Sebuah Janji yang Ditepati Saat Bahagia Bersama Air Asia


Lama sudah berjalan waktu dalam sendu, dan menanti rindu untuk kembali. Tetapi, kau tahu bahwa ‘sesuatu’ yang kita inginkan tidak selamanya sesuai dan bahkan meleset dari perkiraan. Awal 2014 saya tergopoh-gopoh ke kantor imigrasi untuk mengurus paspor. Jika tidak pertengahan tahun, saya akan traveling ke luar negeri akhir tahun nanti.
Bahagia Bersama Air Asia
Bahagia Bersama Air Asia
Sambil lalu, janji tinggal janji. Hari yang terlewati mudah sekali dilupakan dan paspor saya tersimpan dengan rapi di dalam lemari. Namun, kau wajib tahu soal ambisi. Tak ada di dunia ini yang bisa menghalangi ambisi seseorang, termasuk dengan apa yang saya rencanakan sejak berniat membuat paspor.

Paling tidak, sekali saja paspor itu harus saya gunakan. Apapun caranya. Perjalanan janji kemudian ditepati oleh Tuhan dengan caranya tersendiri. Dari sini pula saya bersyukur, menikmati proses dan juga sabar sehingga cita-cita itu terwujud. Kembali ke rumus, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, maka saya percaya itu sebuah pemantik semangat untuk usaha lagi dan lagi.

Rindu yang telah menepi, atau bahkan sebentar lagi paspor saya expired, begitu terus terbawa suasana sampai di akhir 2016 jalan itu terbuka. “Bai, coba kau ikut ini mungkin saja bisa terbang ke Bangkok!” seorang sahabat menyodorkan informasi menulis dengan hadiah ke Bangkok, Thailand.

Saya langsung mengangguk, tanpa bersuara apa-apa; karena ingin ada stempel di lembaran paspor walaupun sekali saja sampai lima tahun ke depan. Proses yang panjang saya lewati sampai benar-benar terpilih lalu berangkat; Alhamdulillah!

I can fly; now everyone can fly with AirAsia!

Meski, jalanan itu begitu terjal. Semua ada solusi meski terjungkal. Saya tahu risiko yang berat, saya hanya boleh menikmati setiap momen karena itulah kenangan paling manis dari sebuah catatan perjalanan. Saat di posisi ini, tidak mudah untuk orang lain meraihnya, atau bahkan soal keberuntungan yang memihak karena ada orang lain yang juga ingin ada di posisi saya saat itu.

Bagaimana cara memulai itu semua? Kita sama sekali tidak boleh protes karena jika itu terjadi kesan traveling sama sekali tidak didapat. Maka, saya mulai dari sini, sebagai kenangan manis terbang pertama kali dengan Air Asia.

Langkah awal dari...

...rumah menuju Bandar Udara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh membutuhkan kurang lebih 5 jam. Dalam minibus, kantuk yang seakan tak berbuah manis, badan pegal, harus mengejar penerbangan pagi ke Jakarta. Malam yang deg-degan takut begini begitu selama melintasi jalan berliku, gunung menepi, lautan lepas dari pesisir barat Aceh ke Ibu Kota Provinsi. Setidaknya, saya harus sampai ke bandara pukul 5 pagi. Kau tahu sendiri proses check-in tetap berlaku meskipun satu atau dua penerbangan saja di pagi hari dari Aceh ke Jakarta.

Awalnya, saya pikir akan terbang dari Banda Aceh lalu transit ke Kuala Lumpur baru kemudian ke Bangkok. Di mana penerbangan Air Asia dari Aceh cuma ada ke Kuala Lumpur saja. Itu tinggal asumsi yang tidak terucap sampai saya pulang kembali ke Aceh.

Pagi yang benar-benar terburu-buru di awal tahun 2017, dengan dingin meringkus badan lelah, saya tarik koper menuju X-Ray di pintu masuk pertama bandara. Belum habis pegal di badan, saya akan bersandar – lagi – selama 3 jam lebih ke Jakarta. Bahkan, bisa sampai 4 jam karena maskapai ini akan transit terlebih dahulu di Bandar Udara Kualanamu, Medan. Meeting point di Bandar Udara Soekarno-Hatta membutuhkan waktu lebih lama, mungkin juga agar kami bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain karena teman-teman lain semua di Pulau Jawa.

Saya tertidur sepanjang perjalanan. Lima belas menit menjelang landing seperti sangat lama. Pesawat yang kami tumpangi seolah berputar-putar di atas bandara yang sudah pasti sangat sibuk di bawah sana. Begitu landing, mengambil bagasi, saya langsung ke hotel transit, istirahat panjang sangat saya butuhkan sebelum berangkat ke Bangkok keesokan harinya.

Malam tiba. Berkenalan satu sama lain. Mbak Nurul dan Mbak Fika dari Surabaya, Yogi dan Indah dari Yogyakarta, sedangkan Annafi dan Juniawan baru ketemu besok pagi di bandara karena dari Jakarta.

di jam 3 pagi yang terburu-buru... 

Kemarin saya mengejar penerbangan pagi dari rumah di malam hari. Hari ini, saya – bersama yang lain – terburu-buru untuk check-in penerbangan internasional 2 jam sebelum keberangkatan di pukul 7 pagi nanti. Mata saya sulit sekali diajak kompromi. Seakan baru saja menikmati empuknya kasur hotel transit yang sempit.

Di jam 3 pagi kami sudah duduk di dalam shuttle bus menuju Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Jalanan dari hotel transit ke tol bandara benar-benar sepi. Orang-orang masih terlelap. Satu dua kendaraan dengan kelajuan kencang baru terlihat begitu masuk ke dalam tol bandara. Semua mengejar penerbangan pagi yang cepat dan gesit.

Saya cukup khawatir karena ini adalah penerbangan internasional pertama. Mbak Nurul sudah pernah, Mbak Fika malah sering bolak-balik ke luar negeri. Seperti biasa, sampai di depan terminal, berlari kecil masuk ke dalam antrean panjang. Kami pikir yang pertama, ternyata salah, calon penumpang lain sudah mengular di tiap counter check-in.

Saya mencari-cari layar dengan informasi check-in Air Asia ke Bangkok; sebenarnya semua konter yang buka adalah Air Asia. Sementara yang lain ada yang sudah masuk antrean, saya malah bingung, baru kemudian saya baca beberapa konter bisa untuk semua penerbangan.

Saya mulai mengantre yang makin lama makin ramai. Tentu berbeda dengan check-in domestik, identitas yang harus saya keluarkan adalah paspor bukan lagi KTP. Saya menyerahkan e-ticket dan paspor kepada petugas check-in yang terlihat terburu-buru juga; dengan make-up tipis, lipstik tidak begitu merah dan jilbab belum begitu rapi dengan bros tidak tersemat di kain itu.  

Saya request seat yang dekat dengan salah satu teman, tetapi petugas check-in berujar, “Sudah dibaca otomatis, Pak,” karena kode booking yang berbeda. “Kecuali Bapak sudah memilih seat saat check-in online,” saya mau mengeluh tetapi tidak bisa. Semua kami rupanya terpencar, hanya Mbak Nurul dan Mbak Fika yang duduk berdekatan.
Bahagia Bersama Air Asia
Boarding pass Air Asia ke Bangkok.
Drop bagasi sudah. Boarding pass sudah di tangan. Sedikit bernapas lega dengan antrean yang makin panjang. Saya melihat semua calon penumpang bergegas di X-Ray dan berlari ke konter yang pendek antreannya. Begitu seterusnya sampai eskalator yang membawa kami sampai ke lantai dua.

Subuh tiba. Kami salat subuh di musala sembari menanti Annafi dan Juniawan yang masih di jalan. Annafi terjebak macet sedangkan Juniawan sedang check-in. Pagi ke bandara rupanya macet juga di Jakarta ini.

Perut mulai keroncongan, mungkin karena bangun terlalu pagi. Saya membeli roti dan minum, juga persediaan selama dalam perjalanan 3 jam lebih ke depan. Rasa kantuk masih ada. Kami masih menanti Annafi dan Juniawan yang datang tak sampai sepuluh menit kemudian.
Abadikan kenangan sebelum terbang.
Muka lelah dan kurang tidur mulai terlihat. Kami bergegas ke gate yang tertera di boarding pass. Daripada dipanggil karena terlambat lebih baik menanti di dalam gate. Tak lama, boarding time dan kami mengantre lagi untuk masuk ke dalam pesawat.

Penerbangan pagi yang padat, pesawat Air Asia yang akan kami tumpangi terparkir jauh di landasan. Kami diangkut dengan bus bandara. Matahari mulai mengintip. Sebentar lagi jam 7 dan pagi benar-benar terasa cepat sekali datang.

Dari dalam bus saya melihat berbagai maskapai dengan gagahnya menaikkan penumpang dan bahkan ada yang sudah take-off dan juga landing. Kesibukan yang terasa syahdu di bandara terbesar di Indonesia ini. Kami tentu tidak mau melewatkan momen Bahagia Bersama Air Asia, buat saya pertama kali terbang bersama Air Asia jadi lebih seru dan menegangkan.
Bahagia Bersama Air Asia
Foto di depan pesawat itu wajib kalau traveling ya!
Juniawan sibuk foto sendiri, sedangkan Yogi dan Indah entah ke mana berdua saja, yang pulang dari Bangkok mereka menikah. Jodoh tak ke mana. Air Asia bisa jadi cerita cinta itu. Bisa berawal dari sebuah cerita, bantuan kecil atau hak sepele lain yang kemudian mereka berdua dekat satu sama lain.

Bantu angka koper, check-in bersama, bawa barang belanjaan, ke mana-mana sering berdua...

Semua bisa jadi mungkin, bisa juga karena sebuah perjalanan cinta berlebih itu datang. ‘Karena’ Air Asia kami semua dapat undangan pernikahan mereka, meskipun tidak bisa menghadiri ke Yogyakarta tetapi bisa kenal mereka karena perjalanan ke Bangkok ini.

pada janji, Air Asia adalah bukti padamu...

Saya mengucapkan syukur begitu masuk ke dalam badan pesawat, Air Asia, tujuan Bangkok dari Jakarta. Waktu 3 tahun menanti, paspor saya memiliki stempel imigrasi juga. Kabin Air Asia lumayan besar, kursi yang jaraknya lebih luas, dan sandaran yang nyaman sangat cocok untuk penerbangan internasional.

Sebenarnya, selama dalam perjalanan saya lebih banyak tidur karena jauh dari teman yang lain. Penumpang di samping kiri dan kanan saya juga sama. Di sisi sebelah kiri, hanya seorang penumpang yang membaca, dua orang lainnya juga tertidur.

Mungkin, karena sudah terbiasa terbang orang-orang memilih tidur selama dalam perjalanan; yang kini saya lakukan. Penerbangan itu membuat saya cukup jetlag. Pengalaman pertama memang selalu mengundang banyak kekhawatiran. Seorang cewek dengan jilbab merah jambu di samping kiri saya tampak tenang saja. Tidur nyaman dan saat hampir landing, dengan santai pula mengisi kartu imigrasi yang menjelaskan secara keseluruhan bahwa kita adalah wisatawan yang tidak membawa barang-barang terlarang.

Don Mueang Internasional Airport menanti dengan gagahnya. Begitu keluar dari dalam pesawat Air Asia, saya menghirup udara yang sedikit berbeda dengan negeri sendiri.

Selamat datang di Bangkok. Sawaddi Kab!

Orang-orang mulai berbeda. Bahasa mulai berbentuk garis-garis melengkung dengan hiasan di atasnya, seperti titik dan baris di tulisan Arab. Di setiap sudut pintu kedatangan adalah aroma Thailand yang melekat kuat. Saya mencium aura yang mirip dengan Bali yang begitu kental dengan Hindu, berbeda dengan Thailand dengan Budha yang kentara sekali.

Passanger yang berfoto-foto seperti kami – barangkali – baru pertama ke Bangkok. Tiap ada papan nama dengan tulisan Bahasa Thai langsung jadi background untuk sebuah kenang-kenangan. Saya malah sibuk memotret teman lain sampai lupa berdiri di sana. Juniawan salah seorang yang masih tersimpan fotonya di papan penunjuk arah itu.
Juniawan di depan papan informasi bandara.
Kami mengikuti arah panah ke baggage claim untuk mengambil bagasi. Di luar terminal kedatangan, Freddy sudah menanti kami. Dalam beberapa hari ke depan, Freddy akan menemani kami ke Kapal Persial di Sungai Chao Phraya, belanja murah di Asiatique, sampai mengelilingi Kota Bangkok yang kemacetannya tak kalah dengan Jakarta, cerita tentang ini bisa dibaca kembali pada beberapa episode yang lalu.

Ada kesan menarik saat sampai di depan imigrasi kedatangan Bandara Don Mueang. Tidak semua petugas mengerti Bahasa Inggris sehingga sulit sekali komunikasi. Mata mereka begitu tajam tanpa berkata-kata, jika ada yang mencurigakan langsung disuruh buka semua isi bawaan. Mungkin juga ini jadi alasan soal cinta, Yogi membantu Indah yang hampir menangis saat ranselnya dibongkar karena bunyi bip saat diperiksa, yang ternyata hanya bros saja.

Traveling ke Bangkok kemudian jadi pelajaran penting bagi saya saat berada di negeri orang, berbeda dalam segala hal, dan harus menahan emosi agar tidak berurusan dengan pihak berwajib sehingga tertahan untuk segera pulang.

adalah pulang karena rindu telah usai...

Kami hampir tertinggal pesawat, jika saja sopir taksi itu tidak baik hati. Kami berputar-putar dalam kemacetan lalu lintas Kota Bangkok untuk sampai ke bandara. Napas lega harus ditarik begitu sampai ke terminal keberangkatan Don Mueang Internasional Airport. Kami mengucap perpisahan dengan Freddy atas kenangan manis lalu masuk ke dalam untuk check-in.

Tiap konter check-in sangat sibuk dan ribut. Ada calon penumpang yang berdebat dengan petugas entah karena alasan apa. Calon penumpang kesal dalam Bahasa Inggris, petugas check-in di balik layar komputer membalas dalam Bahasa Thai.

Saya menjadi khawatir. Saya keluarkan e-ticket dan paspor. Petugas check-in wanita dengan raut wajah datar itu bertanya, “Indonesia?” saya mengangguk lalu rentetan pertanyaan seperti tidak ada benda tajam, laptop, kamera, handphone di dalam bagasi yang saya jawab dengan gelengan kepala. Saya mau segera berlari ke teman lain yang sudah selesai check-in.

Kami tiba di depan petugas imigrasi untuk mendapatkan stempel keluar dari Thailand. Mata petugas imigrasi juga begitu jelalatan ke bawaan kami; mungkin di mana-mana tetap saja soal keamanan suatu negara. Paspor saya terstempel dengan mudah. Yang lain juga lancar saja. Tiba di X-Ray, Indah lagi-lagi harus ditolong oleh Yogi.
Stempel paspor dulu di imigrasi Thailand di bandara.
Cinta memang menakdirkan seseorang. Petugas X-Ray menyuruh Indah keluarkan semua isi ransel. Beberapa botol minuman disuruh buang atau minum. Saya kasihan melihat Yogi harus membantu Indah minum beberapa botol, sisanya harus dibuang. Satu catatan mungkin untuk yang sedang dan akan ke luar negeri, lebih baik tidak membawa ‘bekal’ karena tidak semua bandara membolehkan hal demikian. Meskipun mahal, sepotong roti atau sebotol minuman masih bisa kita beli di depan gate.

Stempel di paspor sudah berbekas. Saatnya bergegas ke gate yang tertera di boarding pass. Di setiap sudut terminal keberangkatan ini adalah gambar tokoh Thailand dengan warna cokelat. Dan tentu saja, di mana-mana masih bertuliskan huruf Thai yang di bawahnya terdapat arti dalam Bahasa Inggris.
Sah. Paspor saya ada stempelnya.
Sebenarnya di tiap terminal di bandara manapun itu sama saja. Cuma, kita harus menyisakan sedikit mata uang negara dimaksud agar tidak kerepotan saat menanti boarding time. Hal tidak terduga seperti delay bisa melanda siapa saja karena alasan cuaca, pesawat terlambat datang atau karena alasan lain. Biasanya di depan gate terdapat toko untuk menjual makanan dan minuman, dan juga pernak-pernik.
Di terminal keberangkatan Bandara Don Mueang, Bangkok.
Enaknya traveling ramai-ramai ada yang bisa diajak ngobrol saat menanti dipanggil masuk ke dalam pesawat. Kami masih bercerita tentang apa saja. Calon penumpang lain juga demikian. Mau main smartphone sangat sulit dengan Wi-Fi bandara yang kadang koneksi stabil, kadang malah down.
Foto lagi sebelum terbang.
Naik ke dalam pesawat Air Asia adalah momen yang dinanti. Saya langsung ingin tertidur dalam perjalanan malam itu. Tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dengan Jakarta. Perkiraan sampai ke Jakarta sekitar pukul 10 malam.

Sama seperti saat hampir tiba di Bangkok, sebelum landing di Jakarta, pramugari membagikan kartu dari bea cukai untuk diisi tiap penumpang. Terdapat beberapa keterangan yang harus diisi dengan benar agar tidak berhubungan dengan petugas imigrasi dan bea cukai.
Tiap penerbangan internasional akan mendapatkan kartu ini sebelum landing.
Landing di Jakarta sudah dinanti. Seperti menghirup udara segar. Antrean stempel lagi di petugas imigrasi, bahwa kita telah masuk ke Indonesia.
Stempel paspor dulu sebagai tanda masuk Indonesia sebelum keluar pintu terminal kedatangan.
Bahagia Bersama Air Asia adalah janji yang saya tepati. Perjuangan panjang agar bisa terbang bersama Air Asia adalah nikmat yang tidak bisa didustakan. Pulangnya juga demikian, saya terbang lagi ke Aceh, lalu ke kampung halaman dalam waktu 3 jam lebih di atas udara dan 5 jam perjalanan darat. Namun, begitulah cerita traveling. Bukankah kita harus menikmatinya?

6 Responses to "Sebuah Janji yang Ditepati Saat Bahagia Bersama Air Asia "

  1. kangen terbang lagi pakai pasport nih, Bai.

    ReplyDelete
  2. Sampai saat ini, Air Asia masih menjadi maskapai penerbangan murah terbaik di dunia. Salut buat CEO nya karena pintar dalam mengatur strategi pemasaran sekaligus biaya operasionalnya terutama penggunaan bahan bakar yang sebenarnya menjadi faktor penting.

    ReplyDelete
  3. Bahagia bacanya, jadi penyemangat untukku Bhai, insya Allah selalu ada jalan ya, aamiin...semoga menang, Bhai..

    ReplyDelete
  4. Keren mas Bai... aku beberapa kali naik Air Asia, tapi nggak pernah foto-foto :((

    ReplyDelete
  5. Baiiii, duh lama nian kita tak bersua yaaakk
    Puingin traveling bareng lagiii
    Umroh bareng, aamiiiin :D
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  6. Kami selalu suka menggunakan jasa Air Asia. Kualitasnnya memang bagus

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel