminta pertolongan. Pada manusia sungguh tidak satu pun yang peduli. 

Satu persatu mereka meninggalkan rumahku semenjak hari pertama berkabung. Sanak saudara dari pihak Mama dan Papa hanya mengulurkan tangan tanpa mengucap sepatah kata. Lalu pergi.

Aku ingat, dulu mereka sering datang ke rumah. Papa tak segan-segan pula membantu mereka. Papa tiada, mereka lupa bahwa aku masih tertinggal sendiri. Menanti jawaban Tuhan atas takdirku.

Doaku terjawab di hari ke sepuluh kepergian Mama Papa. Tuhan benar-benar sedang sangat baik padaku. Aku meminta doa yang baik-baik saja, tetapi Dia mengabulkan doa lain. 

Dalam dingin pagi, gigi gemerutuk, badan gemetar, aku meninggalkan rumah. Entah ke mana arahku setelah pagi ini.

Ternyata, masih banyak sisa cobaan menghampiri hidupku. Rumah kami disita, satu-satunya harta yang kutahu menjadi milikku seutuhnya. Aku salah, rumah itu kini sudah menjadi milik orang lain. Aku tidak tahu siapa mereka, mereka datang membawa surat perintah mengosongkan rumah. 

Mereka datang berlima. Si botak dengan baju hitam. Si putih jangkung berkemeja putih. Si kurus berkemeja kotak-kotak. Si gemuk berkemeja putih sama dengan si putih. 

Dan si pendek – lebih pendek dari mereka berlima – berbaju kotak-kotak hitam.

Tak ada gunanya aku membantah. Mereka punya surat kuasa memaksaku keluar rumah. Setelah kubaca dengan teliti, Papa punya hutang begitu besar di bank. Wajar saja rumah ini disita. 

Aku masih bertanya, lantas kenapa Papa dan Mama ke Jakarta? Bisnis apa yang mereka rencanakan?

Aku tidak mengerti. Berburuk sangka pada orang tua sendiri bisa jadi petaka. Namun surat perintah yang diperlihatkan pegawai bank menunjukkan tanggal jelas, lima hari sebelum Papa dan Mama meninggal, kami harus mengosongkan rumah ini. Tanggal jatuh tempo Papa harus melunasi semua hutangnya.

Teka-teka ini biar Papa dan Mama bawa ke alam kubur. Mereka tidak sesayang itu padaku. Aku tinggal sendiri, tanpa apa-apa. Tidak ada penjelasan. Tidak ada jawaban atas permasalahan.
***
Aku putar haluan. Malu kutanggalkan di bawah telapak kaki. Kulirik sepatuku, sudah kusut berbau. Surat teguran dari sekolah tak kuindahkan. Aku sudah tak peduli. Hidupku sudah terkatung-katung. Sekolah tinggal impian. 

Seperti yang kuinginkan selama  ini, tidak mau sekolah. Surat itu pun Tegar yang kasih, setelah dia mencari-cari keberadaanku. Tegar lagi. Dia lagi!

Kemudi yang sedang kudayung sekarang bisa patah kapan saja. Aku berdiri di antara orang banyak, memainkan kaleng bekas, bernyanyi amburadul. Dari satu halte ke halte lain. Dari satu bis ke bis lain. Dari depan pintu rumah orang ke pintu lain. 

Berkali pula aku mendapat teguran. Bertubi aku menerima cemoohan. Ini cara hidupku, tak ada cara lain. Jika aku ingin makan, aku harus melakukan ini. Anak-anak lain – seusiaku – banyak melakukan hal yang sama.

Sebulan berlalu. Langkahku semakin ringkih. Usia remajaku jadi buram. Bibirku pecah. Perutku sakit tidak karuan. Sudah dua hari aku makan nasi basi.

Kuketepikan kaki ke sebuah klinik bersalin. Kusandarkan lelahku di dinding berwarna putih. Aku haus sekali. Beberapa orang di dalam klinik kulihat hilir mudik. Mereka tak melihatku. Mungkin mengabaikanku. 

Kakiku tak sanggup lagi diajak ke dalam. Keduanya kebas. Beribu rayuku tak bisa mengajak mereka berlari ke dalam. Aku butuh sesuatu, agar perutku mengembung dan bibirku berseri.

Oh, Tuhan

Aku memejamkan mata. Kunang-kunang menari…

Ada Dona, Pipi, Tegar, mereka tertawa di atas atap klinik bersalin, berbaju putih, terang diterpa matahari!

Apa aku sudah mati? Kubuka mati. Mendadak gelap. Mana Dona? Mana Pipi? Mana Tegar? Mereka ada di atap klinik ini, baju mereka menyilaukan mataku. Kenapa tiba-tiba sudah gelap? Inikah alam kubur?

Seseorang menepuk pundakku. Benar saja, itu malaikat penjaga alam kubur.

“Sudah malam, Dik! Klinik ini sudah tutup, sebaiknya tidak tidur di sini!” sebuah suara mengejutkanku. Kutatap wanita dengan baju putih berdiri di depanku. Bukan Dona maupun Pipi. Wanita itu lebih tua dari mereka berdua.

“Air…” lirihku.

Mata wanita itu menyipit. Tanpa berkata apa-apa dia meninggalkanku. Cukup sudah. Dia juga tak akan menolongku. Aku menengadah. Bintang di langit begitu jauh, mereka berkawan, berkelompok, menerangi malam.

Bahuku kembali ditepuk. Wanita itu sudah kembali. Firasatku padanya salah. Dia orang baik. 

Hatiku bertepuk riang. Tidak hanya air putih, sepotong roti dia berikan padaku. Kusantap dengan lahap. Sudah lama aku ingin kembali makan makanan selezat ini.

Malam kian larut, Teh Ratna memintaku ikut pulang bersama ke rumahnya. Semula aku menolak, dengan berbagai alasan.

“Saya percaya kamu orang baik, kamu boleh tinggal di rumah saya jika berkenan, boleh juga besok langsung pergi. 

Ini sudah larut, kamu bisa kenapa-kenapa di malam hari, tidak semua orang baik di dunia ini. Kamu juga tidak tahu mau ke mana kan?”

Kuputuskan ikut ke rumah Teh Ratna. Malam ini saja. Besok aku akan pikirkan kembali, ke mana arah dan tujuanku!
***

Ratnasari. Aku memanggilnya Teh Ratna. Orangnya ramah. Simpel. Berjiwa sosial tinggi. Suka bicara apa adanya. Dan paling kusukai darinya adalah selalu memuji setiap pekerjaanku, walau aku kerap berbuat salah.

Teh Ratna berperawakan mungil. Tingginya setinggi telingaku. Badannya hampir setengah badanku. Selepas dinas di klinik bersalin, dia selalu memakai celana dari kain sutra, kemeja kotak-kotak dan rambut diikat ke belakang.

Sejak malam itu, aku ikuti saran Teh Ratna tinggal bersamanya. Dia berjanji padaku, jika aku sudah mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal aku boleh pindah. 

Nyatanya, aku betah bersama keluarga kecil Teh Ratna. Ibu dan bapak selalu baik padaku, mereka menyiapkan keperluan sekolahku. Biaya sekolah yang tidak dapat kulunasi, mereka bayar semua tanpa dianggap hutang.

Pulang sekolah, Teh Ratna mengajakku ke klinik bersalin tempatnya bekerja. Sekadar bantu-bantu, begitu katanya. 

Apa saja! Mulai dari menyapu, ngepel, cuci peralatan medis, bahkan beli keperluan klinik di pasar terdekat; ada handuk baru, sabun cuci, selimut dan macam-macam.

Aku patut bersyukur pada Tuhan, sudah mengantarkan langkahku ke depan klinik bersalin ini. Aku bisa bertemu Teh Ratna dan bisa melanjutkan sekolahku yang tertunda. 

Aku tidak bisa bayangkan bagaimana kelanjutan kisah klasik hidupku jika tak ada bantuan Teh Ratna. Mungkin tidak akan ubah dengan pengamen jalanan lain, cari uang untuk sebungkus nasi. Besok dipikirkan lagi. Besok ngamen lagi. Dan seterusnya.

Orang tuaku boleh pergi dengan segenap teka-teki yang tidak kuketahui. Mereka membawa duka yang tak pernah bisa kumengerti. Aku akan menjalani hidup tanpa mereka, sebagai wanita kuat. Sebatang kara!
***
Malam itu, aku diajak bicara panjang lebar oleh Teh Ratna. Intinya, Teh Ratna akan meninggalkan Bandung. Dalam hati, aku masih bertanya-tanya apa mau wanita di depanku ini? 

Sekolahku baru usai seminggu lalu, mestinya aku bisa mendapatkan pekerjaan layak setelah menggenggam ijazah SMA. Jadi kasir, jadi pelayan, jadi pramuniaga, jadi penjahit, dan lain-lain. Aku bisa mencari pekerjaan tetap di kota besar seperti ini.

Aku tidak mengerti bagaimana pola pikir Teh Ratna. Orang berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota besar, dia malah memilih meninggalan Bandung, berkelana ke bawah langit yang belum tentu bisa menerima keberadaan kami. 

Padahal Teh Ratna sudah punya pekerjaan mapan, bekerja di klinik bersalin sudah cukup menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.

“Saya terketuk hati setelah membaca berita di koran-koran. Nasib mereka ada ditangan kami para medis. Berapa banyak ibu meninggal setelah melahirkan? Berapa banyak bayi dan balita yang kurang gizi? 

Tidak ada tenaga medis yang bisa membantu mereka di daerah terpencil sana! Saya berniat menolong keterbatasan mereka, saya juga percaya Tuhan tidak akan menelantarkan saya di negeri orang. Tuhan pasti akan memberikan kemudahan niat dan jalan hidup saya!”

Dengan izin kedua orang tua Teh Ratna. Kami berangkat!
***

0 Response to "Segelas Pesan – Bagian 3 "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel