QR Standar Nggak Repot Saat Traveling


Awal tahun yang penuh makna di Jakarta Central Park. Sore berlalu begitu saja dan lelah sudah pasti setelah perjalanan jauh dari Aceh. Namun gempita Ibu Kota tak boleh diabaikan begitu saja. Orang-orang dengan santainya menghabiskan waktu di pusat perekonomian strategis di Jakarta Barat itu.
Pembayaran pakai DANA - YouTube.com
Saya tentu tidak mau ‘istirahat’ saja karena badan pegal. Bukan pilihan juga saat ada kesempatan traveling begini saya diamkan diri di kamar hotel untuk sekadar memanjakan punggung yang terasa lelah. Seorang traveler sejati sebenarnya menghapus kata lelah dari kamus mereka. Tak ada istilah sesampai di destinasi, istirahat dalam waktu lama baru kemudian jalan-jalan.

Meski, Jakarta adalah hal biasa bagi sebagian masyarakat urban. Saya tentu tidak demikian; dari kampung ke kota besar sangatlah berbeda. Saya tidak mau melewatkan tiap momen berharga selama berada di Ibu Kota. Memang, rundown acara sudah jelas dan saya pun tidak mau kerepotan dihadang kemacetan jika keluar dari Central Park.

Di kompleks ini sebenarnya sangat lengkap. Pusat perbelanjaan dengan ragam pilihan; mulai dari yang murah sampai yang mahal. Tempat nongkrong juga sangat instagramable. Restoran dengan aneka makanan juga tidak boleh dilewatkan begitu saja. Saya menikmati masa-masa itu karena orang kampung ke kota tentu berjuta rasanya.

Afit mengajak saya ngopi di entah kafe mana di dalam mall. Sore yang ramai hari itu, atau begitulah sejatinya suasana kota. Kami jalan beriringan dari satu lantai ke lantai berikutnya. Lihat-lihat dulu, katanya. Afit melihat-lihat celana, sepatu dan juga kaos polos di beberapa toko, walaupun tidak ada satupun yang dibelinya. Saya malah ikut-ikutan bertanya, pura-pura beli yang langsung menloncat isi hati saat melihat label harga. Maaf, Mas, saya lihat yang lain dulu ya!

Kami akhirnya duduk di salah satu kafe. Mungkin karena sama-sama cowok jadi foto selfie itu terabaikan begitu saja. Suasana kafe itu sangat asyik. Ada minuman yang ingin sekali Afit minum jika ke Jakarta dan kebetulan di kafe itu tersedia, saya ikut-ikutan memesan minuman yang sama. Aura nature begitu terasa dengan hiasan daun-daun plastik dan bunga aneka warna, juga bukan bunga hidup. Di tiap sudut kafe terdapat pot bunga yang juga tidak hidup. Kursi dan meja kayu dengan warna kecokelatan sangat masuk ke dalam kamera namun tidak kami abadikan.

Afit mengantre di kasir. Saya memilih tempat duduk yang menghadap ke luar, di mana orang-orang begitu ramai di mall itu. Di depan kami sebuah restoran dengan menu lezat menambah nafsu makan, di sebelah kirinya adalah eskalator dan di sebelah kanan juga restoran makanan.

Lima menit kemudian, Afit sudah duduk di depan saya. Ia berujar kalau pakai OVO bisa dapat cashback segini persen. Selain minuman yang ingin ia minum, diskon OVO juga menjadi salah satu alasan kami duduk di kafe itu.

Mungkin beberapa detik sebelum magrib kami balik ke hotel. Sepanjang jalan yang mengitari restoran dan kafe, saya melihat penawaran cashback kalau pakai dompet digital ini dan itu. Rata-rata di toko makanan dan minuman yang baru saya lihat bisa melakukan transaksi dengan OVO, GoPay, LinkAja dan juga DANA. Afit yang terbiasa dengan belanja praktis di Yogyakarta sedikitnya membawa pengaruh besar kepada saya.

Cerita ngopi bersama Afit mengantarkan saya kepada isi saldo semua dompet digital saat traveling tiba. Dan benar, tak lama setelah itu saya kembali diberi kesempatan untuk jalan-jalan. Berkah yang selalu saya syukuri meskipun ‘sedikit’ tetapi tidak semua orang bisa survive dengan pengalaman ini. Saya cuma berujar di dalam hati, berikan kemudahan saya dalam menulis agar bisa melihat negeri terasing di ujung dunia!

Dan, kita tinggalkan halusinasi itu. Sebelum berangkat, saya mengisi 2 saldo dompet digital, OVO dan DANA. Kebetulan saya baru mengaktifkan dua dompet digital ini dan kebetulan juga pemakaiannya akan lebih mudah; seperti pengalaman saya jalan di mall bersama Afit di mana cashback OVO yang banyak di papan informasi sebuah kafe. Selain itu, OVO bisa saya gunakan untuk bayar transportasi online. Sedangkan DANA, beginilah ceritanya.

Saya begitu terasing saat menunggu teman di Pondok Indah Mall. Saya sudah berkeliling dan bahkan sudah naik-turun dari lantai satu ke dua. Teman saya, Witam, belum juga sampai. Witam mengirim pesan, sebentar lagi sampai, Bro. Tetapi sebentar Jakarta sangatlah berbeda dengan sebentar di Aceh.

Mall di Jakarta Selatan itu tak pernah sepi sepertinya. Kepadatan di PIM sangat terasa sekali. Saya malah terjebak ke lantai yang penuh dengan anak-anak. Witam belum juga ada kabar. Saya melihat anak-anak yang sedang bermain; jadi rindu keponakan di rumah. Saya lihat for sale untuk sepaket lego, langsung menggelengkan kepala. Dompet saya menjerit jika harga segitu.

Lelah menanti, saya akhirnya menepi ke KFC. Entah kenapa waktu itu tidak terpikirkan untuk saya memilih restoran lain. Satu alasan yang pasti, saya ingin berhemat mengeluarkan uang kertas karena saldo DANA masih cukup untuk mengisi perut di KFC. Di restoran lain mungkin bisa pakai OVO, tetapi saya simpan saldo itu untuk ongkos pulang nanti. Di KFC saya tahu bisa dengan mudah membayar dengan QR Standar. Saya harus benar-benar membuat rencana sebelum menggunakan OVO atau DANA, karena keduanya memiliki porsi masing-masing dalam membayar apa dan di mana.

Saya langsung masuk ke KFC di Lantai 2 Pondok Indah Mall. Antrean di kasir tidak begitu ramai. Orang-orang yang sering ke mall tahu sendiri, orang bisa dengan mudah memilih apa yang mau dimakan karena ragam pilihan di sini. Saya memesan paket hemat saja, mungkin nanti ketemu Witam akan minum lagi.

Di depan kasir sudah tersedia mesin scan QR Standar untuk DANA. Tanpa perlu bertanya, kasir dengan jilbab merah itu seakan-akan tahu bahwa saya akan menggunakan metode pembayaran digital. Saya membuka aplikasi DANA lalu mengambil Pay di tengah layar bagian bawah, antara Beranda dan Riwayat di sebelah kiri dan Pocket dan Saya di sebelah kanan. Informasi jumlah saldo terlihat di sebelah atas kiri di bawah nomor telepon terdaftar, dan di sebelah kanan terdapat DANA PROTECTION.

Barcode yang harus diarahkan ke mesin scan terdapat di tengah-tengah dalam kolom putih. Di samping sebelah kiri terdapat tulisan vertikal, PINDAI KODE QR INI UNTUK PEMBAYARAN. Saya langsung mengarahkan layar smartphone dengan kode QR menyala ke mesin scan, tak lama bunyi bip dan beberapa detik kemudian pembayaran telah berhasil. Dari mesin scan QR keluar struk yang kemudian kode pembayaran itu diisi kembali pada komputer di depan kasir. Lalu, saya dipersilakan menunggu pesanan di samping kiri.
Proses pembayaran pakai DANA.
Cepat dan praktis. Saya tidak perlu menanti uang kembalian. Tidak pula kerepotan mengeluarkan dompet. Dan tidak pula terburu-buru saat proses pembayaran dilakukan. Saya menikmati metode pembayaran yang simpel ini.

Dari cerita pertama dan kedua, saya jadi terbiasa untuk mengisi saldo dompet digital. Jika pengalaman di atas baru sebagai permulaan, sekarang malah mengisi semua dompet digital tidak saja saat traveling tiba. Saldo OVO, DANA, GoPay, LinkAja, bahkan ShopeePay.

DANA biasanya saya simpan untuk makan di KFC dengan banyak cashback maupun belanja di Bukalapak. OVO buat bayar transportasi online atau isi pulsa dan bayar tagihan listrik. GoPay buat bayar zakat, LinkAja permudah bayar tagihan Kartu Halo dengan cashback sekitar 10%. Lalu, ShopeePay untuk beli ini itu saat ada produk yang murah.

QR Standar baru dapat di-scan kalau belanja di KFC atau kafe dan restoran yang menyediakan mesin scan. Namun, dalam keseharian dompet digital sebenarnya bisa dipakai untuk kebutuhan belanja online lalu dapat diskon atau bayar tagihan dengan cashback. Jadi, di mana-mana pakai dompet digital ini sangat mempermudah jual-beli. Bagaimana dengan kamu? #feskabi2019 #gairahkanekonomi #pakaiQRstandar

0 Response to "QR Standar Nggak Repot Saat Traveling"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel