Segelas Pesan – Bagian 4

Aceh Barat, 1994
Rasa lelahku terobati begitu kami mencapai perjalanan yang maha hebat. Seumur hidup baru kali ini aku melihat pemandangan yang tidak ada tandingan lukisan dari pelukis mana pun. 

Hamparan laut. Gunung meninggi, hijau pepohonan. Jalan berliku menanjak mendaki gunung. Membelah jarak antara Banda Aceh dengan Aceh Barat.
Ilustrasi gambar.
Mobil L300 akan mengantarkan kami ke Aceh Barat, sebuah daerah yang belum pernah terlintas ada dalam ingatanku selama ini. Kupikir Aceh itu hanya satu nama, tidak terpisah-pisah lagi menjadi banyak kabupaten.

Perlahan mobil yang kami tumpangi melaju memasuki area pengunungan. Berbelok di jalan berliku. Menaiki gunung itu rasanya tak tertahan. Kepalaku berputar-putar. Perutku diaduk. Aku mulas.

Mobil ini terus berlari pelan di jalan berliku, menanjak. Sebelah kiri batu-batu besar di atasnya ditumpuhi pohon-pohon besar. 

Di sebelah kanan, lautan tampak begitu jelas berwarna biru dan tenang. Tidak sanggup kubayangkan apa yang terjadi jika mobil ini terpeleset, jika tidak menabrak batu pengunungan, kami akan terjungkal ke dalam lautan lepas.

Dalam sadar dan tidak karena ayunan mobil begitu mengaduk-aduk seluruh isi sarafku, aku menahan rasa melilit, rasa ingin muntah, dan menikmati perjalanan berpemandangan indah, aku melihat penumpang lain termasuk Teh Ratna sangat menikmati perjalanan mereka. 

Tiba-tiba mobil ini berhenti, dipuncak gunung kurasa. Dan aku? Muntah sejadi-jadinya begitu pintu mobil kubuka!

Aku memperhatikan sekeliling. Sebelah kiri masih sama, batu-batu besar isi gunung. Dan sebelah kanan? Aku terpengarah. Ada kafe berbentuk gubuk-gubuk kecil berdiri di tepi jalan, menjulang ke lautan lepas. 

Banyak orang duduk di dalam gubuk-gubuk kecil itu, tertawa lepas, menyeruput kopi panas, kelapa muda atau mie instan. Bagaimana kalau gubuk itu roboh? Nyawa-nyawa itu pasti akan melayang terjun bebas ke lautan lepas.

Aku tidak sanggup membayangkan jika, aku dan rombongan kami yang berjumlah delapan orang duduk dalam sebuah gubuk lalu roboh. 

Jadilah hari ini pertama dan terakhir aku di Aceh, jatuh ke dalam laut lepas, di bawa entah ke mana oleh ombak yang tidak terlihat jelas dari atas gunung ini.

“Kita istirahat dulu di Geurute[1], nikmati pemandangan ini di sini dulu sebelum kita melanjutkan perjalanan!” kata sopir L300 itu seakan hanya kepada kami berdua, karena penumpang lain sudah terbiasa dengan suasana di sini. Teh Ratna sangat antusias. 

Wajahnya begitu senang. Buru-buru dia menarik tanganku, menuju ke sebuah gubuk dan langsung memesan kelapa muda untuk kami berdua. 

Tempat duduk kami menghadap ke sebuah pulau di tengah lautan, tampak jelas pulau itu mengapung dengan rimbun pohon menghiasi pulau nan indah itu!

Aku baru takjub. Belum menyadari kehadiran pulau itu. Ini benar-benar perjalanan yang tak bisa kulewatkan begitu saja. Andai aku masih punya kamera, aku akan memotret keindahan gunung dan pulau di tengah lautan biru itu! 

Aku akan kembali suatu saat nanti, mengabadikan keindahan mereka! Sedih bukan kepalang saat kugadaikan kamera kesayangkan pada Dona yang ingin sekali memiliki kameraku. 

Mau bagaimana lagi, nasibku yang meminta kamera itu berpindah tangan ke Dona.

Kelapa muda yang kami pesan sudah terhidang, kerongkonganku terasa sangat kering, ingin segera meneguk habis kelapa muda segar ini.
***
Perjalanan panjang dan melelahkan. Inikah yang Teh Ratna cari? Tanah basah. Hutan belantara. Perkebunan berpetak-petak. Sepi. Suara jengkrik di siang hari. Aroma bau basah. Dingin. 

Mobil L300 menurunkan kami di Calang[2], dari sana kami naik becak menuju tempat di mana kakiku terasa kaku kini.

Kuperhatikan sekitar. Jalan setapak yang kami lalui benar-benar menguras tenaga. Di belakang, jalan raya sudah tertinggal puluhan kilometer. 

Di depan, jalan membukit harus kami lewati sebelum sampai ke perkampungan penduduk. Di samping kiri dan kanan; hutan lebat, entah pohon-pohon apa yang menjulang tinggi.

Sesekali, aku melihat tanah sedikit lapang, tanda perkebunan warga. Dan entah apa hasil panen mereka itu. Aku tidak bertanya. Aku juga tidak protes. 

Aku hanya diam membeku dalam emosi tertahan. Mau marah tentu aku tidak beralasan, karena aku memilih menemani Teh Ratna ke bumi Aceh Barat. 

Apalagi kedua orang tuanya memintaku ikut, tidak bisa membiarkan gadis kesayangan mereka merantau sendiri.

Kampung yang kami tuju jauh dari perkampungan warga sekitar. Aku belum yakin ini benar-benar gunung atau hanya bukit saja. Selama ini aku hanya melihat gunung di televisi, belum pernah kutanjaki sendiri. 

Di bawah lereng gunung ini aku menemukan perumahan serba biasa. Rumah kayu beratap rumbia berhimpitan. Satu dua terdapat rumah beton dengan atap seng. Rumah beratap seng itu teraliri listrik dan di samping rumah terdapat antena parabola. 

Memperlihatkan taraf hidup mereka yang berkecukupan, di kampung yang jauh dari kota Calang. Kata kota sebaiknya kuhapus dari kamus ingatanku, tidak ada kota besar, hanya kota bertoko tingkat dua di pusat kabupaten. 

Kota Calang sangat jauh tertinggal dan tak lebih dari pasar kaki lima di Bandung!

Kupercepat langkah mengikuti Teh Ratna dan seorang penjemput yang kemudian kutahu namanya Wahid. 

Wahid tidak ganteng, kulitnya hitam gelap, rambutnya cepak, tingginya menjulang dengan otot berbentuk padat, mungkin hasil kerja kerasnya sebagai buruh kasar. 

Tubuhnya boleh kasar, auranya jauh kata dari kasar. Wahid suka tersenyum, dari tadi dia berbicara apa adanya. 

Tentang pekerjaan, tentang hasil panen yang tidak berharga saat dijual, tentang beratnya medan menuju kampungnya tinggal dan beratnya persaingan antara pekebun.

Langkah kaki Wahid besar-besar, herannya Teh Ratna sanggup mengimbangi. Mereka sudah berjarak beberapa meter di depanku. Aku yang ngos-ngosan kehilangan tenaga tak mampu mengejar ketangkasan mereka menaklukkan jalan setapak licin ini. 

Otot pahaku sudah pegal, belum lagi beban berat di punggungku. Yang benar saja? Masa tidak ada kereta dorong yang bisa mengangkut barang bawaan kami yang beratnya dua kali berat badanku!

Teh Ratna melambai. Aku mempercepat langkah. Tak bisa kuhindari aku terpeleset, tanah basah beralas daun-daun kering tidak mampu menahan beban tubuhku yang terasa sangat berat. 

Dari kejauhan kulihat Wahid berlari. Aku sudah sempoyonan dan terbaring di bawah langit mengelap. Di antara pucuk pohon besar, kulihat awan saling kejar berpindah posisi dengan awan lain. 

Beragam bentuk. Berganti warna dari putih ke biru. Mengantar sore ke barat agar bisa beristirahat.

Dipapah Wahid aku berjalan tertatih. Raut senang Teh Ratna berubah gusar.

“Kita harus segera sampai kampung sebelum malam, kak!” kata Wahid dengan logat Aceh yang kental.

Teh Ratna mengiyakan. Berat badanku bukan penghalang bagi Wahid yang biasanya mengangkat beban berat. 

Teh Ratna berjalan beriringan dengan kami. Suara cicit burung makin ribut. Daun-daun kering sesekali jatuh menyentuh kepalaku.

Ini belum berakhir, ini baru dimulai!

***




[1]Gunung Geurute adalah salah satu pengunungan di jalan lintas barat selatan Aceh, terletak di kawasan Aceh Jaya. Sebelum pemekaran daerah Aceh Barat dengan Aceh Jaya, gunung ini menjadi pembatas antara Aceh Besar dengan Aceh Barat sekarang pembatas Aceh Besar dengan Aceh Jaya.
[2]Ibu Kota Aceh Jaya sekarang, tahun 1994 masih termasuk kawasan Aceh Barat (belum pemekaran wilayah).

0 Response to "Segelas Pesan – Bagian 4 "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel