Segelas Pesan – Bagian 7

Setahun berlalu di Kampung Pedalaman. Tak banyak cerita suka yang bisa kubagi pada dunia luar. Hariku masih sama beku semenjak perdebatan terakhir dengan Teh Ratna.

Jadwal pertemuanku dengan Wahid pun tak lagi serutin sejak awal pertemuan kami. Kesibukan yang kujalani tak lebih dari duduk termenung di rumah, sesekali membantu Teh Ratna dalam diam.
Ilustrasi gambar.
Perang dingin antara aku dengan Teh Ratna masih berlanjut, teka-teki yang sulit aku pecahkan. Teh Ratna maupun Wahid sama-sama membisu tanpa memberi alasan padaku. 

Teh Ratna memang sering keluar saat pagi dan menjelang senja, aku pun sudah tidak  mengikuti lagi ke mana arah langkahnya melayang. Tebakanku paling ke rumah Wahid.

Dalam arah yang hampir patah kendali aku dikejutkan sebuah pesan yang sebenarnya tak ingin kuterima.

Terus melangkah, jangan berpaling ke belakang!

Kuletakkan gelas berisi pesan sepotong kertas di tempat semula, kukira pesan itu untuk Teh Ratna yang belakangan semakin tak bergairah. Setelah beberapa hari kuterima pesan itu, aku baru tersadar, pesan itu ada jika Teh Ratna tak ada di rumah. 

Selepas subuh, saat Teh Ratna menghilang entah ke mana pesan itu selalu muncul. Jika Teh Ratna tidak keluar rumah, pesan itu tak akan datang walau sudah kutunggu sampai matahari sepenggalah.

Aku mendengus. Pesan dalam gelas? Pertama kuterima saat aku kenal dekat dengan Tegar. Aku yakin dia yang mengirimi pesan-pesan itu setelah kejadian tidak mengenakkan di hari aku terlambat ke sekolah. Pesan-pesan itu terus menghiasi tas sekolahku sejak hari aku lupa-lupa ingat Proklamasi kemerdekaan negara sendiri.

Mungkin juga Tegar? Ah, aku terlalu berharap. Pria itu mungkin sedang kuliah di kampus favorit di Bandung. Mengejar kepergianku ke Aceh tentu tidak akan pernah terjadi, aku tidak memberi tahunya dan aku pun tidak sedekat yang kuinginkan dengan dirinya. 

Kami hanya sebatas teman biasa, kadang dia mengajakku nonton film action  di bioskop, kadang juga dia mengajakku ikut nonton voli timnya. 

Selebihnya, aku tak terlibat interaksi lagi dengan Tegar. Kami sama-sama tak bertegur sapa semenjak aku tenggelam dalam rutinitas sekolah dan klinik bersalin.

Aku pernah berharap dia menjadi teman dekatku. Impian seorang wanita yang tak bisa terealisasikan. Tegar bukanlah lawan mainku dalam pacaran, dia lebih memilih Dona atau Pipi yang lebih cantik dan tubuh semampai.

Kuperhatikan gelas berisi kertas putih lekat-lekat. Tulisan tangan yang sama sekali tidak kukenal. Ingatanku tak sanggup membuka memori akan tulisan tangan Tegar, sekali dua aku pernah melihat tulisan tangannya di buku pelajaran.

Pesan ini ada benarnya, tugasku terus melangkah ke depan lalu lupakan masa-masa sulit yang tidak mau kuingat kembali.
***
Kampung Pedalaman sangat sepi di pagi hari, aku berkeliling mengamati rumah beratap rumbia. Sebagian cat rumah sudah luntur dan menyisakan warna kayu kecoklatan. 

Sepagi ini, orang-orang Jawa sudah berangkat ke kebun mereka masing-masing. Anak-anak mereka pun tak terlihat. Aku malah berpikir mereka tak beranak, kecuali Anto dan Minah yang kubantu proses bersalin.

Baru setengah tahun lalu aku sadar, anak-anak mereka disekolahkan ke Calang, mereka mau menyewa pembantu untuk menjaga dan mencukupi kebutuhan anak-anak mereka. 

Benar-benar orang-orang Jawa yang tidak mau anak mereka bodoh. Aku sendiri yang berasal dari pulau Jawa jadi malu, karena aku sempat tidak mau sekolah, kupikir sekolah bukan segalanya untuk kelangsungan hidup. Baru kali ini aku merasa sekolah di atas segala agar aku dapat pekerjaan layak.

Tiada ada guna kusesali, aku sudah berdiri di Kampung Pedalaman Aceh Barat, tempat para transmigrasi mencari sesuap nasi. 

Langkah ini akan kubawa ke sekeliling kampung, mencari apa yang bisa kugali agar kusanggup menyambung hidup yang masih panjang jika Tuhan belum memanggil namaku.

Kampung Pedalaman ini tidak luas, hanya dihuni oleh seratus lima kepala keluarga. Kampung ini dibangun atas tiga blok, sebelah kanan dua blok dan sebelah kiri satu blok. 

Lebih tepat kukatakan lorong kecil, menuju rumah-rumah penduduk. Jalan besar Kampung Pedalaman hanya sebatas jalan yang bisa dilewati becak empat roda. Jalan ini pula yang membawa kami menuju jalan raya ke kota Calang.

Jalan di lorong kecil hanya bisa dilewati sepeda dan jalan setapak. Rumah-rumah dibangun berhimpitan. 

Di ujung masuk Kampung Pedalaman terdapat rumah kepala desa, di sampingnya masjid seukuran dua kali rumah petak di sini, dan pagar pembatas Kampung Pedalaman dengan hutan berhawa dingin.

Sampai di ujung jalan, dekat masjid dan rumah kepala desa aku duduk merenung. Memandang sekeliling. Ke arah rumahku yang berada di lorong ketiga. Dalam hati aku tersenyum, sebuah rencana sudah kususun dengan matang. 

Di tanah petak tak berpenghuni depan masjid aku bisa menjalan ide cemerlang yang sudah kesemutan semenjak seminggu lalu.
***
“Apa kamu sudah tidak waras? Saya masih bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari kita berdua!” tegas Teh Ratna menolak rencanaku.

“Bukan masalah uang atau kebutuhan hidup, ini masalah keinginan untuk bergerak setiap hari. Bekerja!” suaraku tak kalah keras dari suaranya. Sekali pun aku berontak, akan kulakukan. Sudah lebih setahun aku terus mengalah pada keinginannya.

“Di sini kamu tidak bekerja?” suara Teh Ratna meninggi.

Aku menelan ludah. Memikirkan kata-kata yang tepat agar tidak tersinggung perasaan Teh Ratna.

“Saatnya saya tidak lagi berdiri di belakang Teteh, saya juga punya kebutuhan sendiri. Kita sama-sama membantu tetapi dengan cara kita masing-masing. Teteh menjadi bidan desa dan saya akan membuka warung di desa. 

Kita tetap bersama, hanya pekerjaan saja yang berbeda. Saya tidak mau terus-terusan memikirkan kehidupan kita yang semakin tidak akur belakangan ini, saya dan Teteh punya kehidupan sendiri-sendiri.

Saya rasa Teteh bisa memahami posisi saya, saya sangat berterima kasih pada Teteh yang telah menerima keberadaan saya. 

Tapi saya juga tidak ingin menyakiti hati Teteh, sebenarnya saya sangat tidak tenang berada jauh dari Bandung!” kulontarkan kalimatku pelan-pelan. Kuhadap Teh Ratna bisa mencerna alasan yang kuberi. Teh Ratna menunduk. Aku menggigit bibir.

“Teteh minta maaf jika sudah memaksa kamu,” ujarnya lirih. “Kehidupanmu memang bukan di kampung terpencil seperti ini, kamu tidak akan mendapat hura-hura seperti inginmu di sini, kamu hanya mendapat musibah terus menerus. 

Teteh yang sudah mengajakmu ke mari. Teteh rasa, ini salah. Karena kamu tidak akan tenang dan nyaman berada di antara orang yang tidak kamu kenal dan dalam hutan!”

Aku sudah membakar api, kini meledak. Teh Ratna masih belum mengangkat wajahnya. Suaranya serak.

“Tidak ada yang patut disalahkan, saya berusaha tegar menghadapi ini. Teteh sudah memberi saya apa yang saya tidak punya. Sekarang giliran saya mencari jati diri saya yang tertunda!”

Teh Ratna masih tertunduk. Kini, dia sudah terluka. Karenaku!
***

1 Response to "Segelas Pesan – Bagian 7"

  1. roaming, sepertinya harus baca dari bagian pertama biar ngeh ma ceritanya

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel