Segelas Pesan – Bagian 8


Semilir angin menghembus wajahku yang beku. Benar-benar terasa beku. Pagi-pagi sekali aku sudah berdiri di depan tanah sepetak, depan masjid. 

Aku akan mendirikan pondok kecil di sini, sebagai warung kopi pelepas lelah para pekebun.
Ilustrasi cerita.
Dibantu Wahid aku membangun pondok. Teh Ratna masih belum membuka suara sejak aku mengatakan rencana ini. 

Wahid yang jadi tempatku bersandar setelah itu. Penuh semangat Wahid mendukung ideku dan rela membantu membangun pondok kecil di pintu masuk Kampung Pedalaman.

Tangan Wahid sangat cekatan mengerjakan ini. Bambu yang sudah terpancang vertikal diikatkan dengan bambu horizontal. Sekarang tinggal mengaitkan atap rumbia untuk meneduhkan kepala. 

Bangku duduk pun dibuat memanjang dengan meja juga serupa. Bilik kecil disekat dengan kain terawang sebagai dapur tempatku menyiapkan kopi dan penganan lain. 

Warung ini sudah jadi, tinggal menunggu orang-orang datang meneguk segelas kopi panas di pagi hari, dan sepulang bekerja.

Aku dan Wahid mengambil waktu istirahat. Waktu sudah siang. Sebentar lagi azan berkumandang dari masjid di depan warung kopi milikku – dan Wahid. Pondok kecil ini tak layak kusebut warung kopi, sangat kecil.

Kami sama-sama diam. Di kursi memanjang ke utara, aku duduk di sisi selatan dan Wahid di sisi utara. Jaraknya dua meter, tetapi rasanya seperti dua mil keberadaanku dengan Wahid.

“Bagaimana kabar Kak Ratna?” Wahid membuka pembicaraan kami. Aku yang sedang mengayun kaki terhenti. Suaraku hilang entah ke mana. 

Pertanyaan Wahid jelas-jelas menunjukkan dia tidak pernah ketemu Teh Ratna, atau Wahid hanya sekadar basa-basi.

“Sudah lama saya tidak ketemu Kak Ratna, kelihatannya dia makin kurus ya?” ujar Wahid lagi.

“Teteh baik, dia sibuk dengan pekerjaannya. Kamu tahu sendiri sebagai bidan desa banyak sekali orang berobat ke rumah kami, belum lagi jika ada orang yang melahirkan, Teteh harus bangun di malam buta ke rumah orang bersalin!”

Wahid mengangguk-angguk.

“Kapan kamu terakhir ketemu Teteh?” tanyaku. Ini saat yang tepat untuk menjawab teka-teki kedekatan mereka.

Wahid tidak langsung menjawab. Dia seperti mengingat sesuatu sebelum memberi jawaban.

“Saya sudah tidak ingat, waktu itu Kak Ratna ke rumah…,” entah Wahid sengaja menggantung kalimat agar aku penasaran, entah karena dia benar-benar lupa apa yang terjadi waktu itu. 

“Saya sudah katakan tidak usah datang ke rumah, tidak enak dilihat orang. Kak Ratna terus datang, saya melihat sekeliling tidak ada orang langsung menutup pintu biar orang tidak curiga Kak Ratna masuk ke rumah pria lajang seorang diri!”

Aku menunggu. Ini semacam pesan berantai yang kuterima belakangan ini. Jawaban yang begitu polos.

“Kak Ratna menawarkan diri terus kepada saya,”

Menawar diri? Apa maksudnya? Pikiranku semakin kalut.

“Kak Ratna sudah lama melajang, katanya ingin segera menikah. Dia bilang suka sama saya!”

Aku sudah tidak konsentrasi lagi. Kepalaku ringan. Di mataku ada kunang-kunang. Jangan sampai aku tersungkur dan mikin malu.

“Saya tidak suka dipaksa-paksa!”

Artinya?

“Soal umur boleh beda, tapi saya tak suka sama Kak Ratna karena dia memaksa saya, lagi pula saya suka sama orang lain!”

Jujur. Pemuda kampung ini berkata apa adanya. Di depanku yang sedang berpacu dengan kecepatan detak jantung menahan pilu. 

Aku tak mampu berkata apa-apa selain diam dan menunggu lagi kelanjutan ucapan Wahid. Pria itu sudah menghipnotisku dengan kedewasaan daya pikirnya. 

Ternyata, orang kampung bisa berpikir demikian juga. Alangkah indahnya hidup jika aku bisa bertemu dengan orang seperti itu, kembali.

“Maaf, saya harus berkata demikian. Saya tak bermaksud apa-apa. Saya mencoba meluruskan kesalahpahaman antara kita,”

Kita? Wahid menggunakan kata kita dalam pembicaraan kami. Aku sudah berada dalam angan-angan tingkat tinggi. Menjulang menggapai angkasa raya bersama sayap kupu-kupu yang belum kupunyai.

“Saya harap, kamu bisa akur kembali dengan Kak Ratna!”

Kamu? Aku semakin terbang. Wahid tidak lagi menggunakan sebutan kakak dalam memanggilku. Kata kamu cukup mencerminkan kedekatan antara kami berdua. 

Kata-kata terakhir Wahid tidak lagi kudengar, aku sudah tidak di bumi. Aku sudah terbang. Ke atas langit hutan berpohon tinggi berhawa dingin!
***
“Wahid akan menikah!”

Gelas kaca berisi teh hangat hampir jatuh dari tanganku. Gelas itu adalah gelas yang berisi pesan berantai yang kuterima setiap hari. 

Tiap hari ada satu gelas duduk manis di depan rumahku, di samping pot melati yang tak mau mati walaupun makin layu. Mataku bersitatap dengan Teh Ratna. 

Dia meraba-raba ekspresi wajahku yang sudah kelihatan tak berseri.

“Wahid yang berkata sendiri saat saya ke rumahnya!” ini hampir terang. Teh Ratna akan menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah Wahid. “Biarkan saja dia menikah, itu yang terbaik untuknya!” lalu Teh Ratna bangkit dan keluar rumah. Tidak ada penjelasan lain.

Hari masih pagi. Aku terduduk diam di kursi reyot pasien. Kini aku yang jadi pasien di kursi ini, aku butuh obat untuk mengobati lukaku yang dalam. Berharap akur dengan Teh Ratna yang kuterima hanya kepedihan. 

Aku tidak mengerti jalan pikiran Teh Ratna, semenjak ada Wahid dia selalu berubah-ubah menghadapiku. Dia tidak sadar, kami jauh dari orang tua – bahkan aku tidak punya orang tua, kami berdua di perantauan ini.

Orang-orang Jawa lain di Kampung Pedalaman hanya sebatas kukenal sebagai penduduk sekitar. Mereka tidak akan menolong jika aku sekarat menghadapi masalah hidup. 

Mereka punya masalah sendiri dalam kehidupan mereka. Masalahku, bukan lagi tentang cinta tetapi sudah pada kepercayaan.

Aku berlari keluar, akan kukejar langkah Teh Ratna dan jika perlu meminta maaf padanya. Aku sadar dia sudah tersakiti dengan kedekatanku dengan Wahid. 

Aku pun harus menjelaskan padanya bahwa Wahid tidak bisa dipaksa untuk mencintai!

Kakiku menyepak gelas putih berisi pesan. Benar kan? Jika Teh Ratna keluar rumah pesan itu langsung kuterima.

Tunggu aku, jika tiba waktunya aku akan datang!
***
Penantian apa yang harus kutunggu? Aku tidak tahu. Hari sudah beranjak senja. Sebentar lagi magrib menyambangi pekatnya malam di Kampung Pedalaman. 

Aku mencuci piring dan gelas yang berserak. Pelanggan warung kopiku sudah dari tadi pulang ke rumah masing-masing. Sayup-sayup kudengar seseorang memesan kopi, kutoleh sekilas. Dadaku berhenti.

Wahid sudah duduk dengan manis di kursi yang sama jika dia berkunjung ke warung ini. Aku sudah katakan padanya, warung ini milik kami berdua. 

Wahid tetap saja berkilah, cukup aku seorang yang memiliki warung kopi ini.

“Saya sudah bertemu orang tua,” Wahid membuka percakapan kami menjelang turunkan gelap. “Mereka tidak memberi restu saya menikahi wanita selain keturunan Aceh!”

Aku masih menerka-nerka ke mana arah pembicaraan Wahid bermuara.

“Orang tua saya tidak suka wanita Jawa! Mereka khawatir wanita Jawa akan meninggalkan saya jika kami sudah tak berdaya, wanita Jawa tidak bisa berbahasa Aceh, wanita Jawa tidak bisa memasak masakan Aceh, wanita Jawa tidak bisa berpakaian serupa wanita Aceh, wanita Jawa tidak bisa mengajarkan agama pada anak-anak saya kelak…” Wahid terus bicara alasan orang tuanya. Aku terpengkur. Harapanku kini tertinggal jauh entah di mana. Mata Wahid kosong, dia memendam rasa yang tidak tercapai.

“Sebenarnya saya tidak mau membangkang kedua orang tua, saya pun tak bisa menerima perlakuan mereka terhadap wanita Jawa. Saya mengenal wanita Jawa yang tidak mereka kenal. Saya pun mencintai wanita Jawa yang selama ini berada di sisi saya!” Wahid bersuara getir. 

Aku belum berani bertanya apapun mengenai kejelasan wanita itu. Dekat dengannya? Selain aku dan Teh Ratna tidak ada wanita Jawa lain yang dekat dengan Wahid. Mungkin aku silap, tetapi aku yakin tidak ada.

“Hubungan kita semakin tak terarah, kamu terhalang Kak Ratna dan saya terhalang orang tua!”

Aku mengerti. Wahid membicarakan hubungan kami. Selama ini dia sudah menganggapku lebih dari seorang teman. Sikap hati-hatinya kemudian melukai hatinya sendiri.

“Jika waktu yang kita tunggu sangat lama, mereka masih belum memberi restu, maukah kamu menunggu?”

Aku terhenyak. Dudukku sudah tidak diam. Wahid seperti biasa, tanpa basa-basi. Langsung ke masalah yang ingin diutarakannya. Dia pria yang banyak berbuat tanpa berkata-kata.

Aku tidak menjawab. Tidak perlu menjawab! Dan menunggu, sampai kapan?
***
Tiba-tiba pintu rumahku digebrak. Teh Ratna yang sedang memeriksa seorang ibu hamil tak kalah terkejut. Aku mematung di depan pintu. Seorang wanita paro baya masuk dengan selendang menjuntai, badannya lebih sehat dua kali dari padaku.

“Mana wanita Jawa jalang itu?” pertanyaan menusuk ulu hatiku. Telunjuk wanita tua itu menjurus ke mataku dan beralih ke Teh Ratna. “Kamu! Atau kamu!”

Dari luar kudengar suara orang ribut-ribut. Aku mematung, pun dengan Teh Ratna. Wanita tua ini tidak kami kenal sama sekali. Bahkan raut wajahnya memperlihatkan emosi yang tidak bisa kuartikan sampai ke mana sudah berlari.

“Berani-beraninya wanita Jawa seperti kamu mengguna-guna anak lajang saya!” telunjuknya persis di depan hidungku. 

“Harap kamu tahu, sampai mati pun saya tidak akan merestui anak saya menikah dengan wanita Jawa!” suara wanita tua itu naik turun. Orang-orang di luar rumahku makin ramai berbisik.

“Kamu wanita Jawa! Tak pantas kamu bersanding dengan pria Aceh yang terhormat! Lihatlah orang-orang Jawa berbondong-bondong ke tanah kami mencari kerja? Di Jawa tak ada pekerjaan lain selain menjadi peminta-minta!” hatiku ngilu. 

Mataku berkunang-kunang. Maluku pada diri sendiri karena ikut Teh Ratna ke Aceh. Penghinaan ini tidak akan kuterima jika aku tidak ke Aceh. Teh Ratna menatapku dengan perasaan yang berbeda, matanya seperti melihatku saat pertama kami bertemu.

Aku tidak tahu apakah Teh Ratna sudah mampu berkaca pada perasaannya dan Wahid yang tidak bisa membalas cintanya. Hari ini dia sama-sama terhina seperti yang kurasa. Aku dan Teh Ratna sama-sama tidak diberi kesempatan membela diri.

“Nak! Sadarlah kalau kamu wanita Jawa, tak jelas asal-usul datang ke mari. Saya tidak tahu seperti apa keturunanmu di Jawa. Saya hanya menikahkah anak lajang saya dengan wanita yang jelas keturunan, agama dan…,” sekilas wanita tua itu memperhatikan tubuhku mulai dari rambut sampai ujung kaki. “Kecantikannya!”

Sudahlah. Tak ada kekuatan yang bisa menguatkan diriku. Dulu, aku memang remaja tomboi. Sudah lama sekali itu kualami. 

Sejak Mama Papa pergi, hati dan nyaliku terus mengerucut. Melawan kata saja aku sudah tak mampu, bagaimana aku harus melawan tenaga.

Mataku berkaca-kaca. Wanita tua itu terus berbicara dengan suara keras. Orang-orang makin ramai berdatangan. Kenapa pula mereka tidak cepat ke kebun dan tidak melihat aku dimaki-maki. Nasib naasku selalu berpihak saat aku ditonton banyak mata.

Mereka pasti akan menertawakanku. Mereka akan mengejekku. Mereka akan menganggapku wanita tak tahu untung. 

Wanita jalang. Wanita tak tahu tata krama. Wanita tak berbudi. Aku sudah kaku berdiri di tempatku kini. Mata-mata mereka sangat banyak menelan ketidakberdayaanku.

Keluar di antara kerumuman orang-orang, Wahid menerobos masuk. Menarik tangan wanita tua itu keluar rumahku. Tenaga Wahid kalah jauh dibanding wanita berbadan besar ini

Aku bahkan tidak mengenal Wahid lagi. Dia tidak melirik ke arahku. Dia tak mengubris keberadaanku. Aku mematung, lalu gelap mataku memadang semua.
***
Berbahagialah, saya akan ikut bahagia untukmu!

Kubaca pesan itu sekilas. Aku tak semangat lagi menerima pesan-pesan berantai tiap pagi. Aku sudah tahu orang yang saban pagi meletakkan pesan dalam gelas di dekat pot melati di teras rumahku.

Wahid, dia selalu datang saat pagi dengan muka tertunduk. Wajahnya sudah sangat tirus dan badannya terlihat mengecil.

Aku tak pernah bertegur sapa dengan Wahid semenjak dia abaikanku. Aku tak boleh egois, Wahid lebih mementingkan ibunya dari pada perasaannya padaku. Waktu terus berputar tanpa bisa kukendalikan, warung kopi semakin ramai saat pagi, siang dan sore. 

Kulupakan Wahid, tapi pesannya tak kunjung berhenti. Aku sudah memaafkan semua sikapnya padaku. Aku juga sudah bisa menerima sikapnya padaku. Sikap Teh Ratna pun sudah kumaafkan. Teh Ratna tak banyak berubah, dia masih saja mengabaikan kehadiranku.
***
Menikahlah denganku!
***

0 Response to "Segelas Pesan – Bagian 8"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel