Segelas Pesan – Bagian 5



Gelap menjemput kedatangan kami. Aku tidak bisa membayangkan akan berada ditengah-tengah pemukiman terisolir. Inikah yang dinamakan transmigrasi? 
Ilustrasi cerita.
Aku berada jauh dari kota besar, dan sekarang akan tinggal di kampung yang entah bisa memuaskan kebutuhan batinku. Kampung ini tak pernah terkhayal dalam angan-anganku.


Kampung ini akan terasa gelap tak hanya di malam hari tetapi juga di siang hari, bagiku.

Kami menempati rumah petak yang tak bisa kubilang bagus. Dua kamar, dapur ukuran sangat kecil dan satu ruang tamu merangkap tempat praktik Teh Ratna sebagai bidan. 

Kamar mandi? Mengingat ini aku sangat ngeri, malam-malam buta jika ingin pipis aku harus menguatkan diri keluar rumah, ke gubuk kecil bersumur dalam, di situlah kamar mandi kami selama di sini! 

Bahkan menimba air saja aku masih harus banyak belajar, berulang kali kutimpa, berkali-kali pula air tumpa ruah kembali ke dalam sumur. 

Tak jarang aku membanting timpa lantaran muak dengan gerakanku yang tak bisa-bisa menarik setimpa air ke mulut sumur dan bisa kutuangkan mengaliri badanku. Padahal badanku sudah sangat gerah ingin segera didinginkan!.

Kuperhatikan sekeliling. Sejak sampai di kampung berhimpitan hutan aku belum melihat seorang pun selain Wahid. 

Mungkin mereka sudah terlelap di rumah masing-masing, malam di tengah hutan belantara seperti ini bisa terasa sangat asing jika masih berkeliaran di tengah kampung. Mungkin saja mereka masih bekerja, mungkin juga melakukan hal lain.

Kampung Pedalaman. Itulah kampung yang kujejaki langkah lunglai. Sebuah kampung yang tidak terdapat dalam petaku, mungkin dalam peta Indonesia juga berupa pepohonan semata. 

Kampung yang berjarak ratusan kilometer dari kota Calang, masuk ke dalam hutan belantara. Kampung yang jauh dari hiruk pikuk pemukiman penduduk padat. 

Kampung yang khusus dibangun untuk pemukiman pendatang. Kampung tempat semua orang sibuk berkebun.

Kampung yang dikelilingi pohon-pohon tinggi mencakar awan berwarna putih dan biru saling berkejaran. Kampung yang gelap gulita di malam hari, hanya lampu teplok saja menerangi setiap rumah sampai pukul sembilan malam. 

Kampung yang begitu sunyi, sesekali suara binatang melata merayap ke telingaku. Bulu kudukku berdiri. 

Entah perasaan apa yang menghinggapi perasaanku, rasanya ingin cepat melupakan babak demi babak pembuka memori baruku.

Besok bisa terjadi apa saja. Badanku terasa sangat berat. Aku butuh tidur, di kasur empuk. Aku mendengus, kasur ini hanya tikar berwarna kecoklatan hampir berlumut!
***
Teh Ratna punya pekerjaan sendiri, sebagai bidan di Kampung Pedalaman tentu hari-hari dilalui tak tersisa buat diri sendiri. 

Aku yang tidak terbiasa termenung, ikut bantu-bantu seadanya. Lepas dari tanggung jawab yang tidak seberapa, aku banyak menghabiskan waktu menemani Wahid di kebunnya.

Baru kali ini aku kagum dengan pekerja kasar. Biasanya, aku malah mengabaikan keberadaan pekerja yang tak jelas masa depan di mataku

Kenal Wahid, aku banyak mengenal lika-liku pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Tenaga habis dituangkan selama berkebun sepanjang hari, mereka menanam palawija di kebun-kebun mereka.

Pikiran mereka terkuras untuk memikirkan bagaimana asap bisa terus mengepul di dapur dengan penghasilan pas-pasan. Hasil palawija yang mereka tanam diharga dengan harga sangat murah. 

Jika mau harga mahal, mereka harus menjual sendiri ke pasar. Artinya, mereka harus menggotong sendiri hasil palawija melewati jalanan setapak hutan belantara menuju pasar, ke Calang atau ke Lamno[1] bahkan ke Banda Aceh.

Wahid bukan tipikal orang yang diam saja diperlakukan seenaknya oleh tauke. Tauke datang saat musim panen tiba dengan menawarkan harga termurah, pekebun yang tidak mampu menggerek hasil panen mereka ke pasar lapang dada menerima harga taraf tauke.

Untung rugi tak dipersoalkan lagi, karena mereka sudah terbiasa demikian dan tauke pun sudah terbiasa memperlakukan pekebun demikian. 

Menjual hasil panen ke pasar sama dengan menguras ribuan volt tenaga sampai bisa kembali ke Kampung Pedalaman, tenaga itu pekebun simpan untuk kembali bercocok tanam lalu memulai berkebun setelah mengistirahatkan tanah garapan sebulan lamanya. 

Tanah garapan siap di tanam mereka pun kembali menuai palawija.

Belakangan, Wahid memasarkan sendiri hasil kebunnya ke pasar Calang. Hasilnya, Wahid bisa membangun rumah sederhana di perkampungan Kampung Pedalaman ini.

“Saya masih lajang kak, masih kuat bekerja dan mengangkat banyak hasil kebun ke pasar!” ujar Wahid. Sudah berulang kali aku katakan panggil nama saja, berulang kali pula Wahid lupa. 

Padahal, umurku terpaut empat tahun darinya. Dia benar-benar sopan dalam bertutur kata dan bersikap. Pria ini patut masuk dalam kategori calon suami idaman di perkampungan pelosok ini. 

Wajah boleh saja tidak seganteng teman-temanku di Bandung, tidak seganteng Tegar, bahasa tubuhnya jauh lebih ganteng dari bentuk wajahnya.

Ada-ada saja. Aku malah jadi membandingkan pria kampung dengan pria kota besar yang semua kebutuhan tercukupi. Tidak musti kerja keras banting tulang membentuk otot. 

Tegar, tubuh atletisnya terbentuk hasil olahraga dan makanan sehat yang selalu dikonsumsi. Wahid, tubuh berototnya terbentuk dengan sendiri tanpa olahraga dan makanan seadanya. 

Bila kubandingkan, lebar bahu Wahid malah lebih bidang dibandingkan Tegar yang mengerucut.

Entahlah. Aku merasa semakin lama di sini semakin lambat saja waktu berjalan. Di Bandung, aku merasa waktu sangat cepat berlari. Saling kerja masalah. 

Saling membuat pikiranku amburadul. Saling membuat napasku seakan berhenti. Saling menyakitkan hatiku. Di Kampung Pedalaman aku menemukan waktu yang sangat lama.

“Kakak suka berkebun juga?” tanya Wahid. Aku mengeleng.

Wahid mengangguk. Tak bertanya lagi, dia kembali pada pekerjaannya. Merawat batang kacang yang semakin mekar daunnya, tak lama lagi dia akan panen besar.

“Kapan kacang ini dipanen, Wahid?” tanyaku antusias, kali saja aku bisa membantunya jika saatnya tiba.

“Sekitar seminggu lagi,”

“Ohya? Saya boleh bantu panen?”

“Boleh saja. Lalu, bagaimana pekerjaannya di rumah sakit?”

Aku terkikik. Orang kampung menamakan tempat tinggalku dan Teh Ratna rumah sakit. Rumah kecil itu tak layak disebut rumah sakit, hanya sebuah rumah kecil tanpa peralatan medis memadai. Obat-obatan pun terbilang cukup untuk antiseptik dan antibiotik.

“Tenang saja, saya bisa minta izin tidak masuk kok!”

Wahid tersenyum. Kecil saja. Lagi-lagi aku terpesona dengan sikapnya yang bisa buatku nyaman.
***
Tengah malam, suara ketukan menggema keras berulang kali. Aku yang baru saja terlelap karena memikirkan masa depan yang tak akan terurus indah selama di sini jadi terjaga. 

Kupalingkan wajah ke samping, Teh Ratna sudah beranjak menuju pintu. Tak lama percakapan kudengar cepat-cepat, diburu nafas tersengat habis berlari.

Tergopoh Teh Ratna menarik tas berisi obat-obatan dan peralatan medis miliknya. Suaranya parau memanggil-manggil namaku. Aku yang sudah terjaga sejak suara pintu diketuk ikut berlari ke sana-ke mari. 

Kuraih baju kaos lengan panjang dalam gelap, celana training kukenakan buru-buru. Aku masih belum membaca ke mana langkah kami akan termakan malam yang semakin dingin.

Kuikuti langkah kaki Teh Ratna yang semakin cepat mengikuti langkah pria muda di depan kami. Aku tak banyak tanya, Teh Ratna pun tak menjelasan apa-apa, dari raut mukanya pias memikirkan sesuatu dengan keras. Aku mencari-cari pokok masalah yang akan kami hadapi beberapa menit ke depan.

Langkahku semakin cepat, mengejar langkah Teh Ratna dan pria muda di depanku yang melilit sarung dilehernya. 

Aku belum pernah melihat pria ini sebelumnya, mungkin juga pernah kulihat tapi aku sudah lupa karena bayangku hanya pada Wahid.

Bulu kudukku berdiri setegak-tegaknya. Mataku memantau sekeliling dengan penuh kecemasan. Beberapa obor menyala redup di depan rumah penduduk yang sunyi. 

Dari dalam rumah hanya terlihat gelap, pertanda pendudukan Kampung Pedalaman sudah terlelap. Semilir angin hutan menusuk tajam ke pori-poriku, rasanya seperti ditelanjangi.

Hutan itu membuatku tak berdaya, pohon-pohon menjulang tinggi dalam gelap, daun-daun bergesekan disentuh angin malam, goyangannya sesekali membuat detak jantungku berpacu sangat kencang. 

Entah apa yang terbayang dalam benakku melihat pohon-pohon dengan daun bergesekan di tengah malam buta begini. Nyaliku kembali terkejut saat sedaun pohon melayang dari udara. 

Aku merapat ke lengan Teh Ratna, dalam gelap kutatap matanya yang juga mengisyaratkan hal yang sama seperti yang aku rasakan.

Pria di depan kami melangkah tak karuan, seakan waktu yang dia butuhkan akan segera habis dan diganti dengan waktu lain. 

Derap langkahnya memasuki sebuah rumah, aku bahkan tidak ingat letak rumah ini karena pikiranku masih memikirkan hal-hal lebih menusuk jantungku selama perjalanan ke mari. Pria itu mendorong pintu kayu rumahnya, dari dalam terlihat lampu teplok menyala redup. 

Di sampingnya, seorang wanita muda terbaring lemah tak berdaya. Aku baru mengerti ke mana angin membawa nyaliku berterbangan menjelang dini hari ini.

Wanita itu sendiri menarik nafas satu-satu. Teh Ratna berlari kecil menuju pembaringan wanita itu.

“Kapan ketupannya pecah, bang?” tanya Teh Ratna pelan-pelan.

“Sore tadi kak,” jawabnya bergetar. Teh Ratna memeriksa denyut nadi wanita di depannya.

“Tolong ambilkan air,” perintah Teh Ratna. Pria itu bergegas ke belakang, lalu kembali dengan seember air. Teh Ratna mencuci tangannya dan memintaku melakukan hal yang sama. 

Aku duduk di dekat kepala wanita itu, membantunya menarik nafas pelan-pelan. Teh Ratna berjuang seorang diri tanpa peralatan medis memadai. 

Kutahu, ini sangat berat karena persalinan di tengah malam dan baru pertama bagi Teh Ratna di Kampung Pedalaman.

Wajah Teh Ratna pias. Jika ada jam di tanganku, mungkin waktu sudah berlalu lebih dari satu jam. Aku tahu, persalinan ini sangat berat baginya. 

Wanita di dalam dekapanku pun sudah lemas. Nafasnya sudah putus-putus. Kulihat wajah pria di sampingku berubah gusar, mungkin ini anak pertamanya.

Teh Ratna tak menyerah, dia terus mengompori wanita itu untuk terus menarik kekuatannya. Melepas semua beban pikiran dan melupakan rasa sakit yang tiada tara. Usaha Teh Ratna bisa salah, tetapi hanya ini satu-satunya jalan untuk membantu wanita ini. 

Dengan kondisi yang sudah sangat lemah, wanita ini butuh rumah sakit besar dengan peralatan medis lengkap. Mencapai rumah sakit di Calang membutuhkan waktu tiga setengah jam jalan kaki.

Keringat Teh Ratna tak ubahnya seperti keringat wanita yang akan melahirkan ini. Teh Ratna tak menampakkan keputusasaan, usahanya membantu ibu hamil ini benar-benar nyata. Berbagai cara dilakukannya untuk wanita ini.

Saat angin menyeruak kencang, lampu teplok mendadak mati, kami panik, terdengar suara tangisan kecil begitu keras. 

Aku mengucapkan syukur, Teh Ratna pun terdengar melafalkan hal yang sama. Pria yang tadi mencari-cari korek api, begitu mendengar bayinya sudah lahir lampu pun dinyalakan tergesa.

Bayi ini laki-laki, anak pertama Anto dan Minah, suami istri muda yang belum genap setahun merantau ke Kampung Pedalaman.

***



[1]Berada di kaki Gunung Geurute, Aceh Jaya, terkenal dengan masyarakat bermata biru.  

0 Response to "Segelas Pesan – Bagian 5 "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel